
“Kamu pikir, kamu siapa, berani-beraninya menolak saya, Rum?” maki pak Haji dengan suara lantang.
Semua mata langsung tercengang tanpa terkecuali Arum yang dimaksud. Juga, efek selain berupa kata makian, pak Haji juga berucap dengan sangat lantang.
“Kamu itu hanya seorang janda. Janda yang tanpa kerja dari pagi ketemu pagi lagi enggak bisa makan!”
“Harusnya kamu bersyukur karena saya mau menikahi kamu! Saya akan mengangkat derajat kamu agar kamu tidak terus-menerus dipandang sebelah mata!”
Pak Haji yang sebelumnya sudah sampai berdiri, langsung tak bisa memaki apalagi dengan kata-kata lagi. Ulah Kalandra yang baru saja bangkit kemudian mengguyurkan kopi hitam panasnya, penyebabnya. Kalandra telanjur geram, tak habis pikir pada pak Haji yang tak kenal aturan. Pria itu sangat kejii, tanpa peduli pada statusnya karena tampaknya, pria itu memang menjadikan statusnya sebagai tameng untuk berlindung.
“Memangnya kapan, saya meminta apalagi mengemis kepada Anda, untuk Anda nikahi?” sergah Arum susah payah menahan emosi. Dadanya bergemuruh menahan emosi. “Saya tidak pernah meminta apalagi mengemis untuk Anda nikahi. Mereka yang di sini menjadi saksi. Termasuk pegawai rumah sakit. Semuanya hafal kepada Anda. Malahan, cara Anda begini telah membuat Anda mempermalukan diri Anda sendiri!”
“Anggapan Anda menikahi janda untuk mengangkat derajat mereka benar-benar hanya kedok. Anda berlindung di balik status Anda, mengandalkan kedudukan dan juga nama baik agama sebagai tameng dari kelakuan Anda yang bobrok!”
“Jika bagi Anda seorang janda seperti saya harus bekerja dari pagi ketemu pagi lagi hanya untuk bisa makan, Anda sebagai tua bangkka tak tahu diri dengan begitu tak tahu diri mengejar janda dari pagi ketemu pagi lagi. Memangnya kakek-kakek seperti apa, yang dengan sengaja mengejar janda tanpa kenal waktu, dari pagi ke pagi lagi, dan tak segan menunggu di depan kontrakan si janda, sampai tetangga sibuk negur?”
“Memang, tua bangka seperti apa, yang sudah diperingatkan berulang kali oleh banyak orang, malah ngamuk ketika lagi-lagi mendapat penolakan?”
Arum benar-benar murka. Ia sampai berbicara panjang lebar. “Kalau Anda tetap di sini, berarti Anda memang tidak tahu diri! Paling tidak andai Anda tidak peduli kepada diri Anda, pedulilah pada keluarga Anda yang juga akan malu menanggung kelakuan Anda!”
__ADS_1
Beberapa pria yang awalnya sedang makan, saling bertatapan. Mereka yang jumlahnya ada empat orang, kompak berdiri meninggalkan tempat duduk mereka kemudian menghampiri pak Haji. Mereka menawarkan kawalan kepada pak Haji. Mau kawalan baik-baik, atau malah secara paksaan?
“Kalian lagi, apa-apaan?!” makii pak Haji pada keempat pria yang menawarinya kawalan agar tidak lagi berulah di sana.
“Eh, sudah diperingatkan baik-baik, masih saja ngeyel!” cibir salah satu dari pria yang akan memboyong paksa pak Haji keluar dari sana.
“Mbah, ... sampai kapan pun, saya tidak akan lupa kepada Anda!” tegas Kalandra menatap marah pria tua yang wajahnya terlihat sangat merah dan ia pastikan itu karena kopi panas yang ia siramkan di sana.
Pak Haji langsung menatap Kalandra, bahkan semua yang meringkusnya, terlebih itu Arum, dengan tatapan tak kalah marah. “Awas yah, kalian! Awas kamu (Kalandra), awas kamu, Rum! Wajah kalian bakalan saya blok kade. Kalian tidak boleh lewat di depan rumah saya!”
