Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
123 : Wasiat dan Merasa Hutang Budi


__ADS_3

Mbak Resty : Rum, pas kamu cerai sama suami kamu, syarat-syarat buat urus apa saja? Termasuk agar hak anak bisa jatuhnya ke kita?


Mbak Resty : Tolong jawab cepat yah, Rum. Aku beneran butuh banget.


Mbak Resty : Rum, kamu sibuk banget, ya? Maaf yah, kalau aku ganggu. Tapi Rum, aku beneran minta tolong banget ke kamu. Tolong, andai sampai malam ini aku enggak kabarin kamu, tolong hubungi polisi dan tolong kirim video ini buat bukti perselingkuhan suamiku dengan istri muda bosnya.


Mbak Resty : Aku beneran minta tolong yah, Rum. Sama sekalian titip anak-anakku. Salam juga buat orang tuaku.


Paginya, Arum yang memang baru memeriksa laporan baik itu pesan masuk maupun panggilan yang ia lewatkan di malam harinya, langsung dibuat lemas khawatir karena pesan-pesan dari Resty barusan.


Arum yang baru masuk ke kamar setelah menyiapkan air hangat untuk Kalandra mandi, langsung mengabarkannya kepada Kalandra yang baru akan ia bangunkan.


“Mas Kala bangun ih. Kayaknya mbak Resty tahu kalau suaminya selingkuh. Ini dia WA gini ke aku.”


Kalandra yang masih belum sepenuhnya sadar berkata, “Bentar Yang, ... ini nyawaku beneran belum kumpul. Kaget aku, ged-degan banget aku.”


“Ih, Mas. Maaf, Mas. Maaf. Soalnya WA-nya gitu, dan video bukti WA mas Tomi sama bu Elia juga gitu banget,” balas Arum yang sampai memeluk Kalandra.


“Ada videonya?” balas Kalandra sambil menatap Arum kemudian mengambil alih ponselnya.


“Ada, Mas. Itu dikirimin. Akurat banget. Aku lihatnya dari awal si ibu Elia kayak yang haus kasih sayang. Sering curhat awalnya ke Tomi dia,” jelas Arum.


“Curhat apaan, sih. Jelas-jelas dia istri orang. Mau istri pertama apa istri muda, yang namanya perselingkuhan tetap tidak dibenarkan. Untung Tuan Maheza bukan Sambo. Kalau iya, sudah didor tuh si Tomi.” Setelah berkomentar demikian, baru sekilas melihat videonya, Kalandra langsung istighfar. “Jijikk banget mereka chatingannya. Kita yang sudah nikah saja enggak gini. Si ibu Elia ada kelainan sekss apa gimana kok kayak kecanduan gini. Ini kayak abnormall sih.”


“Biasanya aku anti bahas ini, tapi karena aku yakin ini genting, tolong Mas dibantu. Ya ampun itu WA terakhir mbak Resty sampai gitu. Secara ibaratnya kan, mbak Resty sadar yang dia lawan bukan orang biasa. Istri muda bos gitu, di chat saja si ibu Elia sudah minta si Tomi buat cerein mbak Resty. Enggak bener banget tuh betina!” kesal Arum.

__ADS_1


“Bentar coba, aku pendekatan dulu ke Tuan Maheza.”


“Mas punya nomornya?”


“Punya, tapi kami jarang banget komunikasi. Tuh orang mirip robot yang hidupnya beneran kaku. Mungkin efek dia terlalu kaya dan banyak pekerjaan, jadi kesannya dia sengaja menutupi kehidupannya. Secara, bedanya orang kaya sama orang yang sebenarnya hanya pura-pura kaya kan, kamu tahu lah Yang yang aku maksud,” balas Kalandra.


Arum mengangguk-angguk. “Iya, Mas. Tapi tolong diatur, ya. Nanti kalau sampai beneran terjadi, ... ya ampun, baru bayangin saja hati aku langsung krenyes Mas. Si Mbak Resty baru dua puluh enam tahun. Dia lebih muda dari aku dan anaknya masih kecil-kecil Mas. Kasihan banget ih.”


“Ya sudah, kamu tenang saja. Nanti kalau beneran kejadian, aku yang urus!” yakin Kalandra apalagi wajah istrinya sudah langsung pucat.


