
“Jangan kecapaian. Tetap wajib istirahat walau pesanan membludak,” ucap Kalandra sambil mengelus-elus punggung sang istri yang tengah ia peluk.
Arum mengangguk-angguk kemudian membiarkan Kalandra menggandengnya. Pagi ini, suaminya itu akan pergi kerja. Sudah rapi dan niatnya menggunakan motor. Namun melihat langit yang gelap, Arum meminta suaminya itu untuk pergi menggunakan mobil.
“Hai?”
Sapaan tak berdosa itu dari pak Haji yang sudah duduk di luar gerbang rumah orang tua Kalandra. Walau sama-sama mengetahui, Kalandra dan Arum kompak mengabaikan pak Haji.
“Aku sudah pakai jaket, kok, Yang. Nanti sekalian pakai mantel hujan,” ucap Kalandra yang tengah memakai sepatu pantofel warna merahnya.
“Langitnya masih segelap ini, Mase. Mirip jenazah yang masih gentayangan. Pakai mobil saja lah. Telat dikit enggak apa-apa daripada sudah hujan-hujanan, ya telat juga, ya sakit juga,” ucap Arum yang kemudian pamit mengambil kunci mobil, membuatnya masuk ke dalam rumah.
Melalui ekor lirikannya, Kalandra mengawasi pak Haji. Penuh ketenangan dan memang tak terusik oleh hadirnya pria tua yang makin hari kulitnya makin gelap, ia menuju mobilnya yang memang sampai ditutup menggunakan penutup mobil khusus. Berhubung mobilnya terparkir tak jauh dari pak Haji, ia sengaja mengibaskan penutup mobilnya ke arah pak Haji yang detik itu juga sibuk bersin dan sampai batuk-batuk.
“Woiii, aku mau beli bebek sama ayam ungkep kok disiksa gini! Pembeli itu raja, loh!” protes pak Haji.
Kalandra tak peduli, dan tetap mengibaskan penutup mobil hingga tuntas sebelum akhirnya, ia juga melipatnya rapi, menaruhnya di teras. “Bengek-bengek, sono!” batin Kalandra. Apalagi selama satu minggu ini, penutup mobil itu sudah melindungi mobilnya dari segala kottoran maupun terpaan air hujan.
Tak lama kemudian, Arum yang baru datang, kebingungan melihat pak Haji. Namun setelah menghirup udara di sana yang kurang nyaman di hidungnya, ia paham. Alasan pak Haji begitu pasti efek penutup mobil Kalandra.
“Ya Alloh, tolong hujan yang deras sederas-derasnyaaaa!” ucap Kalandra sambil menerima kunci mobilnya dari Arum.
“Aku mau mampir, bertamu ini. Mau lihat proses pembuatan ayam dan bebek ungkepnya!” ucap pak Haji yang sampai sesak napas, bersin, bahkan terkesan bengek.
__ADS_1
“Enggak usah, terima kasih.” Kalandra langsung menyikapi dengan sinis, tapi ia segera mundur padahal ia baru membuka pintu mobilnya.
“Kenapa, Mas?” Arum melongok, memastikan keadaan dalam mobil sang suami. Tak ada yang salah. Aromanya pun masih sama. Semuanya ia rasa wajar.
“Aroma mobilku kok enggak enak banget, ya?” ucap Kalandra sambil memijati hidungnya yang memang mancung.
Arum mengernyit heran. “Emang wangi jeruk, kan?” ucapnya.
“Yang, ... tolong buang aja tuh wewangiannya. Kalau bisa ganti pakai minyak telonnya Aidan saja yang seger. Duh, kepalaku langsung pusing gini. Mmm, sampai mual, Yang.” Rasa tidak nyaman yang ia keluhkan, sampai membuat seorang Kalandra duduk di teras rumahnya.
“Nah, kualat kan!” pak Haji mengomentari keadaan Kalandra. Ia mengintipnya dari sela jeruji gerbang bercat hitam di hadapannya.
