Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
206 : Pongah Lagi


__ADS_3

“Sep, kamu tahu, enggak, gosip terpanas yang panasnya melebihi kobaran rayuannya Fajar Pongah?” ucap pak Haji yang langsung disambut tawa oleh Septi. “Eh kamu malah ngakak! Orang tua ini mau cerita ini!”


“Pak Gede lucu, dari tadi berisik ngajak ghibah terus, kesannya Pak Gede lagi patah hati dan butuh teman ngobrol!” balas Septi sambil menyiapkan gerobak dagangannya di pasar.


Hari ini, matahari benar-benar terik. Beberapa dari mereka yang sudah kelelahan sampai ada yang batal puasa karena nyaris pingsan. Kehidupan keras di pasar hanya agar dapur mereka ngebul. Agar anak dan keluarga tetap bisa makan. Kenyataan yang juga membuat seorang Septi menyadari, bahwa selama ini hidupnya sangat tidak berguna. Septi sadar, selama ini dirinya telah membuang banyak kesempatan emas. Terlebih jika mengingat kehidupan mewah yang membuatnya hidup enak sekaligus bisa mengenyam bangku pendidikan tinggi.


“Si Widy lamaran sama orang kota! Pengusaha kaya raya ganteng CINA! KOKO-KOKO, MIRIP PAK GEDE!” pak Haji sengaja berteriak lantaran di depan sana, Fajar pongah tengah datang menghampiri mereka. Ia berucap nyaris tanpa spasi. Tentunya, ia sengaja memanas-manasi Fajar. Ia melirik pria itu penuh arti.


“Kaya raya ganteng Cina tapi mirip Pak Gede? Kalau beneran kayak gitu, itu namanya musibah wong mirip Pak Gede! Memangnya enggak jadi sama yang dokter?” balas Septi yang kemudian menyikapi Fajar dengan serius.


“Kamu ngapain nguping, Mas?” tanya Septi kepada Fajar.


“Ya karena saya punya kuping!” balas Fajar agak canggung setelah apa yang pernah terjadi antara dirinya dan Septi.


“Ih, jawabannya kok gitu. Kesannya pengin enggak punya kuping,” sebal Septi.


“Ya sudah, iris saja kupingnya buat jadi toping es gajah duduk kamu. Jadi nanti, nama esnya berubah jadi : Es Gepluk Cap Gajah Duduk Toping Kuping Pongah!” Setelah mengucapkan itu, pak Haji langsung tertawa.


“Lucu, sih. Tapi asli ngeri. Bayangin kuping Mas Pongah diiris tipis buat toping es dan yang makan, si Honey Herman Madu!” ucap Septi yang pada akhirnya juga terbahak.


Walau kesal karena telah menjadi bahan banyolan, Fajar tetap memikirkan kabar terbaru Widy. “Masa iya, ada pengusaha kaya raya, ganteng Cina, mau sama Widy yang janda miskiiin anak tiga masih kecil-kecil?” pikirnya yang menjadi gelisah sendiri.

__ADS_1


“Tuh lihatin, telinga si Pongah gerak-gerak mirip telinganya Cut Pat Kai!” heboh pak Haji. “Pasti lagi mikir keras, tuh. Sana sini digalauin. Termasuk sekelas kamu saja nih, Sep. Kamu kalau sampai punya gandengan baru pun bakalan digalauin sama dia!” yakin pak Haji yang kemudian memastikannya kepada Fajar. “Iya, kan, Jar?”


“Iya, Pak Haji. Hati saya kan ibarat kupu-kupu pink yang selalu akan rapuh kepada wanita cantik. Kalau Pak Haji kan hanya pemuja janda, nah aku pemuja segalanya!” jelas Fajar.


“Termasuk yang wariyem-wariyem juga diangkut, ya?” sergah pak Haji makin ngakak.


“Yang penting menguntungkan lah, Pak. Libas saja semuanya, mau batangan apa lubangan!” balas Fajar dengan santainya dan sukses membuat Pak Haji terbahak-bahak. Gigi geraham palsu emas kakek itu sampai lepas saking hebohnya pak Haji tertawa. Lebih gokilnya lagi, Septi yang mata duitan tingkat kecamatan heboh ingin memungut dan berdalih akan menjual gigi palsu pak Haji ke toko sebelah.


“Per hari kemarin saya juga sudah enggak pongah, ya. Nih ... ini namanya kekuatan cinta!” ucap Fajar yang melepas maskernya, kemudian pamer gigi palsu barunya dan telah membuat gigi-giginya kembali sempurna. Tak hanya itu, giginya juga makin putih berkat perawatan dan itu masih karena sokongan dana dari Honey si Herman.


“Ih ...,” ucap Septi merasa jijiik sendiri. “Serius aku nyesel kenapa dulu aku pernah mau sama Mas. Mas ya, ... beneran enggak punya harga diri!” kecamnya.


