
Fajar bergaya cool tanpa mau membuka masker yang niat utamanya bukan lagi demi protokol sekaligus keamanan kesehatan. Melainkan demi menutupi giginya yang pongah dan memang belum direnovasi.
“Dek, tadi yang urus uang transferan dari luar negeri gimana? Sudah ada perkembangan, belum? Soalnya ini orangnya WA saya,” ucap Fajar tepat di sebelah Septi. “Si Septi kok jadi mirip Anggun, ya? Tapi semoga galak sama sifatnya enggak kayak Anggun. Si Anggun kan, sudah galaknya mirip bosnya dakjal, malasnya juga diformalin,” batin Angga yang kemudian sengaja pura-pura seperti mengenali Septi.
Deg-degan, itulah yang langsung Septi rasakan. “Ini cowok kok keren banget, ya? Badannya bagus walau perutnya kayak perutku pas hamil enam bulan, kulitnya bersih dan enak dipandang, enggak malu-maluin banget lah kalau diajak jalan apalagi kondangan. Walau pakai masker, aku yakin dia ini sebenarnya benar-benar ganteng,” batin Septi yang langsung iya-iya saja ketika Fajar mengenalinya sebagai orang yang rumahnya tingkat, dan lokasinya dekat pasar yang ada di kecamatan.
“Ternyata dia kenal aku. Baru tahu aku kalau sebenarnya aku terkenal kayak artis. Ya sudahlah aku iyain saja, siapa tahu jodoh. Padahal alasanku ke sini mau tanya-tanya prosedur pinjam kur!” batin Septi lagi yang dalam hatinya sampai tertawa girang.
“Ya sudah, Ibu Septi, sekarang apa yang bisa saya bantu? Duduk dulu, Bu. Duduk di sini.” Fajar duduk lebih dulu di tempat duduknya. Dan misinya mendekati Septi pun dimulai apalagi Septi juga langsung menyambut bahkan membalas.
“Si Fajar baik banget, ya? Masa iya yang lain istirahat, tapi demi aku dia rela stay gini,” batin Septi yang memilih tidak jadi bertanya-tanya apalagi sampai meminjam uang dari sana, walau tujuan utamanya ke sana memang untuk itu. Sang mamah mengutusnya karena mereka butuh modal untuk usaha.
***
Keluar dari kamar, Arum yang mencoba kebaya untuk acara di empat bulan kehamilannya, tersipu. Malu-malu tapi kemayu, Arum mencoba mencuri perhatian Kalandra yang tengah memisahkan setiap arsip yang ada di lantai sebelah pria itu berpijak.
“Mas-mas, besok aku pakai kebaya ini!” lirih Arum minta diperhatikan karena Kalandra yang sedang sangat serius, sama sekali tak terusik. Walau suara terbukanya pintu kamar mandi terbilang berisik. Juga, langkah kaki Arum yang harusnya pria itu dengar.
Kalandra langsung menoleh seiring pria itu yang menjadi tersipu memandangi kehadiran sang istri. “Mirip manten, Yang. Cantik banget!” Melihat Arum memakai kebaya putih layaknya sekarang membuat istrinya itu mirip mempelai pengantin.
“Mas sibuk banget, ya?” lirih Arum agak kecewa lantaran Kalandra terlihat sangat sibuk.
Tangan kiri Kalandra yang tidak memegang setumpuk dokumen, terarah ke Arum. “Sini. Malam ini juga semuanya harus beres karena besok paginya, mau aku antar ke kantor.”
Arum tak hanya membiarkan tangan kiri Kalandra merangkulnya karena ia juga sengaja mendekap Kalandra dari samping. Tak tanggung-tanggung, ia melakukannya menggunakan kedua tangan kemudian sampai bersandar manja di dada Kalandra.
__ADS_1
“Ini sudah malam, dan ini bisa sampai besok pagi. Masih banyak gini dan yang di lantai masih numpuk,” lirih Arum.
“Enggak sampai pagi sih, harusnya dua jam lagi sudah beres,” yakin Kalandra yang sudah langsung kembali mengontrol setiap arsipnya kemudian menumpuknya di tumpukan berbeda.
“Aku bantuin, yah, Mas?”
“Beda urusan, Sayang. Ini beneran rumit. Semua laporan ada di dini, besok diantar ke kantor, meeting bentar, terus pulang buat acara empat bulanan.”
Arum tahu Kalandra sangat sibuk, tapi ia sengaja menempel di tubuh pria itu. Ia memilih tidak bicara karena takut mengganggu fokus Kalandra.
“Habis diurut, mas Aidan tidurnya pulas banget. Sama sekali enggak ngerengek apalagi tiba-tiba bangun terus malah ronda,” ucap Kalandra.
“Mas Aidan tahu, papah mamahnya lagi pengin romantis,” ucap Arum. Kalandra yang bekerja menggunakan tangan kanan karena tangan kiri masih merangkul tubuh Arum, langsung tertawa.
