Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
213 : Pengantin Baru


__ADS_3

“Pak Gede, ngapain Pak Gede sibuk memikirkan yang lain, kalau yang Pak Gede punya saja, enggak dijaga?” Septi menatap miris pak Haji yang tengah galau. Di tikar belakang dasarannya, pria itu tak hentinya merintih sambil meringkuk. Konon seperti pengakuannya, alasan pak Haji begitu karena pria itu merasakan sakit yang lebih dari sakit gigi. Pak Haji tengah patah hati dan itu gara-gara Widy yang malah menikah dengan orang Jakarta.


“Takutnya karena sikap Pak Gede yang masih saja sibuk menjadi musafir cinta pemuja janda, istri Pak Gede malah merasa kurang. Dan karena rasa kurang ini juga, Pak Gede jadi belok kiri ke neraka. Iya kalau nerakanya beneran hanya setelah kematian. Kalau nerakanya juga sebelum kematian? Semacam istri Pak Gede yang malah selingkuh atau malah diam-diam menguras harta Pak Gede, contohnya.”


“Jangan beranggapan hal semacam itu enggak mungkin terjadi, Pak Gede. Apa sih, yang enggak mungkin di dunia ini? Enggak ada. Semuanya beneran mungkin apalagi kalau dibarengi kesempatan. WASPADALAH WASPADALAH!”


“Geblek kamu Sep! Malah ngikutin gaya bang Napi!” omel pak Haji masih meringkuk penuh kepedihan.


Septi tertawa bak tak memiliki beban. “Mending aku cuman geblek, Pak Gede. Daripada Pongah dan Herman, makin meresahkan!” lagi, ia kembali tertawa.


Mendengar apa yang Septi katakan, pak Haji berangsur duduk untuk memastikan. Di salon depan sana dan makin hari makin ramai oleh orang yang sibuk mempercantik penampilan setelah sebelumnya sibuk merantau di kota, Fajar memang turut serta sibuk membantu Honey mencuci rambut setiap pengunjung.


“Si Fajar sudah dipecat dari bank apa gimana sih? Apa kalau sore gini, dia sengaja cari pekerjaan tambahan? Harusnya lebih hasil di bank, kan? Apa jangan-jangan, hidupnya sudah dikontrak sama si Herman yang sudah kasih kemewahan, jadi dia wajib tunduk berada ke kompeni?” ucap pak Haji.


“Harusnya menang gitu, Pak Gede. Tapi per sore ini aku jadi curiga, jangan-jangan si Fajar sudah belok kiri, terus punyanya jadi V? Karena kalau aku amati, jika seorang pria sampai belok kiri karena mereka ada problem. Kelainan ini ibarat penyakit.”


“Penyakit yang bakalan terus tumbuh bahkan mengendalikan diri seorang pria untuk menjadi wanita tulen yang lemah lembut, layaknya sosok yang sebenarnya sangat mereka harapkan dalam hidup mereka ketika mereka masih berwujud laki-laki.”


“Masuk akal kan, Pak Gede?” ucap Septi yang kali ini meminta pendapat pak Haji. Di sebelahnya, pak Haji sampai tak bisa berkata-kata.


“Saya sampai tidak percaya kalau ini memang kamu, Sep!” yakin pak Haji.


“Lah, memangnya menurut Pak Gede, saya ini siapa?” balas Septi mulai merasa kesal.

__ADS_1


“Romlah! Pahlawan wanita bertubuh besar yang sedang menjalani diet ketat! Si pembela kebatilan dan perkutilan!” balas pak Haji yang kemudian terbahak.


“Pak Gede ih, masa kutil dibawa-bawa!” kesal Septi.


Pak Haji mendadak ngakak. “Sep, Sep ... si Widy saja sudah menikah, masa kamu belum?”


“Tanggung, Pak Gede. Aku bakalan mikirin nikah lagi kalau sudah langsing sekaligus sukses. Biar kalau apa-apa, enggak ada yang berani semena-mena ke aku!” yakin Septi.


“Lah, kalau kamu langsing, kamu enggak bisa menyeruduk orang lagi!” Tiba-tiba saja, pak Haji tidak rela andai Septi sampai langsing. Karena jika sampai ia, otomatis ia juga tidak memiliki bahan hin-naan empuk lagi! Yang dengan kata lain, hiburan dalam hidupnya juga otomatis berkurang.


“Kata siapa? Ya tetap masih bisa dong! Karena kalau gendut aku menyeruduk pakai badan, kalau sudah sukses aku menyeruduknya pakai duit!” balas Septi.


Pak Haji tetap tidak setuju, menggeleng sambil memanyunkan bibir mirip bocah yang sedang ngambek. “Tetap seruan kalau kamu gendut!”


