Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
65 : Sedang Romantis


__ADS_3

Di tengah semilir angin yang berembus lembut di pagi menuju siang hari ini, Arum mendapati Kalandra menitikkan air mata. Sembari terus melafalkan surat yasin di sebelah nisan Bilqis, Kalandra yang tampak larut dalam kesedihan, juga terlihat berusaha tegar.


Setelah selesai mengurus menu makan pagi untuk pasien, hari ini Arum menyempatkan diri ikut nyekar dengan Kalandra. Kalandra mengajaknya secara khusus, setelah pria itu menitipkan Aidan kepada ibu Kalsum.


Tak ada tisu maupun sapu tangan hingga Arum membantu Kalandra mengelap air mata menggunakan ujung pashmina hitam yang menutupi kepalanya. Masih seperti sebelumnya, Kalandra terlihat susah payah berusaha tegar. Setelah berusaha menyeka air matanya dan dibantu oleh Arum, Kalandra malah membenamkan wajahnya di bahu kanan Arum.


Pada kenyataannya, Kalandra memang masih sangat mencintai Bilqis, tapi bukan berarti pria itu tidak tulus kepada Arum apalagi kepada Aidan. Sampai detik ini, Kalandra masih menjadi laki-laki sekaligus suami idaman untuk Arum maupun wanita lain yang mengenalnya.


Tanpa banyak kata, Arum mengelus pelan punggung Kalandra. Jauh di lubuk hatinya, Arum menjadi tak hentinya melangitkan doa terbaik. Tak hanya untuk Bilqis agar istri pertama Kalandra itu damai, mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan. Namun juga untuk semuanya khususnya untuk hubungannya dan Kalandra yang satu minggu lagi akan menikah.


“Aku benar-benar bahagia ... aku yakin kamu tahu itu. Dan aku harap, kamu juga akan selalu bahagia walau sekarang, kita enggak bisa selalu bersama-sama di alam yang sama.” Kalandra menyapu pelan nisan Bilqis yang sejak awal tadi sudah sempat langsung ia bersihkan. Ia yang sudah kembali jongkok dengan tegar, berangsur menoleh, menatap Arum. Wanita itu tersenyum hangat kemudian mengangguk-angguk.


Beberapa saat kemudian, Kalandra dan Arum meninggalkan pusara selaku tempat peristirahatan terakhir Bilqis. Suasana masih sepi layaknya ketika tadi mereka baru datang di sana. Namun kini, beberapa orang tampak datang dan sepertinya juga akan nyekar.


Kalandra mengulurkan tangan kanannya ke belakang, kepada Arum yang sedari awal selalu memilih melangkah atau berdiri di belakangnya. Ia menggandeng Arum, menuntunnya pelan.


“Mas mau langsung berangkat kerja?” tanya Arum lembut. Kalandra langsung mengangguk-angguk. Pria itu menuntunnya menuju motor mereka yang ada di tempat parkir bagian depan pemakaman. Karena selain tidak hujan, bepergian tanpa Aidan akan lebih cepat sampai jika mereka memakai motor.


“Lusa, kita ke rumah orang tua Bilqis, ya? Sepulang aku kerja. Jadi sebelum kita pergi, kamu beresin kerjaan kamu di rumah sakit dulu. Biar pas pulang dari rumah orang tua Bilqis, kamu tinggal istirahat,” ucap Kalandra sembari memakaikan helm di kepala Arum.


“Aku langsung deg-degan, Mas,” jujur Arum.


“Enggak apa-apa.” Kalandra meyakinkan kemudian memakai helmnya sendiri.


“Sebaik ini kamu Mas. Ke mantan mertua kamu saja, kamu masih hormat banget. Aku makin merasa beruntung karena aku juga menjadi orang yang menerima ketulusanmu. Malahan Mas Kalandra akan menikahiku,” batin Arum.


“Yang ...?” panggil Kalandra cukup berseru karena motor yang ia kemudikan pun sudah melaju dengan kecepatan cukup kencang.


