
“Ya Allah, apakah Engkau memang tidak mengizinkan hamba bertemu dengan Widy, hingga perjuangan hamba sampai harus membuat hamba kuyup keringat begini?” Pak Haji nyaris kehabisan napas setelah menuntun motornya sepanjang jalan bulak, tanpa kehidupan manusia lain selain dirinya.
“Jika kenyataannya memang begitu, hamba akan semakin berjuang, ya Alloh! Sebab, hamba layaknya Arjuna yang sudah tampan tapi juga punya banyak cinta. Hamba ibarat ksatria! Ksatria musafir cinta! Jadi, memang sudah jadi ciri khas hamba jika hamba pantang menyerah sebelum menang!”
Pak Haji berangsur mengawasi suasana sekitar. “Ini demit dan lelembut pasti terpesona lihat saya bekerja keras, menuntun motor penuh keringat begini. Karena kalau gini, saya pasti kelihatan makin seksi! Walau sejak dua puluh tahun lalu, perut saya jadi mancung, bangir mirip hidung mas Shah Rukh Khan, istri saya kompak bilang perut saya juga imut, mirip hamil tujuh bulan!!” lirih pak Haji yang sampai detik ini masih belum bisa melihat cahaya kehidupan, selain dari hamparan bintang dan juga rembulan yang menghiasi bentangan langit malam.
Demi mencari aman, pria tua pemuja janda tersebut sengaja putar balik lantaran setelah sampai maju menuju jalan yang dituju Widy dan dokter Andri lebih jauh, pak Haji tetap tidak menemukan pemukiman. Mungkin sudah hampir satu jam lamanya, pak Haji menuntun motor, dan kini akhirnya membuahkan hasil.
Pak Haji mulai melihat cahaya lampu dari pemukiman di sekitar walau cahaya di sana kebanyakan buram. “Alhamdullilah, akhirnya ada warung yang jual bensin juga! Sekalian rehat lah, biar tambah ganteng!”
Mengisi motornya dengan bensin, ngopi hitam sambil merokok, dan terakhir iseng tanya-tanya Widy kepada pemuda yang kebetulan juga nongkrong di depan warung sambil gitaran.
“Oh, Mbah cari si Widy yang cantik itu bukan?” tanya cowok yang memangku gitar dan siap memetiknya.
Pak Haji langsung girang bukan main selain pria itu yang memang langsung yakin kalau Widy yang dimaksud memang Widy yang ia cari.
“Janda, kan?” tanya pak Haji memastikan.
“Bohay, pokoknya!” yakin mereka yang jumlahnya ada lima.
“Jos! Terima kasih banyak!” ucap pak Haji sampai menyodorkan kedua jempolnya. Ia sudah nangkring di motor maticnya, tapi ia tetap memberikan dua lembar uang seratus ribu, kepada salah satu pemuda di sana. “Dibagi-bagi, ya! Buat beli kopi!”
“Terima kasih banyak, Mbah!” ucap cowok yang masih memangku gitar. “Nanti dari sini, Mbah belok kiri, lurus terus. Di perempatan ke dua, Mbah belok kiri lagi. Nah, rumahnya mbak Widy yang depan rumahnya ada salon pangkas rambutnya. Enggak ada lima menit lah dari sini!”
“Salon? Kok salon, yah, bukannya warung? Apa saking multitalenannya, makanya si Widy sampai bisa pangkas rambut dan sampai punya salon?” pikir pak Haji langsung semangat berlebihan. Ia langsung pamit dan dibalas dengan sangat hangat oleh kelima pemuda tadi.
“Masya Alloh Dek Widy, ... pangkas rambut saja kamu jago, apalagi pangkas hati saya?” batin pak Haji yang kemudian ngakak sendiri. Ia keluar dari jalan keberadaannya, dihadapkan dengan perempatan dan jalannya jauh lebih bagus karena sampai diaspal. Selain itu, lebar jalannya juga dua kali-lipat dari jalan yang ia tinggalkan.
__ADS_1
“Katanya belok kiri. Habis itu lurus terus, nah kalau ada perempatan ke dua ...,'' ucap pak Haji dan sekitar lima menit kemudian telah sampai di depan rumah yang dicari. Di sana memang ada salon berketerangan : SALON WIDY.
Pak Haji sengaja memarkir motornya di halaman depan salon dan kebetulan belum tutup hingga pak Haji merasa itu bisa menjadi bagian dari rezeki nomploknya. Kemudian yang langsung pak Haji lakukan adalah merapikan penampilannya. Ia mengelap keringatnya menggunakan uang dari dompetnya mengingat ia tak memiliki tisu maupun sapu tangan. Setelah lebih dekat, pak Haji sengaja menyapa dengan sangat lembut.
