
Arum sudah rapi dan siap pergi meresmikan acara pembukaan rumah makannya yang akan dihadiri oleh orang-orang terdekat sekalian potong tumpeng. Berpenampilan sederhana sekaligus menguncir tinggi rambutnya, Arum masuk ke dalam kamarnya.
Di kamar, Kalandra tengah mematut penampilannya di depan cermin rias.
“Sampean mau ke mana? Necis gitu?” tanya Arum curiga.
Kalandra yang sadar sedang disindir sang istri refleks mesem. “Ini mau jadi undangan spesial acara pembukaan rumah makan punya istri!”
Arum mendekati Kalandra. “Harus seganteng itu, yah?” Ia melirik sebal Kalandra yang ada di sebelahnya, sambil bersedekap.
Kalandra tetap menatap pantulan bayangannya pada cermin rias. “Sejak baru jadi embrio, aku sudah ganteng, Yang! Memang gini adanya! Takdir!”
Arum mesem sambil menggeleng tak habis pikir. Ia berangsur memeluk Kalandra dari samping dan langsung mendapat balasan padahal suaminya itu belum selesai mengancing semua kemeja lengan panjang slimfit abu-abunya.
“Kamu gugup, enggak?” tanya Kalandra tepat di depan wajah Arum yang baru saja ia ciium.
Arum menggeleng. “Biasa saja sih, Mas.”
“Sombongnya!” ledek Kalandra yang kemudian menertawakannya. “Terus, Aidan mana?”
“Sama papah mamah karena semuanya susah nunggu Mas. Kan peresmiannya sengaja pagi-pagi karena Mas sama papah harus ke kantor,” balas Arum yang kemudian buru-buru mengancing sisa kancing yang belum terkancing.
Hari ini menjadi hari peresmian rumah makan Arum. Namun sebagian dari mereka mengatakan rumah makan tersebut lebih mirip restoran karena di sana ada beberapa ruangan privatnya.
Acaranya berlangsung sederhana dan hanya dihadiri oleh orang terdekat. Dari pihak keluarga Arum yang datang hanya ibu Rusmini dan ketiga anak Widy, selain keluarga kakak laki-laki Arum karena Widy harus tetap bekerja dari pagi-pagi di sekolah. Seperti biasa, ibu Nur hadir di sana bersama sang suami. Sedangkan dari pihak Kalandra, keluarga besar dari orang tua pria itu juga datang. Termasuk ibu Sinar yang Kalandra katakan sebagai kembaran pak Sana. Kalandra sampai mengenalkan sang istri pada sang bibi.
“Istriku enggak percaya kalau Bibi, kembaran papah,” ucap Kalandra.
__ADS_1
Tentu Arum yang ada di sebelahnya langsung terkejut, lantaran sang suami begitu jujur. Arum mendelik dan langsung mencubit asal perut Kalandra.
“Karena kami enggak begitu mirip. Lihat saja, garis wajah kami saja biasa saja, miripnya sedikit. Terus kalau dibandingkan, papah kamu terlalu baik buat jadi kembaran Bibi. Dia terlalu santun, sedangkan Bibi mirip preman!” ucap ibu Sinar yang kemudian tertawa.
Kalandra ikut tertawa kemudian menatap sang istri yang masih kalem jika harus berhadapan dengan keluarga besarnya. Semacam jaim gitu. “Kita enggak bongkar aiibnya, tapi dia jujur sendiri, Yang!” ucapnya.
Dalam rangkulan Kalandra, Arum tersipu sambil menatap sungkan sang bibi yang jauh lebih bar-bar dari ibu Kalsum.
“Istrimu kalem banget!” ucap ibu Sinar sengaja memuji.
Mendengar itu, Kalandra langsung ngakak. “Sebenarnya kalian satu spesies tahu, Bi! Kalian sama mamah, beneran sama saja.” Ia meyakinkan.
“Ah, enggak lah. Istrimu kalem santun lemah lembut gitu. Lebih mirip karakter papah kamu!” ucap ibu Sinar lagi.
“Bibi bilang begitu karena memang belum kenal. Kalau sudah tahu gimana dia pas pakai jurus taflon, wajan, apa sandal, Bibi pasti bangga. Langsung ngefans pokoknya!” lanjut Kalandra sengaja pamer. Arum sampai malu dan memberikan kode keras berupa cubitan asal di lengan pria itu.
