
“Tumben jam segini sudah pulang, Pak Gede? Biasanya jadi jin penjaga rumah makan mbak Arum?” ucap Septi sengaja mampir ke rumah pak Haji.
“Kesannya saya ini jin penglaris yang tugasnya ludahin makanan, ya?” balas pak Haji dengan santainya sambil tetap tiduran di sofa panjang ruang keluarga yang memang sangat empuk. Tak kalah empuk dari tubuh Septi yang langsung ia larang duduk.
“Jangan duduk di situ! Nanti sofanya ringsek! Kasihan sofanya kalau sampai ringsek! Ini sofa bahannya dari kulit buaya buntung asli!” Pak Haji sampai duduk.
“Ya Alloh, Pak Gede! Masa iya aku harus nglekor, duduk di lantai sebebas ini?” kesal Septi langsung praktik duduk di lantai depan meja yang menjadi jaraknya dan pak Haji.
“Nah memang harus begitu. Jadi orang gendatz alias gendut harus sadar diri!” balas pak Haji masih kelewat santai.
“Tenang saja, Pak Gede, sebentar lagi puasa, pasti aku langsing lagi!”
“Langsing enggak sesingkat capung mandi, Sep! Langsing lebih ribet dari cintanya Siti Nurbaya! Nanti yang ada, bukannya puasa jadi langsing, kamu malah makin melar karena makannya sering balas dendam!” balas Pak Haji.
“Ya sudah, kalau gitu modali aku buat sedot lemak, Pak Gede. Biar aku langsing lagi!”
“Modali kamu buat sedot lemak?” tanya pak Haji memastikan dan di hadapannya, Septi langsung sibuk mengangguk. “Bentar, ... biayai kamu sedot lemak biar kamu langsing lagi? Ya mending biayanya buat kawin lagi lah.” Dan pak Haji langsung nyanyi, “Senangnya dalam hati, bila punya banyak bini. Dunia ini rasanya milik sendiri!”
“Eddyaaaan! Pak Gede stres, ah!” kesal Septi, tapi ia ingat, bahwa pria tua di hadapannya sangat menginginkan ibu Fatimah untuk menjadi istri.
“Ayo cepetan! Nanti aku bantu biar Mamah mau sama Pak Gede!” yakin Septi.
Pak Haji berangsur duduk dengan benar menatap Septi. “Gini yah, Sep. Selain semacam sedot lemak apalagi jika alasan hanya untuk cantik, sepertinya tidak dibenarkan oleh Alloh karena caranya yang instan, ... takutnya bukannya langsing, kamu malah langsung! Langsung bablas ke alam baka, terus belok kiri sebentar lagi neraka, belok kanan ada Surga tapi enggak mau nerima, ... berasa pakai GPS akurat gitu!”
“Ih, Pak Gede! Yang penting sedot lemaknya jangan di tempat abal-abal apalagi bayarnya juga jangan sampai kredit atau malah hutang. Biar dikerjainnya enggak setengah-setengah!” protes Septi merengek-rengek tapi pak Haji langsung cuek dan memilih tiduran lagi.
__ADS_1
“Kalau mau langsing ya hidup sehat. Kamu inginnya langsing, tapi makannya kalau belum sampai leher tuh isi perut, masih saja ngegiling. Itu di perut kamu kayaknya ada magicom tengkurap ditindih panci apa wajan gula. Kamu tahu wajan gula yang buat bikin gula merah itu, kan?”
“Ya Alloh Pak Gede tuh wajan gede banget. Babi buntung saja muat kalau tidur di dalamnya. Masa iya segede itu ada di perut aku dan sebelumnya juga sampai ada panci sama magicom?!” Septi nyaris menangis.
Pak Haji masih cuek. “Sampai sekarang saya masih bingung. Yang si Fajar lihat ke kamu, apa, gitu? Malahan saya merasa, Supri sama Angga beruntung lepas dari kamu. Lah ini Fajar kok mau nikahin kamu. Berasa menyerahkan diri ke jurang kesengsaraan. Gendutz kayak kamu kayaknya juga enggak enak, empuk tapi susah! Ah pasti enggak enak ah, pokoknya. Mau kamu yang di atas pun, yang ada suamimu kalau dia sekurus Fajar, belum satu ronde sudah langsung ke alam baka, terus belok kiri ada neraka dan siap-siap menderita, atau kanan ada surga tapi belum tentu menerima!”
