
“Ibu Lasmi, kenapa? Kenapa dia sesinis ini? Bahkan sebelum ini kami tidak pernah berkomunikasi karena walau aku dan mas Kala datang ke rumahnya secara khusus untuk meminta restu pernikahan, ibu Lasmi maupun pak Iman sang suami, enggak datang! Dan semenjak itu, kami enggak pernah komunikasi lagi karena memang telanjur malas berurusan dengan orang tua Bilqis yang mata duitan!” batin Arum yang langsung merasa tak nyaman dengan cara sekaligus sikap ibu Lasmi. Baru datang, wanita itu langsung menyikapinya dengan bengis.
“Jauh di alam sana, Bilqis menangis melihat semua ini!” sengit ibu Lasmi.
“Menangis karena tahu, ... orang tuanya haus harta?!” tepis Arum walau berbicara lirih tetap menusuk. Sudah ia duga, masalahnya masih sama.
Ibu Lasmi yang walau memakai gamis tapi tidak sampai menutupi kepalanya menggunakan jilbab, masih bertahan bersedekap sembari menatap sengit Arum.
“Saya dan mas Kala sekeluarga, kami merasa tidak memiliki masalah dengan Ibu sekeluarga. Coba diingat, terakhir kita bertemu, aku dan mas Kala meminta restu, tapi yang Ibu bahas harta!” tegas Arum yang kemudian berkata, “Itu kenapa, apa yang Ibu katakan ada benarnya. Bahwa jauh di alam sana, mbak Bilqis menangis darah karena harus menanggung malu atas sikap orang tuanya yang haus jatah warisan!”
“Memang harusnya semua ini jadi milik Bilqis, kan? Hanya karena Bilqis sudah enggak ada, dan kamu berhasil memperdaya Kalandra sekeluarga, semuanya sepakat dukung kamu. Kamu mengeruk semua jatah Bilqis. Datang-datang ke sini niatnya buat melepas rindu masuk ke kamarnya apa bagaimana, eh sudah jadi rumah makan. Pas saya tanya ini punya siapa, semuanya kompak bilang, Ibu Arum!” ibu Lasmi benar-benar geregetan.
“Emang dasar, kamu, wanita mata duitan yang hobinya menjerat pria kaya!” lanjut ibu Lasmi dan kali ini lebih geregetan lagi.
“Coba tolong ulangi, apa yang tadi Ibu Lasmi katakan,” ucap Arum benar-benar tegas.
Ibu Lasmi tak langsung menjawab, tapi ia masih menatap Arum dengan tatapan yang begitu keji. Tampang yang bagi Arum lebih mirip penjahat.
“Ibu Lasmi, kalau Ibu benar-benar punya hati apalagi harga diri, Ibu enggak mungkin bersikap seperti ini. Ibu enggak mungkin tiba-tiba menyer*ang saya. Sekarang, pilih tempat duduk paling nyaman dan ayo kita selesaikan apa yang menurut Ibu sebagai masalah, dengan mas Kala sekeluarga!” tegas Arum yang kemudian sengaja mencari-cari keberadaan pekerjanya yang nganggur. “Mbak, tolong bantu Ibu ini cari tempat duduk. Kalau memang Ibu ini macam-macam, cukup tinggal saja, enggak usah diladeni!” ucap Arum.
Rasa kesal akibat tudingan tak beralasan dari ibu Lasmi membuat Arum gelisah. Ia mencoba menenangkan diri dengan melangkah ke depan, keluar dari rumah makan. Berharap, di tengah suasana yang mulai petang, Kalandra juga datang. Namun untuk sekarang, Kalandra belum datang. Sementara di belakang sana, ibu Lasmi juga tak kunjung pergi memilih tempat duduk. Malahan, ibu Lasmi masih memandangnya dengan keji.
__ADS_1
Sadar ponselnya masih dipakai oleh pak Haji untuk menerima telepon video dari Widy, Arum sengaja menggunakan ponsel rumah makan untuk menghubungi Kalandra. Tentunya, kenyataan tersebut membuatnya berdiri bersebelahan dengan ibu Lasmi.
“Jangan mengada-ngada. Katakan saja yang sebenarnya!” tegas ibu Lasmi yang walau berucap lirih, hasilnya tetap nyelekit.
