Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
82 : Drama yang Mengorek Luka Lama


__ADS_3

“Pak, Bu ... begini, ... maksud kedatangan Mas Kala dan saya kemari kan untuk mohon izin sekaligus restu. Rasanya kurang pas kalau Bapak dan Ibu malah membahas yang lain apalagi semacam, ... gana-gini. Sedangkan aku yakin, Mas Kala bukan tipikal yang akan memakan penghasilan apalagi harta istri.” Arum tetap bicara walau Kalandra nyaris bicara. Hanya saja, kali ini ia tak sampai meledak-ledak.


Arum bertutur lembut, menatap setiap pasang mata di hadapannya sarat pengertian. Ia dapati, kedua sejoli tersebut yang menjadi terlihat makin gelisah sekaligus kesal.


“Setahu saya, semua barang mbak Bilqis pun sudah diangkut. Mas Kala hanya simpan beberapa pasang pakaian sama, ... foto.” Arum melirik ragu sang calon suami yang walau tidak menatapnya, tapi tetap balas menggenggamnya. Kalandra jelas memberinya kesempatan untuk berbicara.


“Dan, ... ini mohon maaf ya, Pak, Bu. Andai memang terasa berat, kenapa tetap dipaksakan? Kenapa tetap dilanjut dan kenapa enggak hidup semampunya saja? Juga, andaipun mbah Bilqis masih ada, apa ya kalian akan melimpahkan semua beban itu ke mbak Bilqis yang jelas-jelas sudah berumah tangga dan otomatis tanggung jawabnya sekaligus urusannya sudah beda?” Arum masih berbicara dengan sangat hati-hati.


“Andaipun mbak Bilqis mau, apa ya Bapak sama Ibu enggak kasihan? Kalau posisinya sudah begini kan, balik ke pengertian Bapak dan Ibu,” lanjut Arum.


“Namun sesuai kesepakatan memang begitu, Mbak.” pak Iman angkat bicara.

__ADS_1


Tentu Arum langsung tidak bisa berkata-kata. Terlalu terkejut.


“Kami tidak bermaksud menuntut, Mbak. Namun sesuai kesepakatan, semua tanggung jawab masih oleh Bilqis ....”


“Bahkan meski mbak Bilqis sudah meninggal? Logikanya di mana? Di kuburan masih disuruh jadi tulang punggung begitu?” Arum langsung naik darah. “Kalau begini ceritanya, Bapak sama Ibu, masih satu padepokan sama orang tua saja, maupun ... mantan saya. Hebat ih kalian, masih meninggal masih dimanfaatkan. Benalu saja kalai tumbuhan yang ditumpangi sudah mati, ya sudah. Eh kalian ke anak sendiri setega ini.”


“Seperti tadi, kalaupun mbak Bilqis apa Mas Kala mau, ya balik ke hati nurani bapak dan Ibu. Coba saya tanya, ... mbak Bilqis sekolahnya sampai kuliah kedokteran juga, apa biasa saja dan hanya Zahra yang kalian istimewakan? Jangan sampai, kalian juga penganut lagu lama yang berat sebelah atau itu PILIH KASIH ke anak!” lanjut Arum yang tentu saja tidak bisa membuat lawan bicaranya membalas.


Kalandra sengaja berdeham kemudian mengambil alih. “Begini Pak, ... Bu. Walau Bilqis selalu kerja, kan tiap gajian ditransfer ke kalian. Malahan kalau kalian minta lebih, sengaja saya tambahi agar Bilqis enggak sibuk cari pekerjaan lain lagi! Malahan ... m-malahan alasan Bilqis meninggal, ... karena dia kecapaian!” Air mata Kalandra lolos bersama dadanya yang mendadak terasa sangat sesak. Kalandra menghela napas pelan sekaligus dalam, demi meredamnya. “Saya sudah melakukan segala cara untuk memuliakan hidup almarhum, tapi karena almarhum tidak mau menjadi anak durhaka seperti yang selalu kalian ingatkan, saya benar-benar tidak bisa apa-apa!”


