Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
131 : Perkara Jatah


__ADS_3

“Sudah merasa lebih lega?” tanya Arum ketika kembali setelah menyiapkan air hangat untuk Kalandra mandi.


Kalandra langsung mengulas senyum sambil mengangguk-angguk.


“Yang di perut sudah ada pergerakan, loh.”


“Hah? Masa?” Kabar dari Arum langsung membuat Kalandra syok. Ia buru-buru duduk, kemudian meraba-raba perut Arum menggunakan kedua tangannya.


“Di bawah, Mas. Kayak macam kedutan. Gimana sih jelasinnya, ya?” balas Arum.


Di sebelah Kalandra, Aidan yang baru terbangun langsung duduk, memandangi mereka dan tampak kepo. Ekspresi bocah itu begitu menggemaskan. Kalandra sampai terbahak menertawakannya. Akhirnya sumber kebahagiaan mereka kembali. Ibaratnya, matahari mereka yaitu Kalandra, telah kembali bersinar memancarkan kehangatan dalam kebersamaan keluarga kecil mereka.


“Mas mandi dulu, nanti aku mau coba kebaya buat acara empat bulan besok,” ucap Arum sambil meninggalkan kebersamaan di sana. Kalandra yang tengah mendekap Aidan, berangsur mengakhirinya.


“Mas, ini rambut kamu kok enggak tumbuh-tumbuh, mikirin negara apa gimana? Pusing gitu, ya?” ucap Kalandra sambil mengelus-elus kepala Aidan.


Arum yang mulai membongkar kasur di ranjang bayi, langsung tertawa. “Sudah dikasih seledri, kemiri, lidah buaya, masih saja harus sabar, Pah! Lama-lama Mas Aidan beneran didatangin buaya beneran sama mbah uti.”


“Ngapain repot-repot datengin buaya kalau tiap hari saja sudah datang?” ucap Kalandra yang turun dari tempat tidur tapi malah membawa Aidan.


“Yang Mas maksud siapa?” Arum terheran-heran.


“Ya pak Haji lah, memangnya siapa lagi?” Kalandra tertawa geli.


Arum pun langsung tertawa geli. Namun perhatiannya terbagi dan membuatnya tak tertawa lagi. Ternyata Kalandra sampai mengajak Aidan mandi, mereka mandi bersama.


“Mas Kala kenapa, ya? Bawaan hamil apa gimana? Melow dia kebangetan loh. Tumben, ... tapi ngidamku memang nyaris diborong Mas Kala semua,” pikir Arum.


Berhubung kedua penghuni tetap yang selalu menjadi penyebab utama tempat tidur berantakan sedang mandi, Arum sengaja buru-buru membereskannya. Karena meski di sana ada yang bantu-bantu, semacam membereskan kamar termasuk mengurus semua keperluan suami dan anak bahkan mertua, sebisa mungkin Arum masih melakukannya sendiri.


***


Hari ini Angga kembali jualan di pertigaan tak jauh dari rumah makan, tapi Arum yang mengetahuinya sengaja tidak keluar apalagi menemui. Demi keamanan sekaligus kebaikan bersama, selain Arum yang belum tahu bagaimana menyikapinya. Arum tak mau menyakiti banyak pihak apalagi sampai mengor-bankan salah satu dari mereka.


“Dipikir-pikir, tiap hari makan di rumah makan, bangkrut aku, Rum. Tekor!” ucap pak Haji yang duduk di tempat duduk lantai bawah.


Arum yang ada di sana dan kebetulan sedang mengawasi suasana, hanya menggeleng pelan. “Enggak ada yang minta apalagi nyuruh, loh!”

__ADS_1


“Ya sudah kalau gitu, aku melamar jadi bosnya, gimana?” ujar pak Haji.


“Di mana-mana melamar kerjaan ya jadi karyawan, ini malah jadi bos,” sindir ibu Kalsum yang masih sibuk mengajari Aidan jalan.


