Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
96 : Septi, Si Kembarannya Demmit


__ADS_3

“Innalilahi wainnalilahi rojiun! Ini kakiku diapain? Heh, ini kaki harusnya dibawa ke dokter, Mas. Bukan malah dipanggilin du-kun. Disembur-sembur diurut gini ...!”


Di kamarnya, Septi yang masih terkapar tak berdaya, sudah sangat berisik. Du-kun pijat, dan itu ibu-ibu, sampai disembur olehnya. Septi melakukannya bak naga yang sedang marah, menyerang lawan menggunakan semburan yang mengeluarkan api. Tukang pijat langsung sibuk istigfar sambil mengusap wajahnya yang agak basah oleh semburan Septi.


Padahal, ibu Las selaku tukang pijitnya, awalnya sedang melafalkan ayat suci sambil meniupi kedua kaki Septi yang sudah mirip kaki gajah saking besarnya. Ibu Las mengelusnya benar-benar pelan layaknya mengelus.


“Ini lagi dibacain doa, Mbak. Kalau di Mbak rasanya panas, tapi aslinya dingin banget. Semacam kesambet ini. Ini memangnya awalnya, Mbak dari mana?” ucap ibu Las sabar tetap bertahan di depan Septi.


Angga yang tengah mengganti popok Sepri, langsung mengernyit serius. Hampir seharian ini, usahanya mencari pinjaman uang ke sana sini memang tidak mendapatkan hasil. Tadinya Angga sudah akan meminta bantuan pak Haji. Namun, selain pria itu tidak di rumah, kedua istri pak Haji juga sedang ribut mempermasalahkan jatah uang bulanan yang belum turun dari pak Haji. Jadilah dengan keterbatasan dana sisa menjual televisi, Angga memanggil tukang pijat yang sudah terbilang terkenal. Anehnya, tadi ibu Las bilang, Septi kesambet.


“Coba Mbaknya juga baca doa, istigfar. Kita sama-sama doa, ya. Bismilah ...,” ucap ibu Las.


Septi yang hanya bisa berbaring, mendecih kesal menatap ibu Las. “Ih, apaan, sih? Dikiranya aku lagi sakratulmaut, apa, disuruh doa sama istigfar!”


Angga menahan napas dan perlahan menghela napas. Andai, ia tidak terikat perjanjian, tentu ia sudah menceraikan Septi dari awal ia mengetahui bayi yang Septi lahirkan malah anak si kuprett Supri. Namun, Angga sudah telanjur menandatangani kontrak pernikahan. Kontrak pernikahan yang mewajibkan Angga tetap menjadi suami setia Septi apa pun keadaannya. Perceraian di antara mereka hanya boleh terjadi jika Septi yang meminta.


“Kamu yang sabar, dong. Orang kamunya teriak-teriak gitu, ya demittnya betah di kamu! Dikiranya kamu masih keluarga atau malah kembarannya!” balas Angga yang walau tegas karena jengkel, masih tergolong sabar.


Septi melotot syok, menatap kesal sang suami. “Sumpah yah, Mas! Kamu beneran enggak guna banget! Sekadar cari pinjaman buat berobat saja kamu enggak becus, gimana kalau aku sampai minta lebih? Dan sekarang, kamu malah dengan songongnnya bilang gitu!” Satu hal yang membuat Septi makin kesal dan bosan menjadi istri Angga. Angga bukan lagi pria mapan yang memiliki pekerjaan tetap. Apalagi jika dibandingkan dengan Kalandra. Sangat jauh!


Ucapan tak mengenakan dari Septi barusan, membuat Angga risi sekaligus malu. Pria itu menggeragap dan benar-benar geregetan. Tanpa kembali memedulikan Septi, ia memilih fokus mengurus Sepri yang makin hari wajahnya makin mirip Supri. Selain itu, seharian ini ia tinggal dan Septi pun hanya bisa tiduran, juga membuat bocah itu sangat tidak terurus.


“Maaf, Mbak. Mas, ... ini, jadi pijat, enggak, ya?” tanya ibu Las sungkan dan menjadi merasa serba salah. Namun, Septi malah langsung membentaknya.

__ADS_1


“PERGIIIIIII!” Septi berteriak mirip kera-sukan arwah jahat.


Sepri langsung nangis kejer, selain ibu Las yang buru-buru pamit sambil terus meminta maaf.


“SEPTI!” bentak Angga benar-benar geram.


Mengurus bayi saja sebenarnya Angga tidak bisa. Angga terpaksa melakukannya. Ditambah Septi yang terus berisik dan turut membuat Sepri nangis kejer.


Angga merasa frustrasi, menimang Sepri dan membawanya pergi daripada ia emosi kemudian menga-muk Septi layaknya apa yang biasanya ia lakukan kepada Arum.


“PERGI SANA, MAS! MINGGAT YANG JAUH, BAWA SI BUUUNTUNG ITU!”


Sepanjang Septi meraung-raung, selama itu juga Angga menggeleng tak habis pikir. Lalu, sisi baik seorang Angga berbisik, “Nikmatilah buah daro kebod-dohanmu! Dulu, yang serba bisa dan penurut seperti Arum, kamu sia-siakan. Makanya sekarang Tuhan kasih kamu yang seperti Septi karena kalian memang cocok!”


Saking kerasnya suara Septi barusan, Angga yang sudah keluar rumah dan ada di pelataran, masih bisa mendengar. Andai Angga tidak kasihan kepada Sepri yang biar bagaimanapun merupakan korban, sudah Angga lempar bayi merah itu sebagai bagian dari pelampiasannya. Namun tidak, Angga masih berusaha waras. Meski setelahnya, Angga tidak yakin masih bisa melakukannya. Angga tidak yakin dirinya akan baik-baik saja jika ia harus bertahan sebentar saja jika Septi tidak bisa berubah.


