Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
76 : Cemburu Dan Kesurupan


__ADS_3

Selesai makan siang, Kalandra mengajak Arum dan Aidan keliling pabrik khususnya menemui orang-orang penting.


“Setiap ruangan steril karena sebelum masuk pun semuanya diperiksa jadi aman buat kita termasuk Aidan,” jelas Kalandra. Tangan kanan mengemban Aidan, tangan kiri menggandeng tangan kanan Arum.


Arum yang sempat gugup langsung terbiasa meski ia cenderung diam dan Kalandra lah yang memimpin obrolan. Tentunya mereka keliling tidak dengan tangan kosong karena mereka juga sengaja menyebar undangan.


Beres acara di kantor dan pabrik, mereka kembali ke ruang kerja Kalandra karena masih ada pekerjaan yang belum beres. Dan sepanjang itu, Kalandra memutar pesan suara dari aplikasi WA pria itu.


“Itu perempuan kasusnya gimana, sih?” sergah Arum. “Kok dirasa-rasa aku jadi cemburu apalagi suara wanitanya semanja itu!” batinnya sambil terus duduk di sebelah Kalandra sambil memangku Aidan.


Kursi yang awalnya ada di depan meja kerja Kalandra memang sengaja Kalandra pindah ke sebelah kursi kerjanya agar mereka duduk bersebelahan dan tentunya jauh lebih dekat.


“Ini yang teman SMA aku loh, yang mau cerai. Mereka pacaran dari SMA gitu, nikah pun lulus SMA, terus lanjut sama-sama kuliah. Tapi hubungan mereka sama-sama enggak direstui orang tua, dan sampai sekarang, mereka belum punya anak, dan masalah anak ini jadi sumber gonjang ganjingnya,” jelas Kalandra.


Arum yang sudah menyimak serius berkata, “Masalahnya di mana sih, kok mereka mau cerai? Hanya karena restu yang enggak didapat juga dari kedua pihak? Lah wong mereka saja nikahnya juga sudah tanpa restu, kan? Apa memang ada salah satu dari mereka yang bosan, makanya berulah dan bikin alasan. Pengin cerai, tapi masih sayang, tapi udah bosen dan pengin ganti suasana baru sama pasangan baru? Orang sekarang kan gitu.”


Kalandra sampai sesak napas hanya karena menyimak ucapan panjang lebar dari Arum yang benar-benat cepat.


“Hati-hati, loh. Niatnya jadiin Mas pengacara, eh malah jadi pelampiasan! Nanti Mas juga yang disalahin. Ini sesi ceritanya udah curhat berlebihan soalnya. Mas saja yang lagi oleng makanya enggak sadar kalau teman SMA Mas ini, lagi pedekate sama Mas!” setelah berbicara makin lama makin lirih, Arum berkata, “Dia ini hanya sedang butuh perhatian, dan dia lagi coba dapat itu dari Mas!”


“Kami beneran teman, Yang. Kami sudah sangat dekat dari SMA. Dia juga sering main ke rumah dan pas sama Bilqis pun tahu,” jelas Kalandra.


“Kan sudah banyak kejadian, Mas. Dari temen, jadi demen. Lagian logikanya sedeket apa pun kita sama orang apalagi lawan jenis, enggak bener juga kalau sampai ngerengek minta perhatian gitu. Dipikir-pikir, Mas juga enggak bener!” Arum mengakhiri ucapannya dengan mengomel kemudian buru-buru meninggalkan Kalandra.


“Renungin lagi, ... yang salah itu aku apa dia. Dan tumben Mas enggak bisa saring. Aku enggak hanya cemburu, tapi dipikir saja soalnya sudah banyak kejadian. Klien sih kilen, teman sih teman, masa iya enggak bisa tidur, enggak bisa makan, minta ditemenin? Ya pantes suaminya berubah wong kelakuannya saja gitu,” sambung Arun yang kemudian memastikan ponselnya. Ada telepon masuk yang ia lewatkan dan itu dari nomor baru.

__ADS_1


“Ini si kupret Dika, kah? Apa malah Angga?” lirihnya yang juga langsung melongo karena pesan masuk dari nomor tersebut.


-Rum, apa kabar? Ini aku, Resty. Kamu masih ingat, kan?-


Arum : Resty anaknya paman Wage, bukan? Yang urus aku pas aku di Jakarta?


-Iya. Aku dapat nomor kamu dari Widy karena selain aku juga ganti nomor, eh ternyata kamu ganti.-


“Yang, kamu lagi chatingan sama siapa? Aku lagi ngobrol sama kamu, loh,” ucap Kalandra tak tahan. Ia pikir, Arum tengah balas dendam karena perkata teman SMAnya yang meminta bantuannya mengurus perceraian.


“Temen, Mas. Bentar, tanggung.” Arum masih memunggungi Kalandra tepat di depan meja kerja Kalandra. Ia melakukannya sambil menimang-nimang Aidan yang menjadi heboh dan ternyata karena Kalandra sudah sampai di sebelahnya.


Setelah sampai mengemban Aidan, Kalandra melirik sebal layar ponsel calon istrinya. “Nomor baru.”


