
“Dek Arum. Hari ini sang Musafir Cinta akan menjadi pembela kebenaran dan pembasmi kezaliman!” ucap pak Haji yang sudah duduk menunggu di tempat duduk bagian depan rumah makan Arum.
“Pak Haji salah makan? Kok ngomong gitu, tumben?” tanya Arum memastikan.
Pak Haji langsung menggeleng. “Enggak, sih. Niatnya memang tulus nolongin Septi. Mau gebukkin bapaknya biar mikir! Kalau bisa mau pindahin otaknya biar di hidung saja. Biar pas dia berulah lagi, benerinnya gampang, tinggal pencet apa puter!”
Kalandra langsung mesem. “Oh, ... berarti Pak Haji mau jadi Wiro Sableng! Atau malah Si tua yang dibutakan janda?” goda Kalandra yang memang datang bersama Arum.
Sampai detik ini, Kalandra masih menggandeng tangan kiri wanitanya itu. Mereka hanya datang berdua karena Aidan dibawa oleh orang tua Kalandra menghadiri acara kantor.
Arum terdiam sejenak dan memang untuk merenung. “Buat keperluan nikah, yah, Pak? Si Septi mau nikah dan bapaknya wajib jadi walinya, kan?” tebaknya.
“Nah, iya benar!” sergah pak Haji bersemangat. “Kalian bingung juga, enggak, kenapa Fajar mau nikahin si Septi? Apa iya, dia juga jadi Musafir Cinta yang dibutakan cinta oleh pesona janda? Tapi bentar, ... pesona Janda? Dilihat dari sudut mana, Septi kelihatan memesona?” Memikirkan itu, pak Haji mendadak pusing. “Wis, wiss, utekku ra gutuk go mikrnane. Sudah lah, otakku enggak sampai kalau mikirin itu. Memang cinta bisa bikin orang mendadak jenius macam Fajar ke Septi, sih!”
“Mana orangnya? Pak Haji naik apa, sih? Kok motor biasanya enggak ada di tempat parkir?” balas Kalandra masih tertawa.
“Naik mobil dong. Naik motor ya alamat ancur ban sama onderdilnya! Mau ngerogoh sukmo lah belum mampu!” ucap pak Haji yang kemudian berkata, “Tahu sendiri kan kalau sekarang Septi terlalu seksoy?!”
Arum dan Kalandra makin kompak tertawa.
“Omong-omong, anaknya mana? Masa iya, seseksoy itu enggak kelihatan?” tanya Kalandra masih tertawa. “Apa memang belum datang? Cari bapaknya Septi, hari ini juga, kan?”
__ADS_1
“Yaitu di dalam mobil. Lagi diet ketat dia biar cepat langsing. Makanya enggak mau mampir takut tergoda katanya!” balas pak Haji yang lagi-lagi membuat Kalandra dan Arum tertawa. “Saya takut-takutin kan kemarin, kalau dia tetap enggak mau diet, saya kado dia kain kafan buat ijab kabulnya!”
Kalimat terakhir pak Haji membuat Arum dan Kalandra tertawa sampai lemas. Arum langsung pamit ke toilet dan memang kebelet pipis gara-gara menertawakan ucapan pak Haji. Kalandra yang masih menjadi suami siaga juga langsung ikut serta.
“Ya sudah saya juga mau pamit. Sudah habis juga sarapannya!” ucap pak Haji buru-buru pamit juga.
Kalandra yang masih bisa mendengar ocehan pak Haji sengaja balik badan, “Jangan lupa bayar!”
“Innallilahiiiii,” ucap pak Haji refleks menepuk jidatnya yang botak. “Yakin, hampir saja lupa bayar.” Ia tersenyum tak berdosa kepada Kalandra maupun pria santun kasir di sana.
“Hampir, apa memang niat?” balas Kalandra antara bercanda tapi serius juga. Karena di beberapa kesempatan, kasir di sana melaporkan bahwa pak Haji lupa bayar. Untungnya saat keesokan harinya datang kemudian diingatkan, pak Haji mau langsung bayar hingga mereka tak harus mengunduh kerugian.
“Asli pak Pengacara, saya beneran lupa!” seru Pak Haji masih tersenyum tak berdosa sambil mengeluarkan dompetnya dari saku celana bahan bagian belakang, warna hitamnya.
“Nah itu, makanya saya pengin nikah juga sama istri kamu, biar saya juga keurus lahir dan batin bahkan sampai overdosis!” yakin pak Haji dan langsung disemprot Kalandra. “Nah istrimu kan satu serba bisa. Sesangkan punyaku, banyak tapi serba enggak bisa, maje-manje bingung sendiri jadinya!”
