
Kepergian rombongan Widy dan Sekretaris Lim meninggalkan kesedihan mendalam khususnya bagi Arum yang langsung terang-terangan melepasnya. Tanpa peduli pada masa lalu mereka, pada kenyataannya jauh dari orang tua kandung yang masih tersisa, tetap terasa sangat menyiksa.
“Padahal sebelumnya pun hubungan kami enggak dekat-dekat amat. Namun rasanya sesesak ini!” batin Arum bertahan meringkuk dalam dekapan Kalandra. Di depan sana, Alphard hitam milik Sekretaris Lim sudah tak terlihat.
“Mamake enggak usah sedih karena kepergian mereka untuk kehidupan lebih bahagia. Kalaupun kita kangen banget dan enggak cukup lewat video call, kita bisa susul mereka ke Jakarta,” ucap Kalandra.
“Untuk sementara kan mereka tinggal di rumah pak Maheza. Namun dalam waktu dekat, Lim bilang mau bangun rumah sendiri. Walau rumah pak Maheza sangat besar karena Mamake pun pernah ke sana, tentu tetap nyaman kalau tinggal di rumah sendiri.”
“Rumahnya pak Maheza mirip hotel berbintang-bintang!” ucap Arum.
Karena waktu terus berjalan, otomatis mereka juga tak boleh hanya berjalan di tempat. Perubahan lebih baik harus tetap mereka jalani walau rasanya memang berat apalagi jika sudah menyangkut LDR dan kehilangan. Itulah yang Arum tanamkan pada dirinya yang belum apa-apa sudah sangat rindu. Apalagi ketika ia tak sengaja melihat pintu ruang tamu, maupun setiap sudut ruangan yang sempat ditempati Widy dan keluarganya. Semua bayang-bayang mereka terasa begitu memilukan bagi Arum yang memang sangat menyayangi mereka.
“Mas, aku mau peluk, ya. Kayaknya untuk beberapa hari ke depan, aku bakalan ngerasain rasa galau tak berkesudahan,” lirih Arum sembari mendekap lembut tubuh sang suami. Kalandra menghampirinya ke kamar tamu yang sempat Widy sekeluarga tempati.
Kesedihan Arum yang begitu kehilangan keluarganya, juga langsung menular kepada Kalandra. Kedua mata Kalandra perlahan merah sekaligus basah.
“Ditinggal saudara saja seberat ini, ... apa kabar kalau nanti anak-anak dewasa dan mereka menikah, ya?” ucap Kalandra.
“Bikinin mereka rumah di dekat sini di dekat sini saja, Pah. Jadi mulai sekarang, kalau ada yang jual tanah di dekat sini dan kita ada uang, buat beli saja buat anak-anak!” usul Arum yang berlinang air mata menatap sang suami dengan sangat memohon. Beruntung, Kalandra yang menyimak sekaligus menatapnya, langsung mengangguk-angguk.
“Kalau rumah anak-anak dekat kan, main ke rumah mereka cukup jalan kaki. Hari ini di rumah mas Aidan. Besoknya di rumah mbak Azzura ...,” ucap Arum berusaha meraba-raba masa depan. Ulahnya sudah langsung membuat sang suami tersipu.
“Biar mbah kakung sama mbah uti juga gampang kalau mau main sama mereka. Aku sih berharap, mereka mau nikah muda. Masih muda fokus beresin pendidikan sambil mulai merintis bisnis, terus nikah pun sudah pada mapan, kan?” ujar Kalandra.
Kebahagiaan Kalandra dan Arum yang sudah sampai meraba-raba masa depan, ternyata tak sejalan dengan Angga yang memutuskan untuk tidak menikah lagi. Kabar pernikahan Widy yang sudah sampai pindah ke Jakarta, tetap tidak bisa menjadi inspirasi untuk Angga mendapatkan rumah tangga lebih baik lagi.
__ADS_1
“Enggak, Kal,” ucap Angga yang masih memangku Aidan. “Sekarang, fokusku beneran hanya untuk Mas Aidan. Takutnya andai aku menikah, itu akan membuat hubunganku dan Mas Aidan jauh lagi.”
“Bisa hidup seperti sekarang dan mulai bisa diterima Mas Aidan saja, aku sudah senang banget!”
“Jadi, aku ingin fokus siapin masa depan Mas Aidan. Anggap saja ini ibarat hukuman untukku yang pernah jadi papah sangat gagal untuk Mas Aidan apalagi kakak-kakaknya!” yakin Angga.
“Kalau mau kamu begitu, aku juga enggak bis memaksa, Ngga. Soalnya kamu yang menjalani. Dan otomatis kamu juga yang menentukan. Namun saran terakhirku, andai ada wanita cantik sekelas mamahnya anak-anak, menikahlah!” yakin Kalandra sarat perhatian.
