Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
108 : Fajar, Si Gigelo


__ADS_3

Sampai detik ini, pak Mukmin yang masih menjabat sebagai manajer di sana, belum mengenali Arum. Pak Mukmin hanya mengenal wanita di hadapannya sebagai anak perempuan pak Sana karena begitulah sang DPR mengenalkannya kepadanya.


“Sebenarnya, hal semacam ini bukan urusan bank ataupun perusahaan. Asal jangan membawa-bawa bank,” ucap pak Mukmin, yang sebelumnya sampai menghela napas panjang sekaligus pelan hanya untuk mengatakannya. Ia belum selesai berbicara, tapi sesuatu mengejutkannya. Ia nyaris jantungan dan ternyata itu ulah wanita di hadapannya. Wanita cantik itu sampai memelotot tajam kepadanya.


Tangan kanan Arum refleks menghantam meja menggunakan papan tanda pengenal jabatan pak Mukmin. Pak Mukmin sungguh terkejut dan sampai curiga bahwa Arum sedang kesu-rupan. Apalagi sepanjang pembahasan yang sampai menjadikan ponsel Widy sebagai bukti, Arum juga hanya diam, menyimak dengan baik.


Tak beda dengan pak Mukmin yang langsung menatap kaget wajah Arum, sebenarnya pak Sana yang masih bersikap tenang, juga tak kalah nyaris jantungan akibat ulah sang menantu. Hanya saja, pak Sana sudah jauh lebih paham keadaan menantunya. Sebelah tangannya pun sudah mengelus-elus punggung Arum, kode keras darinya agar wanita yang sudah ia anggap seperti anak sendiri itu sabar.


“Jangan bilang asal jangan membawa-bawa bank, Pak. Ini kan yang belum kita ketahui dalam artian di luar kendali kita. Malahan bisa saja ke yang lainnya udah.” Arum langsung mengomel.


“Lagian, salah satu alasan adik saya percaya ke Fajar juga karena embel-embel dia kerja di sini.” Arum merasa sangat tak habis pikir pada keputusan pak Mukmin yang baginya hanya berusaha cari aman.


“Sebagai pemimpin, Bapak harus tegas kalau enggak mau diboikot! Karena sekali saja kasus ini viral, netizen bisa langsung buka gugatan buat boikot! Lagian, kasus semacam Fajar ini beneran lagi viral loh, Pak. Ibaratnya kalau perempuan pela-cur, si Fajar ini macam gigelo! Sadar apa yang dia lakukan dengan mengobral cinta salah, dia tetap gello dan malah makin meraja lela!” Arum mengakhiri ucapannya dengan mendengkus kesal.


“Sebentar, saya rasa saya kenal. Ini Mbak Arum mantan istri pak Angga, bukan?” pak Mukmin baru mengenali Arum dan memang langsung terkejut. Ngeri karena ia langsung teringat adegan Arum menga-muk Angga menggunakan taflon.


“Iya, ini saya. Yang dulu gebukkkin Angga pakai taflon di bank ini dan saat itu, pak Mukmin juga nyaris angkat tangan seperti yang sekarang! Padahal kalau dikasus dan berani maju, saking gampangnya jeblosin si Angga ke penjara!” sergah Arum masih emosional.

__ADS_1


Pak Mukmin langsung menanggapi balasan Arum dengan ekspresi wajah tidak nyaman. Karena jujur saja, apa yang Arum katakan barusan memang langsung membuatnya kesal. Namun, ia juga mendadak sungkan ketika tatapannya tak sengaja bertemu dengan tatapan pak Sana. Tak disangka, ternyata pria itu menatapnya dengan sangat serius. Wajah pak Sana yang biasanya hangat menjadi tampak menyeramkan.


“Sekarang saya minta ketegasan pak Mukmin. Jangan berdalih asal tidak membawa nama bank karena bisa jadi, sebenarnya Fajar sudah melakukannya!” tegas Arum. “Itu kemarin kasus yang menantu dan mertua selingkuh saja bisa bikin netizen mau boikot Indo-mart hanya karena di menantu kerja di sana, loh, Pak. Jangan sampai karena ketidaktegasan Bapak, nasib bank ini juga mengalami hal serupa!”


