
“Ada keluhan khusus?” tanya dokter Andri siap memberi resep obat. Ia menatap semringah Kalandra dan Arum yang sedang sangat berbahagia tak lama setelah mengetahui kebenaran keadaan janin keduanya. Keduanya duduk di hadapannya dengan Kalandra yang sudah langsung sibuk menggenggam sebelah tangan Arum, menyimpannya di pangkuan pria itu. Dokter Andri bisa merasakan, dari semuanya memang Kalandra yang merasa paling bahagia atas kenyataan anak kembarnya.
“Semua keluhan sudah diborong aku. Istriku beneran enggak ngidam aneh-aneh. Paling ya semacam lemas atau mendadak ngantuk. Masih wajar, dan paling enggak boleh kecapean. Beda kalau aku sudah pusing, mual, apa lemes, pokoknya ya,” cerita Kalandra.
Dokter Andri langsung menertawakannya. “Bagi-bagi rezeki lah pokoknya.”
“Nah, iya ... dermawan banget kan anak-anakku. Masih di perut sudah bagi-bagi bansos, apa kabar kalau sudah keluar?” sergah Kalandra.
Arum mesem mendengarnya.
“Mau jadi DPR juga kali biar mengikuti jejak kakeknya!” balas dokter Andri.
“Jangan hanya DPR sih. Kalau bisa yang lebih tinggi lagi!” balas Kalandra.
“Maksudnya duduk di pucuk pohon cemara?” canda dokter Andri.
“Kalau gitu adanya, malah dikira penganut ilmu pink, Ndri!” cibir Kalandra.
Dokter Andri langsung terbahak layaknya Arum yang langsung menggunakan tangan kanannya untuk menekap mulut guna meredam tawanya.
“Tapi aku mau tanam pohon jambu, mangga, dondong gitu di depan rumah. Anak-anak kan seneng kalau suruh panjat-panjat,” ucap Kalandra masih sangat bersemangat.
“Biar mereka enggak harus ke pinggir kali kayak masa kecil kita yah, Kal? Sudah panjat capek-capek, eh buahnya jatuh ke kali dan langsung kebawa arus juga!” tanggap dokter Andri.
“Mana habis itu diantup tawon juga!” balas Kalandra.
“Terus sampai rumah malah dimarahi ibu!” dokter Andri makin ngakak jika harus mengingat masa kecil mereka.
“Tapi enggak ada kapoknya, kan?” balas Kalandra. Pria di hadapannya langsung mengangguk-angguk.
Pulangnya, Arum dan Kalandra langsung membagikan kebahagiaan mereka kepada ibu Kalsum dan pak Sana. Kedua paruh baya itu sudah menunggu di depan gerbang sambil memomong Aidan sekaligus berjemur.
“Gimana-gimana ...?” ibu Kalsum sudah heboh, berisik padahal jarak mereka masih jauh. Saking tak sabarnya.
__ADS_1
“Sehat dan aktif semua, Mah! Mamahnya juga sehat!” balas Kalandra bersuka cita.
“Berarti beneran kembar?” sergah pak sana langsung semringah.
“Arhhhhhg!” teriak ibu Kalsum histeris dan sukses membuat pak Sana lupa mau ngomong apa.
Ibu Kalsum langsung lari menghampiri Arum, meninggalkan pak Sana yan awalnya ada di sebelahnya dan kini menjadi sibuk geleng-geleng.
“Ibaratnya, ini aku tinggal memanen hasil dari kerja kerasku. Sebahagia ini, ... Mas Kala juga sudah enggak sesedih kemarin. Semuanya beneran bahagia termasuk Aidan yang harusnya belum maksud,” batin Arum. Di hadapannya, Kalandra yang mengemban Aidan tengah mengabarkan kabar bahagia mengenai calon adik mereka yang kembar.
“Ya belum maksud, Mas!” tegur Arum.
Mereka tetap di sana, menikmati pagi yang hangat penuh kebahagiaan sambil terus berjemur. Barulah sekitar setengah jam kemudian, mereka berjalan kaki menuju rumah makan. Tak semata untuk memantau keadaan di sana. Namun juga untuk sekalian sarapan.
“Jadi makin semangat buat kerja, kan?” ucap pak Sana.
Kalandra mesem. “Nanti aku mau bikin beberapa kamar ke belakang buat anak-anak sih. Jadi memang wajib lebih semangat juga buat ngumpulin modal!”
Ibu Kalsum dan pak Sana kompak tersenyum menanggapinya.
