Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
114 : Rungkad


__ADS_3

“Saiki aku wis sadar ... terlalu jero mencintaimu ....”


Suara sumbang bak angin ribut milik pak Haji barusan langsung menyambut kehadiran Arum yang keluar menemani sang suami, untuk berangkat kerja. Pagi ini, kedua sejoli itu langsung terbengong-bengong atas ulah pak Haji yang sampai membawa dua tutup panci. Kedua tutup panci itu terus ditabuh satu sama lain, terlepas dari pria itu yang jogedan di depan gerbang.


“Rungkad entek-entekan, diuji koe sing paling tak sayang, koe mbojo mbi lanangan liyo, tego tenan


sayang-sayangan!” lantun pak Haji.


Kalandra tak marah. Malahan pria itu susah payah menahan tawanya. Sambil sesekali melirik pak Haji yang masih asyik dangdutan, Kalandra berangsur merunduk. Tak tanggung-tanggung, ia menyibak piama lengan pendek Arum, masuk ke sana hanya untuk menempelkan bibirnya di perut sang istri sambil berbisik, “Amit-amit. Wislah, Dek. Papah enggak akan marah-marah lagi. Papah mau jadi orang lebih baik lagi agar kita semua, sama-sama sehat dan juga dimudahkan rezeki.”


Baru Arum sadari, aroma parfum pak Haji makin tak bersahabat di indra penciumannya. Ia mulai agak mual dan jadi mengkhawatirkan Kalandra yang masih memegang kendali mengidam. Namun entah kenapa, suaminya itu malah sampai membenamkan wajahnya di perutnya. Masih rata saja, perutnya begitu disayang-sayang. Apa kabar kalau sudah sangat besar?


Kalandra berangsur berdiri dituntun oleh sang istri.


“Ini, aku enggak dibayar?” tanya pak Haji kebingungan, dan kebetulan memang baru kelar nyanyi sekaligus jogedannya.


Kalandra yang masih memakai masker putih berhias beberapa stiker aroma terapi, berangsur menatap pak Haji. “Oh, memang ngamen?” Ia memastikan. Pak Haji yang balas menatapnya, buru-buru mengangguk.


“Iya, lumayan buat sarapan. Namun, sarapanku cukup melihat senyumnya dek Arum sih,” ucap pak Haji tersipu-sipu melirik Arum.


“Kalau begitu caranya, berarti sampai malaikat maut menjemput, pak Haji bakalan busung lapar karena senyum istriku enggak akan pernah luber sedikit pun buat laki-laki lain, apalagi pak Haji!” sergah Kalandra.


“Jangan takabur begitu, kamu Pak Pengacara. Gini-gini, saya musafir cinta yang dengan seharusnya, Pak Pengacara muliakan!” balas pak Haji.


Kalandra menahan tawanya sambil geleng-geleng. “Musafir cinta, ... terus, itu tutup panci siapa?”


“Ambil di dapur istri lah, biar buat senjata perang dapatin istri orang!” balas pak Haji lagi.


Terlepas dari kelakuan pak Haji yang makin menggemaskan, Kalandra sengaja menanyakan kabar Septi, dan dikata pria itu ikut sang istri.


“Bapaknya Septi beneran dipenjara enggak, sih?” Kalandra awalnya bersedekap, tapi pria itu menyadari istrinya yang menemani menjadi nganggur. Karenanya, ia sengaja menggenggam sebelah tangan Arum menggunakan kedua tangannya sambil menyimak cerita pak Haji.


Praaang!


Pak Haji yang cemburu melihat gandengan tangan Kalandra dan Arum, sengaja mendendangkan kedua tutup pancinya. Kalandra apalagi Arum nyaris jantungan karenanya. Malahan, sandal di kaki kanan Arum sudah langsung refleks melayang mengenai jidat pak Haji.


“Aku maunya sarapan senyum kamu, loh, Dek Arum. Bukan sandal yang bikin mumet gini!” keluh pak Haji sambil merengut manja. Ia mengusap-usap gemas jidatnya yang langsung ungu kehitam-hitaman.

__ADS_1


“Sudah, jawab pertanyaan suamiku saja. Gimana kabar sebenarnya hubungan orang tua Septi,” omel Arum kepada pak Haji.


“Mereka ya bertiga aja, enggak ada pisah-pisah. Enggak ada perceraian karena yang di kandang, enggak mau dicerai. Poligami kan memang indah, ... berbagi cinta memang indah, kan? Si Yusuf pun enggak jadi dipenjara karena dia akan bantu tebus yang di kandang.”


Arum sengaja menyela ucapan pak Haji, “Maksudnya yang di kandang itu, siapa, sih, Mbah?”


“Ya si Fat, lah, Dek. Di kandang pesakitan, kan, dianya?” balas pak Haji dengan santainya.


Mendengar itu, Arum langsung menggeleng tak habis pikir. Tak lupa, ia menggunakan tangannya yang bebas dan tak sampai digenggam Kalandra, untuk mengelus-elus perutnya. “Amit-amit.”


“Terus si pak Yusuf, beneran lepas tangan ke si Septi?” sergah Kalandra.


