Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
68 : Porsi Otak Keluarga Angga


__ADS_3

Suasana pasar malam sudah mulai ramai ketika mobil Kalandra melintas di jalan sekitar.


“Ini kalau makin malam makin rame dan otomatis mobilmu susah lewat loh, Mas!” ucap ibu Kalsum yang duduk di sebelah Arum.


Detik itu juga Kalandra memutar otak, bagaimana caranya agar mobilnya tetap bisa lewat. Lain dengan Arum yang langsung mengamati suasana sekitar meski jujur, kini menjadi kali pertama dirinya akan ke pasar malam walau sebelumnya ia pernah bertahun-tahun lamanya di luar negeri.


“Parkirnya rada jauh dari sini. Titip di depan rumah warga saja juga enggak apa-apa. Jadi, nanti kita ke sininya jalan kaki,” ucap pak Sana yang duduk di sebelah Kalandra.


“Ya sudah kalian turun dulu, tapi ini hujan enggak, ya?” balas Kalandra yang kemudian menatap ketiga wajah orang dewasa di sana, walau ia malah menjadi fokus pada Aidan yang sibuk berceloteh di pangkuan Arum.


“Biasanya kalau ada acara pasar malam gini sudah di bookingin pawang hujan. Namun sedia payung buat jaga-jaga Aidan juga enggak apa-apa,” balas pak Sana yang kemudian mengajak semuanya untuk turun.


Kalandra akan memarkir mobil sendiri, tapi ibu Kalsum dengan baik hati mengambil alih Aidan dan meminta Arum ikut Kalandra.


“Ya sudah sana kalian jalan-jalan berdua dulu. Aidan biar sama Mamah,” ucap ibu Kalsum.


“Mah, beli telur gulung, yuk! Ayo, sebelum antreannya makin panjang!” ajak pak Sana yang sudah ada di luar. “Kalian, mau dibelikan sekalian, enggak?” Tentu saja ia bertanya kepada Kalandra dan Arum.


“Yang banyak, Pah! Nanti kita ke sini tinggal makan!” sergah Kalandra bersemangat.


Melihat kekompakan keluarga Kalandra yang sampai menyempatkan waktu untuk liburan bersama walau hanya liburan kecil semacam mengunjungi pasar malam, Arum menjadi teringat keluarganya. Arum mengkhawatirkan sang mamak maupun Widy yang hari ini belum mengiriminya kabar. Maka segeralah ia mengirimi Widy pesan.


Widy : Enggak, Mbak. Agus enggak ngabarin blas. Sudah mati kayaknya orangnya!


Mbak Arum : Mamak sama anak-anak lagi ngapain?


Widy : Lagi pada nonton tivi.

__ADS_1


Mbak Arum : Sudah pada makan?


Widy : Sudah, tadi goreng ikan dari uwa Diran katanya itu Mbak yang pesan.


Widy : Makasih banyak Mbak, sudah selalu diurusin.


Membaca pesan dari sang adik, Arum menjadi berkaca-kaca. Hatinya berbunga-bunga, bahagia rasanya.


“Yang ...?” Kalandra sampai melongok dari tempat duduknya.


Arum yang awalnya larut dengan kesibukannya berkirim pesan WA, refleks terkejut.


“WA-an sama siapa? Pak Haji? Katanya sudah diblokir?” Tentu Kalandra hanya sedang menggoda calon istrinya.


“Ini aku lagi WA-an sama Widy, Mas. Dia sudah mulai waras,” ucap Arum yang sampai menyodorkan layar ponsel berisi ruang obrolan WA-nya dan Widy.


“Syukurlah kalau dia enggak kesurupan lagi,” ucap Kalandra yang juga membaca pesan-pesan Arum dan Widy. Widy tak hanya mengucapkan terima kasih kepada Arum. Karena Widy juga sampai meminta maaf kepada Arum. Termasuk kepadanya, Widy juga turut meminta Arum menyampaikannya.


Membaca pesan terakhir Widy tersebut, Kalandra tersenyum kemudian meminta Arum untuk duduk di sebelahnya.


“Lah, cuma parkir ke belakang, kan? Rumah yang di sebelah itu, kan?” ujar Arum.


“Muter sebentar!” ucap Kalandra bersemangat.


Arum menahan senyumnya. “Modus banget emang Mas, mentang-mentang Aidan lagi sama mamah!”


“Tentu dong, sekalian malam mingguan!” balas Kalandra makin bersemangat.

__ADS_1


Arum menjadi tersipu bersama hatinya yang makin berbunga-bunga. Beberapa saat kemudian, Kalandra sudah membawanya keliling menggunakan mobil. Kalandra membawanya keliling alun-alun yang sekitar jalannya tak dipenuhi kepadatan suasana pasar malam. Namun di sana, mereka mendapati para pengamen maupun penge-mis yang diamankan oleh petugas kepolisian. Yang mana, keluarga Anggun dan Angga menjadi bagian dari mereka. Mereka diboyong menggunakan mobil pick up.