“Iya, Mas?” Arum yang membonceng juga sengaja berseru dan agak melongok dari sebelah kanan pundak Kalandra.

__ADS_1


Sambil fokus menatap ke depan, Kalandra berkata, “Kalau kamu terus pegangan ke belakang, nanti aku dikira tukang ojek!” Kalandra menahan senyumnya, sementara Arum yang ia sindir juga mengalami hal serupa.


“Mas, ih ....”


“Aku serius. Dari berangkat tadi kamu pegangannya ke belakang, nanti aku dikira tukang ojek, dan takutnya nanti kamu malah diangkut pak Haji!” Kalandra mengakhiri ucapannya dengan tertawa.


Arum yang merasa tersinggung refleks mencubit pinggang kanan Kalandra yang seketika itu menghindar. “Enggak ingat tadi habis nangis, sekarang malah ngeledek begitu?”


Kalandra hanya tertawa tanpa balasan berarti. Namun karena tegurannya, Arum menjadi berpegangan ke jaketnya. Walau Arum melakukannya dengan sangat ragu dan pegangannya pun sangat sedikit, setidaknya wanita itu sudah mengalami peningkatan.


“Kamu jangan canggung-canggung gitu kenapa ke aku?” lanjut Kalandra yang sudah tak lagi tertawa.


“Ih, Mas. Sekarang minta aku enggak boleh canggung. Nanti bentar lagi kalau kita sudah menikah dan Mas tahu kelakuan asliku, Mas bakalan menganggap aku sin-ting.”


Mendengar balasan Arum barusan, Kalandra langsung kembali tertawa. “Pas belum nikah super jaim dan beneran susah banget dideketin, eh pas udah nikah sin-ting menunjukan wajah aslinya, gitu?”


Kali ini, Arum yang refleks tertawa. “Nanti bekalnya jangan lupa dibawa.”


Arum langsung tersipu. Kini, Kalandra sedang dalam mode romantis dan hobi merayu.


“Kalau aku enggak bawa bekal kamu, otomatis aku enggak makan!” protes Kalandra lantaran Arum tak kunjung merespons.


“Iya ... nanti minta anterin mamah Mas!” balas Arum.


“Oke, enggak apa-apa. Mamah kan pengertian dan paling tahu kalau kita butuh waktu buat romantisan. Besok aku mau pura-pura lupa enggak bawa bekal. Aku mau buktiin kamu beneran anterin bekalnya enggak ke aku!” balas Kalandra terdengar mengancam.


Arum menjadi makin sibuk tersipu. Kedua pipinya sampai terasa panas, sementara hatinya tak hentinya berbunga-bunga. “Jadi, besok bekal yang mau pura-pura ditinggal karena pura-pura lupa, mau diisi apa saja?” tanya Arum, tapi Kalandra langsung tertawa. Tawa yang benar-benar renyah dan untuk kali pertamanya Arum mendengarnya. Tawa tersebut terdengar turut sarat kebahagiaan yang juga langsung menular kepada Arum.


Ketika akhirnya mereka sampai alun-alun di sekitar lampu merah, Kalandra sengaja memelankan laju motornya. Kalandra memergoki Supri, dan juga Anggun dan anak-anaknya. Ia melihat anak-anak Anggun dengan sengaja mendo-rong Anggun ke mobil kijang yang baru melaju setelah lampu merah usai. Iya, Kalandra melihat kesengajaan dari anak-anak Anggun, terlepas dari Mobil yang sampai terguncang gara-gara menabrak Anggun. Mungkin saking besarnya tubuh Anggun, bukannya tergi-las atas setidaknya mental, malah mobilnya yang terguncang-guncang setelah melakukan rem secara spontan.

__ADS_1


“Mas, kok berhenti, kan lampu hijau?” tanya Arum, tapi ketika ia menoleh ke kirinya, di sana ada Supri yang langsung memperhatikannya dan ia benar-benar terkejut. Ia refleks mendekap erat pinggang Kalandra dan sengaja berjaga dari Supri yang jujur saja membuatnya langsung emosi.


