
“Enggak usah pura-pura kaya, soalnya pada kenyataannya kamu enggak punya apa-apa. Takutnya kalau sampai pura-pura, yang ada kamu tekor bin bangkrut karena harus menutupi kebohongan kamu dengan kekayaan palsu. Sudah nanti kamu langsung bilang saja ke bapakmu mengenai tujuanmu ke sini. Kalaupun sekarang kamu belum bisa nyeruduk bapak kamu dengan kekuatan banteng dan badak, cukup tunggu kapan kamu mampu jadi orang sukses. Soalnya daripada digilas pakai kaki badak, lihat orang yang pernah kita sakiti malah kipas-kipas pakai duit matang, beneran lebih bikin sakit!”
“Jadi, sekarang semuanya beneran ada di tangan kamu. Beneran enggak ada yang bisa bantu lagi termasuk saya. Kalau kamu bisa membuktikan kamu bisa sukses, kamu bisa bahagia syukur-syukur kaya, orang yang awalnya nyepelein dan dengan sengaja buang kamu pasti bakalan langsung kasih madu ke kamu. Beda sama sekarang, sekarang kan kamu ibarat garam, semacam ular saja enggak ada yang mau dekat kamu kecuali ular itu picek alias buta!”
“Kalau kamu bisa buktiin dan kamu beneran sukses, berarti kamu menang. Namun kalau kamu kalah oleh kemalasan dan juga kegoblokann kamu, ya wasalam. Kamu bakalan terus jadi garam dan hanya didekati oleh ular picek tadi.”
“Kamu pasti bisa apalagi kamu sampai jadi sarjana. Kamu jangan salah dari Arum, dia cuma tamat SMP, mantan TKW sama ART bisa sesukses itu karena dia ada kemauan dan enggak takut capek.”
“Intinya, walau hanya modal nekat, asal kamu sungguh-sungguh, ulet dan enggak takut capek apalagi sakit, maju saja.”
“Jangan lupa, kalau kamu sibuk gerak urus ini itu, kamu pasti enggak sebengkak ini!”
Rozak yang ikut menyimak siraman rohani dadakan dari pak Haji, sampai kagum pada pria botak berambut cepak dan semuanya sudah kompak menjadi uban itu. “Asal enggak dihadapkan pada janda bohay, otak pak Haji memang seimbang!” batinnya.
“Ya sudah Pak Gede, tapi kalau aku emosi karena aku yakin, papahku enggak mau urus pernikahanku, aku boleh ngamuk, kan?” balas Septi menurut dan kali ini sungguh-sungguh.
“Wajib bin harus! Apalagi lihat tubuhnya sudah sekurus itu, remukin saja kalau dia enggak mau. Nanti saya ikut bantu!” balas pak Haji.
“Bantu gimana, Pak Gede?” tanya Septi yang masih berucap lirih dan memang penasaran.
“Ya bantu doa! Bantu doa dalam hati!” balas pak Haji meyakinkan. Lantaran Septi langsung mendengkus dan tampak ngambek kepadanya, ia pun menjelaskan. “Yang benar saja, Sep. Tahun ini saya genap tujuh puluh tahun. Saya masih ingin panjang umur karena masih mau jadi Musafir Pengejar Cinta Janda. Saya berharap beneran bisa nikah sama janda kayak Arum!”
__ADS_1
Septi berangsur berdeham. “Ya sudah. Berhubung Pak Gede sudah baik banget ke aku. Aku bakalan bantu doa baik-baik juga buat Pak Gede. Semoga, Pak Gede panjang umur, dilancarkan rezeki karena aku yakin kalau sampai iya, pasti bakalan berdampak baik juga ke aku. Terus, semoga Pak Gede juga bisa dapat janda bohay seperti mbak Arum. Tapi setahu aku, mbak Arum juga punya adik perempuan dan statusnya juga janda loh, Oak Gede!”
Mendengar itu, pak Haji langsung semangat dua ribu dua puluh tiga. “Sumpah itu, Sep? Si Arum punya adik yang sampai sudah janda?”
“Sumpah pak Gede! Kata mamah, dia juga suka ambil nugget di kontrakan si Angga. Dia kan jualan gitu,” balas Septi yakin.
“Ah kamu, Sep! Kenapa baru bilang sekarang. Padahal kan harusnya, enggak dapat kakaknya, dapat ....”
“Dapat mamahnya saja Pak Gede. Mamahnya mbak Arum kan masih ada. Lebih matang dan pikirannya pasti lebih dewasa.”
“Ya beda lagi, itu pasti sudah enggak enak!”
