
Hari ini Kalandra pulang larut, tapi Arum yang belum bisa tidur segera menyiapkan air hangat untuk suaminya itu mandi. Kemudian yang Arum lakukan adalah menyiapkan seblak karena Kalandra sedang sangat suka memakan makanan berkuah dan terasa pedas tersebut.
“Hari ini ada cerita apa?” tanya Kalandra sambil mengeringkan kepalanya yang masih setengah basah.
Satu mangkuk besar berisi seblak baru saja Arum hidangkan di meja depan kursi Kalandra akan duduk.
“Hari ini setelah sekian lama pak Haji selalu enggak pernah absen, dia mendadak enggak datang, Mas!” cerita Arum yang kemudian meraih kantong plastik merah berisi cireng, dan juga aneka olahan nugget selaku usaha terbaru dari Angga.
Arum duduk di kursi yang sengaja Kalandra dekatkan dengan kursi pria itu akan duduk.
Kalandra yang menahan senyum dan belum apa-apa sudah merasa lucu, langsung menatap Arum. “Berasa ada yang kurang pasti, ya?”
Arum mengangguk-angguk. “Iya, Mas. Bener, jadi ada yang kurang, enggak ada yang berisik karaokean. Apa ceramah jadi musafir cinta!”
Kalandra sibuk mengangguk-angguk sambil tetap menahan tawanya.
“Minum air putih dulu, baru makan seblaknya, Mas,” ucap Arum yang mengambilkan segelas air putih yang sudah ia siapkan, di depan mangkuk berisi seblaknya.
“Mas ada yang mau diceritain?” tanya Arum setelah Kalandra selesai minum. “Sini aku suapin. Ini masih panas banget,” ucapnya mengambil alih sendok yang baru saja Kalandra ambil dari sisi mangkuk.
Ulah Arum kali ini membuat Kalandra tersipu. Tangan kanan yang awalnya baru saja memberikan sendok kepada tangan kanan Arum, berangsur mengelus kepala wanita itu penuh sayang.
“Jam segini kok belum tidur, ... ada yang kamu pikirin?” tanya Kalandra.
Arum yang siap menyuapi Kalandra berkata, “Bawaan bayi kayaknya Mas. Lagian Mas belum pulang, hujan angin sama petir jeglar-jegler, Mas pakai motor bukan mobil. Ya sudah, pikiran otomatis muter-muter.”
“Iya soalnya aku langsung pulang, dari Purwokerto ke sini di tengah perjalanan mendadak hujan makanya aku sengaja rehat sebentar. Kalau yang lain malah sudah di penginapan dekat Dieng dan mereka baru akan pulang lusa sekalian liburan dari perusahaan,” balas Kalandra.
Tak bisa jauh-jauh dari Arum dan Aidan, Kalandra memilih langsung pulang setelah urusan pekerjaan dari perusahaannya selesai. Malahan saking tidak bisanya jauh dari istri dan anak, Kalandra sama sekali tidak tergiur acara liburan bersama yang disediakan oleh perusahaan. Arum tahu itu, alasan utama yang juga membuatnya tidak bisa tidur sebelum suaminya sampai.
“Ya sudah, habisin,” ucap Arum sambil kembali menyuapi Kalandra.
__ADS_1
Kalandra mengangguk-angguk bersemangat. “Iya, seharian ini aku kelaparan karena enggak ada makanan yang cocok. Nyoba beli seblak juga enggak ada yang cocok.”
“Tahu gitu tadi aku bikinin Mas bekel. Tapi kan ada acara besar, masa bekel,” ucap Arum yang juga mengatai makin hari ngidamnya sang suami makin rewel.
“Ini beneran ngidam apa fase lain?”
Ditanya begitu oleh Arum, Kalandra langsung tertawa.
“Jadi tantrum mulu, kan?” lanjut Arum.
Setelah acara makan seblak selesai, Arum langsung membahas kabar terbaru Angga.
“Usaha gimana?” Kalandra langsung meraih kantong yang Arum suguhkan. “Waw, mereknya nama mas Aidan.” Ia mengamati saksama semua itu. “Boleh lah Yang, gorengin.”
Arum terkejut. “Itu tadi sebanyak itu, itu sepanci ajaib, belum kenyang, Mas?”
Kalandra langsung tertawa. “Mumpung kita belum ngantuk, terus sekalian review-review, Yang! Lagian, masakan istri sendiri masa enggak dihabisin?”
Kalandra langsung tersipu menatap istrinya. “Ini mau diapain biar rasanya jadi beda?”
Arum langsung diam. “Memangnya ada hadiahnya kalau rasanya sampai jadi beda?”
“Besok aku libur, kita bisa jalan-jalan liburan!” yakin Kalandra.
