Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
166 : Tukar Tambah Janda


__ADS_3

Kedatangan Widy ke rumah makan milik Arun kali ini, membuat wanita itu merasa mirip orang yang sedang tersesat. Karena walau Widy sudah sampai di hadapan Arum dan Kalandra yang sedang bersama empat orang tamu termasuk itu seorang balita di dalamnya, Arum dan Kalandra sama sekali tidak meliriknya.


Begitu juga ketika Widy berhadapan dengan ibu Kalsum yang sedang mengasuh sekaligus menyuapi Aidan makan, wanita itu juga sama sekali tidak sedikit pun meliriknya. Malahan ketika Aidan akan menghampirinya sambil tersenyum ceria, ibu Kalsum buru-buru mengemban, membawa Aidan masuk.


“Eh, ini aku enggak lagi ulang tahun loh. Masa mendadak dicuekin gini,” batin Widy yang merasa bersyukur, ia belum sampai menyapa siapa pun di sana.


“Biarin saja, biar Widy pergi, Yang! Biar aman!” bisik Kalandra yang sengaja menempelkan sebelah wajahnya, merangkul sang istri penuh sayang dari samping. Seolah dirinya tengah pamer kemesraan. Padahal, ia dan Arum sengaja mengalihkan perhatian pak Haji dengan berpura-pura tak kenal Widy. Keduanya terpaksa melakukannya agar Widy tetap aman dari jerat sang musafir cinta pemuja janda. Termasuk itu, alasan ibu Kalsum sengaja mengabaikan Widy, seolah mereka memang tidak kenal, itu juga bagian dari rencana dadakan mereka.


“Tapi, Mas. Tapiiiii, itu si Mbah sudah langsung minggat!” bisik Arum panik.


Kalandra juga jadi ikut panik. Ia dapati, pak Haji yang memang sudah langsung menghampiri Widy di tengah kenyataan kedua mata pria itu yang terus berbinar memandangi wajah Widy. Malahan andai tatapan memiliki efek, dari kedua mata pak Haji pasti sudah sibuk menerbangkan hati merah kepada sosok Widy.


“Ya ampun nih aki-aki satu, berasa punya sinyal khusus buat mendeteksi janda!” batin Kalandra yang sengaja berdeham keras demi mengalihkan fokus perhatian pak Haji. Namun yang ada, kedua mata pria itu sudah telanjur tertuju kepada Widy.


“Kamu, janda, ya?” todong pak Haji yang langsung membuat Widy bingung.


Widy yang awalnya baru kembali menatap Kalandra setelah kakak iparnya itu berdeham, otomatis kaget dan sengaja menjaga jarak.


“Duduk, Mbah! Malu!” omel Arum.


“Pak Gede ini, berasa punya hak paten buat mendeteksi janda. Kalau sampai tuh wanita punya suami, dan parahnya suaminya bukan orang biasa, nyaho!” tegur Septi.


“Dek Arum, dia mirip kamu! Ini Widy, ya?” todong pak Haji.


Kalandra yang sadar dirinya bisa kena semprot Arum andai ia tidak menghalangi pak Haji mengetahui identitas Widy, sengaja berdiri dari duduknya. Lebih kebetulannya lagi, di pintu masuk, dokter Andri baru saja masuk sambil menggandeng sang putri. Pria itu tersenyum kepadanya sambil melambaikan tangan.


“Sini!” todong Kalandra sambil balas melambaikan tangan.


Dokter Andri yang awalnya hanya berniat menyapa, tentu tidak memiliki pilihan lain selain mendekati Kalandra dan mungkin akan sampai bergabung karena di sana juga ada Widy yang juga sampai menoleh kemudian menatapnya. Widy langsung membalas senyumnya, selain wanita berjilbab cokelat itu yang juga langsung tersenyum hangat kepada Nissa.

__ADS_1


“Oalah kalian sudah pada datang,” ucap Kalandra sengaja melanjutkan sandiwara tambahannya.


“Ih, ni pria kok sekeren ini sih,” batin Septi langsung deg-degan bahkan baper, padahal baru melihat dokter Andri yang murah senyum.


Dokter Andri berdiri di sebelah Widy, membuat Nissa yang sedang menyalami Widy, berdiri di antara mereka.


“Mbah, kenalin ini sahabat saya sama CALON ISTRINYA!” tegas Kalandra.


Tak hanya dokter Andri yang langsung kebingungan setelah mendengar ucapan Kalandra barusan. Sebab Widy yang tidak menemukan wanita lain selain dirinya yang berdiri di sebelah dokter Andri, juga tak kalah bingung.


“Ini bagaimana, sih?” Pak Haji tak kalah bingung, menatap Kalandra, Arum, dan juga wajah Widy, silih berganti.


Arum berangsur berdiri, memberikan tangan kanannya kepada Widy yang juga langsung disalami oleh adiknya itu dengan takzim.


“Nah, bener! Kamu pasti adiknya Dek Arum yang janda itu, kan? Nama kamu, Widy, kan? Widy tanpa wariyem?!” todong pak Haji.


