
“Ndri, bisa pulang dulu? Kayaknya istriku sudah pembukaan, tapi HPL masih jauh! Coba tolong cek lewat USG. Janin masih aman enggak!” sergah Kalandra masih menuntun sang istri dengan hati-hati.
“Kan, bener kan! Sudah sana pada pergi, biar saya kenyang gara-gara makan tumpeng sendiri! Tumpeng buatan Dek Arum memang mantep!” ucap pak Haji bangga prediksinya sungguh terbukti.
Ibu Kalsum langsung bersuka cita. Kedua matanya berembun dan tak lupa, ia menitipkan Aidan kepada Angga.
“HPL memang hanya perkiraan lahir sih. Posisinya ini kembar, rata-rata yang sudah pernah memang lebih maju, apalagi kalau ibunya aktif kayak Mbak Arum.” dokter Andri langsung berdiri.
“Sudah, Nissa di sini saja. Katanya lapar, nanti Ibu antar kalau makannya sudah beres. Papah mau urus Tante Arum.Tante Arum mau USG, mau lahiran kayaknya itu,” lirih Widy membujuk Nissa.
Mendengar itu, dokter Andri pun langsung menitipkan sang putri karena dilihat dari wajah Arum yang sudah mulai berkeringat, ia yakin kondisinya sudah genting.
Arum langsung dirujuk menggunakan mobilnya sendiri dan dikemudikan langsung oleh dokter Andri. Tadi, dokter Andri datang ke sana menggunakan motor hingga tak mungkin juga pria itu membonceng Arum menggunakan motor. Atau malah, membiarkan Kalandra menyetir sendiri karena melihat Arum berkeringat dan jelas menahan sakit saja, Kalandra sudah sangat ketakutan. Tentunya dokter Andri juga tidak lupa, sang sahabat pernah nyaris kehilangan kewarasan karena istrinya meninggal dalam keadaan hamil. Bisa jadi, alasan Kalandra sudah sampai menangis dan mendekap Arum penuh sayang, karena memang Kalandra trauma.
“Mas Kala jangan nangis, ya ....”
“Gimana enggak nangis kamu saja kesakitan gitu Yang!”
“Memang jarang wanita yang ngelahirin sambil tertawa, Kal. Yang sabar. Kontrol emosi kamu biar enggak jadi beban Arum. Atau kalau enggak, itu Musafir Cintanya diundang saja, biar proses persalinannya lancar,” ucap dokter Andri.
Di sore menjelang petang berteman semburat jingga yang begitu indah, kebersamaan mereka mendadak diwarnai ketegangan akibat Arum yang mendadak mengalami pembukaan tanpa ada tanda-tanda sebelumnya.
“Kayaknya sih kebanyakan ketawa ya. Dibawa santai saja, ya, jangan ditangisin ih, Kal. Kamu ya!” lanjut dokter Andri.
“Eh, kamu Ndri, enggak mikir banget! Ini nyetirnya kenapa kayak siput? Cepat ih! Ngebut apa gimana! Ada tiga nyawa ini!” omel Kalandra.
“Mulai rese ini!” batin dokter Andri. “Ini mobil baru, kalau sampai lecet gimana? Lihat tuh, jalannya sesempit ini.”
__ADS_1
“Lecet ya sudahlah, beli lagi!” Kalandra masih mengomel, padahal yang mau melahirkan saja masih anteng.
“Mas Kala, saba ....”
Setelah DiUSG, ternyata air ketuban sudah berkurang sangat banyak. Bisa jadi air ketuban sudah keluar saat Arum kencing, atau malah merembes tanpa terasa.
“Gimana, Ndri, air ketubannya berkurang banyak!” omel Kalandra lagi.
“Ih, bukan salahku, Kal. Bentar aku infus biar ada cairan baru.” Dokter Andri buru-buru meninggalkan ruang pemeriksaan USG.
“Mas, ih. Jangan marah-marah terus,” tegur Arum dengan suara lirih.
“Takut h, Yang!” keluh Kalandra yang mondar-mandir gelisah tak sabar menunggu kedatangan dokter Andri.
“Coba dilihat, pembukaannya sudah sampai berapa,” ucap dokter Andri.
“Kalau mau sama bidan langsung, di sini juga ada. ” Dokter Andri sudah langsung memasang infusnya kepada Arum. “Mau lahiran di sini, apa ke bidan lain? Di sini saja lah ya, Kal, bawa jalan pelan biar pembukaannya sempurna. Kamu juga tenang, wajib lebih siaga. Anak-anak kalian sehat banget kok walau mereka akan lahir lebih awal.”
