
“ANDA kelewatan, ya!” Kalandra yang baru datang sudah langsung emosi.
ANDA, bukan lagi mamah atau setidaknya ibu. Tak sedikit pun rasa hormat yang terpancar dari cara Kalandra
“Istri saya baru melahirkan dan sekarang masih harus kasih ASI eksklusif!” lanjut Kalandra sengaja berdiri di sebelah ibu Lasmi. “Kalau ada apa-apa, Anda mau tanggung jawab? Bukankah sebelumnya sudah dijelaskan?!”
“Rumah ini haknya Arum, istri saya. Ibu dari anak-anak saya! Rumah ini bahkan jadi tempat usaha keluarga. Saya sekeluarga merintisnya bersama Arum. Kami apalagi Arum bekerja, tidak asal menuntut hak seperti yang kini Anda lakukan. Sekarang coba lihat apa yang Anda lakukan. Anda minta jatah warisan? Enggak ngotak banget!” Kalandra masih bicara penuh emosional dan tidak ada yang berniat menghentikannya.
“Atas dasar apa Anda menuduh Arum merebut rumah ini dari almarhumah?! Kan sudah dibilang, rumah ini dibangun murni dengan uang saya dan juga uang orang tua saya! Orang tua saya tipikal yang selalu memberi anak dan menantunya modal. Orang tua saya bukan orang tua yang selalu meminta modal seperti Anda!”
“Enggak tahu diri banget Anda ini! Menjadikan anak sebagai sapi perah. Menikahkan anak demi dijadikan ATM berjalan! Mana ada keluarga laki-laki yang tahan kecuali mereka yang benar-benar sayang!”
“Salahkan diri Anda jika anak Anda sampai menjadi janda di usianya yang masih muda!”
Mendengar “janda muda” sampai disebut oleh Kalandra yang masih sangat emosional, pak Haji mendadak seperti mendapatkan nyawa tambahan. “Ada janda muda baru!” batinnya sangat bersemangat, walau tiba-tiba saja, ia juga ragu. “Cantik, enggak? Yang lahirin saja macam pant*at wajan yang sudah lama enggak dapat belai*an makanya gosong gini!”
“Bisa-bisanya Anda selalu menyalahkan istri saya di setiap kesialan yang Anda sekeluarga alami? Anda ingin, saya perkarakan ke kantor polisi?!” lanjut Kalandra lagi sambil menghan*tam meja depan ibu Lasmi menggunakan tangan kanannya. Ibu Lasmi tampak jantungan mendapatkannya.
Pak Sana yang awalnya hanya menyimak, tapi itu saja sangat tidak nyaman, berangsur menghela napas dalam. Ia menatap tak habis pikir ibu Lasmi. Ia berdiri di sebelah ibu Kalsum, berhadapan dengan ibu Lasmi. Kebersamaan mereka benar-benar hanya dipisahkan oleh meja makan.
“Ini beneran, Ibu Lasmi minta jatah warisan almarhum?” ucap pak Sana akhirnya angkat suara. “Jatah warisan apa ...?” lanjutnya benar-benar lirih. Sebab walau bukan dirinya yang berulah, apa yang ibu Lasmi lakukan sudah langsung membuatnya merasa malu.
“Warisan tanah makam kayaknya!” sergah ibu Kalsum.
__ADS_1
Kalandra berangsur balik badan kemudian menghampiri sang istri yang langsung ia peluk erat. Arum yang duduk tak jauh dari pak Sana, berangsur membalas dekapan Kalandra. Air mata Arum menetes, tampak jelas jika kali ini, Arum berusaha tegar.
“Sudah, jawab! Kenapa Anda mendadak diam padahal tadi, Anda begitu keji kepada istri saya!” kesal Kalandra.
“Ibu warisannya seriawan kayaknya, Pak Pengacara. Coba bentar tunggu sampai buka puasa dulu!” komentar pak Haji. Ia memastikan waktu melalui arloji warna silver yang menghiasi pergelangan tangan kirinya. Nyaris pukul enam, dan baru saja, adzan magrib juga berkumandang.
“Alhamdullilah ...,” lirih ibu Kalsum dan juga pak Sana nyaris bersamaan.
Ketika ibu Kalsum langsung mengambilkan segelas air minum untuk sang suami, hal yang sama juga Kalandra lakukan kepada Arum.
