
Arum sengaja membuka gembok pintu gerbangnya, menyuruh Ifan selaku suami Ririn, masuk.
“Yang,” panggil Kalandra tak rela Arum dekat-dekat dengan Ifan. Wanitanya itu mengajak Ifan duduk di kursi yang ada di teras rumah.
“Biarin aku yang urus, Mas! Sembarangan, calon bojoku difitnah mentah-mentah!” kesal Arum.
“Ya maksudnya, Yang ....” Kalandra menyusul.
“Enggak apa-apa, Mas. Aku bisa! Kan Maa sendiri yang bilang kalau di masa lalu, aku ini Roro Jonggrang. Namun tenang, aku belajar dari masa lalu dan enggak akan mengulangi kesalahan apalagi jatuh ke lubang yang sama.”
“Yang ih, please, jangan kesu-rupan. Nanti yang ada, si Ifan baper ke kamu. Kamu tuh, ... ih, ... kamu tuh paket komplit, enggak mungkin laki-laki normal enggak lirik. Wong pak Haji saja yang bau tanah, sampai bikin target, baru mau dijemput malaikat maut kalau sudah nikah sama kamu!” Kalandra benar-benar cerewet, takut Arum dilirik apalagi diambil Ifan.
Kalandra memang mengizinkan Arum ada di sana. Kalandra membiarkan Arum duduk di kursi kayu yang bersebelahan dengan kursi Ifan duduk. Kebersamaan mereka dipisahkan oleh meja bundar kecil dan juga Kalandra sendiri yang sampai memunggungi Arum, saking tidak maunya Kalandra Arum dilirik laki-laki lain bahkan itu sahabatnya yang sudah menikah.
Sambil tetap mengemban Aidan di depan dadanya dan sesekali menimangnya, Kalandra berkata, “Itu WA-nya jadi bukti. Enggak ada yang direkayasa dan kamu pastikan sendiri.”
“Hapenya jangan sampai dibanting, loh!” komentar Arum sambil melongok dari sebelah pinggang Kalandra, tapi Kalandra buru-buru mengamankannya.
Ifan yang sedari tadi merasa sangat aneh dengan interaksi Kalandra dan Arum, sengaja berkata, “Calon istrimu asli ayu! Pemberani gitu apalagi dengan tegas mau membela kamu.”
Kalandra refleks menelan ludah kemudian buru-buru berkata, “Enggak ada yang minta kamu buat baca mantra. Sekarang kamu fokus saja ke tujuan awal kamu ke sini.” Ia mencoba memberi sang sahabat pengertian.
“Tujuannya kan mau jadiin Mas brigadir J, dan dia jadi Sambo, terus Ririn ibu PC!” protes Arum sambil menengadah menatap Kalandra yang walau menghadapnya, tapi tengah menoleh menatap Ifan.
Mendengar itu, Irfan refleks tersenyum. “Lucu juga, beneran paket komplit calon bojomu kue, Kal!”
“Wirog, emang kowe, Fan!” kesal Kalandra.
Arum langsung terdiam bingung lantaran Kalandra sampai menyamakan Ifan dengan wirog atau itu tikus berukuran super besar dan kadang besarnya bisa sekucing gendut.
__ADS_1
“Aku perhatikan, mereka ini beneran lagi stres dan haus perhatian, selain mereka yang ingin melampiaskan hasrat demi mendapatkan kepuasan. Pantesan lanang wedon sama-sama gat-tel!” bisik Kalandra di sebelah telinga kanan Arum.
Mendengar itu, Arum menjadi menahan senyum. Kemudian, ia sengaja mendekap manja pinggang Kalandra, sebab mendengar pesan suara Ririn kepada Kalandra di putar, malah membuatnya darah tinggi. Suara manja Ririn yang sampai mende-sah-de-sah, malah membuatnya jijikk sekaligus emosi.
Setelah menyimak setiap pesan obrolan, wajah Ifan tampak tidak baik-baik saja. Arum yang memastikannya dengan melongok dari sebelah pinggang Kalandra yang awalnya masih ia peluk, buru-buru mengambil ponsel Kalandra yang selain ia kata berharga mahal, juga menyimpan banyak momen manisnya dengan Kalandra.
Hadirnya ibu Kalsum di sana juga sampai membuat wanita itu mengecap istri Ifan stres, setelah ibu Kalsum mengetahui kasusnya.
“Wong sudah rumah tangga ya jangan kayak abege yang baru pacaran. Ini malah sampai ada yang jadi ibu PC, tega-teganya mau jadiin anak lanangku brigadir J!” kesal ibu Kalsum.
Karena memang tak mau membiarkan Arum dilirik-lirik oleh Ifan, Kalandra pamit membawanya masuk, menyerahkan Ifan kepada ibu Kalsum yang juga langsung mempersilakan Ifan untuk pergi.
“Jangan dibiasakan, ya. Sudah nikah ya belajar lebih dewasa lagi,” ucap ibu Kalsum membiarkan tangan kirinya disalami dengan takzim oleh Ifan.
Ifan melangkah berat pergi dari sana, kemudian mengemudikan motornya. Namun sebelum itu, pria berkulit kuning langsat itu terlebih dulu menggembok pintu gerbangnya sesuai titah ibu Kalsum.
“Aku kan bukan jaelengkung, De!” keluh Ifan lemas.
