
Di tengah kesunyian malam berhias kendaraan yang lewat di jalan depan, ibu Sumini buru-buru membangunkan Anggun.
“Kamu ngapain bawa anak-anak begini? Kenapa kalian tidur di sini, dan kalian pun sangat ko-tor?” Ibu Sumini mengguncang-guncang tubuh besar Anggun menggunakan kedua tangannya.
Singkat cerita, Anggun yang sampai marah-marah kepada ibu Sumini berdalih, akibat dua bulan tidak membayar kontrakan, Anggun dan anak-anaknya terusir. Kemudian, Anggun juga menyalahkan ibu Sumini yang menurut Anggun telah lepas tanggung jawab.
“Lepas tanggung jawab gimana? Mereka kan anak-anak kamu! Ngapain kamu punya lima anak, kalau urus diri kamu saja, kamu enggak bisa?!” kali ini, ibu Sumini benar-benar marah.
Anggun yang awalnya nyaman-nyaman saja meringkuk di teras tanpa alas padahal di sekitarnya ko-tor semacam bekas minyak bercampur pasir, menatap heran sang mamah. Ibu Sumini tengah buru-buru mengemban Cantik. “Mamah berani ke aku?” tanya Anggun dengan entengnya layaknya seorang jagoan. Ia berangsur duduk, dan ia harus susah payah dalam melakukannya akibat tubuhnya yang besar. Membuat keempat anak laki-lakinya dan awalnya menyandar kepadanya layaknya menyandar kepada kasur, menjadi ikut duduk. Keempatnya langsung kegirangan ketika melihat ibu Sumini ada di sana.
Ibu Sumini hanya menatap asal adik-adik Dafa. Sebab melihat tubuh Cantik yang makin kurus, ibu Sumini benar-benar khawatir. Ibu Sumini curiga, cucu perempuannya yang menjadi tak kalah de-kil dari Anggun dan keempat kakak lelakinya itu bermasalah. Ibu Sumini berpikir, Cantik mengalami semacam gizi bu-ruk.
“Ya sudah, Mah. Mumpung Mamah sudah datang, sana cari uang. Ngemiis apa bagaimana sambil bawa cantik,” ucap Anggun sambil menguap sementara kedua tangannya sibuk garuk-garuk kepala.
Mendengar itu, Dafa dan ketiga adik laki-lakinya menjadi bersemangat, “Iya, Ni ... aku juga lapar! Yuk aku bantu ngemiiis biar dapat duit!” Mereka benar-benar kompak dan tak tahu semangat mereka malah melukai hati sang nenek.
Murka sekaligus muak, ibu Sumini mengamati sekitar. Ia meraih ember sam-pah yang berisi nyaris penuh, kemudian menumpahkannya di atas kepala Anggun yang awalnya sudah langsung tidur walau wanita bertubuh besar itu masih duduk.
Ulah ibu Sumini tak hanya membuat Anggun tercengang. Karena anak laki-laki Anggun juga begitu.
“MAMAH!” bentak Anggun murka. Ia dapati, sang mamah yabg melangkah buru-buru ke gang sebelah.
__ADS_1
Di tengah kenyataan Cantik yang terus menangis, ibu Sumini agak jongkok untuk mengambil air selokan berwarna hitam pekat dari sana. Masih serba buru-buru, ia membawa ember berisi air selokannya kepada Anggun kemudian menyiramkannya sekuat tenaga ke wajah sang putri.
“KEBANGETAN BANGET KAMU! STRES APA MEMANG GEMBLUUUNG KOWE!” ibu Sumini tak hanya geregetan, tapi juga gemetaran saking emosinya kepada Anggun. Kini ia maju, kemudian menghan-tamkan ember di tangannya secara bru-tal ke wajah dan juga kepala Anggun.
“Mau sampai kapan kamu begini? Bukannya kerja apa bagaimana, kamu malah ngajak anak-anak kamu buat ngemis! Masih kamu berani marah-marah, mamah laporin kamu ke polisi!” Ibu Sumini terus memu-kuli Anggun menggunakan ember di tangan kanannya. “DAFA, kalau mamah kamu tetap enggak berguna kini, mending tabrak-kin saja ke mobil biar enggak nyolok mata!”
Dafa yang juga sudah lelah, berangsur menunduk sambil berkata, “Iya, Ni, besok.”
Karena Anggun akan menga-muk, ibu Sumini melakukannya lebih dulu. Ibu Sumini menghantamkan embernya sekuat tenaga hingga ember bekas wadah cat berukuran kecil itu pecah, kalah menahan kepala Anggun.
Sementara itu, di tempat berbeda, di tempat yang jauh lebih berkelas sekaligus damai. Arum menghela napas pelan. Ia yang telah mandi dan ganti pakaian tengah memandangi wajah Aidan. Bayi merah yang dulu dibuang oleh bapaknya itu tumbuh dengan sangat sehat. Kini di usianya yang sudah empat bulan satu minggu, Aidan yang sudah bisa tengkurap juga sudah bisa mengangkat kepalanya dengan tegap. Kedua tangannya menopang tubuh di depan dada, sedangkan kakinya yang berisi sekaligus kencang sudah tidak bisa diam. Aidan yang juga terbilang lincah, kini sudah pandai berekspresi hingga kehadirannya selalu bisa mencuri perhatian, termasuk itu perhatian di keluarga Kalandra. Tak jarang, Kalandra sampai mengajak Aidan tidur bersama layaknya sahabat yang sangat akrab.
