
“Kemarin, dua hari enggak ke sini, itu gara-gara saya diperkaos Wariyem!” Pak Haji meledak-ledak dalam berceritanya.
Kalandra yang menyimak, refleks melirik sang istri yang duduk di sebelahnya, tapi wanitanya itu langsung menggeleng, menegaskan bahwa Arum juga tak begitu paham dengan cerita pak Haji.
“Hanya ada dua kemungkinan, sih,” komentar Kalandra yang kemudian menatap serius si aki-aki di hadapannya.
“Sumpah, Pak Pengacara!” yakin pak Haji yang kemudian menyeruput kopi hitamnya.
Kalandra mengangguk elegan. “Iya. Namun memang hanya ada dua kemungkinan mengenai alasan wariyem begitu. Pertama karena dia enggak sadar antara mabuk atau malah kesurupan. Nah yang paling pasti, ya ... karena Pak Haji yang mulai!”
Tak memiliki pilihan lain, pak Haji yang menghela napas pelan, akhirnya jujur. Awalnya, Kalandra dan Arum memang sempat kesal karena ternyata, pak Haji sampai mengincar Widy. Namun setelah tahu Wariyem yang pak Haji maksud malah wanita jadi-jadian, pasangan romantis itu langsung tertawa sampai lemas. Sekelas pak Yusuf yang masih duduk di kursi roda sebelah pak Haji juga sampai menangis akibat tawanya.
“Sumpah, tenaganya luar biasa kayak habis minum susu kuda liar!” komentar pak Haji lagi, dan makin membuat kebersamaan yang harusnya serius karena awalnya tengah membahas kasus pak Yusuf, malah menjadi ambyar. “Dia nyium pipi saya sampai disedot. Masih pada ungu, kan? Lebih parah dari wewegombel pokoknya tingkah si Wariyem!”
“Yang begitu kan, yang Pak Haji butuhkan?” komentar Kalandra sengaja meledek mantan rival terberatnya dalam mendapatkan Arum, di masa lalu.
“Apaan? Wong bawahnya juga pedang! Iya kalau utuh, kalau pedangnya saja buntung?!” sinis pak Haji.
Kalandra yang terpingkal-pingkal, sampai menjerit histeris membenamkan wajahnya di punggung Arum.
“Berarti kalau si Wariyem ini janda bohay, bakalan Mbah sikat?” tanya Arum yang jujur saja penasaran.
__ADS_1
Dengan jujurnya pak Haji mengiyakan anggapan Arum sambil mengangguk-angguk. Kalandra kembali histeris apalagi ketika pak Yusuf dengan kurang ajarnya menyarankan pak Haji untuk mencoba menjalin hubungan dengan si Wariyem agar menemukan sensasi baru dan agar tidak penasaran juga. Dalam artian, agar pak Haji bisa memastikan, pedangnya beneran utuh atau malah seperti dugaan pak Haji yaitu sudah dipotong.
“Daripada buat saya, mending tuh Wariyem buat kamu. Kan kamu enggak mungkin balikan sama bu Fatimah!” yakin pak Haji di sela tawanya, tapi pak Yusuf langsung menggeleng.
“Gayanya geleng-geleng, tahu-tahunya sudah ada incaran! Ya enggak apa-apa, sih, asal jangan kayak yang sudah-sudah lagi!” yakin pak Haji yang kemudian juga berkata, “Nanti saya juga akan bilang ke Septi, acara ijabnya jangan pagi, wajib habis buka puasa biar dia modal dikit. Siapin minuman sama makanan atau takjil enak, kek! Berkelas dikit, kalau tetap enggak berkelas nanti saya masukin ke SD sebelah, biar masuk kelas, hahahaha!”
Kebersamaan mereka yang penuh gelak tawa berangsur usai karena Kalandra harus segera pergi kerja. Pak Haji yang membawa pak Yusuf juga langsung pamit di pagi yang hangat kini. Sopir pak Haji yaitu Rozak, langsung menggendong pak Yusuf, membawanya ke mobil penumpang milik pak Haji. Sementara kursi roda yang ditinggal, dibawakan oleh salah satu pekerja rumah makan milik Arum.
***
Tak jauh dari lapak Septi jualan es gepluk cap gajah duduk, Fajar baru saja keluar dari tempat praktik ahli gigi. Tersenyum puas, pria itu memandangi kedua gigi palsu pesanannya dan akhirnya sudah jadi.