“Lah, hidup kalau memang bisa kan ambil enaknya, buang enggaknya, Bu DPR!” ucap pak Haji sambil duduk lebih santai. Kedua tangannya ia rentangkan berpegangan pada sandaran tempat duduk kayu keberadaannya.


“Ya tetap saja, situ kelewatan,” balas ibu Kalsum tanpa sedikit pun melirik yang bersangkutan. Apa lagi di jam makan siang layaknya sekarang, banyak yang datang dan ia khawatir pada Aidan.


“Ya sudah, kalau gitu aku melamar jadi tukang cuci piring saja, tapi cucinya pakai mesin biar aku enggak repot-repot amat. Amat saja enggak mau repot, kan?” ucap pak Haji.


Arum hanya menggeleng tak habis pikir. “Memangnya uang pak Haji sudah nipis banget?”


Pak Haji mengangguk-angguk, tapi kemudian menggeleng. “Si Fatimah, aku ajak nikah kok enggak mau-mau, yah, Rum?”


Arum langsung mesem. Semenjak ada ibu Fatimah, cinta pak Haji memang tak hanya tertuju kepadanya. Karena semenjak ibu Fatimah menjanda, hati pak Haji ikut bercabang mengejar janda baru itu.


“Aku lihat sih, ibu Fatimah carinya yang lebih dari si bapaknya Septi.” Yang Arum lihat memang begitu, selain Arum yang juga yakin, ibu Fatimah ingin mengikuti jejaknya. Menjadi janda elegan yang sukses dan syukur-syukur dapat suami tampan mapan, baik hati tanggung jawab juga.


“Jelas-jelas aku lebih baik lah, Rum!” sergah pak Haji yakin seyakin-yakinnya.


“Mbah, kalau Mbah sampai nikah lagi, nanti tagihan sama pengeluaran makin banyak. Tadi Mbah sendiri kan yang baru ngeluh, makan di sini terus saja nyaris bangkrut?” tegur ibu Kalsum yang kebetulan lewat di hadapan mereka.


“Maksudnya mau diajak hidup susah, gitu? Nadjeez ... nadjeez!” semprot ibu Kalsum.


Sebelum perutnya benar-benar kaku, Arum yang sibuk menahan tawa, memilih pergi dari sana. Ia bermaksud memantau yang ada di teras. Tapi di depan pintu saja, kedatangan sang suami langsung mengalihkan perhatiannya.


Kalandra yang langsung mengulas senyum, datang membawa dua kantong kresek berwarna putih.


Arum menghampiri dan yakin, alasan Kalandra ke sana karena Aidan. Ia mengambil kantong di tangan kanan Kalandra, kemudian menyalami tangan itu dengan takzim.


“Kangen?” todong Kalandra langsung.


Arum mengerling bingung seiring bibirnya yang manyun. Sambil menatap Kalandra, Arum berkata, “Aku, kangen Mas? Tentu saja!”


Kalandra langsung mesem kemudian mengecuup kening Arum. “Maaf karena aku sudah keterlaluan. Apa yang aku lakukan semalaman kemarin bahkan sampai tadi pagi, pasti sudah membuat kamu khawatir.”


“Iya, sih,” lirih Arum yang kemudian melirik sekaligus menatap Kalandra. Tentu ia tak malu untuk langsung memeluk suaminya apalagi biar bagaimanapun, Arum memang rindu. Arum rindu pada kebersamaan mereka yang tidak disertai beban. Arum ingin mereka fokus bahagia saja seperti sebelumnya.

__ADS_1


Kalandra balas memeluk Arum.


“Nadjeezz ... nadjeeez, baru datang sudah pamer kemesraan!” keluh pak Haji tak terima antara cemburu, iri, tapi juga sadar diri tak mungkin bisa semesra Arum dan Kalandra.


“Aidan enggak kangen Papah?” seru Kalandra masih memeluk Arum.