Setelah urusannya dengan Kalandra selesai, pak Haji malah menjadi khawatir ke Septi. Di tempat duduk penumpang, Septi tampak sangat lemas dan sampai berkeringat sekaligus pucat. Mungkin karena biasanya, jam segini Septi sudah berulang kali makan, sedangkan sekarang, Septi malah puasa.
“Kalau kamu lemes gini, gimana nanti kamu ketemu bapakmu? Yang ada bukannya ngamuk dan bikin dia jadi tahu gejrot, kamu malah pingsan terus digelundungin sampai rel kereta api terus ditabrak kereta! Belok kiri masuk neraka, judulnya. Terus sub judulnya, derita wanita gendut yang lagi diet karena malah langsung ke alam baka!” ucap pak Haji yang memutuskan untuk membeli nasi bungkus. “Bentar tunggu dulu, saya belikan nasi dulu di warung Arum biar kamu enggak mampus!”
“Tapi Pak Gede, aku lagi diet!” rengek Septi tak berdaya. Walau memang lemas mirip oran sakit dan duduk saja, ia sampai meringkuk, demi langsing ia sungguh ingin melanjutkan dietnya.
__ADS_1
“Diet apaan? Ah kamu payah, ah. Apa-apa serba enggak bisa. Lebih payah dari istri-istriku, padahal kamu masih sangat muda.” Setelah mengoceh demikian, Pak Haji sengaja pergi dan kembali masuk ke rumah makan Arum.
Sekitar lima belas menit kemudian, pak Haji kembali. Tak hanya nasi bungkus dan satu botol air mineral yang pria itu bawa. Karena pak Haji juga sampai membawa minuman berstamina kemasan botol.
“Nanti kalau sudah sarapan, tinggal ninum itu. Biar kekuatanmu kayak banteng rasa badak, dan pas nyeruduk bapakmu, tuh orang langsung K.O! Jangan malah kamu yang K.O. Malu sama badan kamu yang segede dosamu!” ucap pak Haji yang sudah duduk di sebelah sopir.
Sang sopir yang menyimak, refleks tertawa. Tak beda dengan Septi, ia juga diberi dua botol kaca minuman stamina, selain dua slop rokok lengkap dengan korek bensinnya.
“Jangan ngantuk hanya karena penumpang kamu hari ini kurang sedap dipandang, Pir!” ucap pak Haji mulai merebahkan punggungnya pada sandaran tempatnya duduk. Ia berusaha mencari posisi duduk yang nyaman apalagi perjalanan masih panjang. Butuh waktu sekitar enam sampai tujuh jam agar mereka tiba di Magelang.
Septi yang langsung memenuhi mulutnya dengan nasi bungkus dan rassnya sangat lezat pemberian pak Haji, langsung tersindir. Dengan mulut penuh yang sulit menutup, ia menatap sebal pak Haji. “Pak Gede ih, hobi banget nyindir!”
“Bukan hobi karena nyindir memang bakat terpendam setiap orang, termasuk saya!” tegas pak Haji.
Kali ini Septi tak peduli. Wanita gemuk itu berusaha makan dengan benar agar segera kembali memiliki tenaga. Alasannya ke Magelang memang untuk menuntut keadilan, memberi sang bapak pelajaran. Mau tak mau, ia harus kuat. Septi akan membuat sang bapak, babak belur sekaligus kapok.
“Tanggapan mamah kamu, saya urus kamu gimana?” tanya pak Haji sambil menikmati satu batang rokoknya. Ia menatap Septi dari kaca spion di atasnya.
Septi menatap pak Haji dari kaca spion yang sama. “Kayak jadi bimbang gitu, Pak Gede. Tapi kayaknya Mamah masih trauma rumah tangga apalagi kalau sampai harus hidup bareng banyak madu!”
“Padahal saya suka banget ke mamah kamu. Dia rajin dan pintar mirip Arum!” ucap pak Haji yang kemudian bilang, Septi kalah jauh jika dibandingkan dengan sang mamah apalagi jika dibandingkan dengan Arum.
__ADS_1
"Makanya kamu harus banyak belajar dari mereka ya. Soalnya kalau suami kenyang, dia juga enggak bakalan jajan kayak saya. Alasan saya masih menjadi musafir cinta dan berkelana mencari Janda kan juga karena ini!” lanjut pak Haji dan langsung membuat Septi merenung serius.
Septi khawatir, setelah menikah nanti, Fajar malah berpaling ke hati wanita lain. Apalagi jika Septi tetap gembrot layaknya sekarang.