“Sudah jelas aku sama Mas Kala, matanya Supri yang masih pakai kacamata, masih saja menatap aku segitunya!” batin Arum sengaja menepis tatapan Supri.


Tanpa Arum ketahu, ulahnya yang mendekap erat pinggang Kalandra, membuat yang bersangkutan kegirangan. Kalandra menjadi tidak bisa berhenti tersenyum sambil sesekali memandangi kedua jemari Arum yang masih bertumpu di perutnya.


“Mas, berhentinya tolong jangan di sini. Aku enggak nyaman dipandangi sedekat ini sama si Supri!” rengek Arum berbisik-bisik kepada Kalandra.


“Oalah,” ucap Kalandra refleks. Segera kembali mengendarai motornya, kemudian mengabarkan pada Arum bahwa yang berkeliaran di jalan tak hanya Supri, tapi juga Anggun dan anak-anaknya.


“Innalillahi. Jadi, sumpah serapahku benar-benar terjadi? Mbak Anggun beneran enggak ngo-tak. Lah, itu malah Septi, Mas.”


“Mereka sedang reuni. Kalau aku lihat, tadi anak-anak Anggun kok sengaja dorong mamahnya ke jalanan, buat jebak yang punya mobil apa gimana, ya?” balas Kalandra.


“Hah, maksud Mas gimana? Masa sengaja buat jebak pengendara mobil apa gimana?” Arum penasaran. Namun tiba-tiba jiwa jailnya meronta-ronta. “Mas ... Mas, itu kan si Septi! Mas, Mas, ayo pamer kemesraan! Dia kan paling enggak percaya kalau aku sama Mas! Mas klakson, Mas! Tiga kali, aja!” Arum menjadi heboh sendiri. Kalandra yang meski menertawakannya pun mau-mau saja diajak kerja sama. Kalandra sampai lewat di depan mobil Septi yang masih disertai Anggun di depannya mirip gajah oleng.


“Daaaaaaaahhhhhh!” seru Arum ceria. Tangan kirinya mendekap erat perut Kalandra, sementara tangan kanan, sibuk dadah-dadah kepada Septi.


Septi yang awalnya emosi gara-gara Anggun dan anak-anaknya, sengaja mengeluarkan kepalanya dari jendela kaca mobilnya. Tak tanggung-tanggung, Septi memamerkan kedua jari tengahnya kepada Arum yang malah menertawakannya.


“Jancuuuuuk! Malah pacaran motoran gitu! Dasar Arum jandes weressss!” teriaknya.


“Si Septi iri banget ya ke kamu!” Kalandra terbahak.


“Nah, makanya aku seneng ngledek dia. Dari awal dia pamer kemesraan bareng Angga pun, aku ledekin terus. Apaan, dikiranya aku cemburu!” balas Arum masih sangat bersemangat walau mereka sudah jauh dari alun-alun kebersamaan Septi dan Anggun.


Kalandra tertawa. “Nanti aku mau bikin laporan, biar dinas sosial mengamankan penga-men dan penge-mis. Lama-lama kok meresahkan gitu.”


“Oh bener, Mas. Gitu saja. Biar mereka dapat bimbingan secara langsung. Soalnya andai kita yang melakukannya, pasti mbak Anggun ngamuk enggak terima. Dia kan cara pikirnya keras banget, Mas. Ngeri, aku,” balas Arum mendukung. “Tapi tadi aku enggak lihat mamahnya Angga sama anak mbak Anggun yang bayi loh, Mas. Mas lihat juga?”

__ADS_1


Yang Kalandra permasalahkan, jika Angga masih memiliki adik laki-laki dan awalnya sampai pacaran dengan Septi, ke mana adik laki-laki itu, kenapa tidak tanggung jawab sekali untuk turut serta mengurus keluarganya?


__ADS_2