Pak Mukmin ketar-ketir. Ia menghela napas pelan sekaligus dalam. Sebab ia sadar, berurusan dengan orang seperti Arum bisa membuatnya babak-belur. Ditambah lagi, kini Arum membawa pak DPR yang tentu saja membuatnya sungkan jika tidak langsung dikerjakan.


“Kalau begitu, nanti saya akan menegur Fajar agar dia menyudahi ulahnya, Mbak Arum.” Itulah janji yang pak Mukmin berikan kepada Arum, tapi Arum langsung menolak. Tanda pengenal jabatannya yang terbuat dari marmer, kembali Arum han-tamkan ke meja.


“Saya mau sekarang, Pak. Sekarang juga Pak Mukmin panggil dia, kita sidang sama-sama apalagi saya sudah pengin nggeplok tuh kepalanya pakai papan ini. Ini batu apa marmer? Lumayan buat terapi kepalanya biar waras!” lanjut Arum. “Kalau ada bahan besi sekalian. Besi tua, biar marem. Biar manusia tuman kayak dia jera!”


“Ya sudah pak Mukmin, sekalian diurus uang adiknya anak saya. Kalaupun enggak bisa langsung lunas, kami mau-mau saja kasih waktu, tapi jangan lama-lama.” pak Sana angkat bicara.


Pak Mukmin merasa sangat berat, tak bisa berkata-kata di setiap pria di hadapannya bersuara apalagi memberinya tuntutan.


Pak Mukmin langsung meraih gagang telepon di sebelahnya, memencet nomor dan tak butuh waktu lama, ia sudah terhubung dengan Fajar.


“Pak Fajar?” ucap pak Mukmin.

__ADS_1


“Iya, Pak. Saya sendiri. Ada apa, ya?” balas Fajar terdengar menerka-nerka. Seolah pria itu sudah tahu memang ada yang tidak beres.


“Ke sini sebentar. Ini ada berkas yang tidak begitu saya pahami. Saya ingin Pak Fajar menjelaskannya,” balas pak Mukmin.


Dari seberang, Fajar tak langsung menjawab, membuat pak Mukmin yang sudah sampai menunggu lama, sengaja menegur, mengingatkan agar Fajar segera ke ruangannya.


Di luar, Fajar yang sudah menyanggupi permintaan pak Mukmin, menjadi mengintai suasana di dalam sana yang memang hanya dipisahkan oleh dinding sekaligus pintu kaca. “Si Arum sama mertuanya di mana, ya? Enggak ada di luar, berarti ... mereka ada di ruangan pak Mukmin? Jangan sampai, alasan pak Mukmin minta aku ke sana juga gara-gara mereka.”


Fajar menjadi gelisah lantaran pria itu sadar, dirinya salah. “Harusnya aman, sih. Harusnya Widy enggak sampai cerita-cerita hubungan kami apalagi sampai cerita aku pinjam uang,” batin Fajar lagi masih sibuk berargumen sendiri.


“Enggak lah, pasti andai pun harus berurusan dengan Arum, bisa jadi Arum memang mau semacam nabung.” Dalam hatinya, Fajar sibuk berargumen sendiri. Namun jujur saja, kenyataannya yang telah mengelabuhi Widy sedangkan Widy merupakan adik Arum, membuatnya tidak begitu percaya diri. Malahan, ia menjadi ketakutan dan sudah langsung panas dingin.


“Sudahlah, pasti aman. Lagian andai sampai memang karena hubunganku dan Widy, mereka bisa apa wong kami saling cinta?” batin Fajar yang kali ini begitu percaya diri. Apalagi seperti yang baru saja ia argumenkan di dalam benaknya, dari dalam sana, Arum dan pak Sana tampak keluar dari ruangan pak Mukmin.


Fajar kembali buru-buru bersandiwara sibuk. Membuat kedua tangannya memeriksa setiap berkas, sementara kedua mata jelinya menatap setiap berkasnya.


Mendapati itu, Arum yang memimpin langkah walau ketika akan keluar, pak Sana yang membukakan pintu, sengaja melepas sandalnya kemudian menghan-tamkannya ke punggung kepala Fajar. Wajah Fajar langsung menciummm meja kerjanya dan pemandangan tersebut langsung mengejutkan kebersamaan di sana yang sudah kembali beroperasi. Nasabah yang antre ditangani sampai ada yang berdiri, menatap ngeri ulah Arum.

__ADS_1


__ADS_2