Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
111 : Ada Kemajuan Baik


__ADS_3

“Mbak Arum ...?”


Pria muda itu sungguh Dika. Tak beda dengan pak Mukmin, Dika yang juga sudah terbilang lama tak bertemu Arum secara langsung, memang pangling.


“Eh, itu apinya kecilin, sudah berasap gitu!” tegur Kalandra yang sambil mengamankan Arum. Ia menuntun Arum untuk mundur, mengamankannya di belakang punggungnya.


Dika terlihat sangat gugup bahkan cenderung malu. Baik Kalandra maupun Arum menyadarinya. Pria muda itu menjadi serba salah dalam melakukan segala sesuatunya.


“Apinya kecilin, Dik!” Arum cukup berseru.


“I-iya, Mbak!” Dika benar-benar gugup.


“Itu sisanya ada berapa? Goreng semuanya saja,” ucap Kalandra masih belum mengizinkan Arum mendekati Dika.


Mendengar ucapan Kalandra barusan, Dika langsung terbengong-bengong menatap tak percaya Kalandra. Pria tampan itu langsung mengulangi titahnya, seolah mengetahui mengetahui maksud dari tatapannya.


“Benar-benar semuanya?” Dika memastikan. Kalandra segera mengangguk tanpa sedikit pun keraguan.


“Ini masih ada tiga puluhan,” lanjut Dika.


“Ya enggak apa-apa,” balas Kalandra.


“Sudah goreng semuanya saja. Ini dari dulu, kamu kayak gitu, jualan kenapa? Lagian kamu kan dikuliahin mahal-mahal, masa iya, enggak ada inovasi buat bikin usaha dari dulu?” sergah Arum mulai mengomel.


Dika meringis ketakutan. Arum dan Kalandra dapati, mantan adik ipar Arum itu sampai gemetaran.


“Itu kamu ambil dari orang, apa buat sendiri?” tanya Kalandra yang kemudian membimbing Arum untuk duduk di pinggir trotoar.


Sambil menunggu Dika membuatkan pesanan mereka, Kalandra sengaja mengajak Arum duduk lebih santai untuk sama-sama menginterogasi Dika.


“Awal-awal sih Mas Angga yang buat, tapi dua hari ini, mamah yang buat,” cerita Dika layaknya maling yang tertangkap basah.

__ADS_1


Di beberapa kesempatan, Dika sampai refleks mengusap keringat di wajah dan sekitar lehernya menggunakan lengan panjangnya, secara asal.


“Jadi, sudah berapa lama kamu jualan gitu?” lanjut Arum.


Dika tak langsung menjawab, dan lagi-lagi menatap takut Arum lebih dulu. “Semingguan, Mbak!”


“Terus, sekarang kamu tinggal di mana? Sama Mamah, kan? Cantik apa kabar?” lanjut Arum.


“Di kontrakan yang dulu, Mbak. Kami ngontrak di sana lagi. Terus Cantik, ... sudah dikasih ke ....” Dika tak kuasa melanjutkan ceritanya hanya karena ia membahas mengenai Cantik.


“Dikasihin ke siapa, ih? Kalian sembarangan banget asal kasih anak! Terus, itu memang si Mbak Anggun sama Supri, blas enggak urusin?” lanjut Arum emosi.


Di sebelah Arum, Kalandra menghela napas pelan, kemudian merangkul sang istri, menenangkannya.


Dika pun menjelaskan mengenai Cantik yang ternyata mengalami gizi buruk. Cantik dibawa oleh petugas khusus untuk menjalani penanganan secara intensif. Sementara Anggun dan Supri, masih dicari-cari oleh polisi karena telah menelantarkan Cantik, selain keduanya yang memaksa anak-anaknya menjadi penge-mis.


“Amit-amit,” batin Kalandra sambil mengusap-usap perut istrinya.


“Terus si Septi apa kabar? Benar, rumah sama deler apa sorum orang tuanya sudah dijual?” lanjut Arum lagi.


Dika yang beres menggoreng semuanya berangsur mengangguk-angguk. “Iya, Mbak. Sekarang mereka ngontrak di dekat pasar kecamatan.”


“Kenapa enggak ngontrak bareng saja kayak dulu, biar jauh lebih irit pengeluaran?” ujar Kalandra menatap heran Dika. Mantan terindah dari Septi itu meringis tak berdosa kepadanya.


“Enggak mungkin lah Mas, si Angga pasti waswas. Septi kan mengandung lem yang bisa dengan mudah nempel. Apalagi Dika sama Septi kan mantan,” ujar Arum menjawab pertanyaan sang suami.


“Oalah iya ya. Lupa. Hubungan kalian kan sembulet itu. Anak Septi saja, statusnya anak tirinya mbaknya si Angga,” ujar Kalandra.


“Kalau aku sutradara, apa penulis, udah aku jadiin cerita suara hati suami, judulnya : Anak Istriku, Anak Tiri Kakak Perempuanku!” jelas Arum.