Arum takut, Aidan juga akan merasakan apa yang pernah ia alami. Karenanya, ia sedang berpikir keras, bagaimana caranya agar Aidan jauh dari keluarganya. Bukan bermaksud jahat, Arum hanya tidak mau mereka yang sudah terbiasa melakukannya kepadanya, sampai kebablasan melakukannya juga kepada Aidan. Karena sekadar kata-kata nyelekit saja, Arum tak mau putranya sampai merasakannya.
Arum ingin, Aidan tumbuh di lingkungan hangat layaknya keluarga Kalandra. Atau setidaknya, Aidan tumbuh di antara orang-orang yang memperlakukan Arum dengan baik walau mereka tidak memiliki ikatan darah. Tak terbayang andai Aidan sampai menjadi bagian dari keluarga Angga kemudian dibentak-bentak. Tak terbayang jika Aidan sampai dibanding-bandingan dengan cucu yang lain oleh ibu Rusmini mamahnya Arum, seperti apa yang selama ini Arum rasakan. Atau malah, Aidan sampai tidak dianggap dan sekadar masuk ke rumah ibu Rusmini saja tidak diizinkan seperti yang Arum alami.
“Ya Alloh, bagaimana, ya? Rasanya benar-benar ingin lepas. Saya beneran enggak ikhlas kalau Aidan juga sampai mengalaminya,” lirih Arum mendadak dilema. Sebab jika ia membatasi Aidan, itu sama saja memutus silaturahmi, sementara yang Arum tahu tindakan tersebut tidak dibenarkan. Masalahnya, orang-orang dalam hidup Arum sangatlah ke-jam. Mereka keluarga, tapi rasa rentenir.
***
“Mas, besok kalau ke rumah mamakku, ... kita pakai motor saja, ya?” ucap Arum ketika di subuhnya, Kalandra mengantarnya ke rumah sakit.
__ADS_1
Kalandra yang mengemban Aidan di dadanya langsung mengernyit. “Pakai mobil saja, kita kan bawa Aidan. Kamu bilang, rumah ibu kamu jauh karena kita menang beda kecamatan. Terus kamu juga bilang, jalan ke sana susah. Ya mending pakai mobil, mobilku tahan terjal kok. Takut Aidan masuk angin apalagi sekarang juga sering hujan tiba-tiba.”
Masalahnya, Arum ingin menyembunyikan identitas Kalandra dari keluarga bahkan ibunya. Arum tidak mau, mereka sampai memanfaatkan Kalandra jika keluarganya tahu, siapa Kalandra yang sesungguhnya.
Kegelisahan Arum sudah langsung membuat Kalandra curiga. Kalandra berhenti melangkah kemudian meraih sebelah lengan Arum menggunakan tangan kirinya. Kini, ia hanga mengemban Aidan yang sampai ia pakai peci hitam layaknya dirinya, menggunakan tangan kanan.
“Ada yang belum kamu ceritakan?” tanya Kalandra yang kali ini mendadak bertanya sangat lirih.
Di depan pintu masuk rumah sakit, di pinggir trotoar jalan raya yang mulai ramai, Kalandra dan Arum saling berhadapan sekaligus bertatapan. Kebersamaan mereka tersorot lampu jalan di belakang Kalandra.
Arum menatap Kalandra dengan tatapan sekaligus raut wajah yang benar-benar sedih. Lama-lama kedua mata sayu Arum menjadi basah. Membuat tampang wanita itu makin menyedihkan di mata Kalandra. Kalandra melepaskan tahanan tangan kirinya dari tangan kanan Arum. Ia merogoh saku kiri celana bahan warna hitamnya kemudian mengeluarkan masker berwarna putih dari sana yang langsung ia pakaikan kepada Arum.
“Sampai bekas lukanya benar-benar hilang, kamu pakai masker ya. Nyesek banget rasanya lihat wajah kamu kayak gitu,” ucap Kalandra setelah sampai memasang maskernya. Di hadapannya, Arum yang mengangguk patuh malah berlinang air mata.
“Lah kok malah nangis?” lirih Kalandra menyayangkan keadaan. Arum langsung menggeleng dan kembali menunduk.
“Enggak tahu kenapa ... padahal kalau aku sendiri, aku selalu bisa walau kadang ada beberapa hal yang harus aku selesaikan ibaratnya dengan berdarah-darah. Namun, saat bersama Mas ... kok aku jadi mendadak cengeng, ya? K-kok ... k-kok aku jadi kayak enggak bisa apa-apa, manja enggak berguna banget ....” Susah payah Arum menahan tangisnya agar tidak pecah. Susah payah ia meredam rasa sesak yang teramat menyiksa dadanya hingga suhu tubuhnya menjadi sangat panas.
Kalandra juga menjadi berkaca-kaca. Pria itu pun ikut merasa sesak hingga membuatnya menjadi sibuk menghela napas pelan guna meredamnya. Setelah sampai merangkul punggung Arum kemudian menyandarkan kepala wanita itu ke bahu kirinya bersebelahan dengan Aidan, ia sengaja mengucapkan terima kasih kepada Arum.
“Makasih banyak karena dengan begitu, artinya bagi kamu, aku ini berguna. Selanjutnya, kamu cukup bergantung kepadaku, kita sama-sama melangkah, ... berdampingan,” ucap Kalandra yang menutup kesedihan Arum. Sebab tak lama setelah itu, Arum jujur sejujur-jujurnya mengenai keadaan keluarganya.
__ADS_1