Sepanjang menyimak penjelasan dokter Andri yang begitu sabar, Arum sampai takjub. Membuatnya sampai menghubungkan keadaan tersebut dengan rencana Kalandra yang akan menjodohkannya dengan Widy. Dan andai itu sungguh terjadi, Arum akan menjadi orang pertama yang memberikan restu.
“Langsung tuntun, Kal. Pelan-pelan, ya.” Dokter Andri memberikan botol infusnya untuk dipegang Kalandra. “Aku mau siapin ruang persalinan. Bidan sama yang lain juga wajib siap-siap karena ada dua bayi.” Secepat kilat ia sudah pergi.
Arum sampai kebingungan karena suar lantang dokter Andri sudah tak disertai penampakan orangnya lagi. Sekitar lima menit kemudian, bersama Kalandra, Arum berjalan pelan menyusuri halaman depan klinik dan merupakan taman yang disertai kolam ikan berukuran kecil sekaligus panjang.
“Sepuluh menit sekali cek ke ruang bersalin, ya. Aku urus pasien lain dulu,” seru dokter Andri depan pintu masuk.
“Loh, kamu sudah mau urus pasien lain, istriku piye?” keluh Kalandra.
__ADS_1
“Sebentar ... masih keburu. Kayaknya itu masih satu jam lagi,” yakin dokter Andri yang benar-benar pergi masuk ke kliniknya yang kebetulan memang sedang ramai.
“Ini kalian mau pada ikut puasa sama tarawih, apa gimana? Ya ampun bakat banget bikin senam jantung,” ucap Kalandra sambil mengelus-elus perut sang istri menggunakan tangan kanannya yang tidak memegang botol infus.
“Gimana, Mbak?” ucap ibu Kalsum yang datang sambil mengemban Aidan. Ia dibonceng sang suami menggunakan motor.
Tak beda dengan Kalandra, ketimbang ibu Kalsum, pak Sana juha jauh lebih panik. Pria itu sampai hanya memakai satu sandal jepit.
“Papah kok sampai cuma pakai satu sandal jepit?” tegur Arum yang memang menjadi orang pertama yang menyadarinya. Sebab andai tidak diingatkan pun, pak Sana pasti belum menyadari.
Kalandra dan ibu Kalsum termasuk Aidan, kompak menertawakan pak Sana.
“Panik banget Papah, mamah pulang-pulang diantar Angga, ngomel ke Papah katanya Mbak mau lahiran. Lihat, boro-boro ganti baju dinas, sandal jepit saja cuma kepakai satu. Duh, lancar-lancar lah ya,” ucap pak Sana yang kemudian mengambil alih Aidan dari embanan sang istri. “Mamah bantu Mbak Arum jalan-jalan, biar Kala cari makan apa minum, takutnya Mbak Arum mau!” ucapnya.
Arum langsung tersipu walau proses persalinan yang ia jalani sungguh membuatnya merasakan sensasi sakit luar biasa. Namun, hadirnya orang-orang yang begitu peduli kepadanya membuatnya makin bersemangat untuk segera melewati semuanya. Arum ingin segera melahirkan anak-anaknya dalam keadaan sehat wal afiat.
“Mas, aku mau teh hangat yang enggak terlalu manis,” pinta Arum.
“Sudah, sudah, cepat sana cari ke kantin!” sergah pak Sana.
Kalandra pergi ke kantin, membeli apa yang bisa Arum makan karena biar bagaimanapun, Arum belum sempat makan. Namun sebelum memesan makanan, Kalandra kembali dengan membawa teh pesanan Arum.
“Mau makannya apa?” tawar Kalandra.
“Sudah makan apa saja, biar punya banyak tenaga!” tegur pak Sana yang sadar, putranya sudah kacau sebelum Arum menjalani persalinan.
Setelah menyimak, Kalandra langsung buru-buru lari kembali ke kantin, dan kali ini mencari makan untuk sang istri.
__ADS_1
“Seheboh ini, spesial banget. Lain pas aku lahiran Aidan dan pas itu masih di warung, jualan sambil nahan kontraksi. Diantar ke puskesmas pun sama orang pasar karena mas Angga masih kerja dan belum bisa ditinggal. Atau memang Mas Angga enggak niat temenin. Dulu kan mas Angga satu padepokan sama dajaal!” batin Arum benar-benar terharu karena sana sini sibuk memberinya perhatian.