“Akhirnya, aku pensiun dari status pongah!” girang Fajar yang masih memakai masker di setiap penampilannya, khususnya untuk menutupi gigi dengan tengahnya yang patah dan itu langsung dua. “Dan alhamdulliah, selama ini Septi tetap enggak pernah tahu! Karena andai dia tahu, kemungkinannya hanya ada dua. Dia mau karena memang telanjur cinta kepadaku terus kasih aku pengobatan mutahir. Atau, dia langsung takut atau malah jijik, terus jadi enggak mau sana aku!” batin Fajar benar-benar bahagia.
Kehidupan seorang Fajar seolah berputar lebih lambat ketika kedua gigi palsunya itu perlahan terperosok memasuki drainase yang kedalamannya tidak bisa dijangkau selain oleh petugasnya.
“Ya Alloh! Innalilahi!” lirih Fajar nyaris menangis seiring pria itu yang jongkok memandangi gigi palsu terbilang mahal yang belum ia pakai, tapi sudah masuk ke drainase! “Gigi mahal itu! Bayarnya saja sampai hutang ke atasan! Malah langsung sai gud bai itu pun beneran enggak sopan caranya!”
Jauh di dalam sana, gigi Fajar benar-benar terlihat, tapi Fajar tak mungkin mengambilnya karena besi drainasenya sudah paten menyatu dengan jalan aspal di sebelahnya.
“Es gepluk cap gajah duduk, dibuat dadakan hanya tiga ribuan!” Seru Septi dari sebelah nyaris tanpa henti sambil sesekali meladeni yang beli.
__ADS_1
Fokus tatapan Fajar perlahan tertuju kepada Septi yang baginya suaranya sangat tidak asing. “Sumpah, yah, suaranya enggak asing. Kayak kenal, bahkan banget!” Ia terus menerka-nerka. “Suara siapa yang lembut dan juga manja, terus enak banget didengernya mirip suara penyiar radio? Septi, ... enggak mungkin.” Walau yakin suara tersebut sangat mirip Septi, Fajar merasa itu tidak mungkin. Apalagi yang dagang di depan saja juga kompak memakai cadar sekaligus gamis syar'i.
“Tapi kalau dilihat dari bentuk tubuhnya yang enggak ada potongan besar mirip lontong yang bungkusnya pakai plastik, sih iya!” Penasaran, Fajar sengaja mendekati. Selain itu, Fajar juga ingin menghibur diri setelah gigi palsu pesanannya malah pergi sebelum ia miliki.
“Bayangin saja, gigi palsu saja pergi sebelum aku miliki, apa kabar Widy yang kalau aku chat sama sekali enggak dibaca?” lirih Fajar berkeluh kesah sambil menyeberang jalan yang terbilang ramai.
“Es gepluk cap gajah duduk. Di gepluk dadakan hanya tiga ribuan!” seru Sepri tengah memadatkan es yang sudah bertekstur lembutnya di gelas plastik.
“Cobalah makan es gepluk cap gajah duduk, kayaknya enak panas-panas gini, murah cuma tiga ribuan lagi. Kalau enak, kapan-kapan apa besok, aku ajak si Septi ke sini. Pasti Septi langsung seneng apalagi urusan makan memakan, Septi sudah enggak diragukan!” batin Fajar lagi.
Fajar sudah ada di depan dagangan es gepluk cap gajah duduk milik Septi. Layaknya pembeli lain, ia juga mengantre. Masih ada empat antrean di hadapannya, tapi keempatnya kompak beli dalam jumlah banyak.
“Kayaknya memang enak, nyatanya pada rela antre!” batin Fajar lagi di tengah senandungan suara Septi yang makin lama makin membuatnya sibuk menyamakannya dengan suara Septi.
“Es gepluk cap gajah duduk ....” Septi sungguh belum menyadari kehadiran Fajar.
Termasuk juga ibu Fatimah yang masih mengemban Sepri. Keduanya sama-sama sibuk dengan dagangan sekaligus pembeli masing-masing.
“Dua coba, Bun!” ucap Fajar setelah akhirnya dapat giliran.
Septi yang awalnya akan berteriak menyenandungkan dagangannya, refleks bengong hanya karena mendengar suara tadi. Suara yang langsung Septi kenali sebagai suara sang calon suami. Dalam sekejap tatapan mereka bertemu, dan jantung Septi langsung kacau karena terlalu panik.
__ADS_1
Akankah Fajar yang sedang patah hati karena gigi palsunya tak mau dimiliki, pada akhirnya juga mengenali Septi?