Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
133 : Memang Ada Dua (Kembar)


__ADS_3

Keesokan harinya, acara empat bulan kehamilan Arum yang dilaksanakan di kediaman orang tua Kalandra, berjalan dengan lancar. Acara dihadiri oleh keluarga sekaligus rekan dekat. Mereka juga mengundang para tetangga untuk acara kenduri, selamatan atas kehamilan sekaligus kesehatan Arum dan kehamilannya.


“Gerak-gerak terus,” ucap Arum sambil sesekali mengelus perutnya. Ia tersenyum ceria sambil menikmati kluban atau itu sayuran urab di piringnya.


“Habis dibacain doa, jadi makin pinter, ya?” tanya ibu Kalsum menghampiri Arum yang duduk di sofa panjang ruang keluarga sambil memangku Aidan.


Arum langsung menatap sang mamah mertua dan makin ceria. “Heboh beneran heboh, Mah!” ucapnya membagikan kebahagiaannya.


“Berarti mirip mbah putrinya!” balas ibu Kalsum langsung tertawa bahagia sekaligus bangga.


Arum yang awalnya tersenyum, langsung diam bingung merasakan gerak berlebihan di dalam perutnya setelah suara ibu Kalsum menggelegar barusan. “Mah ... Mah. Mereka makin aktif pas Mamah ketawa kayak tadi, loh. Semacam respons keras gitu! Mereka mengenali suara Mamah, apa, ya?”


Mendengar cerita Arum yang heboh, ibu Kalsum yang tengah menikmati sepiring sayur urab juga, langsung kepo. Bergegas wanita paruh baya berjilbab kuning itu meletakan piring berikut garpu di meja, kemudian memastikan perut sang menantu, merabanya dan mencari gerakan di sana.


Aidan sengaja Arum dudukkan di sebelahnya guna mempermudah usaha sang mamah mertua yang langsung heboh tertawa bahagia sekaligus bangga. Ibu Kalsum terlihat sangat bahagia, apalagi biar bagaimanapun, janin yang sedang Arum kandung akan menjadi cucu pertama keturunan asli dari Kalandra.


Kalandra maupun pak Sana, sampai keluar dari kamar masing-masing saking hebohnya suasana di ruang keluarga. Padahal keduanya belum lama pamit tidur setelah acara empat bulan selesai dan semua tamu undangan pun juga sudah pulang. Kalandra dan sang papah menatap heran sekaligus khawatir istri mereka. Hanya ada dua wanita, tapi berisiknya seperti ada demo kenaikan gaji yang dilakukan oleh ribuan karyawan!


“Gimana yang di perut enggak heboh, suara mbah utinya saja ngalahin toak masjid sebelah,” ujar pak Sana memilih duduk di sofa tunggal yang ada di sebelah sofa panjang kebersamaan Arum dan ibu Kalsum. Ia duduk persis di dekat istrinya.


Kalandra yang mesem memilih duduk di sebelah Arum. Ia meraih Aidan, memangkunya kemudian bersandar manja di bahu sang istri karena biar bagaimanapun, ia masih sangat ngantuk sekaligus lelah. Namun, ia sengaja menggunakan tangan kirinya yang tidak mendekap Aidan, untuk meraba-raba perut Arum yang tak lagi memakai kebaya. Arum sudah memakai daster dan istrinya itu tampak sangat santai, selain Arum yang juga terlihat sangat nyaman.


“Iya, heboh. Aktif banget,” ucap Kalandra masih betah meraba-raba perut istrinya apalagi yang di dalam perut sangat aktif, walau gerakan yang dihasilkan terbilang belum kuat.


“Besok coba USG, pastiin. Sehat enggak? Beneran dua, enggak? Biar bisa lebih antisipasi,” ucap ibu Kalsum yang juga kembali mengelus-elus perut sang menantu.


Arum mengangguk-angguk ceria menatap mamah mertuanya. “Iya, Mah. Besok ke klinik sebelah saja. Di sana juga ada USG!” Kemudian ia mengalihkan tatapannya kepada sang suami yang masih terkantuk-kantuk sambil bersandar di sebelahnya.


“Ke rumah sakit saja biar lebih jelas. Daftar lewat WA dulu. Kalau enggak salah, jadwal USG Selasa dan Kamis,” balas Kalandra.

__ADS_1


Arum menggeleng. “Ke klinik saja biar cepat. Nunggu Selasa ya masih tiga hari lagi! Kalau di klinik kan tiap hari, pagi sore!”


Kalandra mengangguk-angguk, menurut. Ia membiarkan Aidan diambil sang mamah karena itu jauh lebih aman daripada ia yang memangku sementara ia sudah setengah sadar. Malahan tak lama kemudian, Kalandra berakhir tidur di pangkuan Arum. Samar-samar pria itu mendengar obrolan asyiik antara sang istri dengan kedua orang tuanya. Obrolan yang makin lama tak lagi ia dengar karena ia benar-benar tidur dengan pulas.


***


Keesokan paginya, di Sabtu yang cerah, Arum dan Kalandra sudah jalan kaki menuju klinik. Jarak klinik dan rumah orang tua Kalandra yang dekat membuat keduanya menempuhnya dengan jalan kaki sekalian olahraga. Suasana klinik terbilang ramai walau baru pukul tujuh pagi karena klinik di sana memang terkenal memiliki fasilitas lengkap, selain penangananya yang selalu membuat nyaman dan biaya berobatnya pun serba terjangkau.