“Ini dari tadi, Mbahnya bahas janda, janda, kenapa sih? Ada apa dengan janda?!” balas Widy yang walau masih berucap lirih, tapi memang mengomel.


Di sebelah Widy, dokter Andri langsung mesem. “Oh, ini ... Pak Haji yang musafir cinta pemuja janda itu. Ya Alloh, dunia makin edan!” batinnya.


“Mbah, mereka sudah mau menikah,” tegur Kalandra yang sampai menyingkirkan tangan kanan pak Haji dari hadapan Widy.


Kemudian, Kalandra sengaja menghampiri Widy dan dokter Andri, membimbing keduanya termasuk Nissa di dalamnya untuk menjauh dari pak Haji. Ia sengaja berdiri di sebelah pak Haji untuk memisahkannya dari Widy.


Widy dan dokter Andri termasuk Nissa makin bingung.


“Ini ada apa, sih?” dokter Andri sengaja bertanya kepada sang sahabat sambil berbisik-bisik.


Kalandra yang sempat menatap dokter Andri nyaris kecolongan lagi lantaran pak Haji malah diam-diam menyelinap lari dari belakang menghampiri Widy. Beruntung, Arum sudah bergerak cepat dan membuat Widy buru-buru duduk di bekas Arum duduk.

__ADS_1


“Gini loh, Mbah. Ini memang adik saya. Namanya Widy, tapi ....” Arum sudah langsung menjelaskan, mencoba memberi pak Haji pengertian, tapi ia bingung dengan apa yang harus ia ucapkan selanjutnya, hingga ia menyerahkannya kepada sang suami yang ia tatap dan memang langsung mengambil alih.


“Tapi Widy sudah mau nikah sama teman saya, namanya Andri, dia ini dokter,” jelas Kalandra.


Widy yang tidak merasa apa yang dibahas Kalandra nyata, berusaha protes, tapi sang kakak malah mendadak membekap mulutnya, membuatnya kesulitan bicara.


“Kal ...?” ucap dokter Andri yang mendadak merasa tidak nyaman dengan keadaan di sana.


“Hah? Mereka sudah mau menikah? Padahal aku sudah ngarep, kalau sampai aku kurus, aku bakalan deketin dia, apalagi dia dokter. Eh tapi sudah sama si Widy adiknya mbak Arum,” batin Septi belum apa-apa sudah patah hati.


“Bantu bentar, soalnya nih musafir cinta pemuja janda sangat bahaya. Yang ada Widy bisa langsung dia nikahin paksa sama dia! Makanya kamu diam saja!” tegas Kalandra berbisik-bisik kepada dokter Andri.


Tentu dokter Andri langsung khawatir, apalagi ia tahu betul keadaan Widy.


“Baru juga calon! Sebelum janur kuning melengkung, ya. Bahkan kalau sudah melengkung, tuh janur bisa dilurusin. Mau dibonding atau malah smutttuing, gampang!” ucap pak Haji tak mau menerima penolakan.


“Smutttuing!” batin Widy maupun Septi nyaris di waktu bersamaan. Keduanya kompak langsung menahan tawa hanya karena ucapan pak Haji tersebut.


Dokter Andri yang juga memakai masker putih layaknya Widy, berangsur mengembuskan napas pelan melalui mulut. “Ya sudahlah. Kami ke dalam dulu. Nissa, ajak Ibu Widy ke dalam,” ucapnya.


Nissa yang sempat bingung, langsung menurut, menghampiri Widy kemudian mengajaknya.


“Sudah, ikut saja!” bisik Arum sambil mendelik ke sang adik.


Widy yang tak kalah bingung, berangsur mengangguk paham. Ia mengambil tiga buah jeruk dan juga dua buah belimbing jumbo dari kantong yang ia bawa dan memang pesanan Arum. “Ya sudah aku ke dalam dulu, nanti Mbak nyusul ya. Aku mau ngobrol.”


“Dek Widy, ... Dek Widy, ... masuk ke dalam hati saya saja, bagaimana? Jadi istri ke tiga saya, saya pastikan kamu jadi yang paling spesial!” sergah pak Haji tak mau menyerah sambil menyusul, berdiri di depan Widy hingga wanita itu tak bisa melangkah pergi dari sana.


“Si Pak Gede memang pejuang cinta sejati apalagi kalau ke janda cantik kinyis-kinyis. Sudah tua saja seleranya masih selangit! Patut dicontoh ini!” batin Septi, diam-diam ngefans ke pak Haji.

__ADS_1


“Mbah,” Tegur dokter Andri angkat bicara.


Yakin, ia akan diceramahi dan diminta menjauhi Widy, pak Haji sengaja buru-buru berkata, “Kita tuker tambah janda saja, bagaimana? Saya sama Widy, kamu sama yang ini. Yang ini namanya Septi. Lebih gede, kan? Mantep!” yakinnya sambil menyodorkan Septi yang ia yakini juga mau jika dijodohkan dengan dokter Andri.


__ADS_2