Miris, saking sedihnya melihat pemandangan sekarang, Arum sampai menitikkan air mata. Arum menyesal lantaran usahanya yang sempat membantu Anggun dan juga Supri sekeluarga untuk berubah menjadi pribadi mandiri, gagal. Andai, Anggun dan Supri masih bisa diarahkan layaknya Widy. Namun, mereka semua khususnya Anggun, memang sangat keras. Jangankan mau menerima saran, sekadar mendengarkan saja, Anggun tidak melakukannya.


“Langsung diproses ternyata,” ucap Kalandra sengaja menepikan sekaligus menghentikan laju mobilnya. Ia menghentikannya tidak begitu jauh dati TKP.


“Aku kok jadi sedih banget, Mas. Aku ikut nelangsa apalagi biar bagaimanapun, aku pernah menjadi bagian mereka,” ucap Arum susah payah meredam emosi beserta tangisnya.


Kalandra menatap Arum. Tangan kanannya menyeka air mata Arum, sebelum tangan tersebut juga meraih punggung kepala Arum, mengelusnya penuh sayang. “Kamu begini karena kamu terlalu baik. Hati kamu sangat lembut. Walau mereka sudah berulang kali menyakitimu, kamu tetap ingin melihat mereka sukses sekaligus bahagia. Walau kamu tahu kamu bisa tanpa mereka, bahkan kamu bakalan jauh lebih bahagia kalau kamu tidak membantu mereka, ... kamu tak lantas pergi membiarkan mereka berjuang sendiri. Kamu tetap merangkul mereka walau memang enggak mudah.” Kalandra yang berucap lembut dan benar-benar manis, menggunakan tangan kanannya untuk membingkai wajah kiri Arum. Ia membe-lai lembut di sana. “Makasih banyak, ya. Sudah jadi wanita hebat. Aku beneran bangga sama kamu!”


Walau awalnya ulah Kalandra membuatnya terharu, pada akhirnya Arum tetap kikuk. “Mas puji-puji aku terus, nanti aku terbang, loh!” protes Arum yang untuk pertama kalinya manja kepada Kalandra.


Dengan jailnya Kalandra malah memeluk Arum. Kenyataan yang malah membuat Arum lupa bernapas. Arum sampai membatu.


“Aku peluk biar kamu enggak terbang!” ucap Kalandra sambil menahan tawanya.


Mendengar itu, Arum juga menahan tawanya. Namun agenda pelukan mereka tak berlangsung lama. Mereka kembali fokus pada pengamanan yang tengah pihak kepolisian lakukan. Aparat yang berwajib seolah sengaja bersih-bersih agar suasana di sana lebih enak dipandang dan tentunya juga akan lebih nyaman.


“Nanti mereka bakalan dikasih semacam bimbingan kok. Anak-anak Anggun pastinya juga akan disekolahkan. Malahan harusnya lebih baik daripada mereka ikut orang tua mereka yang beneran enggak jelas,” ujar Kalandra.


Namun tiba-tiba Kalandra merasa, formasi Anggun dan Supri kurang lengkap. “Anaknya yang bayi sama, ... sama mamahnya Angga, ya, Yang, yang enggak ada?”


“Kata ibu Nur sih, awalnya si ibu Sumini kerja di pasar sambil bawa yang bayi. Namun dari dua hari kemarin, ibu Nur sengaja ajak dia buat tinggal di rumah. Ibu Nur bilang, di rumahnya si ibu Sumini sambil bantu-bantu gitu. Katanya, si ibu Sumini jadi berubah banget, rajin gitu. Ibu Nur jadi enggak tega katanya,” jelas Arum yang kemudian juga mengabarkan, ibu Nur sudah memaksa Dika adik Angga, untuk pulang.


“Itu anak pas pembagian otak, bolos apa gimana? Kok bisa-bisanya enggak mikir banget kayak enggak punya otak!” tanggap Kalandra yang memang marah.


Arum bingung karena Kalandra jelas marah, tapi bahasa yang pria itu pakai sungguh membuatnya ingin tertawa.

__ADS_1


“Ini keluarganya Angga awalnya gimana sih, bisa-bisanya jadi krisis toleransi begini. Orang kaya saja yang krisis toleransi bisa nyungseb. Apa lagi mereka yang apa-apa, serba harus bekerja?” lanjut Kalandra masih kesal.


“Ya efeknya balik ke lingkungan yang sudah membudayakan malas sebagai gaya hidup, Mas,” balas Arum yang kemudian mengingatkan Kalandra untuk bersiap lantaran tujuan mereka ke sana bukan untuk memikirkan porsi otak keluarga Angga, melainkan untuk ke pasar malam dan juga bersenang-senang.


__ADS_2