Arum yakin di masa lalu, Kalandra sudah tegas dan sampai turut membiayai keluarga Bilqis. Namun semakin banyak uang yang Kalandra maupun Bilqis berikan, tampaknya permintaan dati keluarga Bilqis juga makin tinggi. Terbukti sebelum ini Kalandra berdalih, walau nantinya pria itu akan mendidik keluarga Arum yang sudah keterlaluan, dengan keras. Kalandra melakukannya demi kebaikan bersama karena apa pun yang terjadi, Kalandra juga menyayangi keluarga Arum.

__ADS_1


“Jadi kalau Bapak sama Ibu mau hitung-hitungan, ... apa yang harus dihitung? Yang mau dihitung, apa ...? Gimana Bilqis masih ada gana-gini, kalau gaji tiap bulan saja, dan sampai saya tambahi, sudah langsung di transfer ke kalian? Bilqis kan bukan mesin pencetak uang apalagi ... harta.” Suara Kalandra nyaris tak terdengar, saking emosinya. Ia membiarkan air matanya dan malah Arum yang dengan telaten menghapusnya melalui tisu dari tas bahu wanitanya itu.


“Bilqis memang punya beberapa set perhiasan termasuk mas kawin. Itu murni saya yang belikan, tapi semuanya juga sudah saya berikan kepada kalian, kan? Bahkan kalung sama gelang yang Ibu pakai juga salah satunya,” lanjut Kalandra sambil menatap sang mantan mamah mertua yang detik itu juga langsung kebingungan.


“Malahan kalau dipikir-pikir, mbak Bilqis dan orang tuanya, malah numpang hidup ke Mas Kala sekeluarga,” batin Arum.


“Perlu saya tegaskan sekali lagi, semua yang berkaitan dengan Bilqis Insya Alloh sudah saya bereskan. Namun, andai kalian masih menuntut hak dari Bilqis yang sudah meninggal dan saya harapkan bisa beristirahat dengan tenang, saya benar-benar marah! Bilqis sudah meninggal dan sekarang, dia pasti enggak kecapaian lagi. Bilqis pasti sudah enggak berat mau mengabdi dan bahagia dengan suami agar tidak menjadi istri durhaka, atau tetap menjadi anak baik yang selalu menjadi penghasil uang untuk keluarganya. Dan Bilqis pasti juga sudah enggak gamang karena harus selalu memohon agar saya mengizinkan dia tetap sibuk mengurus kalian.” Kalandra menghela napas dalam kemudian menunduk dalam. “Rumah kami murni dari saya dan orang tua saya. Jadi kalian jangan sampai drama. Mulai sekarang, kalian cukup hidup semampunya, jangan mengada-ngada apalagi banyak gaya agar enggak ada Bilqis lainnya.” Kalandra berangsur menatap dua pasang mata di hadapannya.


Drama memohon izin sekaligus restu pada orang tua Bilqis malah menghasilkan drama yang mengorek luka lama. Namun, Kalandra tak mau berlama-lama di sana. Begitu juga dengan Arum yang tentunya tidak mau, Kalandra kembali terkungkung kesedihan masa lalu. Apalagi Arum masih sangat ingat, Kalandra nyaris kehilangan kewarasan saat ditinggal Bilqis.


Namun jika melihat keadaan saat itu, pantas jika Bilqis kelelahan seperti apa yang Kalandra katakan. Ternyata tanggung jawab Bilqis sangat besar. Bilqis ibarat Angga versi wanita. Dan pantas juga Kalandra begitu protektif kepadanya. Kalandra selalu mengingatkan agar Arum tidak begitu lelah. Kalandra juga meminta Arum mendidik keluarganya agar tidak apa-apa serba Arum lagi. Karena ternyata, Kalandra memiliki pengalaman suram mengenai itu.

__ADS_1


“Pantas dari kemarin ke sininya juga diundur-undur, ternyata memang begini,” batin Arum yang sudah duduk di sebelah Kalandra.


Di sebelah Arum, Kalandra menyetir mobil dan masih sesekali menitikkan air mata. Mereka tak lantas pulang dan memang sengaja mengunjungi kakak Arum yang selama ini mereka hubungi melalui sambungan telepon. Berbeda dengan ketika ke rumah orang tua Bilqis, di rumah Bayu kakak Arum, kedatangan mereka disambut dengan hangat dan sampai ada jamuan.


__ADS_2