
“Aku mau tanya sama kamu,” ucap Kalandra yang kali ini memfokuskan tatapan sekaligus perhatiannya kepada Angga. Pria yang menjadi jauh lebih bersih sekaligus segar karena bobot tubuhnya tampak jelas bertambah di hadapannya, menyikapinya dengan kikuk.
Kalandra yakin, alasan Angga sesalah tingkah sekarang karena sedari tadi mantan suami Arum itu diam-diam memperhatikan kebersamaannya dan Arum. Karena Arum baru saja pergi untuk meladeni pembeli yang baru datang, perhatian Kalandra memang langsung terusik. Namun, kenyataan tersebut hanya berlangsung sebentar karena ia kembali fokus kepada pria di hadapannya yang menatapnya tidak nyaman tapi cenderung penasaran.
“Ini mengenai keluarga kamu,” ucap Kalandra yang detik itu juga langsung menceritakan keadaan keluarga Angga, kepada Angga. “Aku bilang gini karena aku yakin, kamu belum tahu karena andai kamu tahu, kamu pasti enggak akan membiarkannya. Dulu sampai sekarang saja, daripada ke anak istri kamu, kamu lebih berat ke keluarga kamu.” Di hadapannya, Angga terlihat sangat syok. Pria itu menjadi sibuk menggeleng berat, menatapnya tak percaya. Angga seolah berusaha menepis anggapannya.
“Ini hasil budaya malas di keluarga kamu!” tegas Kalandra.
Arum yang baru datang berkata, “Pada akhirnya semuanya terbukti, kan? Yang namanya sayang dan menghancurkan memang beda tipis. Orang-orang sudah mengabari Dika juga, tapi hasilnya terus nihil.”
Arum menghela napas pelan. “Inilah yang terjadi setelah pencetus budaya malas sudah enggak ada. Terus, Mas enggak lupa sumpah serapah Mas ke aku, kan? Sumpah serapah Mas kepadaku enggak ada yang terbukti karena aku bukan Mas dan keluarga Mas yang pemalas sekaligus enggak kenal aturan. Bahkan meski aku yang baru melahirkan dan bayiku masih merah, sempat terusir dan enggak memiliki tempat tinggal setelah uang sewa warungku, Mas curi buat modal pernikahan Mas dan Septi, ... Mas lihat sendiri apa yang terjadi.”
“Malahan, sumpah serapahku yang terbukti semua!” tegas Arum lagi.
Angga benar-benar kacau. Napasnya memburu dan jantungnya berdetak sangat kencang. Apalagi ketika akhirnya, ia mengetahui bahwa ibu Fatimah malah dipenjara, terlalu banyak kebohongan yang Septi lakukan.
“Kamu bilang, Septi jauh lebih baik daripada aku. Kenapa sekarang, kamu terlihat semarah itu?” tanya Arum.
Tanpa menanggapi, Angga yang telanjur kesal memilih pergi. Angga langsung menemui Septi, tapi setelah itu ia juga akan pergi ke tempat penampungan keberadaan Anggun sekeluarga.
Kedatangan Angga yang terlihat sangat emosional, mengejutkan Septi. Sempat takut, tapi Septi memberanikan diri.
__ADS_1
“Kamu enggak pernah bilang kalau ternyata keluargaku sesusah itu!” protes Angga.
“Memangnya keluarga Mas pernah enggak susah? Kalaupun enggak susah, ya karena susahnya dipindahin ke Mas. Karena mereka bikin susah Mas! Benalu semua mereka!” balas Septi.
Balasan Septi malah membuat Angga makin geram.
“Mikir, dong, Mas! Masa mentang-mentang aku nikah sama kamu, kamu mau melimpahkan semua kebutuhan hidup keluargamu ke aku? Mereka sudah pada dewasa, jangan dimanja terus. Bahkan karena budayamu lah, mereka yang pemalas mental benalu, bukannya bekerja malah jadi penge-mis! Mereka sehat dan mereka bisa kerja. Bukannya dari dulu, si Arum juga sudah berulang kali mengingatkan Mas? Harusnya Mas juga sadar, alasan ini juga yang bikin orang tuaku sampai minta Mas menandatangani perjanjian agar Mas berhenti mengurus keluarga Mas!”