“Tapi aku cantik kan Mas, pakai kebaya ini?” rengek Arum sebelum benar-benar meninggalkan Kalandra. Ia sungguh haus pujian suaminya.
Kalandra menghela napas pelan. “Cantikkkkk baaaangettt! Kalau ini enggak buat rapat pagi dan besok kita bakalan sibuk acara empat bulan sekalian foto-foto, sudah abis kamu aku terkamm bolak-balik!”
Arum langsung terkekeh. Ia yang awalnya sudah akan pergi sengaja kembali mendekat. Kemudian ia sengaja berjinjit hanya untuk membuat bibirnya menempel di sebelah pipi Kalandra. Merespons hangat, Kalandra langsung menatapnya ketika Arum mengakhiri ulahnya. Pria itu langsung menncium bibirnya dengan mesra.
Tak kalah bahagia, di kamar yang ada di kontrakan sempit, Septi yang tengah berkirim WA dengan Fajar juga merasa dunia hanya milik mereka sementara yang lain hanya lewat atau malah ngontrak. Septi sungguh sudah masuk ke dalam perangkap kadal ompong Fajar.
Septi : Sebenarnya aku sedang butuh modal besar, buat usaha sendiri, Mas. Pengin mandiri gitu tanpa bantuan orang tua.
Fajar : Wah, kamu keren banget, Sep! Jarang-jarang ada perempuan yang punya pemikiran luas kayak kamu.
__ADS_1
Septi : Yang namanya usaha, Mas. Bismillah semoga dilancarkan. Ngumpulin modal dulu.
Fajar : Memangnya kamu butuh modal berapa?
Membaca pesan tersebut, Septi langsung kegirangan dan sampai guling-guling hingga terkapar di lantai susah untuk berbaring apalagi bangun.
“Kamu dari tadi ngapain sih, kayak kudanil kesurrupan, enggak bisa diem banget!” omel ibu Fatimah yang tengah menghitung uang recehan.
“Lah daripada Mamah, malah kerjasama, sama si Angga, mending aku cari usaha yang lebih besar dan kelihat hasilnya!” ucap Septi masih susah payah berusaha duduk.
“Enggak kelihat hasilnya gimana? Tiap hari untungnya selalu lebih dari dua ratus loh ini! Si Angga keren banget, kelihatannya sepele dan modal pun enggak harus gede, tapi untungnya beneran OKE!” ucap ibu Fatimah yang memang sudah menjadi tukang gorengan layaknya Angga. Bedanya, ibu Fatimah akan jualan di depan sekolah SD dekat kontrakan mereka, atau malah membuat lapak di pasar jika sekolah sedang libur.
“Kalau papah tahu, pasti Mamah diketawain!” sewot Septi.
“Ah, bodo ah ... yang penting dapat duit dan hasilnya bisa nutup kebutuhan, halal juga jadi enggak pusing berurusan sama hukum lagi. Toh mau sampai kapan kita gengsi, apalagi gengsi kita enggak bisa bikin perut kenyang. Belum lagi si Sepri juga butuh susu, popok! Mikir dong, Sep, jangan gengsi terus. Dulunya pun si Arum enggak langsung punya rumah makan gede, kan?” ucap ibu Fatimah masih memasukkan setiap uang recehannya ke dalam plastik. Satu plastik kecil berisi seribu koin, agar rapi dan lebih mudah untuk bertransaksi.
Septi mendengkus. “Ini aku juga lagi usaha, Mah! Lihat nih, aku mau dipinjemin uang buat modal! Yang begini, yang suksesnya pasti! Lah, Mamah ... yang ada Mamah malah dapat suami enggak jelas kalau Mamah saja sekarang jadi tukang gorengan. Paling banter ya Mamah dapat tukang gorengan juga!”
Ibu Fatimah menggeleng tak habis pikir, tapi kemudian, ia meraih bantal dan melemparnya ke wajah Septi. “Awas saja kamu kalau sampai bisnis macam-macam apalagi sampai kena bisnis bodong!”
“Lihat ini, Mah ... lihat. Aku beneran mau dimodalin!” yakin Septi, memamerkan WA Fajar yang akan siap meminjaminya uang sepuluh juta.
“Uang segitu banyak mau gimana muternya? Sudah, kamu jualan gorengan saja kayak Mamah. Enggak perlu modal, cukup ambil barangnya di kontrakan Angga!” lirih ibu Fatimah mencoba membujuk Septi. “Nanti kamu yang jualan di depan sekolah, asal sabar, pasti hasilnya beneran lumayan. Ya? Kalau kamu di sekolahan, Mamah di pasar!”
Septi sama sekali tidak tertarik dengan tawaran sang mamah. Ia terlalu malu melakukan pekerjaan semacam jualan gorengan dan otomatis akan membuatnya menjadi bahan perhatian bahkan cibiran.
__ADS_1