
“Dirasa-rasa, alasan sinyal janda Widy enggak bisa aku deteksi karena sepertinya, Widy bakalan enggak janda lagi. Mau nikah dan otomatis pensiun dia, dari peradaban janda. Alhamdullilah, dengan kata lain, aku enggak usah nunggu lama lagi karena akhirnya, Alloh akan menyatukan kami dalam ikatan pernikahan yang samawa!” pikir pak Haji masih nongkrong di rumah makan milik Arum. Namun, walau ia sudah sampai kekenyangan akibat makan terlalu banyak ketika buka puasa, ia belum melihat tanda-tanda akan ada kedatangan dari janda pujaan yang tengah ia nanti itu.
Sesekali, pak Haji mengawasi suasana sekitar sambil membenarkan kacamata khusus yang memang harus ia pakai agar ia tetap bisa melihat. “Ini enggak ada janda cadangan lagi apa gimana, kok iya dunia ini bikin aku kesepian tanpa adanya janda gemilang,” pikirnya masih sibuk mengawasi sekitar. Namun lagi-lagi, yang datang masih laki-laki.
“Gonjrang-ganjreng, ... gonjrang-ganjreng,” keluh pak Haji beberapa saat kemudian menirukan musik dari pengamen yang kebetulan datang. Suara yang makin lama makin jelas efek semacam disambungkan dengan soundsystem. Parahnya ....
“Inalillahi itu Widy Wariyem!” jerit pak Haji dalam hatinya dan benar-benar panik. Ia nyaris bersembunyi, tapi baru akan merunduk, dari pintu masuk sudah ada yang sibuk berdendang.
“Kau masih gadis atau sudah janda ... Kalau masih gadis ayo jadi janda. Karena janda kononnya lebih menggoda! Wah Pak Haji, ... mbah kesayangan!”
Karyawan di warung yang memang sudah paham pak Haji, langsung sibuk menertawakan pak Haji yang langsung ditempeli wariyem. Membuat pembeli yang ada di sana juga ikut tertawa. Sama sekali tidak ada yang menolong walau pak Haji sibuk meminta tolong.
Widy Wariyem sudah langsung memeluk erat pak Haji, mengabsen wajah sekaligus kepala botak pak Haji menggunakan bibir bergincu tebal warna merahnya. Hingga wajah musafir cinta pemuja janda itu jadi penuh segel bibir. Namun beda dari biasanya, kepada wariyem, pak Haji sama sekali tidak bisa melawan dan memang cenderung ketakutan.
“Mbah Haji kesayangan, kasihlah Widy sayang ini makan. Kasihanilah, lima tahun ke depan, Widy sayang cantik ini belum makan!” rengek si wariyem masih bertahan duduk di pangkuan pak Haji.
“Belum makan gimana? Belum tentu juga lima tahun ke depan kamu masih hidup!” omel pak Haji yang buru-buru menunduk karena takut.
“Ah, Ayang Haji, ... Ayang tega sekali! Kalaupun memang Widy cantik ini sudah enggak hidup lagi, asal sama-sama enggak hidup sama Ayang Haji, Widy rela!” rengek manja si wariyem.
__ADS_1
“Ogah banget! Paling tidak saya masih ingin hidup lebih lama lagi karena masih banyak janda cantik yang belum saya nikahi!” protes pak Haji.
“Kenapa harus janda? Kenapa semuanya serba janda? Kenapa Mbah Haji enggak cari yang batangan saja, nanti aku kasih gratis punyaku tanpa syarat apalagi registrasi!” yakin Widy wariyem sampai histeris bak pemain drama andal, selain ia yang sampai membingkai wajah pak Haji menggunakan kedua tangan. Ia menatap saksama wajah pak Haji yang memang sengaja ia paksa.
“Ngapain juga saya cari batangan kalau saya saja punya batangnya?! Daripada ke saya, mending sekarang kamu ke Fajar karena hanya dia yang mau sama Wariyem!” yakin pak Haji.
“Eh, kalian ... kenapa kalian enggak ada yang nolongin saya?” semprot pak Haji yang kemudian berdalih akan pulang karena harus tarawih.
“Ya sudah, bawa aku ke si Fajar. Buktikan kalau dia penyuka batangan, baru aku mau lepasin Mbah Haji sayang!” tuntut Widy wariyem dan memang masih memaksa.
