
Baru sampai di perempatan pasar kecamatan Septi jualan, suasananya sudah macet. Ditambah suara musik dangdut yang mengalun ramai layaknya di hajatan khas perkampungan.
“Firasatku enggak enak,” ucap dokter Andri sampai sekarang masih menjadi satelit Widy. Pria itu telanjur tidak rela bila Widy didekati laki-laki lain, apalagi jika cara mendekatinya dengan memaksa dan salah satunya itu pak Haji.
Widy menolah menatap dokter Andri yang selalu mengawal di belakangnya. Namun baru juga tatapan mereka bertemu, suara pak Haji yang sedang bernyanyi lebih tepatnya karaokean, sukses membuat mereka menahan tawa. Pak Haji menyanyikan lagu andalannya, yang serba-serbi banyak istri.
Satu hal yang membuat Widy merasa hadirnya dokter Andri yang terus mengawalnya berguna. Di sana ada Fajar yang masih saja diikat oleh Honey. Mereka tengah duduk nongkrong tak jauh dari Septi jualan dan memang terbilang ramai.
“Beneran tak terpisahkan, ya?” sindir Widy yang hendak menyeberang ke lapaknya Septi, tapi Fajar memanggil. Fajar menatap marah dokter Andri, seolah-olah dirinya masih menyandang sebagai kekasih wanita itu, hingga ia berhak melakukannya.
“Apa?” balas Widy sambil menatap Fajar.
Fajar langsung bingung karena baru sadar, dirinya tidak memiliki hak me ngatur-ngatur Widy lagi karena mereka sudah bukan siapa-siapa lagi.
“Aku enggak punya banyak waktu karena di rumah, anak-anakku sudah menunggu!” tegas Widy.
Setelah mengalihkan tatapannya dari Widy, Fajar menatap serius pria berbatik lengan pendek dan tak lain dokter Andri. Pria yang memakai masker putih layaknya dirinya, juga sampai menatapnya.
“Masnya, kenapa?” tanya dokter Andri lembut.
“Ini pacar saya dan kami akan menikah!” sergah Honey buru-buru memeluk Fajar.
Walau sempat merinding, dokter Andri tetap mengucap syukur. “Alhamdullilah, semoga dilancarkan.” Ia dapati, wajah Fajar yang langsung pias sekaligus berkeringat. Lain dengan wanita di sebelah Fajar yang kecentilan tidak mau diam memeluk sekaligus mencium Fajar. “Kok wanitanya kayak enggak wajar, ya? Mirip waria,” pikir dokter Andri yang memang belum tahu-menahu termasuk siapa sosok Fajar dan kini ada di hadapannya.
__ADS_1
“Dok, ayo!” ucap Widy sengaja berseru lantaran suasana di sana memang bising parah.
Sadar Fajar penasaran dengan pria yang bersama Widy, Honey berinisiatif menggandeng Fajar kemudian menyusul kedua sejoli yang selalu menjaga jarak itu.
“Janda ... janda, janda, ... memang enggak ada obatnya!” nyanyi pak Haji tanpa nada dan asal teriak dengan suara yang sangat sumbang. Orang-orang di sekitar termasuk Widy dan dokter Andri yang baru datang, langsung sakit telinga karenanya.
Untungnya, sampai sekarang pak Haji belum mengenali Widy. Ditambah suasana ngabuburit pertama yang memang mirip pawai saking ramainya. Semacam jalan saja sampai berdesak-desakan.
“Sist, itu siapa! Pacar apa calon suami juga?” Honey yang kemayu sungguh menghampiri Widy. “Jangan sampai wanita ini jadi duri dalam daging hubunganku dan Ayang Fajar!” batinnya.
Dokter Andri yang masih mengawal dan awalnya di belakang Widy, langsung menangani. “Saya dokter Andri. Saya praktik di puskesmas kota, dan ada buka praktik mandiri juga. Saya sahabatnya kakak iparnya Widy!” jelasnya yang kemudian berbisik-bisik kepada Widy. “Dia kok kayak enggak normal, ya? Mirip waria, yah?” bisiknya dan mendapati Widy langsung menahan tawa. Karena walau Widy memakai masker penuh hingga hanya terlihat kedua mata hingga alis saja, kedua mata wanita itu yang menjadi menyipit, menegaskan Widy sampai menahan tawa.
“Dokter ...? Temennya Kalandra? Masa iya mau sama janda anak tiga?” pikir Fajar. Walau sempat merasa terbanting karena ternyata dokter Andri lebih memiliki posisi darinya, Fajar tetap ragu ada dokter muda yang harusnya sukses karena sampai buka praktik sendiri, mau sama janda anak tiga. Karenanya, ia sengaja bertanya, “Ketiga anakmu apa kabar? Kalau ingat mereka jadi kasihan, masih kecil sudah ditinggal minggat bapaknya, dan sekarang kamu harus berjuang sendirian, hingga mereka makin enggak keurus karena sering kamu tinggal!”
