Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
254 : Keluarga Kecil Pak Haji Dan Dokter Andri


__ADS_3

“HAH!” teriak Ojan langsung membuat semua yang ada di ruang pemeriksaan nyaris jantungan.


Ojan yang awalnya tiduran, spontan duduk, menatap tak berdosa wajah-wajah di sana.


Pak Haji refleks melepas pecinya kemudian melemparnya ke wajah Ojan. “Bocah kok sengaja bikin malaikat maut banyak kerjaan!”


Septi yang awalnya ikut terkejut dan langsung memeluk ibu Fatimah karena takut sang mamah jantungan, berangsur tertawa karena biar bagaimanapun, cara Ojan menghindari pengambilan darah untuk pemeriksaan lanjutan, benar-benar ajaib sekaligus lucu.


Sekelas dokter Andri yang juga ikut serta menemani pemeriksaan Ojan, juga ikut tertawa.


“Mau sama dokter Andri saja!” pinta Ojan sambil menunjuk dokter Andri yang masih berdiri di sebelah pak Haji.


Dokter di sana yang tahu dokter Andri juga seorang dokter, langsung meminta bantuan dokter Andri. Ia begitu sabar karena menangani Ojan memang harus sangat sabar. Sementara alasan Ojan sampai akan dites darahnya karena dicurigai ada obat khusus yang telah Ojan konsumsi, dan itu membuat Ojan jadi mirip orang kurang normal.


“Dokter Andri, jangan digigit!” ucap Ojan memohon.


“Digigit apaan? Kamu itu mau diambil darahnya, bukan dibunnuh, Jan!” ucap pak Haji geregetan. “Masa iya, digigit dikiranya dokter Andri drakula!”


Septi kembali tertawa, begitupun dengan dokter Andri yang awalnya akan mengambil sampel darah Ojan.


“Sudah, diam. Biar pemeriksaannya cepat beres!” omel pak Haji.


“Aku merem, ya!” ucap Ojan bersemangat dan langsung mendelik. Alasan yang kembali membuat Septi maupun dokter Andri terpingkal-pingkal.


Diam-diam, dokter Andri menatap wajah-wajah di sana. Wajah Septi yang selalu ceria. Kedua mata tajam ibu Fatimah yang terus menatap segala sesuatunya penuh khawatir. Pak Haji yang kadang serius tapi lebih sering gokil. Juga Ojan yang selalu saja membuat ulah tapi tingkahnya benar-benar ajaib. “Beruntungnya aku punya kalian. Alhamdullilah banget bisa jadi bagian dari kalian!” batin dokter Andri.

__ADS_1


Setelah melewati pemeriksaan panjang dan sampai membuat mereka hampir setengah hari menghabiskan waktu di rumah sakit Ojan menjalani pemeriksaan, akhirnya hasil pemeriksaan keluar. Ditemukan penyebab Ojan seperti sekarang dan itu memang efek dari kandungan zat yang melumpuhkan motorik dalam tubuh Ojan.


“Kandungan ini sudah ada dalam tubuh Ojan cuku lama. Makanya dia jadi begini. Ini sudah masuk kejahatan karena obat semacam itu sangat dilarang keras,” jelas sang dokter.


Septi yang ikut menyimak dan berdiri bersebelahan dengan dokter Andri, langsung menghela napas pelan. “Benar kata Mas Andri, sudah ada obat lemot yang telanjur dikonsumsi Ojan dalam jangka waktu lama. Hanya saja, Mas Andri yang takut salah karena pak Gede otomatis langsung ngamuk ke kedua istrinya yang selama ini urus Ojan, sengaja membiarkan pemeriksaan ini mengungkapnya,” batin Septi. “Tapi kebangetan sih. Masa Ojan digituin. Apa gara-gara warisan? Karena mereka tahu, Ojan bakalan dapat warisan paling banyak? Kalau iya, jangan-jangan mamah juga terancam karena nikah saja sudah langsung dapat kontrakan berikut tanah, selain Pak Gede yang sudah langsung sibuk sama Mamah!” Septi yang masih berbicara dalam hati, menjadi khawatir. Terlebih sejauh ini, khususnya semenjak pak Haji menikah dengan ibu Fatimah, segala yang berkaitan dengan ibu Fatimah termasuk itu dokter Andri yang akan dibuatkan klinik, benar-benar pak Haji urus.


Ibu Fatimah yang memangku Ojan dan memang duduk di sebelah pak Haji, nyaris jantungan ketika pak Haji berucap dengan lantang, agar sang dokter memberinya bukti medis untuk mengungkap kejahatan yang Ojan dapatkan.


