Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
124 : Biar Enggak Spaneng


__ADS_3

“Belum ada kabar juga?” lirih Kalandra yang baru dibangunkan sang istri. Di hadapannya, Arum yang sampai duduk sambil mengungkung tubuhnya, berangsur menggeleng. Wanitanya itu nyaris menangis. Di tengah suasana kamar mereka yang masih temaram, Kalandra melihat wajah cantik istrinya dikuasai mendung.


Kalandra berangsur menghela napas pelan sekaligus dalam. Ia meraih sebelah pipi Arum yang ia elus kemudian keccup. “Kalau gitu, nanti sore kita ke Jakarta. Tapi kamu jangan terlalu tertekan. Ingat, kamu lagi hamil.” Kali ini, ia yang masih bertutur lirih, menatap intens kedua mata Arum. Tangan kanannya masih membingkai wajah kiri Arum. Walau sudah sampai menitikkan air mata, Arum berangsur mengangguk-angguk, menyanggupi permintaannya dan perlahan memeluknya.


“Makasih banyak yah, Mas! Makasih banyak karena Mas selalu ngertiin aku! Makasih banyak karena Mas selalu kasih yang terbaik buat aku!” lirih Arum.


“Jangan makasih terus ih, Yang. Aku suamimu, apa yang aku lakukan sudah jadi kewajibanku. Pokoknya jangan makasih terus, yang ada aku kesannya panti sosial,” lirih Kalandra sesaat setelah ia balas memeluk Arum.


“Mas, ih ... kalau bukan bilang makasih, terus aku gimana, biar Mas tahu aku menghargai apa yang Mas lakukan ke aku?” rengek Arum sambil sesekali mencubit asal perut suaminya.


“Ciumlah ... masa iya gini, malah dicubitin? Aku kan enggak nakal, Yang!” balas Kalandra yang walau mesem, tapi juga sesekali meringis menahan cubitan Arum.


Tanpa pikir panjang, Arum sungguh menarik diri, membuat mereka agak berjarak, kemudian mengabsen wajah sang suami yang masih memeluknya dengan ciumaan. Detik itu juga kejailan Kalandra makin menjadi-jadi karena sepanjang Arum melakukannya, pria itu malah cekikikan, sibuk menahan tawa.


“Aku begini karena aku terlalu bahagia. Kamu tahu, kan?” ucap Kalandra berusaha memberi tahu sang istri agar tidak salah paham. Lihat saja, istrinya langsung menatapnya dengan tatapan sebal.


“Mas jail banget ih!” lirih Arum.


“Biar enggak spaneng, Yang!” Kalandra berangsur duduk, kemudian merengkuh tubuh sang istri yang ia simpan di pangkuannya.


“Ini yang di perut lagi ngapain?” ucap Kalandra sambil mengelus perut Arum.


Sambil mendekap tengkuk suaminya menggunakan kedua tangan, Arum yang juga menyandarkan kepalanya di pundak kanan Kalandra berkata, “Masih anteng. Besok kalau sudah empat bulan baru mulai aktif.”


Kalandra langsung mesem, kemudian tatapannya teralih ke sebelahnya. Di sana, Aidan masih lelap tanpa mau diselimuti. “Masnya juga masih anteng. Kompak pengertian soalnya mereka tahu, Mamahnya lagi enggak bisa tenang.”


“Alhamdullilah, sekarang aku beneran dikelilingi orang-orang yang sangat pengertian, Mas. Kemarin saja mamah Kalsum sampai bilang, dikasih tiga cucu lagi sekaligus, mamah kuat sanggup urus! Mamah bilang, sekarang mamah sudah pinter urus cucu!” lirih Arum sengaja bercerita.


“Sumpah, ya ... si Mamah jadi sombong banget!” Kalandra tidak bisa untuk tidak tertawa, tapi ia sengaja menahannya karena di sana Aidan masih lelap.


Arum mesem. “Tapi jujur, aku sayang banget ke mamah Kalsum, Mas. Ke papah juga. Sama mereka tuh ... ibarat sama bestie.”

__ADS_1


“Terus, sama aku, gimana?” tanya Kalandra sampai berusaha melongok wajah Arum hanya untuk menatap wajahnya secara langsung. Ia ingin melihat ekspresi sang istri kala menjawab pertanyaannya.


Arum menghela napas pelan kemudian menatap suaminya penuh kesungguhan. “Ke orang tua Mas saja aku sayang banget, apalagi ke Mas? Emas Kalandra, kan?”


Kalandra mesem dan perlahan tersipu.


“Andai Mas si Tomi, sudah aku gorook leher Mas sekarang juga!” ucap Arum tiba-tiba dan membuat Kalandra kaget.


“Kok gitu? Aku ini suami kamu, Yang!” bisik Kalandra masih syok.


“Ya maksudnya, Mas ... emosi banget aku! Nanti ke Jakartanya aku mau bawa taflon sama wajan, ya?” balas Arum. Kalandra yang masih menatap sekaligus menyimaknya, mengangguk-angguk.