“Yakin, kamu pergi sendiri saja karena ini mata saya katarak. Kamu tahu, katarak itu menular!” Mendadak, pak Haji memiliki rencana untuk menakut-nakuti si wariyem. Ia sengaja menggunakan matanya yang memang bermasalah. Lihat saja, si wariyem sudah langsung tegang dan belum apa-apa sudah berusaha menjaga jarak dengannya.
“Sejak katar-aks-nya nempel ke saya dan sengaja saya tularkan,” yakin pak Haji.
“Ih, ngeri ih!” sergah Widy wariyem langsung menjaga jarak. Namun kemudian, tanpa sedikit pun merasa malu, ia menyodorkan kantong penampung uangnya kepada setiap orang yang ada di sana sambil kembali berdendang dan sesekali menggoda. Terakhir, ia menyodorkan wadah uangnya ke pak Haji, tapi pria itu mendadak melepas kacamata cenderung gelap dan langsung membuatnya ketakutan.
“Kekuatan mata katar-aks berarti sih ini. Ternyata mata katar-aks ada gunanya juga. Jadi alat termujarab mengusir wariyem gatel!” lirih pak Haji menatap puas kepergian wariyem. Wanita karbitan itu tunggang langgang sambil memanggul soundsystem dengan gaya yang benar-benar perkasa.
Baru beres membayar dan nyaris keluar dari rumah makan, pak Haji mendapati rombongan mobil mewah mendekat. Ada tiga mobil sekaligus dan satu diantaranya merupakan mobil Kalandra. Mobil Kalandra ada di tengah.
__ADS_1
“Mendadak aku merasakan sinyal-sinyal janda. Jangan-jangan, di dalam sana memang ada janda cantik yang bahkan kaya? Atau jangan-jangan, di dalam sana ada Dek Widy? Itu mobil pak pengacara, kan? Itu mobil yang kemarin orang kaya tapi mencret, kan?” Setelah berpikir demikian, pak Haji jadi berpikir, “Kok aneh, ya? Masa iya orang kayak kok mencret?” Buru-buru ia lari ke tempat parkir, memarkir mobil Tuan Maheza hingga mendapatkan posisi terbaik. Malahan ketika Tuan Maheza turun, ia sampai dapat duit selembar dua puluh ribu.
Kalandra langsung terbahak memergoki pemandangan tersebut.
“Pak Pengacara, enggak apa-apalah, rezeki bulan puasa,” ujar pak Haji tetap mengantongi duit pemberian Tuan Maheza.
Pak Sana yang berangsur turun sampai bertanya, “Memangnya Mbah lagi kekurangan pekerjaan? Sudah pensiun dari peradaban menjadi musafir cinta?”
“Ya enggak akan mungkin pensiun. Malahan ini, saya sudah mengajari anak-anak saya untuk menjadi generasi penerus!” balas pak Haji yang langsung heboh karena Widy satu mobil dengan Kalandra.
“Istri masa depan! Tarawih bareng, yuk?!” sergah pak Haji yang memang langsung menghampiri, tapi mendadak mundur karena Widy menurunkan ketiga anaknya. Selain itu, Widy juga menawarkan janda yang lain kepadanya.
“Ini mamak saya, Mbah. Janda juga. Cocok sama Mbah. Daripada sama saya, kita kelihatan buyut!” yakin Widy sembari mendekatkan sang mamak kepada pak Haji.
“Ya enggak enak! Kamu ya ... sudah kedaluwarsa! ” yakin pak Haji berbisik-bisik kepada Widy lantaran dihadapkan pada janda kawakan, ia merasa tertekan.
Pak Sana dan Kalandra sudah langsung sibuk menahan tawa. Namun, Kalandra berangsur menjauhkan pak Haji dari mertuanya. Takut mertuanya tersinggung atau parahnya merasa terzalimi.
“Ini ada apa, sih, kalian rombongan bae, enggak ajak-ajak saya?” protes pak Haji kepada Kalandra.
__ADS_1
“Ini si Widy mau lamaran!” bisik Kalandra yakin dan masih merangkul punggung pak Haji. Namun, setelah mendadak diam, pak Haji malah sampai jatuh pingsan.