Arum mengangguk-angguk. Sesekali, ia menghela napas pelan demi meredam kekhawatirannya terhadap keselamatan Resty. Kekhawatiran yang juga sudah sampai membuatnya takut. Malahan karena tak kunjung mendapatkan kabar, seharian ini Arum menjalaninya dengan sangat tidak tenang. Puncaknya setelah akhirnya ia sampai rumah dan beres dengan pekerjaannya. Ia bahkan sudah bertemu dengan Kalandra yang juga sudah pulang kerja, tapi Resty tak kunjung mengabarinya.


“Nomornya masih aktif?” sergah Kalandra mencoba menenangkan istrinya.


Kalandra paham, dititipi semacam wasiat sementara yang menitipi sedang bertaruh hidup dan mati, tak kalah takutnya dari yang tengah bertaruh nyawa.


Menghela napas pelan sekaligus dalam, Kalandra yang sampai merengkuh kedua lengan istrinya berkata, “kalau gitu, sekarang kamu mandi dulu. Aku sudah siapin air hangat buat kamu di kamar mandi. Sementara untuk Resty, kita tunggu sampai besok pagi. Kalau sampai besok pagi tetap enggak respons juga, kita lapor polisi.”


Arum yang masih duduk di bibir tempat tidur menatap Kalandra penuh kegundahan.


“Apa?” tanya Kalandra lembut sekaligus pengertian. Ia yakin, sekadar untuk berucap, istrinya menjadi sulit akibat kekhawatirannya kepada Resty.


“Aku kok malah yakin, Mbak Resty sudah enggak ada yah, Mas?” ucap Arum kebas. Ia benar-benar sulit untuk bersemangat apalagi baik-baik saja.


“Yang, ... kamu lagi hamil loh. Aku sama Aidan sekaligus keluarga ini, sangat butuh kamu,” ucap Kalandra.

__ADS_1


Arum menggeleng lemah. “Maksudnya, aku pengin ke sana. Aku pengin gebukin si Tomi sama Elia, Mas.”


Kalandra terdiam sejenak. “Besok pagi, kita ke sana? Tapi paling sore karena aku enggak bisa langsung izin kerja karena memang ada beberapa meeting.”


Arum mengangguk-angguk. “Ya gitu saja, Mas. Sore juga enggak apa-apa. Aku beneran ngerasa hutang budi, Mas. Soalnya tanpa pertolongan mbak Resty, aku enggak yakin jadi apa. Bos yang dulu aku ikut kerja di Jakarta mau jual aku dan aku minggat terus yang bantu aku mbak Resty, Mas. Ribet banget dulu urusannya sama polisi. Sudah aku enggak mau cerita pokoknya.”


Kalandra mengangguk-angguk paham kemudian memeluk Arum. Karena andai Arum sampai cerita secara detail pun, yang ada dirinya yang tidak sanggup. “Kamu sudah susah dari dulu, jadi ingat janji kamu ke aku buat lebih mencintai diri kamu lagi.”


“Iya, Mas.”


“Ayo aku antar kamu ke kamar mandi. Ini sudah malam dan Aidan saja sudah sepulas itu,” lanjut Kalandra yang kali ini sungguh mengurus Arum. Apalagi, Arum yang terlalu khawatir pada keadaan Resty juga ia rasa menjadi sampai demam. Susah payah ia meyakinkan istrinya agar tetap menjaga kesehatan.


“Kamu punya nomornya si Tomi?” tanya Kalandra sambil melepas setiap kancing kemeja lengan panjang istrinya. Mereka sudah ada di dalam kamar mandi.


Arum menggeleng. “Ya sudah, setelah kamu beres mandi, aku beneran akan telepon pak Maheza buat minta nomor hape Tomi!” yakinnya.


Arum mengangguk-angguk kemudian izin untuk mandi sendiri.


“Tapi hati-hati, kamu sampe lemes gitu loh,” ucap Kalandra mebjadi cerewet. “Sudah, mandinya pintunya enggak usah ditutup.”


“Malu ih, Mas. Isin ....”


“Malu apaan? Aku sudah lihat semuanya, kok ya masih malu!”


Walau sudah sampai memaksa, Arum tetap menutup sekaligus mengunci pintunya. Membuat Kalandra terjaga di depan pintu kamar mandi sambil sesekali mengajak sang istri mengobrol guna memastikan istrinya itu baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2