Angga mesem. “Yang kayak mamahnya anak-anak sudah enggak ada, Kal!” yakinnya tersipu, tapi langsung dibanggakan oleh Kalandra.
“Menyesal di kamu, tapi jadi rezekiku!” ucap Kalandra dan Angga hanya tersenyum getir.
“Oh, iya ... suaminya Widy beneran orang Jakarta? Sepertinya dari semuanya, hanya aku yang ketinggalan berita. Aku pikir dia mau sama dokter yang teman kamu. Terus pas kemarin dia pamit karena enggak bantu aku jualan lagi, sekalian minta maaf kalau dia banyak salah, aku rada bingung. Masih dekat kok sampai pamit dan ngapain juga bilangnya mau ke Jakarta,” lanjut Angga.
“Sama temanku, mamahnya rese!” balas Kalandra setelah ia menyeruput es teh manisnya.
Suasana rumah makan Arum sedang ramai-ramainya karena kini waktunya berbuka puasa. Waktu yang juga disepakati Kalandra dan Angga untuk bertemu. Lebih tepatnya, Angga rindu Aidan kemudian meminta izin untuk bertemu.
“Iya. Kamu gitu saja. Soalnya kalau semuanya mirip Pak Haji, bisa berabe!” balas Kalandra yang kemudian tertawa.
“Ya ampun tuh orang. Aku tawari sama mamahku, dia enggak mau!” ucap Angga.
“Sama! Aku tawari mertuaku, dia jaga enggak mau. Maunya yang cantik dan masih muda!” balas Kalandra.
Membahas pak Haji tak hanya membuat Kalandra dan Angga tertawa. Karena Aidan yang bersama mereka dan tengah memakan potongan buah apel, juga ikut tertawa.
__ADS_1
“Angga beneran enggak mau nikah lagi? Dia beneran trauma dan ingin fokus pada Mas Aidan? Coba nanti kita sama-sama lihat, ya!” batin Kalandra yang masih tertawa sambil menatap Angga.
Lebih mengejutkan lagi, yang menjadi alasan mereka tertawa tiba-tiba datang.
“Kalian ketawa-ketawa gitu, lagi bahas janda baru apa bagaimana?” tanya pak Haji yang kemudian menarik kursi di sana untuknya duduk.
Bukannya menjawab, Kalandra dan Angga yang awalnya kompak diam sambil saling tatap, juga sampai kompak tertawa.
“Edan semua!” kesal pak Haji. Ditinggal menikah oleh Widy membuatnya sangat merana. Mencari janda ke sana kemari pun lebih sulit dari ketika biksu Tong mencari kitab suci dikawal ketiga muridnya.
“Carikan janda baru dong!” rengek pak Haji memohon pada Kalandra dan Angga yang duduk berhadapan. “Tapi jangan mamah Angga atau malah mamah mertuanya Kalandra! Udah enggak enak!” lanjutnya sengaja mengingatkan, tapi sukses membuat kedua pria itu makin terbahak.
“Kan, ngakak lagi! Beneran stres!” kesal pak Haji.
“Kami punyanya memang dua stok itu, ya yang kami tawarkan tentu itu!” yakin Kalandra meyakinkan. “Iya, kan, Ngga? Coba kamu ingat, di dekat kontrakanmu ada janda sesuai kriteria Mbah, enggak?”
“Sudah saya cek, satu kecamatan enggak ada yang muda apalagi cantik. kebanyakan sudah tak layak konsumsi!” balas pak Haji makin tantrum, tapi menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Angga dan Kalandra.
“Di desanya Widy banyak, loh, Mbah. Masih muda, usia dua puluhan. Biasanya mereka merantau ke kota, dan kalau mau lebaran biasanya mereka mudik!” yakin Angga.
“Ah, tolong jangan yang di sana, dong. Jalan ke sana kan, kalau jatuh bisa bikin kepala pecah!” rengek pak Haji.
“Ya wajib usaha. Katanya nyarinya yang gitu. Sewa ojek, kek. Apa kereta kencana!” goda Kalandra dan makin ngakak lantaran pak Haji melamar Angga menjadi sopirnya dalam berkelana mencari janda muda yang cantik, ke desa Widy.
“Wajib sama kamu, yakin, Ngga. Takutnya, saya malah dapat wariyem lagi!” mohon pak Haji yang kemudian memanggil pramusaji karena ia ingin pesan makanan untuk buka puasa.
__ADS_1
Dalam kamus pak Haji, patah satu janda, makin menggila. Itu kenapa, ia makin sibuk berkelana agar secepatnya menemukan ganti dan bila perlu yang lebih dari sebelumnya.