Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
160 : Dasar Laki-Laki Parasit!


__ADS_3

Ibu Fatimah tak sengaja menoleh ke sebelahnya lantaran Septi yang ada di sana mendadak sepi. Ia dapati, sang putri yang terlihat kebingungan, sementara ketika ia memastikan apa yang ada di hadapan Septi, ia mengenalnya sebagai Fajar. Iya, ibu Fatimah tetap bisa mengenali pria berkemeja putih di hadapannya, walau Fajar memakai masker rapat, hingga wajahnya hanya mata ke atas saja yang terlihat.


“Nih anak mau bohong sampai kapan, padahal minggu besok saja, mereka akan nikah,” batin ibu Fatimah merasa jika hubungan Fajar dan Septi makin tidak sehat. “Nak Fajar?” Ia sengaja menyapa, sengaja memulai untuk mengakhiri sandiwara sang putri.


Apa yang sang mamah lakukan tak hanya membuat seorang Septi tercengang. Karena setelah menatap sang mamah penuh keterkejutan, Septi juga perlahan menunduk dalam. Lemas, Septi merasakannya.


Di sisi lain, Fajar sudah langsung memelototi wanita bercadar di hadapannya dan sempat memanggilnya. Tentu Fajar langsung mengenalinya sebagai sang calon mamah mertua. Masalahnya, kenapa orang kaya sekelas mamah Septi, sampai repot-repot jualan gorengan di pasar?


“Ibu Fatimah?” ucap Fajar yang mendadak susah melakukannya. Tiba-tiba saja lidahnya kelu. Antara terlalu terkejut, tapi juga takut. Takut jika sebenarnya alasan ibu Fatimah sibuk dagang gorengan di sana karena faktor kebutuhan. “Sekelas Ibu Fatimah, alasan mau sibuk begini kayaknya hanya kalau dia bangkrut!” pikir Fajar langsung menyikapi keadaan dengan sangat serius.


“Mbak Septi, es gepluk cap gajah duduknya sepuluh, ya! Sekalian tolong antar ke salon depan. Biasa,” ucap seorang wariyem dengan gayanya yang khas dan benar-benar ganjen. Fajar sang ada di sebelahnya sampai ia goda, ia sikut manja lengannya, tapi pria itu langsung tumbang.


Fajar terkapar meringkuk di lantai. “Sumpah, ternyata itu beneran Septi?! Pantas saja nama esnya saja enggak asing. Ada cap gajah duduknya!” batin Fajar yang sampai pingsan karena terlalu terkejut.


Septi yang awalnya sudah sangat lemas karena kebohongannya terungkap, menjadi senam jantung karena wariyem di hadapannya memastikan bahwa Fajar pingsan.


***


“Jadi selama ini kamu bohongin aku, Sep?” tuding Fajar ketika akhirnya pria itu sadar. Ia masih memakai masker, tapi ia tidak yakin apakah selama ia pingsan, Septi benar-benar tidak melihat keadaan giginya?


Septi dan ibu Fatimah sengaja menidurkan Fajar di tikar belakang dasaran dagangan mereka. Tikar yang juga menjadi tempat mereka istirahat karena ketika Sepri tidur pun, bocah itu juga mereka baringkan di sana yang juga sampai dilengkapi bantal.


Suasana pasar sudah agak sepi karena pasar pun sudah selesai. Hanya tersisa beberapa pembeli saja dan juga pedagang yang tengah sibuk merapikan sisa dagangan. Fajar memang pingsan terbilang sangat lama. Ada lebih dari tiga jam.

__ADS_1


“Bohongin? Bohongin gimana? Memangnya aku pernah bilang apalagi janji apa ke Mas?” balas Septi yang duduk di sebelah Fajar.


Septi membalas seperti tadi karena selama ini, Septi memang tidak pernah membahas apalagi menjanjikan apa pun kepada Fajar. Apalagi awal hubungan mereka terjadi pun karena Fajar yang lebih dulu mendekat kemudian memberi Septi banyak perhatian.


“Kenapa Nak Fajar berbicara seperti itu? Memangnya, apa yang membuat Nak Fajar merasa bahwa selama ini, Septi telah membohongi Nak Fajar?”ucap ibu Fatimah yang duduk di tikar bagian ujung belakang Fajar.


Fajar yang awalnya duduk menghadap Septi, langsung menoleh kemudian menatap ibu Fatimah.


“Bukannya perkara uang sepuluh juta juga sampai nak Fajar ambil lagi, Septi enggak jadi pakai? Iya, kan, Sep?” lanjut ibu Fatimah yang kemudian menatap sang putri penuh kepastian.


Septi yang duduk di samping Fajar tanpa sepenuhnya menghadap Fajar, segera mengangguk-angguk. “Iya, Mah. Kan modalnya memang dari Papah! Terus gerobakan ini hadiah dari Pak Gede, Pak Gede bilang biar aku jualannya lebih semangat! Kalau Mamah enggak percaya, aku teleponin Pak Gede. Kan Pak Gede juga yang dukung aku buat mulai usaha!” Karena takut difitnah, dituduh yang tidak-tidak, jemari tangan Septi sudah langsung otomatis menghubungi kontak pak Haji.


Ibu Fatimah tidak mempermasalahkan keputusan sang putri yang langsung menghubungi pak Haji. Yang ibu Fatimah permasalahkan, mengenai ucapan Fajar yang merasa dibohongi oleh Septi.


