Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
236 : Sudah Ada Perubahan


__ADS_3

Beberapa warga dilibatkan dalam pengangkatan tubuh Anggun. Langit sudah sangat terang, cerah berhias matahari pagi yang juga panas. Anggun pun masih sadar, walau wanita itu tampak lemas sekaligus pucat. Walau jika dilihat-lihat, warna kulit Anggun jadi jauh lebih cerah karena direndam di dalam kolam lele.


Satu kata untuk tragedi hukuman terhadap Anggun dan menjadi bagian dari cara didik pak Haji. Merepotkan! Benar-benar membuat satu kampung heboh, menariknya beramai-ramai menggunakan tali khusus.


Supri yang otaknya mulai agak bersih, mengawasi penuh kegelisahan di samping kolam. Tentu hanya sebatas itu lantaran kondisinya yang tidak memungkinkan. Juga, Supri yang begitu karena menahan malu. Sebab kenyataan Anggun ada di kolam Lele juga sampai diketahui penyebabnya. Pak Haji menceritakan semua latar belakang Supri dan Anggun yang sampai pernah menjadi pe*nge*mis, tahanan polisi, yang memiliki gaya hidup super malas dan terakhir membuat hidup anak-anaknya han*c*ur. Paling membuat Supri malu, pak Haji juga mengungkit kebiasaan Supri dan Anggun yang selalu me*mak*s*a keluarga Anggun khususnya Angga, untuk membiayai gaya hidup mereka yang mewah.


Namun, dari semua kabar yang telanjur menyebar. Satu hal yang Supri syukuri yaitu mengenai hubungannya dan Septi yang tak sampai diungkit. Namun Supri berpikir, alasan itu terjadi karena Septi memiliki posisi istimewa dalam kehidupan pak Haji. Lebih tepatnya, pak Haji sengaja melindungi Septi.


Setelah susah payah diangkat ke daratan, tubuh Anggun langsung diguyur menggunakan dua kran air yang terhubung dengan selang. Kali ini pak Haji masih yang melakukannya dibantu Supri.


Sekujur tubuh Anggun tak hanya melar karena terlalu lama berendam, tapi juga dihiasi banyak luka bekas digigiti atau terpatil lele.


“Ualah Nggun, ... Nggun. Kamu segendut gini. Bengkak menuh-menuhi kasur, pantas suamimu bringa*s*an cari mangsa, wong saya saja yang sudah tua enggak selera! Asli, punya saya enggak tergoda walau lihat kamu segemoy ini. Malahan takut, nakut-nakutin gitu!” ucap pak Haji, jujur sejujur-jujurnya.


Supri hanya menunduk dalam menahan kegelisahannya. Sebab normalnya, apa yang baru saja pak Haji keluhkan memang apa yang ia rasakan.


“Habis ini kalian langsung ke sawah. Karena kalau kalian pengin dapat uang, kalian wajib kerja!” tegas pak Haji.


“Memangnya mata Pak Haji pi*c*ek, enggak bisa lihat? Saya saja sakit begini dan itu gara-gara Pak Haji!” kesal Anggun.


“Enggak usah manja karena kamu bukan ratu atau malah orang penting! Mau, saya cegurin lagi sampai lebaran Haji?” sergah pak Haji benar-benar marah dan langsung membuat sekelas Anggun menunduk dalam tanpa kembali melakukan protes.


“Tubuh saya banyak yang kena patil lele, loh, Pak. Kalau dibiarkan saya bisa kena tetanus!” Kali ini Anggun benar-benar memohon.


Pak Haji menghela napas dalam sambil menatap tak habis pikir Anggun. “Berobat kan perlu biaya. Memangnya kamu punya? Enggak, kan? Ya makannya kerja dulu karena alasan orang punya uang ya memang kerja. Bukan malah pa*l*ak sana, palak s*i*n*i!” kesalnya.


Lagi-lagi, Anggun hanya mingkem sembari menunduk. Walau ketika ia teringat Angga, ia langsung menyebut nama itu akan bersedia memberinya uang. Baik itu untuk pengobatan maupun biaya lain.

__ADS_1


“Pak Haji bilang saja ke si Angga. Buat aku, aku yang minta. Bilang begitu saja, pasti dikasih!” yakin Anggun.


“Memangnya kamu pikir, kamu siapa? Memangnya kalian pikir, kalian siapa? Angga sekeluarga sudah sepakat enggak akan ikut campur urusan kalian lagi karena alasan kalian di sini pun karena itu!” tegas pak Haji sambil menatap sinis kedua sejoli di hadapannya yang mirip orang hilang. Ia memilih meninggalkan keduanya setelah memberikan sederet peringatan agar keduanya segera bergegas untuk bekerja.


“Makan pun baru akan kalian dapatkan setah kalian kerja!” lantang pak Haji sambil terus berjalan.


Tepat setelah itu juga, perut Supri dan Anggun bunyi. Bunyi yang makin lama makin keras sekaligus bersautan seolah sedang ada kampanye dadakan. Dan rasa perih yang menyelimuti lambung mereka memaksa mereka untuk segera beranjak, siap-siap bekerja sebelum mereka makin penasaran.


