Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
232 : Geblek!


__ADS_3

“Pak Pengacara, sebelum musyawarah solusi ini berakhir, tolong disahkan, kesanggupan umi Fatimah yang mau menjadi istri ketiga saya!” ucap pak Haji malu-malu dan tingkahnya mendadak mirip bocah yang tak tahu malu.


Kalandra yang level lawaknya sudah sangat lemah apalagi di sana tidak ada Arum, sudah langsung tertawa.


“Pak Pengacara, jangan ngakak terus! Gini-gini, kalau saya ada acara, pasti nanti acaranya dibuat di rumah makannya istri Pak Pengacara. Jadi terus dukung saya dengan cara,” ucap pak Haji.


“Kirim doa buat stok ke alam baka, supaya Pak Gede enggak masuk neraka!” ucap Septi yang langsung membuat pak Haji tak bisa berkata-kata. Padahal, sekelas dokter Andri dan sang papah saja menjadi sibuk menahan senyum.


“Jangan didoain ke alam baka duku, soalnya masih mau jadi musafir cinta, Sep!” balas pak Haji, lirih sekaligus memohon.


Septi berangsur memasang senyum tak berdosa. “Pak Gede, ... ketiga apa keempat, sih? Soalnya si Ojan saja cucu dari istri pertama padahal setahu aku, istri pertama yang,” protes Septi.


“Yang sudah meninggal enggak usah dihitung. Takutnya kalau kita bahas, malah jadi dosa. Dosa buat kita, maupun juga dosa buat almarhumah,” yakin pak Haji sengaja memotong ucapan Septi.


“Ah, Pak Gede. Ya bukan begitu. Masih wajib dihitung ih!” protes Septi.


“Di data KK saja dihapus, sudah enggak diakui negara, Sep!” yakin pak Haji lagi.


“Walau enggak diakui dunia bahkan kehidupan sekalipun, yang namanya cinta, sudah pernah jadi istri dan berjuang sama-sama. Malahan yang pertama ini juga satu-satunya yang kasih cucu lak-laki, harusnya masih tetap di hati, Pak Gede! Ah Pak Gede, status Pak Gede sebagai musafir cinta, jadi meragukan kalau semacam jarak dan perpisahan saja menjadi akhir dari rasa cinta Pak Gede. Sekadar tinggal di kenangan saja, Pak Gede enggak ngizinin wanita yang pernah Pak Haji cinta.” Septi melirik sinis sekaligus kecewa kepada pak Haji. “Iya, kan, Mas Kala ...? Mas Andri ...? Walaupun yang pertama sudah enggak ada, mereka tetap ada di hati dan kalian tetap mencintai mereka dengan cara yang berbeda agar yang sekarang tidak terluka?”


Bersama duka yang seketika memenuhi wajah khususnya kedua mata pria yang dimaksud, Kalandra dan dokter Andri kompak mengangguk.

__ADS_1


Menyaksikan itu, pak Haji langsung terbengong-bengong. “Ini berarti saya salah, ya?”


“Enggak salah lagi, ... wajib didenda sapi tujuh malahan!” ucap Septi masih menghakimi pak Haji.


Pak Haji langsung melirik sebal Septi yang duduk di sebelah ibu Fatimah. “Yang wajib kena denda sapi kan kalau kamu sampai nikah lagi, Sep!”


Septi langsung kebingungan, tapi di sebelahnya, dokter Andri berbisik-bisik, “Kalau kamu sampai menikah lagi dan otomatis kena denda seekor sapi, yang bayar denda tetap pak Haji karena pak Haji sudah menikah sama mamah kamu, dan dengan kata lain, pak Haji juga papah kamu!”


Kegirangan, Septi langsung tertawa puas setelah mengatakannya kepada pak Haji. Kalandra ikut heboh bahkan sampai tepuk tangan.


“Lah, kok ujung-ujungnya, saya lagi yang kena?” keluh pak Haji lemas. Ia melepas peci putihnya kemudian mengelus-elus kepalanya yang botak tuntas. Saking botaknya, kepalanya sampai terlihat mengkilap.


“Sudah, Mbah. Jangan loyo gitu. Pecinya dipake lagi biar tambah ganteng. Ini jadi ke ibu Fatimah yang sudah sampai Mbah panggil umi, kan?” tegur Kalandra berusaha menyemangati pak Haji. Terlebih tanpa musafir cinta pemuja janda tersebut, dunianya bahkan dunia mereka, jadi kurang berwarna.