“Ya Alloh Pak Gede, ... nyepelein banget!”
“Nyepelein apa? Kamu enggak tahu kalau saya ini musafir cinta? Pengalaman saya sudah enggak kurang-kurang. Ya kayak tadi saja saran dari saya, ... hidup sehat. Kalau bisa tiap hari kamu cukup makan sebiji nasi aking, jerangking itu jerangking. Tahu, kan? Nasi yang dijemur karena enggak habis terus sengaja dikeringin dan sering buat makan ternak?”
“Ya Alloh Pak Gede malah nyamain aku sama ternak!”
“Malahan ternak enak kalau diolah dengan benar, ... lah kamu, mirip gajah duduk gitu! Sudah ... sudah, pokoknya mulai detik ini juga kamu wajib diet! Gini-gini saya juga malu kalau jalan sama wanita muda tapi segendutz kamu! Mumpung belum terlambat karena kalau sudah obesitas biasanya susah penangananya. Andaipun sampai kurus, yang ada tubuh kamu juga gelambir-gelambir gitu. Ih serem, masih cantikan wewe gombelnya!”
“Ya wajib, ... sebelum kamu langsung ke neraka. Kalaupun kamu meninggal pun, kalau kamu tetap sebesar ini, yang ada kamu enggak digotong pakai keranda, tapi langsung dibungkus pakai terpal terus digelundungin sampai liang lahat!” yakin pak Haji.
Mendengarnya, Septi makin ngenes menatap tak percaya sang pak Gede yang sudah ia anggap sebagai pengganti papahnya. “Aku masih hidup gini kok ya sudah dikasih perkiraan penguburan.”
“Itu namanya tesimoti!” ujar pak Haji.
“Testimoti!” ujar Septi mengoreksi.
“Ah, taiii, ah!” balas pak Haji yang kemudian menanyakan alasan sekaligus maksud kedatangan Septi ke sana. Karena selain meminta sokongan biaya sedot lemak, pak Haji yakin Septi punya maksud lain.
“Kamu mau cari bapak kamu? Ih kayaknya dia kena pelet apem! Masa iya sampai segitunya ke kalian. Enggak wajar si itu. Terus kalau saya ngaji kirim doa buat dia pun, auranya gelap!” ucap Pak Haji setelah mendengar keluh kesah Septi perihal sang bapak yang harus jadi wali nikah.
__ADS_1
“Kirim teluh saja ke mereka bisa, kan, Pak Gede?” ucap Septi menjadi loyo.
“Ngapain kirim-kirim teluh? Sayang uangnya! Mending langsung datengin, tubuh kamu kan gendutz, bantting mereka, remuk-remuk sekalian. Andaipun kamu dipenjara, pasti cuma sebentar. Nanti saya bebasin.”
“Loh kok aku sampai dipenjara pak Gede? Ya enggak jadi nikah!” kesal Septi.
“Lah ngapain takut dipenjara? Contoh Arun dong! Gebukiin Angga apa Fajar, tanpa takut dipenjara. Asal kamu benar, hayooo gaaas jangan kasih kendur!” dukung pak Haji.
“Hah? Mas Fajar juga pernah digebukiin sama mbak Arum?” Septi benar-benar kaget karena memang baru tahu.
“Lahh, memangnya kamu belum tahu? Masa iya kamu ketinggalan news!” sindir pak Haji.
“Serius pak Gede, aku beneran enggak tahu.”
“Lah, katanya mau nikah kok enggak tahu?”
“Ih aslii pak Gede!” yakin Septi.
“Oalah kamu, beneran ketinggalan jamrud padahal dulu sempat fatal! Eh, viral juga!” yakin pak Haji yang kemudian berkata, “Ya sudah sana kamu pulang, ini sudah malam. Malam jumat, waktunya sunnah Rasull. Saya enggak mau kalah dari Kalandra yang tiap hari bisa lima kali.”
“Ealah, ... Pak Gede ngomong apaan sih, enggak jelas banget!” Septi memang langsung risi jika membahas hal semacam itu.
Pak Haji tertawa, dan menjanjikan kepada Septi akan membantunya. “Besok kita berangkat ke Magelang, samperin bapakmu!”
Septi langsung mengangguk siaga. “Oke, Pak Gede. Kalau yang ini, aku setuju!”
__ADS_1