***


Belum genap satu hari mengurus Anggun dan Supri, pak Haji sudah merasa sangat lelah. Jantungnya menjadi berdetak sangat kencang apalagi jika ia melihat ibu Fatimah.


“Umi Fatimah, ... kasih saya senyum dong, biar saya makin semangat kerja. Kalau saya semangat kan, kontrakannya bisa nambah!” ucap pak Haji yang sengaja mengunjungi ibu Fatimah, di kontrakan wanita itu.


Ibu Fatimah tengah mengasuh Sepri di teras kontrakan. Di sana pun ibu Fatimah tidak hanya berdua dengan Sepri karena Septi yang sudah langsung cekikikan, tengah memotong bahan-bahan gorengan seperti kol,wortel, daun bawang dan juga seledri dalam jumlah banyak.


“Yang penting, mamah saya jangan sampai dijadikan patung macam Roro Jonggrang hanya karena Pak Gede menjanjikan kontrakan bisa nambah kalau mamah saya kasih semangat yah, Pak Gede!” ucap Septi sengaja meng*ggoda pak Haji.


Septi sudah sampai kebelet pipis hanya karena mendengar rayuan gombal pak Haji.


“Ya sudah, sekarang Pak Gede mau sarapan apa? Pak Gede mau saya buatkan teh, apa kopi?” tanya ibu Fatimah membiarkan Sepri main mobil-mobilan berukuran besar, sendiri karena dia cenderung fokus ke pak Haji.


“Hahahahaha!” Septi tidak bisa untuk tidak tertawa walau ia tak sampai menyaksikan interaksi puber untuk ke sekian kalinya, dari pasangan baru di sebelahnya. Tetangga sebelah sampai kompak keluar karena terlalu heboh.


“Jangan panggil Pak Gede lagi, dong, Umi. Panggil sayang saja, biar lebih romantis!” pinta pak Haji benar-benar manis. Ia sampai duduk sila di lantai menghadap ibu Fatimah yang duduk di bangku bersama Septi.


“Mas Andi sama papahnya Mas Andri, lihat! Jangan mau kalah dari Pak Gede. Puber berulang kali tahu-tahu balik jadi bayi!” ucap Septi.

__ADS_1


“Bayinya dibikin dulu biar jadi nanti kalau sudah, SAH, Sep!” yakin pak Haji.


“Hah?” Septi terbengong-bengong mendengar itu, walau beberapa detik kemudian, ia juga menjadi tertawa. “Berarti ini aku bakalan punya adik, ya? Hahahah ... ini aku lemes gini kebanyakan ketawa, jangan-jangan aku jadi enggak kuat ngegepluk es lagi!” keluhnya.


“Ya sudah, saya bikinkan teh manis dulu, Pak Gede,” pamit ibu Fatimah yang juga sampai meminta pak Haji untuk menjagakan Sepri.


“Jangan manis-manis yah, Umi. Soalnya Umi saja sudah bikin debet!” ucap pak Haji masih manis.


“Hahaha ... debet. Diabetes, Pak Gede, bukan debet!” Septi makin ngakak.


“Kamu kenapa dari tadi haha hehe haha hehe terus, sih, Sep? Sini ... mending bantu saya bikin grup WA biar komunikasinya lancar. Bikin grup Janda terus isinya si Arum, Widy, kamu, sama mamah kamu!” ucap pak Haji bersemangat.


Septi berkedip-kedip bingung. “Tapi kan mbak Arum sama si Widy sudah bukan janda, pak Haji.”


“Ya sudah, masukin kontaknya pak Pengacara, kontak si Angga, dokter Andri, sama ...,” ucap Pak Haji yang lagi-lagi ditahan Septi.


“Sejak kapan mereka menjanda? Mereka duda, Pak Gede. Batang ... batang! Hahaha ... jadi ingat salah satu mantan wariyem yang beneran ngajak aku seriusan buat nikah. Hahaha!” Septi makin terbahak.


“Nah, kan, Sep. Asli! Mulut saya ini kalau ngomong beneran jadi kenyataan! Jadi, kamu bakalan nyumbang sapi buat dibagi-bagi demi menikah dengan mantan wariyem, ya?” Pak Haji tak kalah heboh.


“Ih, apaan Pak Gede. Enggak, ih. Aku enggak mau walau dia agresifnya sebelas dua belas sama si Madu Hany!” yakin Septi.


Sepri jadi takut lantaran obrolan pak Haji dan Septi makin heboh. Bocah itu menangis sambil menghampiri dokter Andri yang baru saja mengeluarkan motor dari kontrakan. Selain siap pergi bekerja, dokter Andri juga sekalian mengantar Nissa sekolah.


“Kan, ngobrolnya jangan mirip orang demo ya. Sepri sampai kejer dikira lagi dimarahin!” omel ibu Fatimah yang datang sambil membawa nampan berisi satu gelas besar teh manis dan sepiring potongan bolu.


Septi dan pak Haji yang sadar mereka salah, langsung kompak diam. Namun, Septi baru saja memberikan ponsel pak Haji kepada pemiliknya setelah sebuah grup WA selesai Septi buat.

__ADS_1


Pengabdi Musafir Cinta (Perkumpulan Mantan Duda Dan Janda)


Itulah nama grup WA yang Septi buatkan di ponsel pak Haji.


__ADS_2