“Wong istrimu pinter masak, kan? Masakannya enak banget, makanya bikin restoran ini?” sergah ibu Sinar.
“Keren kamu, Rum. Keren! Lanjutkan!” Di sela tawanya, ibu Sinar tak hentinya memuji Arum.
Bisa Arum pastikan apa yang baru saja Kalandra katakan hingga sang bibi sampai berdalih ngefans kepadanya.
Tak lama kemudian, acara potong tumpeng untuk peresmian rumah makan, dilakukan. Layaknya ketika memotong pita, Arum dan Kalandra bersama-sama melakukan potong tumpeng kuning. Suapan pertama, keduanya berikan pada satu sama lain. Tak lupa, di acara tersebut, Kalandra yang sampai memberikan doa terbaiknya juga merangkul mesra sekaligus menciium kening Arum. Kemudian, tumpeng selanjutnya tentu untuk orang tua Kalandra yang sampai membagikannya pada Aidan yang keduanya emban secara bergantian. Sisanya, Arum dan Kalandra membagikannya ke pihak keluarga Arum. Barulah setelah itu semuanya dibagi rata.
Acara sederhana tersebut tetap khidmat karena sampai ada doa bersama dan tentunya makan bersama. Setelah acara selesai, rumah makan langsung dibuka. Kalandra dan pak Sana hanya bisa sebentar di sana karena keduanya harus bekerja. Begitupun dengan yang lain dan satu persatu pamit seiring pembeli yang silih berganti datang.
Hari ini, baru juga dibuka, rumah makan Arum sudah langsung ramai. Tentu kenyataan tersebut tak luput dari kiprah Arum dan juga Kalandra sekeluarga yang dikenal sangat baik oleh warga. Ditambah Arum sudah memiliki pelanggan tetap, juga masakan Arum yang terkenal enak.
__ADS_1
Makanan di rumah makan tersebut juga melayani pesan online. Semacam ayam, dan bebek ungkep yang awalnya diolah di kediaman orang tua Kalandra juga otomatis pindah ke sana. Bisa dibayangkan betapa sibuknya suasana di sana. Rumah makan milik Arum sungguh langsung *hid*up tanpa harus merintis dari nol khususnya dalam urusan menggaet hati pelanggan. Terbukti, hari pertama buka saja, yang dari rumah sakit langsung datang.
“Wah! Bangga, aku!” ucap pak Haji yang telat datang. Ia masuk sambil terperangah mengawasi suasana di sana. “Ini beneran punya calon istri masa depanku yang enggak tergapai-gapai.”
“Krainan, Mbah?” sapa ibu Kalsum sengaja menyindir. Ia yang mengemban Aidan sengaja menghampiri pak Haji.
Pak Haji nyengir. “Sengaja buat makan siang sekalian sih.”
“Bayar, loh!” sergah ibu Kalsum langsung menodong.
“Gampang! Lihat ini, duitku banyak. Mateng semua!” pamer pak haji sambil membuka tas selempang di depan perutnya. Di sana sungguh penuh uang seratus ribu.
“Uang dari mana, itu?” kepo ibu Kalsum.
“Setoran tuyel!” balas pak Haji yang kemudian mengoreksi ucapannya. “Gini-gini kan aku pengusaha juga, Bu!”
“Katanya musafir cinta?” todong ibu Kalsum.
“Nah itu maksudnya! Musafir cinta!” senang pak Haji yang buru-buru mengunci tas slempangnya lagi.
“Saya juga bawa rombongan loh, Bu!” cerita pak Haji.
“Baguss!” balas ibu Kalsum langsung kepo. “Anak sama istri?”
“YOI!” balas pak Haji masih pamer.
“Semuanya dibawa?” sergah ibu Kalsum makin penasaran.
__ADS_1
“Yoi! Mereka naik mobil, aku naik motor. Pakai dua mobil soalnya enggak muat!” balas pak Haji lagi.
Di rombongan anak dan istri pak Haji yang niatnya akan makan siang di sana, ada Septi dan ibu Fatimah. Ibu Fatimah sudah kembali menjadi wanita bersahaja dan beberapa kali digoda oleh pak Haji untuk menjadi istri selanjutnya. Mereka semua menempati ruangan khusus yang ada di lantai atas.