Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
89 : SAH!


__ADS_3

“Mas ...? Loh, Mas, kok kamu malah belum mandi dan masih asyik jemur si Sepri? Kita mau kondangan ke nikahannya Arum jandes, kan?!” kesal Septi pulang-pulang langsung mengomel.


Buru-buru, Septi yang baru pulang dari salon, membuka pintu gerbang rumahnya. Namun karena pintu gerbang tersebut sampai digembok, Septi kembali mengomel kepada sang suami untuk yang ke sekian kalinya.


“Terobos saja kenapa? Kamu sakti, kan?” kesal Angga yang memboyong masuk bayi Septi.


“Heh, Mas. Hati-hati yah, kamu kalau ngomong! Dikiranya aku punya ajian rengka gunung atau malah ngerogoh sukmo!” omel Septi.


Angga menoleh sekaligus menatap Septi. “Yang harusnya bilang gitu ke kamu, aku!” tegasnya. “Bentar lagi hujan. Luntur-luntur beda kamu enggak jadi kondangan. Hati-hati, dandan ke salon mahal-mahal dan sampai jual tivi, malah cuma buat korban tangisan langit!”


“Eh, Mas!” Septi ketar-ketir karena seperti yang Angga katakan, selain suasana memang mendung, tak lama kemudian, gerimis ringan juga mulai turun.


“Kyaaaa, beneran hujan! Masss, bukain gerbangnya ih! Uhuk ... Uhuk!” Septi panik sepanik-paniknya apalagi ia tak mungkin berteduh ke tempat lain selain ke rumahnya. Di sana tidak ada yang bisa untuk berteduh karena rumah-rumah sekitar juga digerbang sekaligus kunci.


“MASSSSS, BUKAIN PINTUNYA, JANCUUUK KOWE!”


Gerimis ringan memang mengguyur secara teratur, kemudian berubah menjadi hujan yang perlahan lebat. Kata SAH akhirnya terucap dari para saksi yang menyaksikan ijab kabul Arum dan Kalandra.


Suasana di sana benar-benar khidmat. Kalandra melafalkan ijab kabulnya dalam satu kali helaan napas tanpa ragu, jelas dan benar-benar tegas. “Ya Alloh, ... semoga ini jadi yang terakhir. Dan semoga setelah ini, istriku juga sehat terus. Cukup di masa lalu semua luka-luka itu ada, enggak dengan yang sekarang,” batin Kalandra yang membiarkan tangan kanannya disalami Arum dengan takzim. Kemudian, ia juga sengaja membingkai wajah Arum menggunakan kedua tangan, mencium kening wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu sangat lama, di hadapan semuanya.


“Plong banget rasanya!” ucap Kalandra berkaca-kaca menatap Arum. Wanitanya itu juga langsung berkaca-kaca sekaligus tersipu.


“Aku mau nyawer lagu KANDAS!” ucap pak Haji tak kuat melihat keromantisan Arum dan Kalandra.

__ADS_1


“Heh, apa-apaan!” omel bu Kalsum walau kini ia tengah sibuk menyeka sekitar matanya menggunakan helai tisu yang ia dapat dari sang suami.


“Klebus hatiku, Bu DPR! Masa iya, rasa cintaku mung dibalas matur suwun!” balas pak Haji protes.


Mereka yang mendengar, termasuk ibu Kalsum, langsung terbahak mendengarnya.


“Sudah, Pak Haji. Duduk yang bener, makan yang banyak. Nanti nyanyi sama nyawernya agak siang. Nanti pak Haji langsung sama mas Denny. Orangnya masih di perjalanan!” ucap Kalandra yang masih duduk di tempat duduk ijab kabul. Ia sengaja menghibur pak Haji yang memang duduk di antara rombongan tetangga ibu Rusmini, tepat di hadapannya, di sebelah penghulu.


“Oh, iya ... iya. Bener, itu. Nanti aku mau duel sama Denny Cagur!” ucap pak Haji bersemangat tapi sukses membuat semuanya terbahak.


Antara duel dan Denny Cagur, itulah yang mereka tawakan. Pak Haji yang tampak jelas tidak tahu menahu, nyaman-nyaman saja. Makin yakin dirinya akan nyanyi bareng penyanyi idolanya, Denny Cagur!


“Dek Arum, nanti aku juga mau nyanyi bojo songo!” ucap Pak Haji sengaja pamer.


“Ya kurang lah, wong tinggal seperapat. Lah kamu, aku seriusin malah mung matur suwun beh enggak!” balas pak Haji. “Sainganku terlanjur berat. Ibarat aku tiang listrik, si Kalandra ini menara ilepel!”


