
“Mamak Arum lagi umroh, ... sudah enggak usah dikepoin!” ucap ibu Kalsum sengaja pergi menyusul Aidan sambil terus menikmati sisa es gepluknya.
“Umroh gimana?” tanya pak Haji, tapi kali ini ia dicueki.
Sementara yang Arum lakukan juga sama, menghindar dengan cara menelepon Kalandra apalagi kini sudah waktunya makan siang.
“Ya sudah, Dek. Saya mau pesan makan, tapi lauknua rendang kaki gajah!” sergah pak Haji ngambek.
Kalandra yang mendengar dan di sebrang tengah membuka bekal makan siangnya, langsung tertawa. “Yang, bilang kalau kakinya Septi belum kamu rendang!”
Pak Haji yang mendengar itu langsung ceria. “Kayaknya memang enak kalau kakinya Septi direndang apa bikin gulai, ya? Hahahaha!”
“Eh, Yang. Aku jadi mual enggak doyan makan. Geli sendiri lihatnya!” keluh Kalandra dari seberang.
“Al-lah, manjes!” ucap pak Haji yang masih menyimak.
Arum masih susah payah menahan tawanya ketika pak Haji sungguh menagih rendang atau gulai kaki Septi.
“Adanya kambing apa sapi, Mbah. Itu pun dadakan karena enggak semua mau. Dibuat dadakan, sekitar dua puluh menitan karena kebetulan kami sudah ada kuah gulai,” jelas Arum.
“Ya sudah, saya ambil kaki kambing aja, Dek Arum!” sergah pak Haji.
“Kolestrol cepat mati, Pal Haji!” sergah Kalandra dari seberang sana.
“Mati gimana? Ini saya saja mau jadi ipar kamu, Pak Jaksa. Eh, pak pengacara!” ucap Aku Haji.
__ADS_1
“Adik yang mana?” tanya Kalandra.
“Ah, jangan pura-pura amesia!” sergah pak Haji lagi.
Kalandra tertawa. “Amesia? Yang saya tahu, ames itu siaal. Amesia berarti ... hahaha.”
“Serius, kan, namanya Widy, kan?” pak Haji sedang berusaha, tapi Arum sudah buru-buru pergi.
Jadilah setelah makan dengan gulai kaki kambing, pak Haji mampir ke kontrakan Angga dan membuatnya bertemu dengan ibu Sumini.
“Nah, ibu-ibu begini, biasanya jujur!” pikirnya sengaja bersikap santun.
“Siang, Mbah? Mau carin apa?” tanya ibu Sumini ramah dan penampilannya pun jauh lebih rapi daripada ketika Angga dipenjara. Kini saja, di lehernya sampai dihiasi kalung emas.
“Ini, Mbah. Pesanannya adiknya Arum mantannya Angga,” ucap pak Haji sengaja menggantung ucapannya.
“Oh, pesanannya mbak Widy, ya? Ini, nanti diantarnya sore, soalnya giliran lagi ke sekitar kecamatan dulu. Jadi, si Mbah yang mau ambil apa gimana?” balas ibu Sumini masih sangat santun.
“Cihuyyyyy! Musafir Cinta kok dikadalin!” batin pak Haji kegirangan. “Nah itu totalnya berapa Mbah?” ucapnya tak sabar. Agar ibu Sumini tidak curiga, ia sengaja membayarnya. Selebihnya ia tinggal menunggu barang pesanan Widy yang sudah ia bayar, diantar.
Jadi, diam-diam, pak Haji mengintai dari sekitar kontrakan Angga. “Kalau saya jadi Septi, saya nyesel. Ngapain juga dulu minta cerai dari Angga. Apalagi kalau saya lihat, sepertinya bisnis Angga ini bakalan bikin Angga sukses! Bayangin saja, ibu Fatimah janda bohay saja sampai ambil barang dagangan dari Angga, sebanyak itu. Andai Angga masih sama Septi, pasti mereka klop. Gorengan sama es gepluk cap gajah duduk!” batin pak Haji takjub karena ada saja yang datang ke kontrakan Angga dan itu pun selalu membawa dalam kantong besar. Apalagi ia bersembunyi di teras rumah sebelah kontrakan Angga yang pemuda pemiliknya dan tengah gitaran di ruang tamu, sudah ia beri dua slop rokok.
