Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
88 : Lebih Romantis Dari Rahwana


__ADS_3

Sekitar pukul setengah delapan pagi, setelah tetangga orang tua Arum termasuk perwakilan dari warga pasar berdatangan, Arum dan Kalandra yang sengaja menunggu di depan lobi hotel, secara khusus melakukan penyambutan. Bersama Aidan yang Kalandra emban di dada, keduanya menyapa, berbaur, kemudian menyalami satu-persatu.


Sikap hangat Arum apalagi seorang Kalandra tersebut langsung diacungi jempol oleh semuanya. Mereka yang tentu saja sadar hanya orang kecil, merasa sangat dihargai.


Termasuk pada undangan lain yang memang selain dari pihak keluarga, juga sampai disertai relasi penting. Tanpa terkecuali, rekan politik pak Sana. Nantinya saja, beberapa pejabat penting tingkat daerah bahkan walikota akan secara khusus menjadi saksi pernikahan Arum dan Kalandra.


Tentu saja, alasan Kalandra dan Arum membimbing tetangga orang tua Arum dan juga perwakilan warga pasar secara khusus karena mereka tidak mau ada hal kurang mengenakan bahkan fatal yang sampai terjadi. Terlebih mereka yakin, menghadiri pernikahan di hotel mahal, menjadi pengalaman baru bagi sebagian mereka.


Kini, menjadi bagian dari barisan terakhir setelah mengantar semua tamu undangan selaku saksi ijab kabul hingga ruangan acara dilaksanakan, Arum bertukar senyuman dengan Kalandra. Keduanya menatap suasana sekitar penuh ketenangan. Beberapa karangan bunga menghiasi sepanjang jalan menuju pintu masuk dan itu ditujukan untuk pernikahan mereka.


“Rasanya kayak mimpi,” ucap Arum merasa sangat terharu. Berkaca-kaca ia menatap Kalandra sambil terus membagi senyum.


“Yang, kamu lagi terharu begitu saja cantik banget apalagi kalau sampai senyum bahagia terus. Kayaknya, tanpa harus makan daging biksu Tong, aku tetap bisa hidup abadi!” ucap Kalandra sengaja bercanda guna mencairkan suasana.


Arum langsung tersipu tapi tetap menitikkan air mata. Ia menjadi sibuk menahan tawanya. “Dikira, Mas ini silu-man!”


“Oh iya, aku kan vampir, ya? Kamu yang bilang, kan?” Kalandra juga menjadi sibuk menahan tawa.


Orang-orang bilang, sebagai calon pengantin yang akan menjalani ijab kabul, Kalandra dan Arum sama sekali tidak terlihat tegang. Namun pada kenyataannya memang begitu. Keduanya sama sekali tidak merasa tegang. Sebab pernikahan mereka termasuk tamu undangan di dalamnya, membuat kebahagiaan mereka terasa sempurna. Rasa sempurna yang juga menciptakan kenyamanan tersendiri hingga semuanya terasa mudah tanpa kendala berarti.

__ADS_1


“Ini memang bukan pernikahan yang pertama, ya. Namun ini rasanya spesial banget, Mas. Di pernikahan ini, aku merasa jadi Cinderella berkebaya!” ucap Arum yang kemudian menahan tawanya.


Kalandra yang masih menahan tawa berangsur mengangguk-angguk. Sebelah tangannya yang tidak mendekap sekaligus mengemban Aidan kian mengeratkan gandengannya terhadap sebelah tangan Arum.


“Kayaknya masih ada yang kurang deh, Yang,” ucap Kalandra yang kemudian menatap Arum penuh keseriusan seiring langkah mereka yang juga menjadi berhenti.


“Memangnya Mas ngundang siapa lagi? Penghulu dan rombongan sudah datang semua, kan. Lagi pada sarapan di dalam bareng saksi yang baru datang,” balas Arum.


“Si Rahwana belum datang, Yang!” ucap Kalandra yang kemudian juga berkata, “Eh bener, Yang. Si Rahwana beneran belum datang.”


“Rahwana siapa, sih, Mas? Mas Angga? Supri ...? Apa, pak Haji?” Arum menebak-nebak.


