
“Saya benar-benar belum menyerah, Dek Arum!” pak Haji kembali berucap tegas.
Kalandra yang telanjur muak, tapi tidak mau ribut karena pasti hanya membuang-buang waktu sekaligus tenaganya, memilih menggandeng Arum, membawanya pergi dari sana.
“Heh, itu Dek Arumku mau dibawa ke mana?” sergah pak Haji panik tak ubahnya kebakaran jenggot.
“Mau diajak pulang, sudah malam. Kasihan seharian kerja.” Karena pak Haji terus mengejar, Kalandra sengaja berhenti, menghadap pria tua itu sambil berkata, “Kalau Mbah beneran peduli, ... kalau Mbah beneran sayang, harusnya Mbah biarin Arum istirahat karena dari pagi tadi, dia sudah sibuk kerja. Mending sekarang Mbah pulang. Banyak-banyak dzikir, biar pas malaikat Izrail datang, Mbah sudah siap!”
Dengan jarak yang tak kurang dari satu meter, Kalandra bisa melihat kemarahan yang begitu besar dari seorang pak Haji. Pria itu sampai menarik tangan kanannya tinggi dan nyaris menamparnya andai Arum tidak menahan tangan putih tersebut.
“Bapak ini beneran keterlaluan!” omel Arum.
“Yang keterlaluan itu dia, ngomong sama orang tua enggak sopan!” sergah pak Haji.
“Mas Kalandra hanya ngomong, dan itu fakta. Apa kabar Bapak yang beneran sudah mengganggu hidup saya? Beban hidup saya yang sudah banyak, jadi makin banyak gara-gara Bapak!” Mendengkus kesal, Arum juga mendorong kasar tangan kanan pak Haji. Ia meraih ransel jinjing yang sempat buru-buri ia jatuhkan demi menahan tangan kanan pak Haji yang tadi nyaris menampar Kalandra.
Bersama Kalandra, Arum pergi dari sana. Meninggalkan pak Haji yang terus menyusul sambil terus memohon layaknya pengemmis. Keadaan kini membuat Arum membenarkan semua ucapan sekaligus analiasa Kalandra terhadap pak Haji.
Pak Haji menggunakan harta dan kuasanya, pria itu sungguh akan melakukan segalanya hanya untuk mendapatkan keinginan apalagi hasratnya. Yang mana sebelum terpenuhi, pria tua itu juga akan terus berupaya. Tentunya, Kalandra memang tidak memiliki kuasa membantu Arum jika pria itu bukan siapa-siapa Arum. Karena di mata pak Haji, yang boleh melarang pria tua itu mendekati wanita incarannya hanyalah suami si wanita. Itu pun bisa jadi pak Haji juga akan menggunakan harta dan kuasanya untuk membayar sang suami agar mau melepaskan istrinya, agar pak Haji benar-benar memiliki wanita incarannya itu. Sedangkan yang paling tidak Arum suka dari pria itu, tentu kenyataan pak Haji yang sangat kasar. Tak hanya dari segi ucapan. Karena Pak Haji juga ringan tangan. Tak terbayang jika Arum harus menghabiskan waktu yang dipunya untuk berurusan dengan pria tua yang kasar dalam segalanya.
Kini, duduk di sebelah Kalandra yang membawanya pergi meninggalkan pak Haji, cukup membuat Arum canggung. Sebab kenyataan pria itu yang akan menikahinya demi melindunginya dari orang seperti Pak Haji, malah membuat Arum merasa aneh pada hubungan mereka.
“Tuh lihat, dia masih ngikutin. Ke polsek sekalian kalau gitu,” lirih Kalandra yang memang memperhatikan pak Haji melalui kaca spion di kiri dan kanan bagian luar sebelah depan mobil.
__ADS_1
Arum turut menoleh ke belakang. Seperti yang Kalandra keluhkan, pak Haji yang mengemudikan motornya memang terus mengikuti mereka. Alhasil, Kalandra sungguh menuju polsek terdekat. Anehnya, bak menggali lubang untuk kuburannya sendiri, pak Haji tetap mengikuti, masuk ke polsek hanya karena Arum masuk sana.
Ulah pak Haji sempat menjadi guyonan mereka yang sedang piket. Terlepas dari itu, mereka juga sudah akrab dengan Kalandra. Malahan dengan entengnya, Kalandra yang dari menyetir sampai masuk ke kantor polisi masih mengemban Aidan, sengaja menitipkan pak Haji kepada mereka.
“Serius, ini beneran titip. Mau dimacam-macamin ya silakan. Diajak dzikir saja, biar pas malaikat Izrail datang, orangnya sudah siap,” lirih Kalandra tapi menusuk. Mereka yang akan ditinggal makin sibuk bercanda.
“Kalian pada kurangg ajarr, ya!” pak Haji terus protes, tapi yang ada pria itu malah jadi bahan gurauan mereka.