Arum menatap tak habis pikir ibu Lasmi. “Ibu sudah tua, tapi enggak tahu sopan santun, ya!”
“Jangan lupa, saya ini ibunya Bilqis, istri pertama Kalandra!” ucap ibu Lasmi sampai menaikkan suaranya di tengah kenyataan kedua matanya yang mendelik menghakimi Arum.
Beberapa dari mereka yang ada di sana, langsung terkejut kemudian menjadikan kebersamaan ibu Lasmi dan Arum sebagai fokus perhatian. Apalagi bagi mereka yang mengenali Arum khususnya para karyawan. Salah satu dari mereka sampai ada yang buru-buru naik ke lantai atas kemudian mengabarkannya kepada ibu Kalsum.
“S-sayang, ini kamu?” sergah Kalandra dari seberang dan seolah langsung mengenali Arum.
“Mulut kamu kalau ngomong dijaga, ya, Rum! Karena andai bukan gara-gara kamu, adiknya Bilqis enggak akan jadi janda. Andai kamu enggak menikah dengan Kalandra dan justru adiknya Bilqis yang dengan Kalandra!” tegas ibu Lasmi yang sebenarnya belum selesai, tapi lagi-lagi, Arum menahannya.
“Dikiranya ibu Tuhan, atur-atur kehidupan orang!” tegas Arum.
Di lantai atas, ibu Kalsum tengah sibuk membujuk pak Haji untuk menjaga Aidan maupun si kembar.
“Tolong jaga sebentar, ih!” kesal ibu Kalsum.
“Mereka masih kecil-kecil, apalagi yang kembar!” takut pak Haji.
__ADS_1
“Yang kembar kan ada di troli. Sudah biarin saja, paling cek takut ada nyamuk. Kalau mas Aidan cukup diajak ngobrol!” yakin ibu Kalsum.
“Enggak bisa, lah ... saya enggak bisa jaga anak. Saya cukup bagian bikinnya saja yang enak!” yakin pak Haji.
“Eh, wong gemblung, emang!” tegas ibu Kalsum yang artinya sama saja mengatai pak Haji gil*a.
Tak mau Arum diapa-apakan oleh mantan besannya, ibu Kalsum sengaja membawa Aidan, dan memaksa pak Haji untuk menjaga si kembar yang masih anteng tidur di dalam troli masing-masing.
“Ibu DPR, ... enggak bisa, ihh!” tegas pak Haji yang kali ini merengek-rengek.
“Cuma ditungguin, sambil dicek takutnya ada nyamuk!” lirih ibu Kalsum yang kal ini benar-benar geregetan.
Di lantai bawah, Arum masih menempelkan ponsel khusus rumah makan, ke telinga kanannya. Tatapannya masih lurus pada ibu Lasmi yang masih menatapnya penuh kebencian. Wanita bergaya glamor itu seolah memiliki dendam kesumat kepadanya.
“Ada apa ini? Mbak Lasmi, ... Mbak enggak malu dilihatin banyak orang?” ucap ibu Kalsum masih di tengah-tengah anak tangga. Ia masih melangkah dengan hati-hati walau ia melakukannya sangat buru-buru.
“Saya hanya ingin menuntut hak saya!” tegas ibu Lasmi sesaat setelah ia duduk di ruang pak Haji terjaga untuk kembar.
Jujur, melihat ada dua troli bayi berisi bayi yang kiranya berusia sebaya, membuatnya kikuk. Karena sampai saat ini, ia memang sama sekali tidak mengetahui kabar terbaru Kalandra.
Layaknya rumah makan Arum, adanya kedua bayi itu juga baru ia ketahui. Entah anak siapa, tapi ia tak mau menduga-duga apalagi sampai menduga keduanya merupakan anak Arum dan Kalandra. Karena jika itu sampai terjadi, dengan kata lain Arum memiliki level jauh lebih tinggi ketimbang Bilqis. Sebab dulu saat masih bersama Bilqis dan hubungan Kalandra dengan Bilqis jauh lebih lama, keduanya baru akan sempat memiliki anak dan itu pun meninggal di kandungan bersama kematian Bilqis.
__ADS_1