
“Septi jangan boleh duduk di sofa, nanti yang ada sofanya rus*ak!” heboh pak Haji ketika rombongannya baru saja masuk ruang tamu dan di sana, Arum sudah langsung mempersilakan semuanya untuk duduk.
“Iya, Pak Gede. Aku sadar diri, kok. Ini saja mau langsung duduk di lantai, biar lebih adem dan enggak meru*sak sofa orang juga,” ucap Septi benar-benar pasrah.
Semuanya kompak tertawa termasuk Arum yang langsung berdalih, untung jahitannya sudah kering. Karena andai belum, bisa sangat berbahaya. Terlebih kali ini para pelawak hadir dalam formasi lengkap.
Bisa berebut kamar mandi karena tarngompol-ngompol efek bercanda.
“Eh kumpulnya jangan di sini. Ke dalam saja biar gabung sama yang lain,” sergah Arum yang memang ditemani Kalandra.
“Oh iya, Mbak. Widy, sudah datang dari tadi, ya?” tanya Septi tetap melenggang bebas lantaran sang putra masih diemban ibu Fatimah. Namun baru saja, ia menuntun Nissa karena kasihan.
Iya, Septi kasihan kepada Nissa lantaran apa-apa hanya bersama dokter Andri atau pak Erdi yang statusnya seorang mantri. Belum kalau dokter Andri dan pak Erdi sedang kerja malam dan itu di puskesmas yang jaraknya jauh dari kontrakan, Nissa harus di rumah sendiri. Walau akhir-akhir ini, bocah itu mulai mau menginap di kontrakan Septi maupun rumah pak Haji. Malahan, Nissa jadi kerap membantu mengasuh Sepri.
“Sudah dari pagi dan sekarang lagi istirahat di kamar. Aku sih curiga, dia lagi isi lagi, soalnya sudah kebiasaan dia setiap hamil jadi gampang sakit, pusing enggak doyan makan gitu,” balas Arum.
Septi langsung antusias. “Wah? Topcer banget ya langsung jadi!” Ia meluapkannya dengan tawa.
Arum langsung menahan tawanya. Lain dengan Kalandra yang langsung bertanya, “Kamu enggak mau nyusul, Sep?”
Septi hanya tertawa sambil menggeleng.
“Sekarang saja begitu, nanti tahu-tahu sudah tekdung padahal belum ijab kabul! Bakat terpendamnya kan gitu! Hahahaha!” sela pak Haji yang masih saja ikut nimbrung.
Kalandra dan Arum sudah langsung tertawa lemas.
“Tekdung sama siapa ih, pak Haji? Aku kan beneran lagi berusaha jadi janda elegan!” yakin Septi.
__ADS_1
“Ya mana tahu, ... salah satu wariyem yang kamu seruduk bant*ing jadi tobat enggak pakai rok lagi terus ngeyakinin kamu buat jadi pasangan samawa sampai alam baka!” balas pak Haji yang kembali ngakak.
“Innalilah, Pak Gede. Masa iya seekstrim itu jodohku?” ucap Septi yang jadi takut sendiri. “Masa iya, aku malah sama wariyem? Lihat Fajar saja aku takut!”
Lain dengan Septi, semuanya kompak tertawa termasuk sekelas dokter Andri dan sang papah.
“Bisa jadi cerita, loh, Sep! Nanti judulnya gini, ... Suamiku mantan wariyem! Apa, Dinikahi Mantan Wariyem. Apa, Ternyata Suamiku Mantan Wariyem!” ucap pak Haji makin tertawa riang. Kalandra sampai memintanya untuk berhenti melawak karena pria itu berdalih sudah langsung kebelet pipis.
“Susah Mas Kala, ... kalau mau bikin Pak Gede nurut, obatnya cuma satu! Janda muda yang cantik!” ujar Septi yakin seyakin-yakinnya dan membuat Kalandra maupun Arum makin tak bisa berhenti tertawa.
“Namun serius sih, ini kenapa saya jadi susah dapat janda cantik yang juga masih muda? Terhitung sejak ditolak Arum, pesona saya seolah jadi luntur!” ucap pak Haji.
“Semacam, pantangan pesu*gihan, yah, Pak Gede?” tanya Septi sengaja memastikan. “Jangan-jangan selama ini Pak Gede pamai Su-suk? Su-suk pelaris janda?”