Arum menghela napas sekenanya, kemudian masuk mobil, mengeluarkan semua wewangian beraroma jeruk dari dalam mobil suaminya. Ada tiga kemasan di sana. Satu di bagian depan sebelah setir, satu tergantung di tempat duduk penumpang sebelah tengah. Satu lagi ada di belakang dan memang sengaja begitu agar mobil selalu segar. Kalandra sendiri yang menceritakannya kepada Arum, ketika wanita itu bertanya sebelum mereka menikah. Lebih tepatnya karena Kalandra memang menyukai wewangian beraroma jeruk. Semacam parfum saja, pria itu memakainya yang ada aroma jeruknya.
“Buang yang jauh, ... apa masukin kresek terus baru taruh penampungan. Pokoknya jangan sampai aromanya keluar. Aku mau ambil minyak telon Aidan dulu, takutnya malah enggak bisa kerja saking puyeng dan mualnya gini.” Kalandra melangkah loyo masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Arum.
“Kenapa, Mbak?” tanya ibu Kalsum yang kebetulan di ruang makan, tengah sarapan dengan sang suami.
“Dibuang, Mah. Katanya bikin Mas Kala pusing,” balas Arum.
“Pusing gimana?” tanya ibu Kalsum langsung khawatir. Ia refleks bertatapan dengan sang suami.
“Enggak tahu Mah, ini Mas Kala. Pokoknya wajib bungkus rapat terus buang, biar aromanya enggak menyebar,” balas Arum sambil terus melangkah ke dalam, ke dapur yang sudah mulai sibuk membuat bebek dan ayam ungkep selaku bisnis rumahan terbaru mereka. Di sana sampai ada dua pekerja yang membantu.
__ADS_1
“Yang, kok kamu bau jeruk? Kamu lupa cuci tangan, ya?” keluh Kalandra ketika Arum mendekatinya.
Aroma mobil Kalandra sudah dikuasai aroma minyak telon Aidan. Di tangan kanan Kalandra, botol minyak telon berukuran besarnya nyaris kosong. Padahal seingat Arum, tadinya isinya nyaris penuh.
“Itu, ditumpah siram sana sini, Mas?” tanya Arum memastikan dan memang telanjur mendelik menatap botolnya. Sebanyak itu langsung habis, jiwa emak-emaknya yang sangat berprinsip ekonomi level tinggi langsung meronta-ronta.
Arum sungguh ingin berkata, “Kok gitu, sih? Boros ih!” Namun melihat mata suaminya sampai sayu, yang ada ia malah tidak tega. Baru ia sadari, rasa cintanya kepada Kalandra, bisa dengan mudah mengalahkan jiwa emak-emaknya yang mengedepankan pengiritan.
“Iya. Biar aroma langu dari parfum jeruknya hilang. Lagian, Aidan masih punya banyak stok, kan? Ini aku ambil dua. Satunya buat jaga-jaga, aku taruh tas kerja,” balas Kalandra yang kemudian meraih kedua tangan Arum, membalurinya dengan sisa minyak telon.
“Dua segede galon gitu harusnya bisa buat tiga bulanan, Mas!” batin Arum masih merasa belum ikhlas.
“Kamu kenapa?” tanya pak Sana yang akhirnya datang bersama ibu Kalsum.
Kalandra belum sempat menjawab, tapi yang di luar gerbang sudah sibuk berteriak karena hujan yang turun langsung sangat deras.
“Jam segini sudah ngelayab? Beneran waras!” kesal ibu Kalsum kepada pak Haji. Pria itu memohon masuk, tapi demi keamanan bersama khususnya keamanan Arum, mereka mengabaikannya.
Karena diabaikan, pak Haji memilih pergi. Ngebut, menerobos hujan sangat deras layaknya ksatria yang tidak berguna. Kini, semua fokus perhatian tertuju kepada Kalandra. Namun, Kalandra yang telah membuat semuanya cemas, meyakinkan dirinya baik-baik saja.
Mengambil payung, Arum membukakan pintu gerbangnya untuk sang suami. Satu persatu dari mereka pergi. Kalandra dan pak Sana mengemudikan mobil masing-masing. Sementara Arum memilih masuk bersama ibu Kalsum.
Merasa cemas dengan keadaan sang suami, Arum yang sibuk di dapur, tetap menyempatkan diri untuk mengirimi pria itu pesan WA.
__ADS_1
Sayang : Mas, aman? Masih mual sama pusing? Sudah sampai kantor, kan?
Arum mendapati waktu sudah pukul tujuh pagi. Harusnya suaminya sudah sampai kantor.