“Mbak beneran enggak ada keluhan?” tanya pak Sana kepada Arum yang duduk di hadapannya.
Mereka ada di meja di lantai bawah yang mana untuk Aidan sengaja memakai kursi khusus milik Aidan.
Arum langsung menggeleng. “Beneran enggak ada, Pah. Paling yaitu, semacam mendadak lemas atau ngantuk. Itu pun cukup dibawa istirahat apa tidur, langsung pulih enggak ada keluhan lagi.”
“Ya kamu sesuaikan saja, jangan kecapaian pokoknya ya. Kerja juga sebisanya, jangan dipaksakan,” balas pak Sana.
Arum tersenyum hangat membalasnya. “Iya, Pah. Makasih banyak!”
“Omong-omong, Mas Kala mau kasih hadiah apa, istrinya hamil kembar?” ucap ibu Kalsum sengaja menggoda putranya.
Kalandra yang langsung mesem berangsur menatap Arum yang duduk di sebelahnya. “Kamu mau apa?”
__ADS_1
Ibu Kalsum dan Pak Sana langsung tersipu melihat interaksi manis antara anak dan menantunya.
“Minta, Mbak! Jangan enggak!” todong ibu Kalsum.
“Mas, aku dipaksa!” ujar Arum yang kemudian tertawa.
“Pokoknya wajib!” lanjut ibu Kalsum.
Kalandra langsung melirik sang mamah. “Kalian memang paling bisa bikin kantong langsing!”
“Kemarin kalau enggak salah, Mas mau beliin istrinya mobil? Sudah nawarin gitu, kan?” lanjut ibu Kalsum sambil terus melahap nasi uduk di piringnya.
Dengan polosnya, Arum yang langsung ingat berkata, “Oh, iya, Mah! Bener banget!”
Pak Sana langsung menertawakan Kalandra yang diserbu dua emak-emak sekaligus. Apalagi sejauh ini, belum ada yang bisa mengalahkan kekuatan emak-emak bahkan super hero sekalipun. “Beliin loh, Mas apalagi Mas sudah janji.”
“Iya, Pah.” Kalandra berangsur mengelus-elus perut Arum walau ia masih sibuk mengunyah dan itu juga disuapi oleh Arum. “Bulan depan, ya?” ucapnya kali ini sambil menatap Arum. “Kamu beneran harus belajar nyetir. Jangan minta yang lain minggir pas kamu lagi nyetir.”
Mendengar itu, orang tua Kalandra kompak tertawa.
“Nanti belajar pelan-pelan saja. Sabtu Minggu apa hari libur kalau lagi enggak ada kerjaan, Masnya kan bisa,” ujar pak Sana dan langsung didukung oleh sang istri.
“Eh, ini aku beneran mau dibeliin mobil? Beneran mobil yang asli, apa mobil remote?” Arum kebingungan dan memang sulit untuk percaya, dirinya benar-benar akan dibelikan mobil.
“Mobil beneran, Yang. Makanya nanti kamu belajar nyetir biar pas kamu nyetir, yang lain enggak kamu minta buat minggir. Itu pun kamu baru boleh nyetir sendiri kalau anak-anak udah lahir. Kalau masih hamil dan enggak ada yang kawal, aku ya enggak izinin kamu bawa mobil sendiri,” ucap Kalandra memberi sang istri pengertian.
“Ya Alllohhhhhh, ini aku beneran mau dibelikan mobil?” bain Arum mendadak lemas. Lebih parah dari ia merasakan rasa lemas efek hamil.
“Mbak, kok kamu malah kelihatan enggak senang?” tanya ibu Kalsum.
“Lemas malah, Mah!” jujur Arum sambil menatap mamah mertuanya, tapi semuanya termasuk Aidan menjadi menertawakannya.
“Kenapa malah lemas?” tanya Kalandra di sela tawanya sambil merengkuh kedua lengan Arun dan menghadapkan istrinya itu kepadanya.
__ADS_1
Arum menghela napas pelan kemudian tersipu. Ia belum menjawab, tapi Kalandra sudah telanjur memeluknya.
“Jangan lemas, dong Yang ... kamu harus senang! Apalagi hadiahnya kan sebagai wujud dari rasa terima kasih karena kamu sudah kasih kebahagiaan yang beneran enggak bisa dibeli!” ucap Kalandra berusaha meyakinkan Arum yang ia yakini malah merasa menjadi beban lantaran memikirkan nominal uang yang harus dikeluarkan untuk membeli sebuah mobil.