
“Aku punya hadiah buat kamu,” ucap Kalandra ketika di malamnya, Arum datang masuk ke kamar mereka. Wanita itu tak datang sendiri karena Aidan yang tidak mau diam, ada di dekapan Arum. Sementara alasan Aidan tak mau diam lantaran bocah itu langsung ingin ikut dengan Kalandra.
Kalandra segera meninggalkan bibir tempat tidur ia duduk. Arum dapati, memang ada kotak hadiah berwarna merah muda di sana. Walau tetap melangkah, Arum kerap memperhatikan kotak hadiah yang Kalandra tinggalkan.
“Aku kan enggak ulang tahun,” ucap Arum membiarkan Kalandra mengambil alih Aidan.
“Hari ini menjadi puncak, akhirnya kamu menyelesaikan masa lalu kamu dengan mereka-mereka yang pernah sangat melukaimu,” ucap Kalandra sambil menatap sendu kedua mata sang istri.
Arum tersenyum menatap Kalandra, merasa sangat terharu karena semacam menyelesaikan urusan di masa lalu saja, sampai disiapkan hadiah.
“Memangnya, Mas sudah siapin apa?” tanya Arum malu-malu. Bukannya langsung menjawab, di hadapannya, sang suami malah tersipu.
“Itu di atas tempat tidur. Di kotak pink, itu hadiahnya,” ucap Kalandra.
“Tapi Mas senyum gitu, aku jadi curiga. Kalau gitu, Mas saja yang buka hadiahnya,” ujar Arum.
“Ya enggak gitu dong. Itu kan hadiah dari aku buat kamu. Ya otomatis, kamu juga yang harus buka,” balas Kalandra.
“Mas enggak bohongin aku, kan? Ini bukan semacam jebakan dan semacamnya?” sergah Arum yang perlahan meninggalkan Kalandra. Ia menghampiri kotak hadiah yang dimaksud.
Kalandra menghela napas dalam. “Memangnya kapan aku bohong ke kamu, Yang?”
Mendengar itu, Arum yang langsung merasa buru-buru memeluk Kalandra di tengah kenyataannya yang menahan senyum tak berdosa.
“Maaf, Mas. Maaf.”
“Maafin, enggak, yah?”
“Mas ih ....”
“Iya, iya ... ayo buka kotak hadiahnya.”
Setelah sempat panik karena takut melukai perasaan Kalandra, Arum kembali tersipu. Mendadak, ia merasa sangat tak sabar untuk mengetahui isi dari kotak pink di sana.
“Boleh dikocok?” tanya Arum yang mulai meraih kotak terbilang besar di sebelahnya.
__ADS_1
Kalandra yang masih berdiri dan terus fokus menatap kedua mata Arum berkata, “Bukan arisan.”
Lagi-lagi Arum tersipu. “Baiklah, aku buka,” ucap Arum yang kemudian berkata, “Ya ampun deg-degan.”
Kalandra tersenyum girang mendengarnya. Sang istri terlihat jelas sangat bersemangat, tak sabar ingin segera mengetahui isi kotak pink-nya.
Dan ... Arum baru saja membuka tutup kotak hadiah miliknya. Wanita itu langsung diam, kemudian perlahan meletakan tutup kotaknya di pinggir tempat tidur.
“Apa yang Anda rasakan setelah mendapatkan semua itu?” tanya Kalandra.
Arum masih belum bisa berkata-kata. “Bentar, Mas. Masih belum bisa berkata-kata!” ucapnya.
“Ya ampun, bojoku ....” Kalandra tertawa geli.
“Aku unbuxing tuntas, ya?” izin Arum.
“Ya silakan, itu kan punya kamu, Mah.”
“Makasih banyak sudah diingetin,” ucap Arum.
Ada taflon dan juga wajan mungil di sana. Selain celemek masak warna cokelat muda dan dihiasi nama Arum sebagai pemiliknya. Selain itu, di sana juga ada foto pernikahan mereka, dan juga foto saat mereka sedang melihat sunset di pantai Pangandaran, sebelum mereka menikah. Kedua foto yang ada di bingkai warna putih itu juga sampai ada Aidannya.
Kalandra tersipu. “Biar kamu selalu ingat, jadi kamu yang sekarang beneran enggak mudah. Jadi, aku berharap setelah ini, kamu akan lebih menyayangi diri kamu lagi. Semoga mulai sekarang juga, kamu juga enggak sedih-sedih lagi.”
Arum berkaca-kaca melirik suaminya sambil menahan napas. “Mas ih ....”
“Aku jadi pengin nangis.”