Obrolan antara pak Haji dengan Septi, sukses membuat Rozak terbahak-bahak.
“Ya beda lagi. Dewasanya mamake Arum pasti lebih dari saya! Ya mending kalau enggak dapat kakaknya, paling tidak dapat adiknya. Lebih muda, dagang jualan juga berarti pekerja keras juga ini mirip Arum!” pak Haji benar-benar bersemangat, selanjutnya, giliran Septi yang beraksi.
Pak Yusuf yang tengah ikut beres-beres dealernya, sampai tidak mengenali bahwa wanita gendut berhijab dan penampilannya khas ibu-ibu mirip yang baru saja berbondong-bondong pergi setelah sempat membuat keonaran di sana. Ia menatap saksama wajah di hadapannya yang juga ditemani oleh adik dari bapaknya.
“Itu beneran anakmu, bukan orang ngaku-ngaku. Habis lahiran jadi gitu emang, kesannya kayak korban operasi gagal efek malpraktik. Niat operasi biar makin cantik, tapi malah mirip habis disengat tawon raksasa ramai-ramai!” ujar pak Haji meyakinkan.
Pak Yufus yang wajah sebelah kirinya sampai lebam parah, menatap Septi dengan tatapan frustrasi. “Kamu mau ngapain lagi?”
__ADS_1
“Kok Papah tanya gitu? Ngapain lagi? Baru juga ke sini sudah ditodong gitu, kesannya aku terus-terusan minta ini itu ke Papah!” Kesal Septi.
“Hampir satu tahun Papah ninggalin aku. Malahan Papah ninggalin aku pas aku sedang hamil tua sementara mamah di penjara. Assuu emang! Keluarga lagi enggak baik-baik saja, Papah malah senang-senang sama kuttiis!”
“Papah enggak usah mikir, aku beban Papah. Karena kalau boleh milih, aku juga enggak mau jadi anak Papah. Namun karena sudah telanjur, mau bagaimana lagi? Pastinya Papah juga enggak boleh asal lepas tanggung jawab juga ke aku. Karena kalau Papah sampai lepas tanggung jawab, aku enggak segan laporin Papah ke polisi!”
“Papah enggak lupa, kan, alasan Angga sampai mendekam di penjara?”
“Sudah, laporin saja. Nanti kita pakai Kalandra buat jadi pengacaranya. Dia jos, kan! Biar bapakmu kapok!” ucap pak Haji ikut menyela.
“Payah kamu, Cup! Baru juga punya istri tambahan, kok iya kamu langsung lupa yang sudah ada. Poligami sebanyak-banyaknya boleh, tapi ya jangan lupa kewajiban sama tanggung jawabnya!” lanjut pak Haji.
“Tapi sekarang aku lagi banyak urusan, Pak Gede. Aku lagi banyak butuh,” yakin pak Yusuf.
“Ya itu masalah kamu. Dipikirnya saya enggak banyak kebutuhan? Saya juga banyak, tapi lihat anakmu pontang-panting sendiri, saya mana tega karena saya bukan pohon pisang yang punya jantung tapi enggak punya hati macam kamu!” balas pak Haji. “Sekarang kasih Septi modal buat usaha, itu sudah jadi kewajibanmu, loh! Dia juga mau nikah lagi dan kamu wajib jadi wali!”
“Nikah lagi gimana?” pak Yusuf menatap tak habis pikir Septi.
“Enggak usah bingung apalagi kesal. Kalau kamu tanggung jawab ke anak kamu dan urus dia dengan semestinya, kamu pasti tahu update keadaannya tanpa syok gitu. Lagian kenapa kamu merasa keberatan kalau anakmu nikah lagi? Kan kamu juga yang ngajarin. Nah dia posisinya sudah jadi janda, kamu nikahnya diam-diam dan giliran ada masalah gini kamu baru koar-koar! Makan tuh masalah kamu!” balas pak Haji.
Pak Yusuf kembali kepada Septi yang masih menatapnya marah. “Kamu, yah, dari dulu adanya ngerepotin terus!”
__ADS_1
Kesal, tanpa ba-bi-bu, Septi langsung maju, menyeruduk sang papah layaknya SUMO andal. Satu dekapan, Septi mengangkat tubuh sang bapak kemudian membantinggnya.
“Buat aku ngerepotin, tapi buat wanita lain kamu enggak hitungan, Pah! Tunggu pembalasanku!” kesal Septi masih menahan emosi, walau di hadapannya, sang papah yang meringkuk sudah langsung terengah-engah meringis kesakitan akibat ulahnya.