Arum yang sempat melangkah dan kembali digandeng Kalandra, mendapati bayinya tidur. Karenanya, ia sengaja mengambil alih. Sehari bersama Kalandra, Aidan sudah memakai pakaian lengkap dengan kaus kaki maupun jaket baru. Entah apa saja yang telah dilakukan keduanya, tapi dari interaksi keduanya, hubungan Aidan dan Kalandra terlihat sangat seru. Belum lagi nanti saat Aidan sudah makin banyak tingkah, pasti hubungan keduanya akan makin seru, seperti hubungan sahabat sangat dekat pada kebanyakan.
“Sehari apa dua hari, pak Haji ditahan. Namun setelah keluar, dia pasti balik cari kamu lagi. Atau mungkin, itu bagian dari proses tua dia, ya? Maksudnya, kalau orang tua kan pemikirannya bakalan balik kayak anak kecil lagi?” ucap Kalandra yang sampai membukakan pintu mobil untuk Arum.
“Memang sudah watak kayaknya Mas. Buktinya, Septi dan keluarganya saja seperti itu, ya pantas pak Haji ngeyelnya kebangetan wong mereka sama-sama pengidap darah orang ngeyel!” balas Arum.
“Katanya mau ke rumah orang tua Mas ...?” tanya Arum.
“Rumah orang tuaku kan memang di depan. Memangnya, kamu belum tahu?” balas Kalandra santai. Arum yang kali ini sampai menatapnya, refleks menggeleng.
“Aku pikir, jauh, Mas.”
“Enggak, dekat.” Kalandra menggeleng santai.
Dalam diamnya Arum mencoba mengingat semua informasi yang ia ketahu mengenai Kalandra. Kabarnya, bapaknya Kalandra seorang DPR. Rumah orang tua Kalandra menjadi bangunan rumah terbesar dan letaknya tidak jauh dari SMA Rani menuntut Ilmu. Sementara kemarin, Kalandra berdalih sang ibu sedang sibuk bantu urus peternakan yang sedang panen ayam. Tentu kenyataan tersebut membuat Arum yang bukan siapa-siapa minder. Namun, jawaban Kalandra tidak mau menunggu Arum menjadi orang sukses dulu hanya agar mereka bisa menikah.
__ADS_1
“Aku enggak mau atur-atur, asal kamu bisa bagi waktu, aku juga akan dukung cita-cita sekaligus kesibukan kamu. Kamu cukup kasih arahan agar semuanya enggak serba kamu yang turun langsung, usaha kamu pasti sukses. Sementara alasan kenapa kita harus buru-buru menikah, tentu karena pak Haji. Memang jalannya sudah gini, mungkin.” Kalandra yang baru mematikan mobilnya berangsur menatap Arum. “Enggak usah berpikir macam-macam apalagi minder. Sejauh ini kamu sudah sangat bekerja keras. Dan karena kerja kerasmu, kamu sudah terlalu sering melukai diri kamu.”
“Orang tuaku bukan orang tua kolot. Kalau kamu penasaran mereka seperti apa, kamu bisa lihat aku. Karena adanya aku seperti ini, memang cerminan dari mereka. Aku meniru segala didikan yang mereka berikan sekaligus lakukan kepadaku.”
“Tentunya, alasan aku maju dan berani membawa kamu, ... karena memang mereka apalagi ibu, sudah kasih restu.”
“Semudah itu, ... Mas?” Arum terbengong-bengong tak percaya.
“Lha, hidup kan memang mudah. Gaya hidup manusianya saja yang bikin kita jadi sampai menciptakan level hidup,” balas Kalandra sambil melepas sabuk pengamannya.
Arum refleks mengembuskan napas pelan tapi panjang melalui mulut. Ia sampai menunduk, merasa aneh dan memang karena ia terlalu sulit untuk percaya. Benarkah Kalandra dan keluarganya yang dari keluarga berada malah memiliki pemikiran bahkan kehidupan yang begitu sederhana? Benarkah semuanya sesederhana sekaligus semudah yang Kalandra yakinkan.
"Kamu jangan kaget kalau ketemu orang tua aku,” ucap Kalandra sambil membuka pintu mobilnya. Mereka memang sudah sampai di sebelah gerbang rumah orang tuanya. Ia memarkir mobil di sana karena di tempat parkir dalam sudah penuh oleh dua mobil dan tiga motor yang diparkir rapi.
“Mas, jangan bikin aku takut!” sergah Arum ragu untuk turun meski di luar, Kalandra tengah membuka gembok gerbang.
“Takut bagaimana? Aku pastikan lebih menakutkan pak Haji!” balas Kalandra masih santai.
“Mas, ih ... malah bercanda!”
“Kalau kamu terus di situ. Nanti kalau pak Haji datang lagi, aku malas tolongin kamu.” Kalandra membuka pintu gerbangnya selebar mungkin, kemudian menghampiri Arum yang masih tidak mau turun.
“Sudah Aidan sama aku, kamu sama pak Haji. Toh, pak Haji juga enggak mau sama Aidan!” Kalandra mengambil alih Aidan yang masih tidur dalam dekapan Arum. Seperti yang ia duga, Arum buru-buru menahannya, berpegangan pada sedikit kaus bagian punggungnya. Bergegas wanita itu turun sambil menenteng ransel, kemudian menutup pintunya dan ia pun menekan tombol kunci mobil yang ia pegang menggunakan tangan kanan.
__ADS_1