Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
235 : Didikan yang Dimulai


__ADS_3

Byuurrrr!


Sekitar pukul setengah lima pagi, pak Haji terpaksa mengguyur Anggun maupun Supri menggunakan satu baskom air lantaran keduanya tetap tidur, walau pak Haji sudah menggedor pintu kontrakan keduanya tinggal, berulang kali.


Anggun dan Supri diberi tempat tinggal khusus dan itu di kontrakan depan kontrakan Septi tinggal. Tentunya, pak Haji memiliki alasan khusus kenapa dirinya sampai nekat mengguyur keduanya. Sebab selain pak Haji sudah menjelaskan setiap jadwal yang harus Anggun dan Supri patuhi, pak Haji juga menegaskan semua yang ikut pak Haji tidak boleh meninggalkan salat wajib dan biasanya dilaksanakan secara berjamaah di masjid sebelah yang memang masih milik pak Haji.


Di depan pintu kontrakan masing-masing, dokter Andri dan Septi yang sudah bersiap ke masjid, refleks menghela napas sembari menunduk lemas.


“Mas, aku jadi khawatir. Gara-gara urus Anggun sama si Supret, pak Haji malah sakratulmautnya dipercepat. Aku berani taruhan, Mas. Tuh gajah sama jerapah pasti tetap pulas walau tidur di genangan air!” yakin Septi yang sudah memakai mukena lengkap.


Belum genap tiga detik Septi tutup mulut, dari depan pintu kontrakan depan, pak Haji sudah berteriak meminta Septi membantunya.


“Buang kedua mayat wujud manusia ini ke kolam lele dumbo belakang!” lanjut pak Haji.


Septi langsung panik. “Kan, Mas! Bener!” Bergegas ia masuk ke kontrakan sambil melepas mukenanya.


Septi yang sudah tahu kelakuan Anggun dan Supri saja, langsung pusing menghadapi tingkah keduanya. Apalagi dokter Andri yang baru tahu.


“Ada orang seperti itu, ya? Pantas rumah tangga Arum dan bapaknya Aidan, hancur!” ucap dokter Andri yang memang mendadak migran.


“Manusia apaan, Pak Dokter? Ini sih mayat wujud manusia!” sewot pak Haji kewalahan memboyong Anggun, padahal ia hanya mengangkat kedua kaki Anggun. Septi yang mengangkut delapan puluh persen badan Anggun, sampai berkeringat parah sekaligus gemetaran.


Padahal, Anggun yang diseret Septi dan pak Haji menuju kolam ikan lele dumbo belakang kontrakan Anggun, benar-benar cuek dan tetap tidur. Dokter Andri yang tidak tega melihat Septi dan pak Haji, selain dokter Andri yang merasa tak habis pikir kepada Anggun, tergerak hatinya untuk membantu.

__ADS_1


Byuuurrr .... Kolam ikan dumbo seolah terkena tsunami bersamaan dengan terjunnya tubuh Anggun yang dilempar oleh Septi ke sana dibantu pak Haji dan dokter Andri.


“Huh!” Septi mengembuskan napas panjang melalui mulut seiring ia yang sempoyongan. Septi memilih duduk asal di bangku kayu yang ada di sekitar kolam.


Dokter Andri menatap prihatin Septi yang terlihat jelas kelelahan, sebelum kembali mengawasi kolam ikan lelenya. Air di kolam sampai luber ke mana-mana. Beberapa ikan lele dumbo berukuran cukup besar juga sampai ada yang terlempar ke daratan. Sementara yang terjadi pada Anggun, wanita itu panik sepanik-paniknya kemudian mema*k*i semua orang yang ada di sana.


Dokter Andri yang juga sampai ngos-ngosan padahal hanya membantu sebentar, berkata, “Mbah, ikannya bisa stres loh. Itu kan sama saja kena tsunami!”


“Ah, mau stres, ... mau jadi ikan terbang biar masuk tivi sekalian, saya ikhlas Pak Dokter! Yang penting saya sudah lempar mayat wujud manusia ke sana!” balas pak Haji berkeluh kesah. Tak beda dengan dokter Andri, ia juga sampai ngos-ngosan.


“Berani kamu marah-marah, habis kamu jadi pakan dumbo!” kesal pak Haji yang memilih duduk di sebelah Septi.