“Yang enggak mikir bukan hanya aku maupun Arum saat Arum masih jadi istri kamu. Yang enggak mikir itu kamu sama keluarga kamu! Masa iya sekadar makan saja mereka enggak mau kerja! Herman aku!” setelah berucap demikian, Septi berkata, “Sekarang katakan kepadaku, bagaimana rasanya setelah kamu mengetahui keadaan keluargamu yang kamu budayakan jadi pemalas sekaligus benalu malah sudah naik level jadi penge-mis! Anggap saja aku sedang jadi wartawan, biar nanti aku woro-worokan karena aku yakin, di luar sana apalagi mereka yang mengenal kamu dan keluargamu, pasti sangat penasaran.”
Ditanya perasaan atau sekadar komentar mengenai keadaan keluarganya, Angga sungguh tidak bisa berkomentar. Pria itu balik badan dan lebih memilih memben-tur-ben-turkan kepalanya ke tembok.
“Jangan tanggung-tanggung, Mas. Bentu-rinnya yang keras biar kamu amnesia dan lupa ke keluargamu. Biar mereka terbiasa kerja keras, bukan jadi pemalas yang mengharapkan belas kasih sekadar buat ganjal perut!” kesal Septi.
“Mas Aidan, ... beskapmu juga udah jadi ini. Mirip banget punya papah Kala,” ucap Arum ceria. Namun, ia yang masih mengemban Aidan buru-buru mengantongi ponselnya lantaran ada yang minta dibungkuskan lauk.
Yang lebih menyebalkan, hari ini pak Haji kembali datang. Namun, Arum tetap abai apalagi kenyataan warungnya yang ramai, membuat pak Haji tak ada kesempatan mengganggunya.
“Harusnya kemarin mas Kala sama papah beneran ben-turin kepala si pak Haji sampe amnesia biar tuh aki-aki enggak ke sini gangguin aku terus,” batin Arum. Mendadak ia ketar-ketir lantaran pak Haji malah masuk dan duduk di area dalam.
“Mbah, keluar!” usir Arum.
__ADS_1
“Loh, kenapa? Saya kan mau beli!” balas pak Haji.
“Saya enggak segan teriak loh kalau Mbah enggak sopan gitu!” balas Arum sewot.
“Ada apa, Mbak?” tanya bapak-bapak yang sedang meminum kopi bersama sang istri.
“Ini, Pak. Kebiasaan gitu, naksir tapi maksa padahal saya sudah mau menikah dan si Mbah juga sudah punya istri dua!” cerita Arum sewot.
Si bapak-bapak bersama sang istri, kompak geleng-geleng sambil menatap pak Haji.
“Dek Arum, jadi wanita jangan ember kenapa sih? Memangnya apa salahnya kalau saya usaha?” ujar pak Haji.
“Sudah Mbah keluar dari situ. Sopan dikit kenapa, sih? Mbah beneran ingin saya penjarakan apa bagaimana, sih?!” omel Arum.
Sambil berdiri dari bangku biasa Arum duduk bersama Aidan maupun Kalandra, pak Haji berkata, “Tolong, penjarakan saya di hati kamu, Dek Arum. Penjara cinta sang janda, duh ... seindah ini kisah kita!” Ia tersenyum hangat khas orang yang sedang kasmaran.
Bergidik Arum melihat sekaligus mendengarnya. “Saya laporin Mbah ke calon suami saya atau malah papah mertua saya, loh!” Ia tak sekadar mengancam. Karena ia sungguh mengeluarkan ponselnya, kemudian menelepon Kalandra.
“Eh, Dek Arum. Jangan, tolong jangan. Sekali saja saya dilaporkan, saya beneran akan ditahan!” rengek pak Haji panik. Ia terseok menghampiri Arum, berusaha mencegah wanita cantik itu menghubungi Kalandra.
“Lihat, Pak. Jalan saja sudah susah, perut saja mau kangsarah ke lantai, masih saja cari mangsa!” gunjing ibu-ibu selaku istri dari bapak-bapak yang tadi sempat menegur.
__ADS_1
Sambil tetap bicara dengan Kalandra melalui sambungan telepon, Arum sengaja berlindung di sebelah si bapak-bapak dan sang istri yang sedang menikmati kopi hitam. Sementara yang dilaporkan dan sempat memohon ampun, sudah susah payah kabur dengan langkah tertatih mirip pinguin.