Dua orang pria terpaksa mencekal tangan pak Haji, menggiringnya dari sana.
“Bentar ... bentar, itu sudah bayar belum, makan sama minumnya,” ujar pria yang belum mencekal pak Haji.
Keempat pria yang akan menggiring pak Haji kompak mengejjek pak Haji.
“Ah, Pak Haji, ... mengejar janda dari pagi ketemu pagi lagi demi dapat sarapan gratis!”
“Kurang ajar, kalian! Kalau kalian mau tahu uang saya, lihat dompet saya! Uang saya banyak! Lihat!” buru-buru pak Haji mengambil dompetnya dari celana panjang bahan berwarna hitam yang ia kenakan. Dengan gagah ia membuka dompet lipat, yang kali ini malah tak ada isinya selain sebuah kertas putih yang terlipat di sana.
__ADS_1
Pak, insyaflah. Malu, jangan berulah apalagi nikah lagi!
Keempat pria yang awalnya sudah mengejek pak Haji, kompak tertawa setelah turut serta membaca tulisan di secarik kertas dan baru saja pak Haji buang sekaligus injak-injak.
Kini, hanya satu yang Kalandra khawatirkan. Mental Arum. Kalandra yakin, Arum belum mau menikah. Arum masih ingin fokus mengurus Aidan sambil terus bekerja. Apalagi ia paham, wanita seperti Arum memiliki tekad kuat sekaligus mimpi tinggi. Namun jika kejadian seperti pak Haji kembali terulang lagi, atau parahnya orang-orang seperti mereka sampai nekat menjebak Arum, ... kalandra mendadak tidak bisa berpikir. Ia paham posisi Arum karena itu juga yang ia rasakan meski mereka ada karena kisah sekaligus luka yang berbeda.
“Mulai sekarang, kalau ada apa-apa, kamu wajib cerita, biar kejadiannya enggak kayak tadi,” ujar Kalandra yang memang menyusul Arum.
Arum yang baru beres memandikan Aidan, membungkus tubuh bayi itu menggunakan handuk, berangsur mengangguk-angguk tanpa menatap Kalandra. Karena jujur, diperlakukan seperti beberapa saat lalu oleh pak Haji, juga sangat melukainya. Iya, Arum merasa sangat terluka. Malahan saat memandikan Aidan tadi, ia sampai menangis. Namun, bukan berarti Arum akan lemah hanya karena insiden tadi. Karena bagi Arum, mengorbankan semua yang telah ia bangun dan itu jauh dari mudah, hanya untuk bersedih, sama saja dengan bunuhh diri.
Untuk bertahan, Arum harus berjuang sendiri tanpa mau mengandalkan orang lain karena Arum sadar, yang mampu menolongnya hanyalah dirinya sendiri. Ditambah kini, tanggung jawab Arum bukan hanya dirinya saja. Ada Aidan yang juga harus Arum perjuangkan. Yang dengan kata lain, Arum harus lebih tegar, lebih tahan banting, dan juga lebih kuat dari sebelumnya.
“Kamu boleh saja sedih, tapi bukan berarti gara-gara ini kamu menyerah,” ucap Kalandra.
“Iya, Mas. Aku enggak akan menyerah, kok,” yakin Arum yang kemudian mengurus Aidan sebelum memakaikan pakaian kepada bayi itu.
Kalandra menghela napas lega walau rasa sesak bahkan sakit masih tertinggal di dadanya.
“Ke depannya, demi jaga-jaga, kamu tinggal di rumahku dulu,” lanjut Kalandra.
__ADS_1
“Enggak lah, Mas. Takut malah jadi fitnah. Nanti aku cari cara lain saja. Semacam pindah kontrakan yang enggak bisa didatangi sembarang orang. Bismillah sambil cari-cari.”
“Ya sudah, nanti aku sambil bantu cari,” balas Kalandra yang menjadi tidak tega kepada Arum maupun Aidan. Ini kok aku jadi makin khawatir gini, ya, batinnya. Kalandra berpikir keras, apa yang bisa ia lakukan untuk menolong Arum, menjauhkannya dari fitnah kejii, selain sebuah pernikahan?