“Ah, kamu saja enggak lebih baik dari jaelengkung! Sudah kayak keluarga, sudah nikah lama sama istrimu, masih saja enggak tahu watak si Ririn itu!” balas ibu Kalsum sewot.
Setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya, mengenai kelakuan istrinya saja sudah sangat membuatnya lemas karena kecewa, malu, bahkan jijikk. Nah, sekarang ia sampai diusir oleh Kalandra maupun ibu Kalsum yang awalnya sudah ia anggap keluarga.
Tak kunjung keluar dari kamar Arum, ibu Kalsum yang penasaran apa yang terjadi di sana, sengaja masuk dengan hati-hati. Ketiga orang di sana kompak tidur. Kalandra tidur di pangkuan Arum, dan di sebelahnya ada Aidan yang tak kalah pulas. Sementara itu, Arum yang turut tidur, melakukannya sambil duduk selonjor. Arum menyandarkan tubuh maupun kepalanya pada sandaran tempat tidur.
Adanya bungkus obat sekaligus gelas berisi sisa teh manis di nakas sebelah Arum, menegaskan Kalandra yang dikata Arum tengah kurang enak badan, sudah sempat meminum obat.
Ibu Kalsum mengembuskan napas lega. “Syukurlah, yang sekarang jauh lebih bisa urus sekaligus manjain kamu, Mas,” lirihnya yang kemudian keluar dengan hati-hati.
Sekitar satu menit dari kepergian ibu Kalsum, Arum terbangun dengan cukup terkejut. Kemudian ia memandangi wajah-wajah di sana. Ada dua wajah laki-laki yang sampai detik ini menjadi kedua laki-laki paling berharga dalam hidupnya. Senyum indah terukir manis di wajahnya. Ia sengaja menarik selimut yang menyelimuti tubuh keduanya, meski Aidan sangat sulit dan tampaknya anti dengan selimut. Bocah itu sibuk berusaha menepis selimutnya, membuat Arum sengaja membebaskan bocah itu dari selimut.
__ADS_1
Sorenya, sekitar pukul empat, Kalandra membawa Arum pergi ke rumah orang tua Bilqis yang ada di kecamatan sebelah. Mereka tak sampai membawa Aidan karena Aidan dijaga ibu Kalsum dan juga sang suami.
Jika melihat tanggapan datar cenderung tak rela dari orang tua Bilqis, tak hanya Arum yang merasa kedua pasang paruh baya itu tak rela. Sebab Kalandra pun turut menyadarinya.
Di rumah gedong terbilang mewah walau tak semewah kediaman Kalandra apalagi orang tua Kalandra, kehadiran Arum dan Kalandra sampai tidak diberi minum. Terlepas dari itu, orang tua Bilqis tampak sedang kurang enak badan.
Pak Iman selaku orang tua Bilqis dan kebetulan duduk berhadapan dengan Kalandra yang duduk bersebelahan dengan Arum, sengaja berdeham. Pria itu menatap Kalandra dengan tatapan sangat sungkan. “Rumahnya gimana?”
Arum yang cenderung menunduk, melirik wajah Kalandra yang berangsur mengernyit.
“Rumah yang mana, nggih, Pak?” balas Kalandra santun.
Namun, Arum yang masih diam yakin, yang dimaksud pak Iman itu rumah Kalandra dan Bilqis! “Mungkin semacam minta jatah pembagian. Tapi Mas Kala sama orang tuanya bilang, itu murni pakai uang Mas Kala dan orang tuanya? Oalah ini bakalan jadi sengketa, padahal tuh rumah malah bakalan jadi rumah makan buat aku usaha!” batin Arum ketar-ketir apalagi seperti yang ia pikirkan, orang tua Bilqis sungguh meminta jatah rumah!
“Gini loh, Nak Kala,” ucap ibu Lasmi, mamahnya Bilqis. “Bilqis kan sudah meninggal, dan kamu pun mau menikah lagi. Sementara sekarang kamu tahu, Zahra sedang kuliah kedokteran dan memang butuh banyak biaya.”
“Maaf, Bu. Kok jadi bahas begitu?” sergah Kalandra masih santun.
“Nah benar, Nak Kala. Biar Nak Kala tahu, dan kalau bisa, rumah itu dijual saja,” balas ibu Lasmi berusaha meluruskan.
Diam-diam, Arum meraih sebelah tangan Kalandra yang kebetulan ada di lutut kiri pria itu. Arum menggenggamnya erat, sebagai wujud dari dukungannya.
Jujur, pembahasan sekarang membuat Kalandra malu apalagi di sana ada Arum. Namun karena sudah telanjur, ia pun menjelaskan dengan sangat rinci. Penjelasan yang juga langsung membuat orang tua Bilqis gelisah.
“Masa iya, Bilqis sama sekali enggak ....” ibu Lasmi kebingungan dan tak kuasa melanjutkan ucapannya. Ia menatap sang suami yang detik itu juga balas menatapnya kemudian mengambil alih pembicaraan.
“Bukannya lima tahun selama pernikahan kalian, Bilqis juga kerja?” tanya pak Iman.
“Berat kalau sudah begini ceritanya. Di mana-mana yang namanya uang memang sering jadi seton!” batin Arum yang kemudian berdeham, tapi karena Kalandra balas berdeham, ia memutuskan untuk diam.
__ADS_1