“Sehat. Sehat banget malah. Tadi sempat dicek kesehatannya lagi sama dokter Andri juga sehat. Alhamdulliah!” balas Widy yang dalam hati langsung bertanya-tanya. “Ini Mas Fajar kenapa, ya? Kok sampai tanya-tanya anak. Kesannya biar orang di sini tahu, aku sudah punya anak tiga, dan aku janda!” pikirnya.
“Ini mau aku beliin jajan sama baju!” Honey tidak mau kalah saking takutnya Fajar direbut oleh Widy yang baginya jauh lebih menarik ketimbang dirinya, terlebih Widy merupakan wanita tulen.
“Ya sudah kami permisi,” pamit dokter Andri sengaja menutup kebersamaan mereka. Ia sampai agak merangkul lengan Widy untuk balik badan meninggalkan Fajar dan Honey.
“Sumpah! Dia enggak masalah walau Widy punya anak tiga? Atau, dia cuma mau sama Widy, dan Widy titip anak-anaknya ke mamaknya?” Fajar mendadak berpikir keras. Terlalu galau dan memang tidak bisa menerima andai Widy jadi dengan dokter yang sampai punya klinik dan praktik secara mandiri, tentunya juga jauh lebih keren darinya.
Fajar sudah sempat menyusul, tapi dengan cepat, Honey mendekap tubuhnya dari belakang.
__ADS_1
“Kamu enggak boleh pergi apalagi kalau kepergianmu malah buat wanita lain! Ingat, aku sudah bayarin hutang kamu dan kamu wajib jadi pacar aku selama satu bulan ke depan!” tegas Honey masih dengan suara perempuan, tapi tentu saja, baru begitu saja sudah langsung membuat Fajar tidak bisa melawan.
Fajar sungguh tidak menyangka, ia yang terbiasa menipu wanita dan mendapatkan kecantikan sekaligus hartanya, kini malah harus terjerat oleh keposesifan seorang waria.
Sampai detik ini, pak Haji belum menyadari kehadiran Widy. Padahal, janda pujaannya itu sudah mengantri dan sampai Septi beri jalan khusus untuk menjadi bagian dari lapaknya.
“Ah, kalian, lagi puasa, pacaran terus!” kesal Septi iri lantaran dokter Andri mendadak menjelma menjadi pengawal Widy.
Baik Widy maupun dokter Andri tidak berkomentar membalas Septi. Namun, keduanya kompak saling lirik jaga-jaga dari pak Haji yang belum menyadari kehadiran mereka.
“Abang biru lampu ... mikir bojo loro. Pengin bojo maning, kambi janda Widy, bojo loro wegah dipegat.” Sambil terus menyanyi, pak Haji melongok sana sini mencari Widy yang dikata Septi akan datang. Namun, sampai detik ini dirinya belum melihat tanda-tanda kehadiran janda kembang itu.
Padahal, Widy dan dokter Andri sudah cekikikan karena setiap lagu yang pak Haji nyanyikan. Lagu yang liriknya selalu ada tambahan “janda Widy”.
“Sep, laris banget, ya! Lihat, kamu sampai gemetaran gitu. Sini coba aku bantu!” ucap Widy.
“Nah, iya. Alhamdullilah ini antre. Mungkin efek puasa pertama, murah meriah harga esku dan rasanya juga enak,” ucap Septi yang memang kewalahan karena es dan gorengan sang mamak, diserbu pembeli.
“Tapi aku bantunya pakai doa saja lah, ya!” ucap Widy sengaja menggoda Septi.
“Tega benget masa iya cuma pakai doa!” balas Septi sambil tersenyum pasrah kemudian memberikan sepuluh gelas besar berisi es Gepluk cap Gajah Duduknya kepada pemesan di hadapannya.
Septi kemudian mengambil stok es batu, menggepluknya, tapi karena sebagiannya mencuat mengenai wajah Widy, saat itu juga dokter Andri yang tak mungkin memegang Widy secara berlebihan, sengaja berdiri di depan Widy, membelakangi Septi yang tengah bekerja keras menggepluk esnya.
__ADS_1
Detik itu juga dunia Widy seolah berputar lebih lambat bersama tatapannya yang menjadi dipenuhi dada bidang dokter Andri. “Dokter Andri seperhatian ini, tapi mamahnya nauzubillahi ...,” batin Widy.
Lain dengan Widy, Fajar yang melihat keromantisan dokter Andri kepada Widy, langsung nangis batin. Malahan, kedua mata Fajar langsung basah, terlalu panas melihat adegan dokter Andri yang kini sampai mengeluarkan sapu tangan kemudian menggunakannya untuk mengelap sekitar mata Widy, yang basah karena es batu geplukkan Septi.