Mendengar suara Kalandra, Aidan langsung mencari. Bocah itu juga langsung heboh menghampiri sambil tertawa memanggil-manggil Kalandra penuh ceria. Seolah Aidan tengah meluapkan perasaannya bahwa hadirnya Kalandra sangat ia nanti dan memang selalu membuatnya bahagia.


Kalandra langsung mengemban Aidan, tapi ia juga tak melepaskan Arum. Ibu Kalsum yang melihat putranya kerepotan sengaja mengambil alih kantong bawaan Aidan. Mereka bersama-sama menuju ruang kerja Arum yang juga menjadi tempat kebersamaan mereka ketika di sana.


“Aku saja cemburu kalau Aidan sama Angga. Kok iya, dari kemarin malam aku jadi cuekin kamu dan hanya fokus ke Aidan,” lirih Kalandra sambil menatap sang istri yang langsung membuka kantong bawaannya. Ada beberapa bungkus rujak, pecel, dan juga dawet ayu.


“Sudah sadar?” tanya Arum sambil mesem menatap Kalandra.


Kalandra yang sudah duduk dan merebahkan punggungnya di sofa, membalasnya dengan tersenyum tak berdosa. “Dari pagi aku merasa, kok ada yang kurang banget, tapi apa gitu? Oh iya aku lupa. Kamu. Pantes, rasanya enggak enak banget.”


Arum yang merasa tersentuh dengan ucapan Kalandra, buru-buru memeluk manja suaminya itu.


Kalandra yang juga balas memeluk Arum, lagi-lagi minta maaf, menyesali keputusannya yang larut galau tanpa memedulikan Arum.


“Baru semalam saja sudah sekhawatir ini, gimana kalau kita mendadak LDR, Mas?” tanya Arum sengaja meledek suaminya.


“Aku susul. Ke mana pun aku susul. Enggak apa- apa rempong di jalan yang penting ketemu!” yakin Kalandra sambil menatap Arum.


“Ya sudah, jangan galau-galau lagi, toh yang ada Mas yang rugi,” balas Arum.


“Iya, sumpah nyesel, semalam sampai lupa minta jatah,” keluh Kalandra.


Ibu Kalsum yang kebetulan duduk di lantai sambil mengecek setiap WA masuk di ponselnya, langsung terkekeh. “Jatah apa, Mas?”


“Mamah kok ada di situ?” Kalandra ketar-ketir sambil menahan tawa.


“Dari tadi kan Mamah memang sama kita!” tegur Arum yang menertawakan suaminya. Pipi Kalandra sudah langsung merah. Pria itu sampai menunduk cukup lama dan tampak sangat malu apalagi ibu Kalsum tak segan menggoda.


“Mas bawa dawet ayu, aku jadi ingat si Fajar. Pas aku sama papah datengin dia ke bank, si Widy kan ngumpet di sebelah tukang dawet ayu!” Mengingat kejadian tersebut apalagi kejadian Fajar sampai pongah, Arum tidak bisa untuk tidak tertawa. Termasuk juga ibu Kalsum. Sepanjang kebersamaan apalagi ketika menyeruput dawet ayunya, kedua wanita itu heboh ngakak.


Sementara itu, di tempat berbeda, si pongah Fajar dan sengaja selalu memakai masker untuk menutupi giginya yang belum direnovasi, tak sengaja melihat Septi. Septi datang sendiri ke bank dan tampak mendatangi kasir.

__ADS_1


“Itu si Septi yang kaya banget, kan, yang rumahnya saja tingkat? Kok jadi ibu-ibu banget, ya? Dia sudah cerai dari Angga kan, ya? Sudah ah, sikat saja!” batin Fajar yang sengaja meninggalkan tempat duduknya di area teller. Ia sengaja mendekati Septi dan akan berlagak, seolah pertemuan mereka hanya kebetulan mirip drama romantis.


__ADS_2