Lihat saja, tetangga sebelah rumah Septi sampai melongok dari gerbang masing-masing.


“Mas, maaf. Itu Mbak Septinya kesurupan apa gimana? Kok teriak-teriak begitu, tadi saya lihat, ibu Las juga dari situ,” ucap ibu-ibu berhijab selaku tetangga sebelah kanan rumah Septi. “Sebenarnya kenapa, Mas? Kok makin ke sini, si Septi makin terlalu waras? Apa efek kepalanya dipukull itu yah, sama bu Fat? Makanya otaknya jadi bermasalah, rada-rada! Maaf banget ini, bukan bermaksud menghina. Soalnya saya sekeluarga bahkan mungkin tetangga lainnya, sudah merasa sangat terganggu!”


Pernyataan yang langsung diperkuat oleh tetangga lainnya. Termasuk tetangga depan rumah yang turut menegur, meminta Angga untuk mengarahkan Septi agar istrinya itu jauh lebih bisa bersikap, tak terus teriak-teriak.


“Kesurupan? Lah, memang aslinya settan. Buktinya dibilangin baik-baik enggak pernah mempan!” batin Angga sambil menunduk malu menanggapi setiap teguran.

__ADS_1


“Bilangin beneran, yah, Mas. Itu suruh jangan teriak-teriak mirip sapi mau dibelek buat dijadiin kurban! Jantung enggak aman, ini. Langsung lemes dan kemarin baru periksa katanya saya kena gejala lemah jantung dan ini gara-gara Septi asal teriak enggak jelas!” ucap ibu-ibu yang rumahnya persis di depan rumah Septi. Ia sengaja keluar dari area gerbang demi menuangkan protesnya, agar Angga makin sadar, dirinya serius marah.


Angga berdeham dan segera meminta maaf, menatap ketiga wajah ibu-ibu yang semuanya berhijab di sana, penuh sesal. “Saya saja ini beneran enggak tahu, Ibu-Ibu. Sudah enggak kurang-kurang saya bilanginnya. Ini saja saya memilih keluar karena di dalam panas banget, berisik. Enggak bisa diarahin Septinya.”


“BAJJJIIIIINGAAAAAANNNN!” teriak Septi padahal Angga belum selesai minta maaf.


Angga langsung kicep saking syoknya. Sebab teriakan Septi barusan kompak membuat yang di sana termasuk Angga, menggeleng tak habis pikir. Mereka kompak istigfar, dan berdalih akan melaporkan kelakuan Septi yang sudah membuat mereka merasa sangat tidak nyaman, ke aparat setempat semacam RT.


Meninggalkan kengenesan Angga dan korban berisik Septi lainnya, di pinggir pantai, di pasir hitam yang hangat berteman embusan angin cukup kencang, Arum tengah bersuka cita bersama keluarga kecilnya. Wanita cantik yang tetap memakai perhiasannya, tengah menggelar tikar bekerja sama dengan Kalandra. Mereka tengah terbebas dari Aidan karena adanya orang tua Kalandra bersama mereka benar-benar membuat mereka bebas sebebas-bebasnya.


Kini, acara bulan madu lanjutan Kalandra dan Arum memang tak hanya disertai Aidan. Sebab orang tua Kalandra yang ingin liburan sekaligus healing dari penatnya kesibukan, juga turut serta. Layaknya keluarga bahagia pada kebanyakan, mereka bersantai di atas tikar dekat pantai menikmati bekal sambil menunggu sunset datang.


Tiga rantang susun tengah Kalandra dan Arum buka, sajikan di hadapan mereka. Semua itu berisi nasi dan juga masakan Arum, termasuk kepiting lada hitam selaku menu spesial yang pak Sana minta secara khusus kepada menantu barunya.


Sedangkan termos es berukuran mungil yang Arum cari-cari, malah ada di pangkuan pak Sana. Arum sampai akan kembali ke mobil untuk mencarinya di sana. Termos tersebut berisi rujak tumbuk buah gowok yang langsung membuat pak Sana sibuk mencicip berulang-ulang. Kesibukan yang juga menjadi sumber tawa dalam kebersamaan mereka lantaran ibu Kalsum sibuk meledeknya.


“Ini kita ke sini cuman numpang makan! Penjual makanan yang keliling sampai enek lihatin kita!” ucap pak Sana yang masih menikmati rujaknya.


Arum dan Kalandra yang duduk bersebelahan di sebelah pak Sana dan ibu Kalsum, kembali tertawa. Kalandra berangsur mengambil Aidan dari pangkuan sang mamah yang kerepotan menyiapkan makan untuk pak Sana.


“Belum ini, nih ... ini kompor nanti malam buat bakar-bakar! Nah, di bagasi ada daging, ikan, sama ayam! Pokoknya, kalau ibu-ibu sudah berencana sekaligus bertindak, perut pasti kenyang! Iya, enggak, Mbak?” ucap ibu Kalsum dengan bangganya sambil menepuk-nepuk kompor gas berukuran mininya dan jumlahnya ada dua.


Arum yang tengah menyuapi Kalandra langsung tersenyum semringah sambil mengangguk-angguk. Lain dengan para laki-laki yang hanya tertawa, termasuk juga Aidan. Aidan yang awalnya sibuk berusaha meraih kotak bekalnya dari tangan kiri Kalandra, mendadak ikut tertawa gara-gara mereka yang di sana, kompak tertawa.

__ADS_1


 


__ADS_2