
Siang-siang iseng melihat status WA orang, malah membuat Septi yang sedang antre untuk memeriksakan kehamilannya, makin meradang. Bagaimana tidak? Status pertama yang Septi lihat malah status Arum.
Arum Si Jandes Weres : Yang lagi demam pengin minum es teh juga ❤
Keterangan tersebut ada di bawah foto Aidan yang dipangku Kalandra. Wajah Kalandra memang tidak sampai terlihat. Hanya dagu dan tubuhnya saja. Tangan kiri mendekap tubuh Aidan, tangan kanan memegang gagang gelas besar berisi es teh manis. Dan seperti yang menjadi keterangan foto, tampaknya Aidan memang demam. Di kening bocah yang wajahnya sangat mirip Angga tersebut sampai dihiasi plester kompres.
“Si Kalandra, cuman kelihatan tangan sama dagunya saja kelihatan ganteng! Apa lagi kalau wajahnya sampai kelihatan? Bisa-bisa, nanti malam aku enggak bisa tidur! Jancuuuk emang si mbak Arum. Bisa-bisanya dia sama Kalandra. Du-kunnya beneran ampuh! Wajib ditiru ini, tapi dia pakai du-kun mana, ya? Gunung Kawe apa, ya? Kabarnya, di sana gudangnya du-kun sakti!” batin Septi yang kemudian dikejutkan oleh teguran sang papah.
Efek sang mamah ditahan alias dipenjara, sekarang semuanya memang Septi lakukan dengan sang papah. Termasuk urus pemeriksaan kehamilan rutin layaknya sekarang, Septi juga melakukannya dengan sang papah. Hanya saja dari kemarin, Septi perhatikan sang papah jadi sibuk chatingan. Dan ketika Septi memastikan, ... foto profil WA tersebut malah ia kenali sebagai foto sang papah tengah memeluk mesra seorang wanita berhijab, dari samping. Foto tersebut diambil di tepi pantai pasir putih. Hanya saja, Septi belum sempat melihat wajah si wanita karena sang papah sudah lebih dulu mengantongi ponselnya. Namun jika Septi ingat, itu bukan wajah mamahnya apalagi wajahnya. Terlebih, sosok wanitanya bertubuh mungil, tentu bukan mamahnya yang memiliki tubuh semampai.
“Kenapa?” tanya pak Yusuf lantaran diamnya Septi dan menatapnya sangat serius, menegaskan putrinya itu mencurigainya.
“Papah chatingan sama siapa, sih?” Septi memberanikan diri untuk bertanya.
Pak Yusuf tak lantas menjawab. Ia berpikir sejenak kemudian menghela napas. “Ya sama klien. Papah kan lagi ada proyek baru. Nanti sore, Papah mau keluar kota. Jadi nanti kamu di rumah sama Bibi saja, ya?”
Septi terdiam sejenak, menatap sedih sang papah. Kenyataan sang papah yang sampai akan pergi keluar kota, benar-benar membuatnya sedih. “Kok akhir-akhir ini, Papah jadi sering keluar kota, sih?”
Tak mau membuat sang putri makin curiga, pak Yusuf segera merangkul sang putri, menuntunnya masuk ruang pemeriksaan apalagi Septi sudah sampai kembali dipanggil.
“Kan tadi Papah sudah bilang, Papah lagi ada proyek baru.”
“Ya tapi kan minggu ini saja, Papah hampir tiap hari keluar kota dan sampai nginep, terus pulangnya sore apa siang.”
“Ya kalau enggak gitu, Papah enggak dapat uang buat kamu. Ini beneran proyek besar. Makanya besok, Papah di sana ada semingguan.”
__ADS_1
“Hah? Ada semingguan, Pah? Memangnya proyek apa, sih? Terus di mana? Jauh banget apa gimana tempatnya? Kalau selama itu, mending aku ikut Papah. Apalagi kan bentar lagi aku lahiran. Takutnya lahirannya maju, Pah.”