Fajar langsung tidak bisa berkata-kata karena alasan dirinya mendekati Septi memang karena harta Septi sekeluarga. Ia berniat numpang hidup enak setelah menikahi Septi karena selama ini, ia sudah terlalu lelah bekerja.


“Ih, kok dalem banget ya, sakitnya,” batin Septi yang langsung menunduk dalam. Dadanya mendadak terasa sangat pegal selain hatinya yang seperti diiris-iris. Namun, ia tetap bangun dan membuatkan es gepluk untuk pembeli yang baru datang.


Diamnya Fajar sudah menjadi jawaban bagi ibu Fatimah. Jawaban yang jujur saja membuat wanita itu kecewa. “Ya sudah, sekarang mau nak Fajar bagaimana?”


“Berarti kalau aku bukan anaknya orang kaya, dan orang tuaku sudah enggak punya harta, Mas Fajar jadi enggak sayang, ya? Kalau memang begitu, ya sudah sih, enggak usah nikah saja. Ngeri!” ucap Septi yang kemudian menggepluk es batu dan kebetulan masih utuh.


Ibu Fatimah yang dagangannya memang sudah habis, masih menunggu balasan Fajar sambil memangku Sepri.

__ADS_1


“Saya sudah enggak hitungan loh ...,” ucap Fajar sambil menunduk lemas.


Ibu Fatimah mendengkus sekaligus tersenyum geli mendengarnya. Kedua matanya menatap tak habis pikir Fajar. “Ya sudah kalau mau nak Fajar begitu, sekarang total semua uang yang Nak Fajar keluarkan buat Septi karena walau sekarang kami sudah enggak kaya, kami masih tetap punya harga diri. Kami enggak mau seperti Nak Fajar yang niat mendekati Septi karena hartanya tapi ternyata salah sasaran dan sekarang minta balik modal!”


“Nanti barangnya aku balikin semua deh, sama plastik sekaligus staples yang sempat nempel juga aku balikin,” ucap Septi.


“Iya, gitu saja. Tapi totalan uangnya juga akan tetap saya ganti. Andaipun sampai sangat banyak, saya usahakan paling telat besok saya kembalikan!” tegas ibu Fatimah yang sudah langsung muak kepada Fajar. “Beruntung sih, belum sampai nikah. Karena meski Septi memang enggak sempurna, enggak kebayang kalau kalian sampai nikah, sementara alasan kamu menikahinya karena harta yang sekarang memang sudah enggak ada.”


Fajar tetap merasa dirugikan walau apa yang Septi dan ibu Fatimah katakan memang benar. Dari awal belum pernah ada pembahasan harta. Bahkan walau Septi memang selalu janjian dengannya di depan rumah megah keluarga Septi yang kini Fajar yakini sudah tinggal masa lalu. Fajar saja yang terlalu berharap bisa memiliki Septi secepatnya untuk numpang hidup enak. Namun kini, Fajar yang ingin meminta ganti rugi juga jadi ragu apalagi ibu Fatimah sudah jelas-jelas menyindirnya.


“Buaya kok ketipu jadi buntung gini? Tapi ya sudahlah, daripada aku juga makin diinjak-injak!” batin Fajar yang memilih berdiri dari duduknya. “Ya sudahlah, terserah kalian.”


“Terserah kalian yang bagaimana?” sergah ibu Fatimah masih menyikapi Fajar dengan serius. Apalagi semenjak ia bercerai, ia sadar Septi hanya memiliki dirinya. Karena meski pak Yusuf masih hidup dan pria itu sempat memberi Septi modal, itu tak lebih dari status saja. Pak Yusuf bukan papah yang sepenuhnya bertanggung jawab atau setidaknya peka.


“Ya kan tadi Septi bilang, enggak usah nikah saja!” tegas Fajar sambil balas menatap ibu Fatimah, alasan yang juga sengaja ia berikan untuk cari aman.


“Jadi enggaknya kan juga masih tergantung kamu. Kamu laki-laki dan kamu harus punya pendirian!” kesal ibu Fatimah sengaja memaksa Fajar untuk mengakui bahwa pria itu memang matre dan sengaja mendekati Septi hanya karena masih mengira orang tua Septi salah sasaran. “Dasar, laki-laki matre! Cintamu salah sasaran karena yang kamu cintai hartanya Septi, kan? Ya sudah, sana pergi. Bahaya kalau memelihara kayak kamu yang enggak beda sama tuyul! Bedanya, kalau tuyul ngasilin, kalau kamu miskinin karena kamu ibarat parasit!”


“Ya sudah, saya tunggu ganti ruginya!” tegas Fajar yang telanjur gondok kepada ibu Fatimah. Ia memilih pergi.


Ibu Fatimah langsung menggeleng tak habis pikir.


“Aku enggak akan balikin dalam bentuk utuh karena aku enggak pernah memaksa, Mas. Jadi, aku hanya akan mengembalikan semacam barang yang pernah Mas kasih. Sisanya semacam makanan, ambil sana di sepiteng!” tegas Septi dan sukses membuat Fajar berhenti melangkah. Ketika pria itu menatapnya dengan kekesalan nyata, ia sengaja berkata, “Aku pastikan Mas bakalan nyesel sudah giniin aku apalagi di kamus hidupmu enggak ada kata rujuk apa lagi balikan!”

__ADS_1


__ADS_2