“Dalam kurung : Benih Telarang Kakak Ipar, Yang!” sergah Kalandra mengoreksi ucapan sang istri.

__ADS_1


Arum cekikikan disusul juga oleh Kalandra. Dika yang baru melihat kekompakan pasangan di hadapannya menjadi ikut merasa adem.


“Jadi sekarang, si masmu, kerja apa?” lanjut Arum.


“Ya kayak gini juga, Mbak!” balas Dika menjadi jauh lebih bersemangat.


Tanpa direncanakan, Arum dan Kalandra kompak mesem. Yang mana, di pikiran keduanya mendadak membayangkan kerukunan Septi dan Angga yang bahu-membahu menyiapkan aneka keperluan gorengan untuk jualan keliling. Namun, bayangan yang sampai membuat mereka senyum-senyum malah ditepis Dika.


“Si Septi tiap hari kerjaannya hanya marah-marah, makan, sama tidur. Seserius itu hidupnya! Kalau kata Mas Angga sih, rutinitas Septi karena lagi belajaran MATI!” jelas Dika.


Beban hidup seorang Kalandra langsung bertambah hanya karena mendengar kabar terbaru Septi yang malah tidak lebih baik dari sebelumnya.


“Sebenarnya yang bikin keluarga kalian hancur, ya kalian sendiri, loh. Dari setiap kebiasaan kalian. Terus mengenai Septi, yang bawa dia ada di kehidupan kalian, kamu. Jadi, setelah semuanya terjadi, harusnya kamu jauh lebih mikir!” ucap Arum yang juga menjadi merasa, beban hidupnya menjadi ikut bertambah setelah ia mendengar kabar terbaru Septi.


“Iya, Mbak. Saya tahu.” Dika menunduk menyesal. “Satu lagi, Mbak.” Ia menatap sungkan Arum, tapi kemudian sengaja meminta maaf. “Uang yang Mbak kasih ke Mamak, kami pakai buat modal usaha ini.”


Mendengar itu, Arum langsung menangis. Jujur, Arum bahagia, uluran tangannya bisa menjadi jembatan Dika sekeluarga menyambung hidup. Namun di balik semua itu, sederet luka di masa lalu langsung membuat hati Arum tercabik. Mengenai ketidakadilan yang terus Arum terima dari Dika sekeluarga.


“Bismillah, ... aku ikhlas. Toh andai ketiga anakku selamat, bisa jadi mereka juga kena gizi burukk atau malah selalu diamuk oleh Anggun sekeluarga. Iya, aku percaya semua ini memang yang terbaik buat kami. Aku beneran percaya, seindah-indahnya anganku, semua yang Tuhan berikan bahkan itu luka, selalu menjadi yang terindah untuk setiap umatnya,” batin Arum sambil menyeka sekitar matanya.


Arum tak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Karena selain masa lalu termasuk anak-anaknya jauh akan lebih baik jika ia kembali menghadapi hidup dengan semangat, menghabiskan waktu dengan kesedihan juga hanya akan membuat Arum rugi. Tentunya, Arum tak mau egois dan sengaja menjaga perasaan Kalandra sekeluarga.


“Hidup memang harus selalu berjalan apa pun yang kita rasakan. Karena sekalipun di masa lalu kita sangat terluka, tidak menutup kemungkinan luka-luka itu merupakan awal dari kebahagiaan kita. Tentunya, kita harus selalu menjadi lebih baik dari sebelumnya karena begitulah hakekatnya sebuah kehidupan. Terakhir, ini mengenai pentingnya menghargai termasuk memaafkan.” Arum terisak pedih dan masih berusaha tegar.


Kali ini, Arum menatap tegas Dika. “Sekalipun orang-orang yang kamu lukai berdalih telah memaafkanmu, bukan berarti kamu hanya diam di titik yang sama apalagi sampai mengulangi kesalahan yang sama.”


“Mulai sekarang, tolong jadi orang yang lebih berguna lagi. Kalaupun kamu enggak bisa berguna buat orang lain termasuk berguna untuk orang yang sudah sangat berkorban kepadamu, setidaknya kamu harus berguna buat diri kamu sendiri. Jangan terus-menerus jadi pemalas apalagi kamu ini laki-laki!” Arum mengakhiri ucapannya dengan mendengkus pasrah. Kemudian, tatapannya tertuju pada sempol, telur gulung, dan aneka gorengan semacamnya yang memang sedang digemari orang-orang di sekitar sana.


Kalandra membayar lebih kepada Dika. Awalnya Dika menolak, tapi Kalandra meminta Dika untuk menerima.


Terlepas dari semuanya, Arum menjadi menyadari, selalu ada hikmah di setiap kisah yang ada dalam kehidupan ini. Baik itu kisah membahagiakan, bahkan yang paling menyakitkan sekalipun. Dan Arum, benar-benar sudah merasakannya.

__ADS_1


__ADS_2