“Ya jangan ikut, kamu di rumah saja sama Bibi. Kalau kamu ikut, ceritanya ya sudah beda!” Tak mau Septi terus mempermasalahkan kesibukannya keluar kota, pak Yusuf sengaja membahas kelainan yang dialami janin Septi. Karena hanya dengan begitu, sang putri akan bungkam.
Kelainan yang terjadi pada janin Septi, disinyalir karena adanya jaringan pertumbuhan di kaki kanan janin yang tidak berfungsi dengan optimal. Selain itu, dokter juga menyinggung kebiasaan hidup Septi yang dianggap kurang sehat. Semacam Septi yang merokokk atau mengonsumsi alkohol sewaktu hamil. Baik secara langsung maupun hanya menghirupnya. Namun, pak Yusuf yang terlihat sangat semringah sengaja mengungkit mitos pamali ketika sedang hamil. Pak Yusuf mengaitkan keadaan janin tersebut dengan keadaan Supri yang pria itu katakan telah membuat sang putri takut.
“Bisa jadi sih, ini gara-gara aku benci setengah mati ke Supri, apalagi setelah aku tahu dia buntung terus dia juga berani mengungkap hubungan kami! Ya, meski aku memang melakukan pertamanya sama Supri dan memang beberapa kali sama dia, soalnya dulu, dia kan sekeren itu. Pantas kalau anakku sampai mirip banget sama Supri kup-pret itu. Tapi ya tetap, dari semua laki-laki keren yang aku kenal, Kalandra tetap paling keren. Tapi kok ya, Kalandra malah sama si Arum jandes sih!” batin Septi yang memang langsung lupa pada gerak-gerik mencurigakan sang papah, termasuk itu rutinitas sang papah yang akhir-akhir ini menjadi serba sibuk pergi keluar kota.
Di tempat berbeda, Arum dan Kalandra baru meninggalkan rumah makan yang mereka kunjungi. Aidan masih menempel kepada Kalandra, sementara Kalandra selalu ingin menempel kepada mamaknya Aidan. Kini saja, Kalandra terus menggandeng Arum hingga ia hanya mengemban Aidan menggunakan satu tangan. Dan sesuai jadwal, mereka memang akan langsung ke rumah Arum, merobohkan rumah Arum.
Widy : Aku sudah dapat teguran tegas dari kabupaten, Mbak. Tolong, jangan bikin aku kehilangan semua ini. Aku punya tiga anak, dan suamiku sekeluarga sangat bergantung kepadaku. Tolong banget, Mbak. Jangan. Rumah juga tolong jangan dibongkar meski di sini sudah ada satu kato(be-go). Warga juga sudah berkumpul, tapi belum datangnya Mbak membuatku makin berharap, acaranya enggak jadi.
Mbak Arum : Ini aku dan Mas Kala lagi di jalan mau ke sana. Aidan masih sumeng dan aku yakin kamu tahu. Jadi andai mau langsung bongkar sekarang ya sudah dibongkar saja. Semuanya sudah aku bayar, tinggal kosongkan saja.
Mbak Arum : Alhamdullilah kalau gitu. Berarti kamu bebas dari benalu berkedok suami!
Mbak Arum : Kalau dia tetap enggak mau tanggung jawab, kalau dia tetap enggak mau kerja dan apa-apa serba andalin bahkan nyalahin kamu, ceraikan dia. Pisah, jangan bo-doh!
Widy : Aku sayang banget ke Agus, Mbak.
Mbak Arum : Sayang-sayang taaaaii! Sayangmu enggak akan bisa bikin kehidupanmu lebih baik! Melek, anakmu ada tiga masih kecil-kecil. Lah kok masih mikir sayang suami kalau suami saja blas enggak mau urus kalian.
Widy : Kalau Agus sampai menceraikan aku, Mbak beneran harus tanggung jawab!