“Ingat, emosi dan mood ibu hamil sangat mempengaruhi emosi janin sekaligus anak sampai mereka besar. Jadi tolong banget yah, jaga emosinya. Takutnya yang di perut jadi tempramen, atau malah introvert parah,” lirih Kalandra. Kedua matanya memang fokus menatap kedua mata Arum, tapi tangan kanannya sibuk mengelus perut Arum.


Arum langsung tersenyum ceria memandangi wajah suaminya. “Tenang, Mas. Aku pasti akan melakukan yang terbaik. Aku bakalan tetap bisa kontrol emosi aku. Karena sesedih apa pun aku sekarang, aku punya Mas dan orang tua Mas yang tulus banget ke aku. Sekarang aku beneran enggak berjuang sama Aidan. Sekarang aku punya kalian dan semuanya jadi terasa mudah. Aku yakin, yang di perut bakalan enggak kalah ceria dari mamah Kalsum!”


“Jangan sih, jangan kayak mamah Kalsum, keberisikan!” balas Kalandra masih berbisik-bisik.


“Ih, Masssss, bagus tahu. Nanti yang kayak mamah Kalsum, jodohnya kayak papah Sana juga karena mereka sangat cocok!” yakin Arum yang diam-diam mengidolakan sifat rame mamah mertuanya.


Tanpa menjawab, Arum berangsur membingkai wajah Kalandra, mengecup sebelah pipi itu pelan, kemudian mendekapnya hangat. “Cocoklah ... nyatanya langsung jadi, dan bentar lagi kita punya anak.”


Kalandra menahan senyumnya sambil mengangguk-angguk.


“Kita bahkan nyaris enggak pernah bertengkar atau sekadar debat, kan, Mas?”


“Memangnya apa yang mau didebatin?”


“Nah, iya ... kalaupun ada hama, biar aku yang libas, Mas!”


“Serius Yang ... aku beneran pengin punya anak perempuan kayak kamu yang cerianya mirip mamah!”

__ADS_1


“Sabar ih, Pak! Yang di perut saja, masih berupa embrio ....”


“Ya ampun, Yang ... sepagi ini, aku yang awalnya khawatir banget ke kamu, takut kamu tertekan karena terlalu khawatir ke mbak Resty, malah jadi lawak gini!”


“Kan biar enggak spaneng, Mas. Aku enggak mau egois, hanya karena aku sedih, semuanya jadi sedih.”


“Sarangheyo, pokoknya, ya?” ucap Kalandra yang berangsur menatap wajah Arum khususnya kedua mata istrinya lagi. Tangan kanannya menahan punggung kepala sang istri yang perlahan mengangguk sambil berbinar-binar menatapnya.


***


“Kalau mau ke Jakarta, Aidan jangan dibawa. Aidan di rumah saja sama Mamah.” ibu Kalsum langsung wanti-wanti.


Arum langsung meleot, melow. “Ke pasar enggak ajak Aidan saja aku galau, Mah.” Ia menatap sang suami yang duduk di sebelahnya sambil sarapan.


Di hadapan Arum, ibu Kalsum menghela napas pelan sekaligus dalam. “Konteksnya beda, Mbak. Jakarta itu jauh. Bisa sekitar dua belas jam jaraknya dari sini. Itu saja kalau enggak macet. Kasihan Aidan apalagi kamu juga lagi hamil. Urusan kangen nanti cukup telepon. Mamah pasti urus, Aidan dijamin aman damai sentosa!” yakinnya.


“Iya, gitu saja. Biar kalian juga lebih leluasa mau ngapain di sana. Malahan kalau Aidan diajak, takutnya keteteran,” timpal pak Sana yang juga sedang sarapan di sebelah sang istri, sambil sesekali menatap Arum maupun Kalandra yang duduk di hadapannya.


“Iya, gitu saja. Lagian kalian enggak akan lama-lama atau malah transmigrasi ke sana, kan?” sergah ibu Kalsum.


Sambil meraih segelas air putih di sebelah tangan kanannya, pak Sana berkata, “Masih satu pulau ya bukan transmigrasi, Bueee!”


Ibu Kalsum nyengir. “Ya maksudnya Pah ih!”


“Ya sudah, kalau gitu, kami ikut saran sama Mamah Papah saja,” ucap Arum pasrah. Di sebelahnya, Aidan yang duduk di kursi bayi dan turun sarapan, masih sibuk mengacak-acak rebusan brokoli, wortel, dan juga kentangnya.


Semuanya kompak tersenyum damai, melanjutkan acara sarapan mereka sambil menjadikan Aidan sebagai pusat perhatian.


“Giginya sudah ada empat, jadi apa-apa dilahap yah, Mas?” goda Kalandra.


“Biarin, biar sehat. Belajar ngunyah itu!” ibu Kalsum begitu bangga kepada Aidan apalagi sejauh ini, ia turut berperan dalam mengurus tumbuh kembang bocah itu.

__ADS_1


***


Yang nanya novel Resty, sudah up ya, judulnya : Pembalasan Istri yang Terbunuh (Suamiku Simpanan Istri Bos)


__ADS_2