“Lama-lama, aku gepluk juga nih Pak Gede buat jadi toping es! Masa iya, aku disuruh gendut terus!” kesal Septi.


“Pak Gede, berhubung aku jualan sendiri, sore ini Pak Gede tolong bantu, ya!” mohon Septi mulai mencicil menggoreng setengah matang, setiap gorengannya.


“Jangan minta bantuan ke saya karena wajah saya bukan wajahnya orang susah. Jadi daripada ke saya, mending kamu minta bantuan si Pongah!” balas pak Haji.


“Kalau aku narik Pongah dari salon, berarti wajib kasih ganti. Memangnya Pak Gede mau, saya tumbalin ke wariyem buat gantinya?”


“Dibilangin wajah saya bukan wajah susah, enggak cocok apa lagi kalau ditaruh salon!”

__ADS_1


“Ya pakai rok apa sekalian daster lah Pak Gede. Biar unyu kayak si Herman! Hahaha. Eh, ada mobil mahal kayak mau ke sini!” ucap Septi menutup kehebohannya dengan pak Haji. Hanya saja karena di sebelahnya pak Haji mendadak sepi, ia pun sengaja memastikannya.


“Loh, Pak Gede, ... kok meringkuk lagi dan nangis lagi?” ucap Septi antara heran sekaligus mulai geregetan.


“Gimana saya ndak nangis kalau yang datang saja mobil suaminya Widy!” balas pak Haji mendadak tantrum.


Septi langsung terbahak-bahak. “Dibilangin suruh fokus ke dua istri yang sudah ada, takutnya bikin Pak Gede belok kiri masuk neraka. Baik setelah kematian, atau pun belum, eh masih mikirin mantan janda yang sudah bahagia bersama suami barunya!”


“Yang sudah ada kan sudah saya ikat pakai doa setia, Sep!” yakin pak Haji.


“Alah setia taii apa. Dua ribu dua puluh tiga kok bahas setia sementara yang sebelah sibuk cari janda, enggak ada silsilahnya! Kalau setia memang masih ada, itu hanya ada di antara pasangan yang seperti Arum dan Kalandra. Dan kalau setia masih ada, aku enggak mungkin jadi tukang gepluk es begini!”


“Kalau istri saya sampai enggak setia, langsung pegat alias cerai saja!” yakin pak Haji langsung buru-buru menutupi tubuhnya menggunakan kain jarit yang terlihat di tikar.


“Sep, kok jaritnya pesing begini?” keluh pak Haji di balik jaritnya.


“Itu kemarin si Sepri ngompol, tapi kebawa ke sini lagi jaritnya karena aku buru-buru, Pak Gede.” Septi sudah langsung tersenyum ceria membalas Widy yang tengah turun dari mobil Alphard hitam, bagian penumpang sebelah tengah.


“Innalilahi, si Sepri kok kencingnya sudah mirip aki-aki, pesing banget gini!” keluh pak Haji tetap bersembunyi di balik jarit yang ia katai pesing itu.


Widy yang tampak sangat semringah, mengemban Adelio yang ketiduran. Dari pengamatan Septi, Widy dan anak-anaknya kompak memakai pakaian baru, selaras dengan pakaian Sekretaris Lim. Nuansa biru langit dipilih kelimanya untuk penampilan mereka kali ini. Kelimanya terlihat begitu kompak layaknya keluarga bahagia pada umumnya walau jelas, Sekretaris Lim hanya ayah sambung untuk ketiga anak Widy.


“Wah ... pengantin baru, pakai biru-biru!” goda Septi dan langsung membuat Widy tersipu. Tak lupa, ia juga mengabarkannya kepada Pongah. “PONGAH! SINI, KENALAN SAMA PENGANTIN BARU!” Ia sengaja berteriak sekencang mungkin, agar selain terdengar, kabar yang ia berikan juga sukses merontokkan hati sekaligus kehidupan seorang Fajar. Karena Septi berharap, tak hanya gigi Fajar saja yang rontok, tapi semuanya agar pria matre itu kapok!

__ADS_1


Lantaran Septi sampai memanggil Fajar dari arah salon, Widy langsung penasaran. Tak percaya, masa iya Fajar tetap bertahan di kandang buaya setengah wanita? Namun baru juga menoleh, Widy yang juga baru dihampiri Sekretaris Lim yang juga langsung mengambil alih Adelio, dibuat tak habis pikir karena di salon dan sampai memakai celemek pink, Fajar sungguh sedang mengeringkan kepala salah satu pengunjung salon.


Jika melihat dari tatapan Fajar, selain tampak syok setelah melihat kebersamaannya dengan Sekretaris Lim, Fajar juga malu pada dirinya sendiri.


__ADS_2