Mendengar itu, Arum langsung tersenyum bahagia. “Ini semuanya mau aku goreng dulu, terus aku lumuri kocokan telur dan goreng lagi!”
“Ya sudah, langsung eksekusi!” ucap Kalandra bersemangat.
“Besok liburannya jangan lupa!” todong Arum sambil berdiri dan membawa satu kantong produk Angga.
Kalandra menyusul berdiri membawa mangkuk bekasnya makan. “Daripada aku kan jadwal kamu jauh lebih susah diatur, Yang!”
__ADS_1
“Tapi besok aku beneran mau liburan! Ini ngidam kayaknya!” yakin Arum tapi malah membuat sang suami menertawakannya.
***
Keesokan harinya, Arum dan Kalandra sungguh jalan-jalan ke pantai. Malahan, liburan mereka sampai disertai ibu Kalsum dan pak Sana. Seperti biasa, tidak ada yang tidak heboh jika mereka sedang bersama. Membuat kebahagiaan mereka terasa sempurna. Walau setelah sampai rumah, Arum mendapat kabar buuruk. Widy mengabari mengalami kecelakaan ketika pulang dari rumah makan Arum untuk mengambil pesanan.
“Kamu ditabrak? Tabrak balik yang nabrak! Hah? Motornya enggak sengaja digas-gas sama anaknya? Yang nabrak punya klinik di dekat sini? Bentar, dokter Andri bukan?” Arum yang langsung menelepon sang adik langsung sigap memastikan.
“Sudah, Mas Aidan sama Mbah saja. Papah sama Mamah mau lihat Bibi,” yakin ibu Kalsum masih ditemani sang suami melepas kepergian anak dan menantunya yang kembali pergi menggunakan mobil Arum. Karena seharian ini saja, Arum yang menyetir dipantau Kalandra dan memang sengaja agar Arum makin lihai menyetir.
Wajah sebelah kiri Widy baret parah. Termasuk tangan kiri yang sendirinya sampai geser. Itu luka paling parah, selain motor Widy yang juga langsung diperbaiki di bengkel depan klinik dan memang masih punya dokter Andri.
“Ini bukan modus biar kamu dapat pasien, kan, Ndri? Parah itu wajah iparku yang baru juga glowing sudah baret parah!” ucap Kalandra yang langsung tersenyum miris.
“Ih sembarangan banget kamu Kal! Itu si Nisa kan awalnya aku baru manasin motor buat pergi. Eh aku enggak tahu kalau dia udah ada di atas motor main-main gas! Motorku langsung maju dan anaknya pun langsung kebawa. Aku tangkap anaknya, motornya melaju sendiri dan malah nabrak iparmu!” balas dokter Andri.
“Kenapa harus ipar aku? Motormu tahu banget nabraknya milih yang janda!” kali ini Kalandra tertawa. “Tapi asli itu dagangannya hancur. Dia aslinya juga sibuk banget,” lanjut Kalandra.
“Sumpah, Kal. Aku ganti ... aku ganti semuanya, termasuk semua biaya kerugian dan juga pengobatan,” yakin dokter Andri.
Mendengar itu, Kalandra langsung menertawakan sahabatnya lagi. “Kamu takut banget aku kasus, ya?” Pria di hadapannya langsung kikuk.
Dokter Andri langsung menghela napas dalam kemudian berkecak pinggang dan membungkuk loyo. “Asli aku masih trauma banget lihat Nissa histeris ketakutan! Jantungku nyaris copot, eh beneran nyaris copot karena motorku malah tetap nabrak orang!”
Kalandra menghela napas dalam. Ia paham apa yang sedang dirasakan dokter Andri. Satu bulan lalu, sahabatnya itu baru ditinggal sang istri karena ditabrak orang dan lokasinya pun masih di tempat Widy mengalami kecelakaan. Sementara beberapa saat lalu, selain melihat sang anak nyaris terlibat kecelakaan, pria itu malah membuat orang lain kecelakaan.
“Itu bisa sembuh cepat, kan? Soalnya selain guru yang kayaknya enggak bisa izin lama-lama, dia enggak mungkin libur lama-lama,” lanjut Kalandra masih memunggungi pintu ruang rawat Widy dirawat dan tengah ditemani Arum.
“Mengenai itu, nanti aku total juga harus berapa tiap harinya.”
“Itu memang harus kamu lakuin. Tapi ini masalahnya dia kan dagang, otomatis kalau kelamaan libur, pelanggan bisa kabur. Selain itu, anaknya masih kecil-kecil, tiga dan hanya dibantu sama neneknya,” lanjut Kalandra.
__ADS_1
Mendengar itu, dokter Andri menjadi merasa makin bersalah. “Gimana, yah? Dari tadi dia memang izin pulang sih.” Tatapannya menelisik suasana di dalam, di sana Widy yang berusaha duduk tengah berbincang serius dengan Arum.