“Susah banget sih kalau gini caranya. Tuh orang sekelas sama mamah saya, Mbah,” lanjut dokter Andri menghampiri pak Haji. Namun, ia memilih berdiri dan tak sampai duduk. “Yang namanya berubah kan wajib dari keinginan sendiri. Kalau enggak ya susah.”


“Nah makanya, suntik ma*t*i saja sekalian, biar beres urusannya, Dok!” sergah pak Haji bersemangat.


“Kalau gitu suntik lengo*b alias idi*o*t saja kali, ya?” usul pak Haji menatap kedua wajah di hadapannya, silih berganti.


Septi berangsur menatap dokter Andri. “Boleh dicoba itu Mas!”


Dokter Andri buru-buru menggeleng takut. “Terlalu ngeri. Yang ada, saya kena kode etik!” yakinnya.


Pak Haji berangsur menunduk loyo. “Duh, capek gini jadi butuh semangat umi Fatimah!” keluhnya tanpa mengetahui bahwa ucapannya itu sukses membuat kedua sejoli yang ada di sebelahnya, kompak mesem.

__ADS_1


“Ayo kita salat subuh dulu. Itu si Ojan sudah adzan. Udah, biarin saja dia di kolam. Keropos-keropos tuh daging gara-gara digerogotin lele!” ucap pak Haji sembari berlalu dan menggandeng dokter Andri maupun Septi secara bersamaan.


“T-tolong!” Anggun yang duduk di tempat biasa saja kesulitan apalagi di dalam air layaknya sekarang, benar-benar dibiarkan begitu saja.


Berulang kali Anggun meminum air kolam. Tak terhitung sudah tubuh bongsor berlebihannya digerogoti lele dumbo yang sangat gampang lapar layaknya dirinya. Rasa dingin yang begitu menyiksa, ditambah lagi se*ra*ngan ikan lele dumbo yang tak segan menggigitinya, membuat seorang Anggun menangis meraung-raung.


Anggun tak hentinya meminta tolong, membuat Supri yang awalnya tengah mandi untuk ikut salat subuh hendak menolong. Namun, pak Haji yang menjaga Supri, melarangnya.


“Salat dulu, baru tolongin istrimu!” kesal pak Haji. “Punya istri satu saja enggak becus urus, sudah berulah nidurin anak perempuan orang! Pancen wedus emang kamu!” tegas pak Haji yang sampai menyamakan Supri dengan kambing.


Supri tidak berani menjawab. Ia menunduk dalam kemudian menerima pakaian ganti dari pak Haji berupa dua buah koko lengan panjang dan sebuah sarung warna putih dan abu-abu.


“Pakai itu buat ibadah. Kalau kamu sampai tetap ‘ndableg’ kebangetan, nasibmu juga bakalan sama kayak istrimu. Berendam di kolam!” tegas pak Haji.


“Terima kasih banyak, Mbah,” ucap Supri sambil tetap menunduk dalam.


“Jangan hanya berterima kasih karena kamu wajib berubah. Kamu wajib membimbing istri dan anak-anakmu karena mereka tanggung jawab kamu. Mereka beneran murni tanggung jawab kamu, bukan tanggung jawab orang lain bahkan itu keluarga istrimu!” lanjut pak Haji meninggalkan Supri begitu saja.


Kali ini Supri tak kuasa menjawab, membuat Septi yang diam-diam mengawasi dari depan pintu kontrakannya dan baru saja Septi tutup, menatapnya penuh benci.


Jujur, Septi tak hanya membenci Supri setelah apa yang terjadi. Sebab, Septi juga sangat dendam dan entah sampai kapan semua itu bisa ia redam. Sungguh sebuah cobaan yang begitu besar bagi Septi harus berada di lingkungan sama dengan Supri. Luka tak berdarah itu sungguh Septi rasa, terlebih jika ia hanya diam dan menyimpannya layaknya sekarang.


Layaknya sekarang, dada Septi terasa begitu pegal, bergemuruh menahan amarah yang menghasilkan sesak dan sangat menyiksa. Tak berselang lama, air matanya juga akhirnya berlinang, menyuarakan isi hatinya yang sudah berang kali menjerit sekaligus menangis.

__ADS_1


***


Yang ingin mendengarkan audio novel ini, buka dari bab satu dan klik lambang headset ya.


__ADS_2