“Biar saya bawa ke pengadilan! Kurang 4jar mereka! Tega-teganya m3rus4k kehidupan Ojan!” pak Haji masih marah-marah.


Septi yang masih berdiri di belakang pak Haji, sengaja memijat-mijat kedua pundak pak Haji. “Semangat Pak Gede! Usut sampai tuntas pokoknya!” yakinnya.


“Wajib ini! Nanti minta Pak Pengacara Kalandra suruh urus. Wajib balik tuh dari Yogyakarta, jangan bulan madu terus!” balas pak Haji benar-benar sewot.


“Mas Sepri yang anteng, ya. Bentar lagi Mamah pulang. Mbak Nissa hebat bisa jagain Mas Sepri bareng Mbah Kakung!” ucap Septi mengakhiri jalannya sambungan telepon video dengan pak Erdi.


Karena usia Sepri tak memungkinkan dibawa ke rumah sakit jika bukan untuk urusan mendesak, hari ini bocah itu memang Septi titipkan ke pak Erdi yang kebetulan sedang libur. Pak Erdi menjaga Sepri dibantu Nissa.


“Doakan aku diterima di sini, biar hasilnya juga jauh lebih lumayan,” ucap dokter Andri sambil menunggu kembalian pembayaran dari petugasnya.


Septi yang baru menyimpan ponselnya di tas selempang langsung terkesiap. “Amin, Mas!” refleksnya. “Kok mendadak banget?”


“Biar kita bisa hidup lebih layak,” balas dokter Andri masih berucap lirih. Ia menatap kedua mata Septi penuh keteduhan, tapi wanita itu malah jadi gelisah.


“Aku kan tetap buka warung. Malahan nanti kalau kliniknya jadi, aku juga bakalan masak juga di kantin!” sergah Septi.

__ADS_1


“Ya enggak apa-apa. Sama-sama kerja buat keluarga biar kita punya banyak tabungan juga. Targetku, Sepri mulai punya kaki palsu. Sampai dewasa nanti, pokoknya dia punya jatah khusus buat kaki palsu!” tegas dokter Andri tetap bicara walau Septi sudah tersedu-sedu. “Pokoknya selagi kita masih bisa usaha, ayo. Buat kebahagiaan keluarga kita!”


Tersedu-sedu, Septi yang menunduk mengangguk. “Iya, Mas. Makasih banyak. Sebenarnya aku juga sudah ada pemikiran ke situ. Tapi aku kan enggak paham belinya proses dan semacamnya. Soalnya sepanjang sekolah sampai kuliah, otakku ketinggalan di tukang siomay!” ucapnya.


Dokter Andri malah tertawa. Pria itu menggunakan tangan kanannya untuk menekap mulut guna meredam tawanya. “Bener kata Kalandra. Punya istri Septi bakalan awet muda karena tiap saat ketawa!” batinnya.


Pulang dari rumah sakit, suasana menjadi mencengkam. Pak Haji sudah langsung pulang membawa bukti medis pemeriksaan Ojan sebagai buktinya. Pak Haji yang awalnya turun di depan kontrakan Septi, sudah langsung jalan kaki. Walau sang sopir sampai menawarkan untuk mengantar, pak Haji yang marah besar, langsung menolak.


“Mas, itu tolong didampingi. Takutnya kenapa-kenapa!” tegur Septi yang sudah langsung dipeluk oleh Septi.


Ibu Fatimah yang masih menggendong Ojan, juga meminta bantuan dokter Andri untuk mengawal sekaligus membantu pak Haji.


“Gitu-gitu mereka pinter loh! Sampai main obat begitu!” lanjut ibu Fatimah terpaksa pamit lantaran tak tahan dengan berat badan Ojan yang sudah nyaris membuatnya encok. Septi sampai membantu, menggendong Ojan yang tidur masuk ke rumah.


Walau ketika Septi sudah merebahkannya dengan hati-hati ke tempat tidur, Ojan malah guling-guling sambil terbahak-bahak. Dan tampaknya, bocah itu sengaja mengerjai ibu Fatimah sekaligus Septi.


“Sempruuuul, kamu, Jan!” kesal Septi sengaja kentut dan menampungnya di tangan kanan ya g kemudian langsung ia usapkan ke wajah Ojan.


“Uweee!” Ojan langsung mual-mual. Muntah, tapi tak sampai disertai isi.


“Itu pengobatan mujarab buat kamu tanpa harus bayar mahal. Bismillah, semoga kamu langsung waras tanpa harus berobat ribet-ribet!” omel Septi tak lagi mengurus Ojan.


“Mbak Septi!” rengek Ojan.


“Alah, masa bodo!” Septi tetap pergi meninggalkan Ojan yang kembali tertawa riang.

__ADS_1


__ADS_2