“Urusan Septi, ya tanggungan suaminya. Menurut agama saja gitu, anak perempuan yang sudah nikah, itu tanggungan suaminya,” balas pak Haji masih santai.


Sambil melepas kaitan sebelah maskernya, Kalandra berkata, “Kalau anak perempuan yang sudah menikah, tapi dipoligami sama suaminya, dan suaminya enggak mau tanggung jawab lagi, ini gimana urusannya, Mbah?”


Pak Haji langsung kebingungan karena bagaimanapun, yang Kalandra katakan barusan, mirip nasib istri-istrinya.


Sambil menatap sekaligus menghadap sang istri, Kalandra sengaja pamit. “Ya sudah, Yang. Aku berangkat dulu. Nanti kalau Aidan sudah bangun, kirim videonya, ya.”


“Satu saja cukup, loh, Mbah! Sebahagia ini, enggak ribet juga! Pengin sensasi lain, ya ajak bulan madu terus,” pamer Kalandra sambil mengelus-elus lengan Arum yang sampai ia rangkul punggungnya.


Pak Haji mendengkus lemas. “Masa iya, saya harus cerai sementara Tuhan sangat membenci perceraian.”


“Di sini enggak ada yang minta Mbah buat cerai. Karena kalau memang sudah telanjur punya istri lebih dari satu, selain wajib selalu adil, otomatis tanggung jawab Mbah juga lebih berat. Istri itu enggak hanya butuh dinikahi. Semacam nafkah lahir batin pun wajib dipenuhi. Apalagi kalau lihat Mbah yang sepagi ini sudah di sini.” Arum berbicara panjang lebar, seiring tangan Kalandra yang juga makin sibuk mengelus sebelah lengannya.


“Sekaya apa pun, kalau Mbah enggak bisa fokus apalagi Mbah enggak bisa kasih contoh baik ke keluarga Mbah, MUBAH!” jelas Arum yang kemudian pamit masuk ke dalam rumah karena Kalandra pun sudah memintanya untuk masuk.


Kalandra mesem melepas kepergian punggung Arun. Senyum yang masih ia bagikan kepada pak Haji, seiring ia yang membuka gembok gerbangnya sendiri.


“Ajari aku biar Dek Arum juga mencintai saya, dong!” sergah pak Haji bersemangat.


“Nadjeez! Wong istri kok dibagi-bagi,” balas Kalandra yang kemudian memakai helemnya.


Praaaang!


Ulah pak Haji yang kembali menabuh tutup pancinya, sukses mengejutkan Kalandra. Kalandra yang baru akan menuntun motor gedenya refleks latah.

__ADS_1


“Sudah sana pulang. Jangan berisik, Aidan masih tidur dan memang masih sumeng!” omel Kalandra sambil menuntun motornya.


“Makanya kalau masih kecil, jangan dikasih adik dulu. Itu namanya sundulen, jadi gampang kena sakit sama sawan!” balas pak Haji kali ini menasihati.


“Masa iya, saya kasih adiknya, pas Aidan seusia Mbah? Ya kurang banyak, Mbah. Cita-cita saya kan punya anak banyak!” balas Kalandra.


Pak Haji langsung kepo. “Memangnya sehari, bisa sampai berapa kali?”


Mendengar itu, Kalandra yang baru menyekandarkan motornya langsung menahan tawanya. Ia paham apa yang dimaksud pak Haji.


“Ditakoni wong tua kok malah cengar-cengir gitu!” omel pak Haji saking penasarannya pada Kalandra yang sudah siap pergi.


Kalandra tersenyum semringah menatap pak Haji yang terlihat makin penasaran. Ia sudah bersiap di atas motornya, dan mesin motor pun sudah langsung ia panasi.


“Gini!” tegas Kalandra memamerkan kelima jari tangan kanannya.


“Ah, halu, pasti itu mah!” ucap pak Haji yang sebelumnya, sempat syok.


Kalandra menahan tawanya. “Mbah kalah, kan, meski istri Mbah, ada banyak?”


Pak Haji sibuk menggeleng. “Enggak mungkin sih, itu pasti halu!”


“Yang halu itu Mbah! Ngapain juga saya halu, sama istri sendiri dan memang ada waktu.”


“Oh, berarti lima kalau lagi banyak waktu. Kalau lagi enggak banyak waktu, berapa?”


“Sudah sana pulang, ngapain palah bahas gini.”


“Penasaran ih, jawab aja dulu. Orang tua ini yang tanya.”


“Pas begini, mengakui kalau dirinya sudah tua.”


“Pak Pengacara!”


“Ya Alloh, Mbah. Rutinnya dua sampai tiga kali. Sudah sana pulang, praktik sama istri sendiri!” Kalandra meninggalkan pak Haji sambil menggeleng tak habis pikir.


Pak Haji terbengong-bengong melihat kepergian Kalandra. “Dua sampai tiga kali ini rutin. Ini sih luar biasa!” Saking tak percayanya, pak Haji refleks menjatuhkan kedua tutup pancinya. Detik itu juga ia terkejut dan sampai terlonjak kemudian memarahi keduanya yang ia tatap geram.

__ADS_1


__ADS_2