“Di sini ada swab, cek darah, sama sunat juga yah, Mas,” lirih Arum mengawasi fasilitas yang ditawarkan di sana. Ia duduk di tempat tunggu sedangkan Kalandra berdiri sambil menggandengnya. Selain itu, tas miliknya yang berisi buku cek kehamilan juga turut ditenteng oleh Kalandra.


“Klinik ini sudah turun-temurun, Yang. Sekarang yang pegang temenku, kalau dulu bapaknya. Bapaknya ini temennya papah. Dulu, aku sunatnya juga di sini. Dulu alatnya enggak secanggih sekarang. Aku masih ingat, dulu temenku ada yang panjat pohon kelapa dan enggak mau turun sampai malam, gara-gara takut disunat,” ucap Kalandra masih antre untuk melakukan pendaftaran.


Arum langsung mesem.


“Besok mas Aidan sunat di sini saja. Sunatnya pas kenaikan kelas enam saja, biar sudah agak nalar,” lanjut Kalandra. Di depan sana, sang teman yang dimaksud dan menjadi dokter di sana, kebetulan keluar dan tak sengaja melihatnya. Pria bernama Andri itu langsung mendahulukan Arum, tapi Kalandra dan Arum menolak karena merasa tak enak kepada yang sudah lebih dulu antre.


Setelah mendaftar sekaligus menunggu sesuai prosedur, akhirnya Arum dan Kalandra mendapat giliran. Keduanya langsung menuju ruang USG. Kebetulan, mereka menjadi pasien pertama yang menjalani USG di pagi ini.


“Dikiranya aku secanggih itu, langsung bisa USG sendiri?” sinis Kalandra pura-pura marah.


Dokter Andri yang memiliki perawakan gempal, langsung tertawa. “Ini program?” tanyanya sambil memeriksa buku kehamilan Arum.


“Enggak program sih, tapi memang langsung dijadiin,” balas Kalandra.


“Topcer, ya?” tanggap dokter Andri masih sengaja menggoda temannya.


“Oh, pasti! Makanya ini aku ingin USG secepatnya soalnya aku curiga langsung jadi dua!” balas Kalandra masih sengaja pamer menanggapi temannya yang terus saja menggoda bahkan meledeknya. Lihatlah, dokter Andri sampai sesak napas karena menertawakannya.


“Sudah, jangan ketawa terus. Nanti yang ada kamu pingsan sebelum USG istri aku!” tegur Kalandra.

__ADS_1


Tatapan dokter Andri teralih kepada Arum yang sedari awal hanya tersenyum hangat. “Mbak, punya suami selawak Kalandra, memang perut Mbak enggak kaku?”


Arum langsung tersipu.


“Perutnya ada janinnya, ya jangan disuruh kaku!” tegur Kalandra yang langsung membimbing Arum untuk berbaring di ranjang pemeriksaan walau belum diberi aba-aba oleh dokter Andri.


“Anggap saja rumah sendiri, Yang. Sudah enggak usah bingung-bingung,” ucap Kalandra sementara dokter Andri yang berangsur berdiri, makin sibuk tertawa.


“Ya sudah, kamu sekalian USG sendiri saja!” ucap dokter Andri yang kemudian menggunakan sarung tangan karet.


“Ajarin dong gimana cara pakainya. Biar kalau kamu sibuk, aku USG istriku sendiri di sini,” ucap Kalandra.


Saking dekatnya, dokter Andri sungguh mengajari Kalandra menggunakan alat USG.


“Gampang banget!” ujar Kalandra.


“Memang gampang jadi dokter daripada pengacara tahu! Iya kalau yang kamu bela benar, kalau malah yang salah? Masuk neraka kamu!” balas dokter Andri.


“Ya belum lah, kan aku belum mati. Jangan didoain masuk neraka juga, nanti istriku sedih, nangis, taflonnya melayang ke kamu!” balas Kalandra.


Dokter Andri hanya tertawa kemudian menjelaskan hasil dari USG dan terpampang di layar monitor yang ada di hadapan mereka.


“Kelihatan kan, walau baru empat bulan?” ucap Kalandra masih di sisi Arum.


“Kelihatan, ... kelihatan. Bentar, kita dengerin detak jantungnya. Emang ada dua sih, Kal. Bentar, ini pasti rame banget. Wah selamat, ya. Beneran topcer ini, enggak kaleng-kaleng!” ucap dokter Andri.


“Bikin anak kok disamain sama sarden, kaleng-kaleng!” balas Kalandra yang awalnya sudah langsung senyum-senyum sendiri menatap sang istri.


Dokter Andri lagi-lagi tertawa. Lain dengan Arum yang langsung tidak bisa berkata-kata saking bahagianya.

__ADS_1


“Ya Alloh ... Aidan beneran bakalan langsung punya dua adik? Alhamdullilah, ... enggak kebayang, Mas Kala sama orang tuanya pasti heboh banget!” batin Arum merinding mendengar dua detak jantung nyaris bersamaan dari dalam perutnya.


__ADS_2