“Menara ilepel ....” semuanya kembali tertawa dan mereka makin lemas saja.


“Menara Eiffel, Mbah!” ucap Rani sengaja membenarkan dan kebetulan duduk di belakang pak Haji.


Pak Haji langsung semringah. “Tadi siapa yang bilang? Jodohku, kan?” ucapnya memastikan, tapi yang dimaksud langsung ketakutan.


Selanjutnya, serangkaian acara di pernikahan adat Jawa Tengah, Arum dan Kalandra jalani. Puncaknya merupakan acara sungkem, yang membuat Arum sengaja menghadirkan ibu Nur dan sang suami. Arum tentu tidak lupa, sepasang paruh baya itu sudah sangat berjasa kepadanya. Keduanya bahu-membahu menolong, menuntunnya keluar dari keterpurukan. Malahan ibu Nur sekeluarga juga yang sampai detik ini masih selalu ada layaknya keluarga.

__ADS_1


Tangis Arum pecah sepecah-pecahnya ketika ia memulai sungkem dan itu kepada orang tua Kalandra. Karena dari keduanya, dirinya mendapatkan hangat sekaligus tulusnya kasih sayang orang tua. Walau kepada sang mamak Arum juga menangis, tapi tangisnya tak sepecah ketika ia sungkem kepada orang tua Kalandra maupun ibu Nur.


Berbeda dengan pengantin pada kebanyakan, Arum dan Kalandra terus mengikutkan Aidan, bahkan walau mereka sampai ganti pakaian pengantin sebanyak dua kali. Barulah ketika akhirnya Aidan tidur, bocah itu dimomong oleh Rani dan ibu Nur. Dan sesuai rencana, pak Haji sungguh duet, bukan duel, dengan mas Denny. Namun sayang, bukannya suara merdu yang dihasilkan, suara sumbang pak Haji yang sampai terkentut-kentut di panggung malah jadi bahan tawa semua tamu undangan.


“Septi sama bapake Aidan enggak datang, loh, Mas!” bisik Arum yang duduk di pelaminan sebelah Kalandra, tentu saja.


Acara salaman sedang distop dan semuanya tengah menikmati hiburan sekaligus sajian di prasmanan. Termasuk Arum dan Kalandra, pengantin baru yang tak lagi disertai Aidan juga tengah makan siomay. Arum yang menyuapi, sepiring sekaligus satu garpu untuk berdua.


“Aku sih mikirnya memang Angga yang terlalu gengsi buat dekat sama kita. Apalagi dapat Septi yang sempat dia puji-puji berkali-lipat lebih baik dari kamu, malah jadi awal mula dia jadi ba-bu!” ucap Kalandra sambil mengunyah pelan somai di dalam mulutnya. “Kadang aku heran sama orang yang kayak bapaknya Aidan, tapi ya yang kayak dia itu banyak!”


Sambil menahan senyum, Arum yang juga tengah mengunyah pelan berkata, “Banyak itu sowang, Mas!”


Kalandra yang baru saja menerima suapan dari Arum, langsung memelotot menahan senyumnya. Namun, ia kemudian juga berkata, “Sowang itu angsa!”


Susah payah Arum dan Kalandra menahan tawa hanya perkara Banyak dan sowang yang memang sebutan lain untuk angsa, di daerah mereka.


“Mulai sekarang, mikirnya dibawa santai saja, Mas. Kalau sekelas bapaknya Aidan cuman bikin beban hidup kita tambah, yowis dibusek bae kan kehidupan kita!” ucap Arum mengangguk-angguk bersemangat.


Kalandra tak kalah bersemangat. “Itu tadi hape kamu mana, Yang? Ayo kita poto! Jadi SW, biar Septi tambah panas!”


Arum nyaris tersedak karena menahan tawa. Namun beberapa menit kemudian, foto mereka di pelaminan memakai nuansa hitam, sudah langsung membuat Septi kesal.


Di bawah selimut tebal sebelah Sepri tidur pulas, Septi yang menggigil demam dan wajahnya masih dihiasi sisa rias yang berantakan karena maskaranya saja membuat sekitar matanya hitam, tak hentinya mengummpat.

__ADS_1


“Suuuueeee, sueeee! Gara-gara Mas Angga aku enggak jadi kondangan. Meriang gigilan gini, bahkan kakiku enggak bisa digerakin gara-gara kesleo! Jancuuuukkk, jancuuukkk! Sueeeee, sueee!”


__ADS_2