Pak Haji yang masih tertawa tanpa peduli tawanya membuat gigi gerahamnya yang lepas tampak sempurna, juga setuju dengan anggapan Septi. “Bener, Sep. Jadi orang harus punya harga diri. Kalaupun kamu pemain wanita atau pria, paling enggak karena kamu memang punya modal, bukan karena ingin dapat modal!”


“Sini, aku gepluk, biar lebih mudah. Jadi toping apa sirup saja daripada nambah dosa!” ucap Septi emosi.


“Urusan dosa biar jadi urusanku sama Tuhanku sih, Sep. Bye! Urus badan kamu saja biar kamu enggak menuh-menuhin kehidupan gebrot gitu kayak karet direndem di minyak tanah!” ledek Fajar sambil tertawa penuh kemenangan. Ia pergi begitu saja meninggalkan Septi yang walau masih santai tapi terlihat jelas menahan kesal.


“Jangan hanya diem, Sep! Serudukkkkkk!” kesal pak Haji. “Pakai jurus banteng badakmu!” lanjutnya lagi.


Detik itu juga Septi memanggil Fajar, “MAS FAJAR!”

__ADS_1


“Nah, laki-laki enggak punya harga diri gitu, mending diserudug sampai koid!” yakin pak Haji yang sangat bahagia ketika akhirnya Septi yang lari kencang bak banteng, sungguh menyeruduk Fajar. Tubuh Fajar terpental ke jalan seberang, jalan depan salon si Honey Herman.


Fajar merintih dan perlahan menangis kesakitan setelah wajahnya sempat mencium aspal panas. Ditambah lagi, ponsel canggih yang tampaknya baru juga sampai mental kemudian berakhir terlindas truk yang lewat. Dan ketika Fajar menghadap mereka, ....


“Hahahaha ... pongah lagi!” Pak Haji benar-benar heboh. Lain dengan Septi yang masih menatap Fajar penuh dendam.


“Kapokmu kapan, Mas? Laki-laki kok enggak punya harga diri, mulutnya lemes gitu! Kalau kamu merasa tubuhku sebengkak itu, tunggu saja aku jadi kurus. Aku jadi kurus, sukses, dan aku pun punya suami berguna. Enggak kayak kamu yang sama wariaa pun mau asal hidupnya dimodalin! Ciiih! Makan tuh gigi palsu! Tangisin tuh hape remuk!” kesal Septi.


“Kamu yah, Sep! Tanggung jawab kamu!” kesal Fajar sambil berusaha berdiri. Ia memungut gigi palsunya yang memang sampai lepas saking kerasnya benturan wajah yang ia alami terhadap aspal panas. Malahan ia juga yakin, wajahnya sampai terluka semacam baret parah terlebih ia merasakan perih serius di sana.


“Tanggung jawab apaan? Ya maaf saja, tubuhku kan mirip karet yang direndam di minyak tanah. Kan Mas Fajar juga yang bilang sendiri. Ya maafkan tubuhku yang besar ini, yah, Mas. terus yang tadi, itu bagian dari proses aku lagi belajar lari biar tubuhku langsing dan seksi!” balas Septi sambil tersenyum ceria. Ia meninggalkan pinggir jalan raya dan kembali menuju gerobak dagangannya. Tak peduli walau Fajar sibuk merengek tanggung jawab dan sampai menghampirinya.


“Ini ... ini. Sudah sana, berobat ke klinik sebelah!” ucap pak Haji yang sengaja memberikan tiga lembar uang seratus ribu kepada Fajar untuk berobat.


Namanya juga Fajar, dikasih ganti rugi yang baginya setimpal ya langsung minggat. Walau ketika teringat ponselnya yang remuk, pria itu juga mendadak kembali meminta ganti rugi.


“Tadi yang pegang ponsel kamu siapa?” tanya pak Haji yang mewakili Septi. Pak Haji yakin, Septi sudah muak dan memang ogah berurusan lagi dengan Fajar. Karena Fajar tak bisa menjawab, pak Haji pun berkata, “Kamu, kan? Ya sudah, berarti kamu yang salah. Tangan kamu yang pegang, dan tangan kamu juga yang jatuhin!”


“Tapi Pak Haji!” sergah Fajar menawar.


“Sudah sana pergi. Bilang saja ke Herman, pasti dibeliin yang baru. Sekarang kamu berobat dulu, habis itu bantu-bantu di salon. Tuh salon Herman antri pada rebonding sama smooting. Panen itu!”

__ADS_1


Terlepas dari semuanya, tak hanya Septi yang merasa sangat puas karena akhirnya bisa menyeruduk Fajar hingga gigi palsunya kembali lepas dan ponsel baru pun sampai jadi korban. Karena pak Haji yang menjadi saksi juga tak kalah bahagia.


__ADS_2