“Pesu*gihan, su-suk pelaris janda gundulmu! Kan kamu tahu sendiri, alasan saya kaya, bisa berkelana mencari janda karena saya banyak usaha!” omel pak Haji setelah sebelumnya sampai memoles kepala Septi.
“Kalau kamu memang pengin langsing, kamu cukup nikah sama si Pongah karena otomatis, dia bakalan bikin kamu sengsara lahir batin! Apalagi si Pongah pikirannya kan masih ajaib, tuh. Terobsesi pengin kaya instan. Pasti kamu bakalan dibikinin peternakan tu*yul dan otomatis kamu jadi sibuk menyusui tu*yul!” yakin pak Haji.
Mendengar itu, Septi langsung merenunginya dengan serius. “Oh iya, kabarnya kalau urus tu*yul, bisa bikin tubuh kurus yah, Pak Gede. Aku pernah dengar soalnya dari siapa, sudah lupa.”
“Nah, iya ... kamu mau? Kalau iya, nanti kurusnya buat kamu, uangnya buat saya, dan dosanya buat kamu semua juga! Adil, kan?” balas pak Haji.
“Loh, ... loh. Kenapa dosanya buat aku semua?” tanya Septi terheran-heran.
“Yang penting, kamu langsing, kan?” balas pak Haji.
Kalandra dan Arum sudah sampai menangis menertawakan Septi maupun pak Haji.
__ADS_1
“Kamu Septi itu, kan, ... yang viral ... yang bant*ing wari*a?” ucap Aleya masih mengemban Azzura.
Septi langsung kikuk dan tak lagi fokus kepada pak Haji. “Kok aku berasa artis, ya?” ucapnya langsung kikuk.
“Aku lihat videonya loh!” ucap Aleya bersemangat sembari menghampiri kebersamaan. Ia sampai mengajak sang suami yang walau sedang hari raya, tetap saja sibuk dengan ponsel mengurus pekerjaan.
Tuan Maheza langsung meletakan ponselnya di meja, kemudian mengemban Cinta yang memang sibuk menempel kepadanya. Ia langsung menjadi bagian dari kebersamaan, apalagi sang istri sudah ikut heboh di sana.
“Ini enggak lebaran salam-salaman dulu?” tanya Arum karena merek sudah sibuk mengobrol tanpa basa basi apalagi halal bihalal terlebih dahulu.
“Lebarannya nanti saja sekalian pas mau pulang karena kumpul-kumpul begini pasti hasilnya ngakak sama dosa, Mbak!” balas ibu Kalsum yang baru saja membawa dua termos es sekaligus.
Arum yang sudah kewalahan mengontrol tawanya, sengaja pamit dan berdalih akan menyiapkan es campur di dapur.
“Sep, jangan langsung duduk di lantai, kamu. Itu bantu Arum bikin es. Kamu kan duta es gepluk. Bikin es gepluk yang banyak. Panas-panas gini kan paling enak makan es gepluk!” tegur pak Haji setengah mengusir.
Septi yang sungguh sudah langsung duduk di lantai marmer sambil memangku Nissa, walau yang lain duduk di sofa, langsung kebingungan.
“Es gepluk apa es campur, Pak Gede? Tadi bilangnya mbak Arum mau bikin es campur?” balas Septi memastikan.
“Es campur yang versi es gepluk kan lebih enak. Dibanyakin esnya gitu!” yakin pak Haji dan semuanya setuju.
“Ya sudah, ... Nissa mau ikut Tante bikin es, enggak?” tawar Septi sembari menatap Nissa yang masih bertahan di pangkuannya.
Karena Nissa langsung mengangguk, Septi langsung memboyongnya, meninggalkan kebersamaan yang terus saja menjadikannya sebagai bahan tawa. Septi mengambil termos berisi es yang awalnya sudah ibu Kalsum bawa, mengangkutnya ke dapur untuk digepluk sampai remuk.
Sementara itu, di kamar tamu, Sekretaris Lim masih sibuk memijat kaki Widy menggunakan minyak telon. Di sebelah mereka, ketiga anak Widy juga kompak tidur. Seseorang mengetuk pintu dari luar disusul suara ibu Rusmini yang kemudian berseru.
__ADS_1