Mbak Arum : Aku pa-lu kepala kalian biar otak kalian sama-sama bisa mikir dengan baik!
__ADS_1
Baru berkomunikasi lewat WA, Arum sudah emosi. Namun jujur, Arum sangat penasaran, akan tinggal di mana si Widy setelah rumah itu dirobohkan?
“Jangan bilang kalau Widy belum beresin barang-barangnya, atau parahnya, malah menyempil ke rumah mamak walau aku sudah bikin rumah Mamak semungil mungkin!” pikir Arum. Seperti yang Arum khawatirkan, Widy sungguh memboyong semuanya termasuk barang-barang mertua dan adik iparnya du ruang santai rumah ibu Rusmini yang sudah jadi.
Di rumah semi permanen yang hanya ada satu kamar, dapur, dan sebuah ruang bersantai lengkap dengan kamar mandi di dalamnya itu menjadi mirip gudang saking penuhnya oleh barang satu warga.
“Kamu yah, Dy!” Arum emosi.
“Mamak izinin aku tinggal di sini, Mbak!” tepis Widy sambil mengemban anak terkecilnya dan kiranya masih berusia enam bulan.
“Keluarin barang-barang kalian dari rumah mamak! Aku bikin rumah ini beneran buat Mamak seberapa pun jahat mamak kepadaku! Cepet keluarin semua barang-barang kalian!” Arum benar-benar memberikan peringatan terakhir.
Ibu Rusmini yang sengaja menghampiri Arum berkata, “Sudah Rum, enggak apa-apa. Biar Widy sama keluarganya di sini juga!”
“Daripada ujung-ujungnya buat sempit-sempitan lagi, mending rumah barunya juga dirobohin sekalian!” sergah Arum buru-buru menarik tangan kanannya yang ditahan sang mamak. “Kalau cara Mamak tetap begini, yang ada Mamak malah menghan-curkan kehidupan Widy! Mamak harus bisa bedain mana yang sayang mana yang malah meru-sak, dong!”
Kemudian, fokus perhatian Arum teralih kepada Agus yang tengah duduk santai di tikar karakter sambil menikmati rokok dan juga kopi hitamnya. Di tikar tersebut Agus tak hanya santai sendiri. Karena Agus ditemani kedua anaknya, orang tuanya, dan juga sang adik. Mereka kompak duduk santai, padahal di luar sudah banyak warga siap bekerja sama untuk merobohkan rumah. Tentu, Arum tidak bisa untuk tidak marah.
“Hei, Gus! Enggak tahu diri kamu ya, ... enggak mikir! Dikasih kesempatan sekaligus situasi seperti ini bukannya memperbaiki diri, kamu malah mengancam Widy akan menceraikannya andai Widy enggak mau ngehidupin kamu lagi? Kalau gitu caranya, pergi saja kamu, enggak usah dekat-dekat Widy lagi! Sudah hidup numpang, kok berani-beraninya mengancam! Sudah kalian cerai saja kalau enggak ada biaya buat bayar perceraiannya, nanti aku yang bayarin yang penting kalian resmi cerai!” Arum yang tidak mengemban Aidan sungguh menghampiri, mengusir Agus dan memaksa pria itu pergi.
Karena Agus tak mau pergi juga dan Widy sampai histeris membela, Arum meminta warga membantunya. Dan Widy bersama keluarga suaminya sungguh diusir keluar. Barang-barang mereka ditaruh di luar rumah ibu Rusmini yang rencananya lantainya juga akan sampai dikeramik.
“Urus keluargamu!” muak Arum kepada Agus.
“Melek, matamu! Buka otak sama hati kamu! Disekolahin tinggi-tinggi, enggak guna! Lihat anak-anakmu!” lanjut Arum. Orang tua Agus termasuk adiknya juga sampai ia semprot, saking geregetannya.
__ADS_1