“Iya, Mas. Bentar, tanggung soalnya,” balas Arum yang masih fokus pada layar ponselnya.


“Ini perempuan, Mas. Temen aku yang di Jakarta. Dia mau pulang kampung, mau pesan jangan bogo lombok ijo sama jangan belut lombok ijo.”


“Perempuan, ... apa perempuan?” Sebal Kalandra yang memang telanjur cemburu. Ia sampai melampiaskannya dengan menci-umi sebelah pipi Arum.


“Sumpah, Mas ini perempuan. Aku kan memang enggak punya kenalan apalagi teman waria. Ini namanya Resty, dia mau pulang kampung dan dia lagi ngidam. Dia lagi hamil anak kedua. Dia pesan kedua lauk tadi sekalian mau mampir ke Pengandaran dia sama suaminya!” jelas Arum meyakinkan, tapi dari tampang sekaligus ekspresi wajah Kalandra yang masih sangat kepo serius memandangi layar ponselnya, calon suaminya itu terlihat tidak percaya.


“Suruh dia kirim foto. Atau langsung VC, awas saja kalau laki-laki apalagi sampai waria. Aku mau bilang kalau kamu sudah mau menikah!” kesal Kalandra tapi masih terbilang wajar sebab Kalandra masih merengek kesal.


“Ya Alloh Mas, kok kamu malah kesurupan, sih?” keluh Arum sambil menatap tak habis pikir Kalandra. Namun karena Kalandra sudah sampai ngambek, ia sengaja melakukan vidio call sepertinya calon suaminya minta. Yang mana, Kalandra langsung melipir ketika yang ada di seberang sungguh wanita hamil yang perutnya sudah sangat besar.

__ADS_1


Arum sampai menahan tawa, menertawakan kecemburuan Kalandra yang tidak beralasan.


“Padahal harusnya aku yang cemburu loh, Mas!” ucap Arum masih terbawa suasana dengan kecemburuan Kalandra, beberapa saat lalu. Mereka baru saja keluar dari tempat kerja Kalandra. Kalandra menuntunnya menuju tempat parkir bagian samping depan pabrik.


“Eh, yang ... itu motor si Ririn. Eh bener, itu kayaknya memang si Ririn,” sergah Kalandra ketika mereka baru saja ada di depan mobil. Di pintu masuk sana dan akan menuju mobilnya, wanita bernama Ririn yang ia maksud, sudah langsung melambaikan tangan kanan sambil melepas kaca helemnya.


Tentu Arum langsung mendelik melihatnya. Arum menatap wanita necis terbilang seksi itu dengan sinis. “Mas tahu kan, kalau sudah begitu namanya apa? Itu namanya ganjen, ga-tel! Jangan-jangan, dia satu spesies sama si Septi dan pak Haji, ya?”


Kalandra yang awalnya akan membukakan pintu sebelah setir untuk Arum, berangsur mendengkus. “Oke, aku stop bantu dia.”


“Ya iya ... kalau Mas enggak stop dia, berarti aku yang stop Mas. Paling nanti si Ririn itu bakalan nyicipin jurus taflon sama wajanku!” sergah Arum masih berucap lirih walau jujur saja, ia sudah sangat kesal kepada Ririn.


“Yang, aku cuma sayang kamu, loh!” yakin Kalandra yang juga masih berucap lirih.


“Tapi kalau Mas kasih dia kesempatan, ya sama saja!” balas Arum. “Pokoknya aku enggak mau tahu. Mas harus tegas sekaligus tega ke dia. Bras bres saja!”


“Iya, ... Yang ....” Kalandra sampai membungkuk hanya karena meyakinkan Arum.


Tatapan apalagi senyum seorang Ririn langsung berubah hanya karena mendapati Arum di sebelah Kalandra. Tanggapan yang sudah jelas apa maksudnya. Karena kalau memang niat Ririn untuk berkonsultasi, wanita berambut pirang itu tak sampai menyambangi Kalandra di jam kerja.


Dan kalau Ririn juga murni memakai jasa hukum Kalandra, dia tidak akan berkata, “Oh yang janda anak satu tukang kantin di rumah sakit baru itu, ya?” kepada Arum ketika Kalandra langsung mengenalkan Arum sebagai calon istrinya, kepada Ririn.


Jelas Kalandra langsung ngegas, apalagi dari kedua mata Arum juga sudah terlihat kobaran api amarah.


“Situ saja minta dijadiin janda, lah kok ngatain saya janda? Saya janda tapi saya bukan penggoda, apalagi sampai mencoba merusak hubungan orang kayak situ!” kesal Arum. “Satu lagi, kalau seusia kamu apalagi orang pendidikan seperti kamu sampai asal ngomong, sana pergi ke sekolah karena pasti kamu belum makan bangku sekolah, bisa-bisanya kamu berbicara seperti tadi!”

__ADS_1


Jika keadaan sudah seperti sekarang, bisa Kalandra pastikan, calon istrinya nyaris kesurupan. Beruntung di sana tidak ada taflon apa wajan. Karena jika iya, bisa Kalandra pastikan juga, Ririn sudah langsung mengikuti jejak Angga, mencicipi jurus taflon dan juga wajan Arum.


__ADS_2