“Bilang ke istri-istri yang sudah ada dulu!” ucap ibu Fatimah ketika akhirnya, pak Haji menanyakan kesediaannya dijadikan istri keempat karena neneknya Ojan yang sudah meninggal, sampai dihitung.


Pak Haji sempat bengong, tapi Kalandra mengabarkan bahwa syarat dari ibu Fatimah barusan, ibarat tanda kesediaan ibu Fatimah asal pak Haji izin kepada istri-istri yang sudah ada.


Beres mengurus lamaran dadakan, mereka khususnya pak Haji kembali fokus pada Anggun dan Supri berikut anak-anak keduanya.


Mobil kolbak atau itu mobil pick up, menjadi transportasi untuk Anggun sekeluarga. Mobil tersebut masih mobil milik pak Haji dan biasanya digunakan untuk mengangkut pasir maupun batu cadas pesanan warga.

__ADS_1


“Mbah, ... tolong banget, ya. Soalnya sekelas polisi saja sudah enggak bisa didik mereka!” Angga benar-benar memohon. Ia menatap pak Haji dengan mata basah dan dada terasa sangat sesak. Tenggorokannya saja terasa dicek*ik dengan keji.


Angga merasa sangat sedih karena Anggun terlalu sulit diberi pengertian. Padahal, segala cara telah ia coba termasuk itu cara kasar sekalipun.


Pak Haji mengangguk-angguk sambil menepuk-nepuk pundak kiri Angga yang akhirnya menangis kepadanya. Di jalan sebelah kontrakan Angga, kebersamaan yang menjadi akhir dari kebersamaan mereka petang ini, terjadi.


“Doa saja, mas Angga. Nanti saya ikut bantu kok, kalau Mbak Anggun masih serba ngamuk. Aku am*uk balik, dia pasti klenger alias pingsan!” yakin Septi yang juga sudah ada di mobil yang atapnya ditutup menggunakan terpal dan dikaitkan dengan tali.


“Nah, ... calon anak kesayangan sudah menjawab!” ujar pak Haji yang langsung membuat Septi terbahak-bahak.


Mobil yang membawa pak Haji dan ibu Fatimah maupun Sepri, beranjak pergi meninggalkan jalan sekitar kontrakan Angga. Kemudian, mobil pick up yang mengangkut keluarga Anggun juga menyusul. Septi yang ada di sana dan ada di bagian depan, perlahan duduk. Septi balas menatap marah Anggun yang terus menatapnya dengan tatapan mengerikan. Kemudian, tatapan Septi teralih sekaligus tertuju kepada anak-anak Anggun. Dafa yang paling besar, mengeluarkan satu slop roko*k dari saku celana kolor lusuhnya. Tak tanggung-tanggung, setelah membaginya satu kepada Supri maupun Anggun yang duduk bersebelahan, Dafa juga membagi roko*knya kepada ketiga adik-adiknya.


“Geblek!” ucap Septi yang kemudian memuku*l-muku*l bagian kepala mobil hingga sang sopir berhenti.


Septi meramp*as semua rokoknya dari anak-anak, kemudian membeje*knya hingga halus, sebelum akhirnya memasukkan secara paksa semua itu ke dalam mulut Anggun yang sebelumnya sudah sampai ia tik*am. Termasuk kepada Supri, ia juga melakukannya menggunakan sebatang roko*k yang ada di mulut pria itu. Hingga baik Anggun maupun Supri kompak muntah-muntah.


“Keracu*nan ... keracunan kalian!” kesal Septi.


Angga, Dika, terlebih ibu Sumini yang masih berlinang air mata tanpa suara saking nelangsanya melepas kepergian Anggun sekeluarga, langsung bengong, bingung lantaran mobil pick up-nya mendadak berhenti melaju. Termasuk juga dengan Kalandra dan dokter Andri yang baru menuntun motor masing-masing. Semuanya kompak menatap penasaran ke mobil yang mengangkut Anggun sekeluarga. Mereka dapati, Anggun maupun Supri yang malah muntah-muntah di pinggir mobil dan di muntahannya ada racikan temba*kau lembut khas racikan rokok.


“Itu kenapa lagi, Sep?” tanya Angga yang matanya sudah sangat sembam.

__ADS_1


“Anak sekecil mereka sudah diajari mero*kok! Geblek! Biar mereka mendem rok*ok sekalian. Enggak guna banget!”


__ADS_2