“Kan Papah yang puasa,” lirih Arum, tapi ia tetap menerima tuntunan minum yang Kalandra lakukan kepadanya.
Berbeda ketika menghadapi ibu Lasmi, kepada Arum, Kalandra begitu lembut dan cenderung sedih. Kalandra terlihat merasa sangat bersalah telah menjadi bahan olok-olokan ibu Lasmi yang haus warisan.
Ibu Lasmi langsung mendengkus sinis sembari melirik sinis pak Haji. “Coba diingat-ingat!” ucapnya yang akhirnya bersuara.
“Yang diingat apanya?” sewot ibu Kalsum.
“Kalian enggak menghargai pengabdian Bilqis selama ini? Bilqis sudah jadi istri sekaligus menantu yang baik! Masa iya, hanya yang baru yang kalian perlakukan dengan baik?” yakin ibu Lasmi.
“Sudah sewajarnya seorang istri begitu. Yang sabar Ibu Warisan, ini cobaan. Ibu Warisan enggak mungkin dapat warisan kalau warisan itu milik orang apalagi hanya sekelas mantan besan! Isin alias malu!” lirih pak Haji prihatin sambil menepuk-nepuk punggung ibu Lasmi. “Daripada kamu mengharapkan warisan yang tak pasti, lebih baik kamu kerja!”
“Ibu Lasmi, saya tersinggung kalau Ibu Lasmi beranggapan, bahwa selama ini, kami tidak memperlakukan Bilqis dengan baik. Kalau Ibu Lasmi mau hitung-hitungan, ayo kita bereskan!” tegas ibu Kalsum yang memang merasa tersinggung. Tak beda dengan Kalandra, kedua bola matanya seolah akan loncat menghampiri sang mantan besan.
__ADS_1
Sementara itu, Kalandra yang harusnya berbuka puasa malah sibuk mendekap Arum. Pria itu sampai jongkok, membuat sebelah pipi mereka menempel, terlepas dari tatapan Kalandra yang diliputi banyak penyesalan sekaligus kesedihan.
“Lawan, Ibu Warisan! Kok cuma diem begitu?!” bisik pak Haji masih memberi ibu Lasmi semangat sambil menghan*tam keras-keras punggung ibu Lasmi hingga wanita itu sibuk meringis kesakitan.
“Apaan sih, ini?!” kesal ibu Lasmi.
“Lah, katanya pengin warisan. Pengejar warisan ya wajib tahan bant*ing!” yakin pak Haji masih menyemangati. Karena ibu Lasmi masih menatap ya, ia sengaja berkata, “Makanya, kerja! Kerja, dapat warisan sendiri kan enggak mungkin diganggu gugat orang!”
“Jadi, sekarang maunya bagaimana? Namun saya tidak mau kejadian semacam ini sampai terulang. Apalagi Ibu Lasmi juga enggak segan menghina menantu saya di depan umum!” ucap pak Sana masih tertata sekaligus tenang walau sebenarnya, ia juga emosi.
“M-masa, iya ...?!” sergah ibu Lasmi tak kuasa melanjutkan ucapannya. Ia mendapat tatapan sangat marah dari Kalandra dan kelua orang tuanya.
“Saya mau hitam di atas putih, ya. Agar jika kejadian ini sampai terulang, Ibu bisa mempertanggungjawabkannya!” tegas pak Sana.
Ibu Lasmi menghela napas kasar. “Kalian sama sesekali tidak menghargai Bilqis! Bahkan Bilqis wanti-wanti andai dia meninggal, adiknya yang harusnya menikah dengan Kalandra!”
“Anda sakit apa kesuru*pan?!” tegas Kalandra benar-benat emosi.
“Sudahlah urus ke kantor polisi. Enggak beres ini!” kesal ibu Kalsum yang kemudian memangku Aidan dan awalnya duduk di sebelahnya.
Dengar akan diurus di kantor polisi, ibu Lasmi ketar-ketir dan memang langsung ketakutan. “Lalu, bagaimana dengan adik Bilqis?!”
“ANAK ANDA YA TANGGUNG JAWAB ANDA!” Kalandra benar-benar emosi.
__ADS_1
“Namun andai dia janda, masih cantik dan juga masih muda, sudah nikahkan saja dengan saya!” tegas pak Haji cepat tak mau kalah apalagi menyia-nyiakan kesempatan.