Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
125 : Perjalanan Ke Jakarta


__ADS_3

Selepas maghrib, Arum dan Kalandra sungguh pergi ke Jakarta. Kalandra menyetir sendiri dan kepergian mereka sungguh berat mereka jalani karena untuk kali pertama, mereka akan jauh dari Aidan dalam waktu lama.


Di belakang sana, di depan gerbang, Aidan yang diemban pak Sana, dituntun untuk melambaikan tangan, dadah-dadah pada kepergian mobil Kalandra. Arum sendiri terus menoleh ke belakang sambil melambaikan tangan kanan dan tentu saja menangis. Lain dengan Kalandra yang tampak tegar dan hanya mengawasi dari kaca spion luar sebelah kanannya. Kalandra sengaja berusaha tegar agar istrinya tidak sampai meraung-raung. Kalandra yakin itu akan benar-benar terjadi jika ia sampai menunjukkan kesedihan apalagi air matanya.


“Mas yakin nyetir sendiri?” ucap Arum sambil menutup tuntas kaca jendela pintunya. Kemudian ia menarik beberapa helai tisu kering di hadapannya, menggunakannya untuk menyeka air matanya.


“Iya. Nyetir sendiri apalagi kalau perjalanan jauh, bikin aku jauh merasa aman,” balas Kalandra sambil meraih gelas kopi kemudian meminumnya.


Aroma kopi hitam yang tercium sangat harum karena diseduh dengan air yang benar-benar mendidih, menguasai suasana mobil.


“Kalau gitu besok-besok, aku diajari nyetir ya, biar kalau ke mana-mana, bisa gantian nyetir,” ucap Arum masih sibuk menyeka sekitar matanya. Ia masih galau dan tak bisa menghentikan air matanya hanya karena harus berpisah dalam waktu lama dari Aidan. Karena meski sadar Aidan aman apalagi ibu Kalsum dan pak Sana juga sangat menyayangi bocah itu, rasanya tetap ada yang kurang. Ibarat dikatakan, hati Arum akan selalu krenyes-krenyes di setiap ia jauh dari buah hatinya apalagi waktu yang tidak sebentar.


Kalandra langsung mesem kemudian menatap istrinya. “Memangnya Mamah hafal jalan?”


“Itu tinggal dengerin GPS, kan? Belok kanan, belok kiri, lurus apa masuk ke pertigaan,” balas Arun dengan polosnya.


Kalandra langsung menahan senyumnya. Ia berangsur meletakan gelas kopinya ke tempatnya. Sementara tangan kiri yang baru meletakan kopi itu meraih punggung kepala Arum. “Belok kanan belok kiri, ada pertigaan tabrak. Ih Mah, ikut GPS kadang juga disesatin. Ibaratnya yah, kalau kita blas enggak tahu jalannya, mau ke depan saja kita diputer-puterin. Nyasar lah kita.”


“Tapi kan, aku cerdas, Mas. Gampang hafal!” balas Arum yakin seyakin-yakinnya.


Jawaban polos dari sang istri teramat menghibur seorang Kalandra. “Mau mobil?”


Arum yang masih menyeka air mata langsung terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia menatap serius Kalandra. “Mas mau beliin?”


Kalandra nyengir. “Kalau Sayang mau, nanti aku beliin!” yakinnya.


“Ya sudah Mas, beliin saja. Nanti aku belajar nyetir, kalau enggak bisa-bisa, pas aku nyetir, yang lain suruh minggir!” yakin Arum.


Kalandra tidak bisa untuk tidak tertawa.

__ADS_1


“Ih, kok Mas malah ketawa?” protes Arum.


“Kalau yang lain suruh minggir, mereka lewat mana, Yang?”


“Ya lewat jalan lah, Mas. Tapi aku dulu buat keselamatan bersama!”


Menghela napas pelan, Kalandra mengangguk-angguk. “Nanti kalau sudah lahiran, aku beliin mobil. Kalau sekarang, kamu kan lagi hamil. Waswas kalau kamu nyetir.”


“Ya yang lain suruh minggir Mas,” yakin Arum.


“Ya enggak mungkin mau, nanti yang ada mereka ngamuk.”


“Padahal jalanan ini kan punya nenek moyangku, Mas!”


“Nenek moyang bersama, Yang!” yakin Kalandra dan Arum malah tertawa.


“Kamu ya ....”


Yang Arum tahu, Kalandra belum sampai memberikan video kiriman Resty kepada Tuan Maheza, sebab suaminya itu tidak mau salah langka. Apalagi berurusan dengan orang penting sekelas Tuan Maheza sangat sensitif, ditambah hal yang akan mereka ungkap juga benar-benar sensitif.