Demi mendapatkan Widy, pak Haji yang sudah biasa menjadi Musafir Cinta memang bisa dengan mudah melakukan segala usahanya menggunakan uang-uangnya. Ia bahkan sampai dibuatkan secangkir kopi hitam sambil duduk munggu di teras dan berdalih sedang menunggu sang anak belanja nugget di tempat Angga.
Angga yang baru pulang dan motor matik bagian belakangnya dihiasi keranjang khusus, langsung mengenali motor pak Haji. “Kayaknya tuh motor enggak asing, ya.”
__ADS_1
Pak Haji yang pinter sudah langsung masuk ke dalam rumah, meminta si pemuda menyanyikan lagu Rungkad, sambil memberikan selembar uang lima puluh ribu. Tentu si pemuda langsung senang dan segera memainkan gitarnya untuk lagunya.
“Oh, kayaknya bukan. Kayaknya itu motornya temennya soleh,” pikir Angga yang kemudian masuk sambil melepas helm maupun maskernya.
“Mas, pesanan Mbak Widy, tadi sudah dibayar, ya. Berarti tinggal diantar. Nih totalnya, kembaliannya malah suruh buat Mamah! Masih ada kembali dua puluh ribu padahal loh!” cerita ibu Sumini.
Angga langsung penasaran. “Memangnya yang bayarin siapa, Mah?” tanyanya sambil mengeluarkan sebotol air dingin dari kulkas di sebelahnya. Kendati demikian, kedua matanya masih fokus menatap sang mamah yang sampai menghampirinya kemudian memberikan nota pembayaran dari pihak Widy.
Demi kenyamanan transaksi bersama, Angga memang sengaja membuat setiap pesanan di usahanya memiliki nota. Apalagi yang mengurus jual beli di rumah lebih sering hanya ibu Sumini dan Angga khawatirkan melakukan kekeliruan. Karena sejauh ini, Dika sang adik lebih memilih jualan keliling dengan dalih hasilnya lebih banyak. Dika yang sekarang sungguh sudah menjadi sosok pekerja keras demi mengumpulkan pundi-pundi penghasilan. Sementara Angga, walau di paginya akan sibuk memproduksi nugget, di siang menjelang sorenya pria itu akan mengantar setiap pesanan.
“Kakek-kakek, orangnya bersih, agak gendut!” jelas ibu Sumini.
“Kok aneh, ya? Siapa, ya? Kalau mertuanya Arum enggak mungkin karena mertuanya Arum enggak gendut. Tapi ya sudah lah, nanti aku pastiin lagi saja ke Widy. Notanya saya bawa yah, Mah. Buat bukti juga ke Widy,” ucap Angga yang langsung menyusun setiap pesanan yang akan dikirim, ke keranjang motornya.
Di saat Angga pergi, detik berikutnya juga sang musafir cinta langsung menyusul. Sepanjang perjalanan, Angga sama sekali tidak curiga. Hanya saja, jalanan yang jauh dari kata baik menuju rumah Widy membuat pak Haji kewalahan. Pria tua itu sengaja mengemudikan motornya dengan kecepatan pelan.
“Ini kalau saya sampai jatuh, kepala saya bisa kebant-ting ke batu dan ini akhirnya pasti bikin amesia!” batin pak Haji yang sampai ketinggalan jauh dari Angga.
“Duh, kalau saya sampai ketinggalan, alamatnya saya nyasar di desa orang. Lagian kok rumah Widy jauh banget ya. Berasa lagi jadi Cu Pat Kai yang nemenin biksu Tong cari kitab suci ke barat!” uring pak Haji menjadi ketar-ketir sekaligus kewalahan sendiri. Ia tengah melewati jalanan penuh terjal dan itu merupakan bulak yang kanan kirinya merupakan hamparan sawah nyaris panen.
Suasana memang masih sore dan benar-benar panas. Pak Haji yang tidak memakai helm sampai khawatir kepalanya retak. “Duh, kalau ndasku(kepalaku) sampai retak, bisa dijadiin campuran es gepluk ini sama si Septi!”
Pak Haji benar-benar berisik. Berkeluh kesah sendiri, dan juga langsung dijawab sendiri. Paling panik, tentu ketika Angga yang ia ikuti dan ada jauh di depan sana, melewati tanjakan dan tak lagi ia ketahui ke mana arah pria itu pergi.
“Si Angga govlok ih! Kok saya ditinggal begini! Woiii, Nggaaaa. Woiii, saya jangan ditinggal nanti saya bisa hilang!” keluh pak Haji sampai teriak-teriak.
__ADS_1