“Beda lah! Biarpun sama-sama pejuang cinta sejati, kalau Rahwana kan tipikal yang setia dan dia ini tulus beneran tulus. Buktinya, Rahwana menerima Dewi Sinta apa adanya walau Dewi Sinta merupakan istri Rama. Alasan Rahwana menculik Dewi Sinta sendiri karena konon, Dewi Shinta merupakan titisan dari Dewi Setyawati, istri Rahwana. Dewi Setyawati ini satu-satunya cinta Rahwana, hingga walau sudah meninggal pun masih sangat Rahwana cintai. Dan selama diculik ini, Rahwana memperlakukan Dewi Sinta penuh cinta. Tak pernah sekalipun Rahwana menyentuh, memaksa, apalagi memperkossa Dewi Sinta, walau sebagai orang yang dicap sebagai penjahat, Rahwana bisa saja melakukannya. Namun saking cintanya, Rahwana yakin, bahwa cinta tidak harus dipaksa. Nah pas Dewi Sinta diselamatkan dari Rahwana, kesuciannya malah diragukan oleh Rama. Dewi Sinta nekat terjun ke bara api buat membuktikannya, kan? Barulah setelah Dewi Sinta enggak terbakar yang berarti Dewi Sinta masih suci, Rama baru percaya dan mau menerima Dewi Sinta lagi. Semenjak tahu sisi romantis seorang Rahwana, aku jadi ada simpati ke Rahwana yang beneran tulus.” Arum berbicara panjang lebar kepada calon suaminya yang langsung menyikapinya dengan sangat serius. Karena jika ia sedang berbicara bahkan berkeluh kesah sekaligus marah sekalipun, Kalandra akan menjadi pendengar sekaligus pengamat yang sangat baik.


“Berarti kamu jauh lebih sayang bahkan cinta dong, ke Rahwana dari pada aku?” tanya Kalandra lirih tapi sangat serius.


“Eh, tentu saja aku sayangnya sama cintanya cuma sama Mas Kala! Rahwana ya milik istrinya, nah aku ya sama Mas Kala!” balas Arum refleks dan memang panik sambil mendekap manja sebelah lengan Kalandra yang memakai beskap putih gading selaras dengan kebaya pengantin yang ia kenakan.


Kalandra menertawakan Arum. “Asli loh, aku beneran baru tahu sisi romantisnya seorang Rahwana. Bahkan mamaknya Aidan sampai ngepanz! Oke deh, mulai sekarang, aku akan menjadi pasangan apalagi suami yang romantisnya lebih dari Rahwana, biar mamaknya Aidan makin cinta!” ucap Kalandra mantap dengan keputusannya.

__ADS_1


Arum yang tersipu sekaligus menahan tawa bahagia, sampai menitikkan air mata. “Meleyot aku, Mas!”


Kalandra langsung menahan tawanya. lain dengan Aidan yang kebingungan menatap wajah Arum maupun Kalandra, silih berganti. Apalagi ketika dari depan, ibu Kalsum sudah memanggil-manggil mengomel.


“Cepetan itu ijab kabulnya mau dimulai. Semuanya sudah pada siap, eh pengantinnya malah belum ada!”


“Nunggu pak Haji, Mah. Katanya dia mau jadi saksi juga!” seru Kalandra sambil melangkah tergesa mendekati sang mamah. Langkah tergesa yang ia ubah lebih pelan karena Arum kewalahan mengimbangi.


“Hih, ngapain nungguin tuh aki-aki. Kamu yah, Mas. Nanti kalau dia mendem gimana, minta nikah juga?” omel ibu Kalsum. Ia juga turut menghampiri kemudian mengambil alih Aidan.


“Aidan sama Mbah Uti, ya. Papah Mamah biar SAH dulu! Biar lega, plong!” ucap ibu Kalsum bersemangat.


“Eh, tunggu ... tunggu!” seru pak Haji yang memang baru datang.


Ketiga orang dewasa yang dipanggil pak Haji, kompak menoleh. Ketiganya pun kompak tertawa tanpa menunggu pak Haji yang datang sendiri memakai batik panjang kehitaman. Sambil terus berlari, pria itu juga berusaha memakai kacamata hitam tebal sekaligus besar.


“Loh, kok hotelnya jadi gelap gini? Mati lampu apa gimana, ini?” keluh pak Haji yang menjadi sibuk meraba sekitar tak lama setelah ia memakai kacamata hitamnya.


“Huh dasar kaki-kaki lenjeh, men sekalian kejebles, men kapok sampe amnesia!” omel ibu Kalsum yang mendoakan pak Haji agar menabrak dan berakhir amnesia.

__ADS_1


Arum dan Kalandra kompak menahan tawa seiring mereka yang kian mengeratkan genggaman kedua tangan mereka. Genggaman erat yang akan mengantarkan mereka menuju ikatan sekaligus janji suci. Sebentar lagi, semuanya sungguh tinggal menghitung detik-detik terakhir saja.


__ADS_2