“Ya sudah, nangis saja. Tapi jangan lama-lama. Nangis karena bahagia, kan?” balas Kalandra yang kemudian memeluk Arum. “Sini dipeluk dulu.”
Arum buru-buru memeluk sang suami, meluapkan kebahagiaan yang juga menjadi alasannya menangis. “Aku bahagia banget bisa jadi bagian dari hidup Mas. Aku beneran merasa beruntung bisa jadi istri Mas. Beneran enggak bisa diucapkan dengan kata-kata pokoknya.”
Selain langsung berkaca-kaca, Kalandra juga langsung tersipu mendengar itu. “Aku lebih dari itu, Yang. Karena selain aku, semenjak ada kamu, rumah dan juga keluargaku jadi beneran berwarna. Semuanya jadi bahagia, rame. Sebelumnya beneran enggak gini. Jadi sekarang kamu tahu, kan, bagiku, kamu sangat berharga. Spesial banget!”
“Kan, tambah bikin nangis,” rengek Arum sambil tetap membenamkan wajahnya di dada Kalandra.
__ADS_1
“Tapi masih karena bahagia, kan?” balas Kalandra.
“Iya, Mas.”
Kalandra mengangguk-angguk.
“Wajan sama taflonnya seantik itu.”
“Itu jangan dipakai,” sergah Kalandra.
“Kenapa gitu, Mas? Itu asli emas, ya? Emas gitu kan warnanya.” Arum langsung kepo. Namun andai taflon dan wajannya sungguh berbahan emas asli, berarti ia sudah otomatis jadi jutawan.
“Ya pokoknya jangan dipakai, takutnya kalau dipakai, jin-jinnya pada keluar dari wajan sama taflonnya!” yakin Kalandra.
Arum langsung tertawa. “Mas yah ... kesannya ini taflon sama wajannya, mengandung pesugihann!”
“Ya bukan pesugihan lagi, Yang ... aku siapin itu dari awal aku tahu kamu hamil kan. Itu aku siapinnya peneran penuh cinta. Kekuatan cinta bisa mengalahkan segalanya termasuk mengalahkan jin pesugihaan, kan?” yakin Kalandra yang menjadi tertawa, merasa geli sendiri dengan ucapannya. Apalagi sang istri yang mendengarnya juga sampai lemas menahan tawa.
“Kalau ini tanda cinta, kenapa warnanya enggak merah apa pink? Tanda cinta identik dengan warna itu, kan?” ucap Arum di sela senyumnya sambil menatap sang suami penuh cinta.
“Kalau sampai pakai warna merah apa pink, takutnya dikira gulali. Mungil gitu kan. Makanya aku sengaja minta warna emas, biar kamu juga selalu ingat itu dari aku, emas Kalandra,” balas Kalandra yang makin heboh dalam tertawanya.
Arum lebih-lebih. Arum sampai meringkuk di tempat tidur sambil mendekap taflon sekaligus wajan emasnya yang memang berukuran mungil.
“Aku simpan lah di lemari. Takut buat mainan Aidan dikiranya buat masak-masakan. Eh tapi jangan di dalam lemari. Buat pajangan saja sekalian sama bingkainya. Eh, sama celemeknya juga.” Arum langsung sibuk mencari tempat memajang semua itu.
“Sekalian kotaknya jangan sampai dibuang, buat kenang-kenangan,” ujar Kalandra sengaja meledek istrinya.
Arum yang tengah menyusun hadiah dari Kalandra di atas lemari sepatu yang ada di sebelah lemari pakaian, langsung membenarkan anggapan sang suami. “Iyalah ... bakalan aku simpen sampai titik darah penghabisan. Dari suami tercinta ya wajib dijaga!”
Kalandra menjadi tak hentinya tersipu. Pria itu sampai merasa, pipinya menjadi sangat panas.
“Mas, kalau aku numpuk ini begini, kira-kira jadi sarang apa?” sergah Arum masih sangat ceria. Diberi hadiah oleh Kalandra dengan maksud yang sangat istimewa, Arum merasa hidupnya benar-benar tak memiliki beban. Warna hidupnya menjadi sangat cerah.
“Sarang? Sarang gimana, maksudnya?” Kalandra menerka-nerka. Tak paham dan memang bingung.
__ADS_1
“Saranghaeyo lah, Mas. Memangnya sarang apa lagi?” balas Arum sengaja menggoda suaminya meski setelah ia melakukannya, ia yang sampai terbahak juga buru-buru minggat, bersembunyi ke kamar mandi.
“Heh, Anda jangan kabur setelah membuat hati saya bolak-balik enggak jelas gini, yah!” seru Kalandra sibuk tertawa dan buru-buru menyusul Arum.