Di sana ada yang sedang potong rambut, ibu-ibu dan balita berusi sekitar dua tahun.
“Permisi, selamat malam, ... saya mau tanya, mau cari Widy!” ucap pak Haji masih bersemangat. “Ya Alloh ternyata sebenarnya dari sore aku sudah lewat sini!”
“Oh, sebentar yah,” ucap suara lembut wanita yang dari belakang saja, sudah terlihat sangat cantik. Dia sedang mencukur balita berusia sekitar dua tahun yang dipangku oleh sang mamah. Namun setelah sosok tersebut menolah dan menatap pak Haji, pak Haji langsung berkata, “Innalilahi, PEDANG!”
“Tapi saya Widy, Mbah!” yakinnya sambil kemayu.
“Hah! Jadi-jadian!” Pak Haji nyaris jantungan karenanya. Ia memilih kabur, tapi bak kuda, waria yang mengaku bernama Widy itu langsung menghampiri kemudian mendekapnya sangat erat.
“Heh! Lepas, lepas!”
“Lah kok jadi gini?” Pak Haji sudah sampai menangis karena warianya terus mendekapnya dari belakang. Apalagi walau ia sudah melafalkan ayat kursi dan doa lainnya, waria tersebut terus saja minta dimanja-manja olehnya.
“Manja-manja dengkulmu!” kesal pak Haji sambil menghantam asal kepala si waria. Rambut palsu Widy karbitan itu sampai terlepas setelah ia jambak. Tentu saja seperti yang ia takutkan, tampang Widy karbitan itu benar-benar menakutkan jika tanpa rambut palsu.
“Haaaaaah!” pak Haji bahkan sampai pingsan.
Ibu-ibu yang di sana dan awalnya menertawakan nasib pak Haji, langsung jadi khawatir.
“Itu asli pingsan loh, Dy!” ucap si ibu-ibu.
Tubuh pak Haji tergeletak lemas di kedua kaki Widy.
__ADS_1
“Bentar, saya kasih napas buatan dulu,” ucap Widy dan seketika itu langsung membuat pak Haji histeris, tak lagi pura-pura pingsan.
“Apes, apes ini! Bisa-bisanya aku diperkaos wariyem!”
“Aku Widy, Mbah. Widy Wariyem!” yakin Widy.
Sementara itu, di tempat berbeda, Kalandra yang baru masuk kamar, memergoki sang istri tengah melipat pakaian bayi.
“Ya ampun lucu banget!” Kalandra langsung heboh dan Arum langsung tersipu. Ia mendekat kemudian meletakan mug berisi teh manisnya di nakas.
“Weekend besok, belanja keperluan bayi lagi, yuk? Kemarin kan baru beli popok sama sedikit pakaian bayi,” ucap Kalandra yang kemudian duduk sila.
Arum langsung mengangguk antusias. “Tapi, memangnya kasus pak Yusuf sudah beres, Mas?”
“Enggak sampai weekend pasti udah!” ucap Kalandra yang berangsur meringkuk di pangkuan Arum. Tak hanya itu karena ia juga sampai membenamkan wajahnya di perut istrinya.
“Dua bulan lagi lah yah, kita ketemu!” lirih Kalandra sambil mengelus-elus perut istrinya menggunakan tangan kanan.
“Tapi weekend besok kita mampir buat beli es gepluk cap gajah duduk punya Septi, kan, Mas?” sergah Arum setelah memasukkan pakaian bayi yang ia lipat, ke dalam ranjang pakaian di sebelahnya.
Kalandra langsung tertawa. “Itu siapa yang kasih nama esnya sih, kok menggelitik banget? Mewakili kenyataan yang tidak bisa ditinggal lari! Ya Alloh, amit-amit. ” Tak lupa, ia mengelus-elus perut istrinya. Apalagi sejauh ini, terlalu banyak hal ajaib dari orang-orang di sekitar mereka khususnya Septi, pak Haji, dan juga Fajar Pongah. Ada saja tingkah menggelitik yang membuat Kalandra harus sering bilang “Amit-amit!”
“Kayaknya sih antara Septi apa pak Haji, ya,” balas Arum sambil menatap sang suami.
“Tapi bentar, ... bukannya weekend depan, jadi hari pernikahan Sspti dan pongah Fajar? Ya meski kayaknya hanya akan ada acara ijab kabul?” sergah Kalandra masih betah tiduran di pangkuan istrinya. Namun karena Aidan terbangun, ia langsung menghampiri bocah itu dari ranjang bayinya.
Weekend besok, Septi sama Fajar pongah nikahan. Mereka beneran mau jadi sepasang suami penuh mimpi, jadi kalian jangan lupa kondangan, ya!
__ADS_1