“Mas, ... aku boleh minta kopinya?” lirih Arum sambil melirik penuh arti kepada sang suami.


Kalandra yang baru kembali menyeruput kopinya, langsung menoleh, membuatnya menatap sang istri. Dilihat dari ekspresinya, Arum tampak sangat ingin minum kopi. Namun Kalandra tidak lupa, kafein dianjurkan untuk dikurangi untuk wanita hamil maupun menyusui. Masalahnya jika sampai dilarang, Kalandra yakin yang ada istrinya nangis karena akhir-akhir ini saja, Arum jadi sensitif.


“Boleh, tapi dikit saja. Enggak boleh banyak-banyak, kan.” Kalandra memberikan gelas kopinya.


Arum langsung tersenyum ceria menerimanya. “Alasan kopi bisa bikin kita lebih melek itu gimana ceritanya, sih, Mas?” Ia menyeruput kopinya sambil melirik Kalandra yang ia tunggu jawabannya. Suaminya itu masih fokus mengemudi.


“Ceritanya gini, dari zaman dahulu, ada yang namanya kafein. Nah kafein ini merupakan senyawa alkaloid xantina, bentuknya kristal dan rasanya pait. Ini ibarat obat peranggsang psikoaktif dan diuretik ringan yang menstimulasi kerja jantung sekaligus meningkatkan produksi urine. Kafein ini juga bikin otak jadi lebih fresh, makanya jadi menghambat rasa ngantuk juga,” cerita Kalandra.

__ADS_1


“Lah masa? Tapi ini kok aku tetap ngantuk, Mas?” sergah Arum memotong dongeng dari sang suami.


Kalandra langsung kicep. “Berarti level ngantukmu kamu sudah tinggi banget, Yang. Dan kayaknya bawaan hormon sama TAKDIR juga.”


Arum tertawa, merasa gemas kepada suaminya. “Takdirnya dibawa-bawa!”


“Ya sudah, tidur,” ucap Kalandra.


“Nanti Mas, aku mau nemenin Mas biar Mas enggak ngantuk. Sampai titik darah penghabisan pokoknya!” yakin Arum. Ia menaruh gelas kopinya dan segera meraih sederet bekal makanan di tempat duduk belakang.


“Mas mau rujak?” tawar Arum.


Setelah selesai makan ini itu, bukannya bisa melek, Arum malah benar-benar tidur karena kekenyangan. Kalandra yang ditinggal melek sendirian menjadi sibuk menertawakan kelakuan istrinya.


“Ya Alloh, Yang ... kok kamu jadi selucu ini? Heboh makan sambil ngobrol, eh ujung-ujungnya tidur,” ujar Kalandra. Tangan kirinya sibuk membenarkan selimut yang menyelimuti tubuh sang istri.


Perjalanan ke Jakarta yang juga menjadi perjalanan jauh pertama mereka, terasa sangat menyenangkan lantaran Arum yang tetap mengantuk dan berusaha menemani sang suami, pada akhirnya tetap tepar setelah kekenyangan.


“Ini kayaknya ngidamnya lagi pindah ke aku biar Mas bisa fokus nyetir, ya?” keluh Arum dan Kalandra hanya menertawakannya.


“Mas, nanti kita langsung ke kontrakan mbak Resty, apa ke rumah pak Maheza?” tanya Arum.


“Ke kontrakan Resty dulu, terus siangnya baru ketemuan sama Tuan Maheza. Aku janjiannya di jam makan siang.” Kalandra menepikan laju mobilnya. Mereka sedang mengambil waktu untuk istirahat di salah satu rest area sekitar Purwakarta.


“Ke toilet yuk, sekalian bawa sabun. Aku mau mandi biar enggak ngantuk,” ucap Kalandra.


Arum menggeleng tegas, menolak ajakan Kalandra. “Mas tetap harus tidur, dua atau tiga jam. Setelah itu, kita baru lanjut perjalanan. Buat keamanan bersama. Kalau mau ke toilet ayo karena aku pun pengin pipis. Habis ini, Mas tidur dulu. Tidur di belakang biar bisa selonjoran. Ini aku beneran marah kalau Mas sampai nolak!”


Kalandra mesem sambil mengangguk-angguk. “Ayo turun ke toilet dulu.”

__ADS_1


Dan setelah itu, Kalandra sungguh tidur di tempat duduk belakang di pangkuan Arum. Kali ini Kalandra yang benar-benar tidur, sementara Arum yang melek kembali sibuk makan.


“Nah, ini ngidamnya udah pindah ke bapake lagi!” batin Arum tersipu memandangi wajah Kalandra yang masih terpejam damai di pangkuannya.


__ADS_2