Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
67 : Berkelana Mencari Janda


__ADS_3

Septi sungguh mengalami kontraksi, tapi seharian ini, kontraksinya masih bertahan di pembukaan dua. Kendati demikian, Septi begitu kesakitan, meraung-raung dan tak hentinya memberontak nyaris guling-guling di ranjang rawat, mirip sapi yang akan disembe-lih. Angga yang pada akhirnya diberi izin menemani, menjadi bingung sendiri. Sebab Anggun yang sering lahiran dan kerap sesar, tak seheboh sekaligus parah Septi.


Tentu Angga hanya bisa membandingkannya dengan proses persalinan yang Anggun jalani karena meski Arum pernah keguguran bahkan melahirkan Aidan, tak sekalipun proses yang Arum jalani sampai membuatnya menemani.


Kepada Arum, Angga memang selepas itu hanya karena pria itu yakin seyakin-yakinnya, Arum bisa tanpa dirinya. Tak hanya masalah melahirkan sekaligus luka lainnya. Karena semacam biaya, Angga yakin Arum yang pekerja keras hingga wanita itu juga memiliki banyak uang, juga bisa membayar segala sesuatunya tanpa harus ia urus bahkan sekadar pikirkan.


Kalau dipikir-pikir, Angga sadar apa yang ia lakukan ke-jam. Apa yang ia lakukan kepada Arum selama ini sangat salah karena biar bagaimanapun, Arum istrinya. Istri yang otomatis menjadi tanggung jawabnya sepenuhnya. Namun jika ia juga sampai mengurus Arum dan membuat wanita itu bergantung kepadanya layaknya keluarganya khususnya Anggun, tentu Angga akan makin repot. Sebab mengurus keluarganya saja sudah membuat Angga bekerja siang dan malam. Apa kabar jika Arum juga bergantung kepadanya apalagi ditambah Aidan?


Ah Aidan, mengenai bocah itu, sungguh tak ada sedikit pun di pikiran seorang Angga. Angga bahkan tak peduli akan seperti apa Aidan ke depannya. Termasuk sekarang ini, melihat Septi kesakitan hanya untuk mengeluarkan seorang bayi, bagi Angga, Aidan juga sama halnya seperti Arum yang tak sepantasnya ia pikirkan. Apalagi kata Septi, Arum akan menikah dengan Kalandra si pria kaya. Bisa dipastikan, Aidan pasti akan kecipratan hidup enak. Lain dengan keluarganya yang malah sampai tidak diurus oleh Septi. Padahal Angga pikir, Septi yang jelas dari keluarga jauh lebih berada darinya, akan mengurus keluarganya layaknya apa yang selama ini Arum lakukan. Namun nyatanya, Septi malah tidak sudi melakukannya.


Ketika Angga dibuat ketar-ketir oleh Septi yang tak kunjung mengalami penambahan pembukaan, Arum tengah mengunjungi rumah Kalandra bersama orang tua calon suaminya itu. Mereka berjalan kaki dengan langkah yang begitu santai. Arum dan ibu Kalsum saling bergandengan, sementara di sebelah Arum, pak Sana mengemban Aidan di depan dadanya layaknya kebiasaan yang Kalandra lakukan kepada Aidan. Kalandra sendiri masih bekerja dan memang belum pulang.


“Kalau mau jadi rumah makan masih oke, nanti walau bukan di dekat jalan raya, bisa dikasih papan di depan sana,” ucap ibu Kalsum. Mereka sudah ada di dekat rumah berlantai dua milik Kalandra.


“Sama rumah sakit pun dekat, jadi nanti yang dari rumah sakit juga bisa lari ke sini. Nah di sebelah jalan juga terminal, seberangnya stasiun. Tetap strategis sih, Mbak!” ucap pak Sana turut berkomentar.


Arum termenung. Orang tua Kalandra sungguh mendukung penuh kariernya. Keduanya lebih setuju rumah Kalandra dijadikan rumah makan atau malah restoran daripada rumah itu malah dijual.


“Nanti ruangan-ruangannya gimana, Pah, Mah?” tanya Arum. “Memangnya enggak sayang, gitu, kalau sampai dibobok?” Ia menatap wajah orang tua Kalandra, silih berganti.


“Bisa dibobok, enggak usah pun nggak apa-apa. Biar kesannya lebih privat, gitu. Nanti fokusnya di lantai bawah. Nanti direhab biar lebih elegan,” yakin pak Sana.


Arum berangsur membuka gemboknya yang terkunci. Di waktu yang bersamaan, dari arah depan yaitu arah keberadaan rumah sakit, pak Haji dengan motor matic-nya lewat. Sementara dari belakang Kalandra yang juga memakai motor gede, lewat. Dengan jailnya, Kalandra sibuk menekan klakson. Membuat pak Haji yang sibuk menatap Arum nyaris jantungan karena sangat terkejut. Kalandra bahagia bukan main dan menjadi sibuk tertawa menertawakan ekspresi panik dari seorang pak Haji.

__ADS_1


Roda depan motor pak Haji sampai masuk got depan rumah, rumah Kalandra. Tentu ulah Kalandra juga menciptakan kehebohan tersendiri bagi Arum dan orang tua Kalandra, termasuk Aidan yang menyaksikannya.


“Bocah gem-blung!” omel pak Haji yang nyaris nyungsep andai tubuhnya tidak tertahan setang motor.


Kalandra yang menghentikan motornya di depan orang tuanya sudah sampai lemas akibat tawanya. “Lah memangnya kenapa, Mbah? Fungsinya klakson kan memang dibunyiin gitu! Nih!” ucapnya yant kembali menekan-nekan klakson dan sukses membuat Aidan heboh.


Buru-buru Kalandra mengambil alih Aidan, mendudukannya di depannya, kemudian mengajarinya untuk menekan klakson.


“Kamu pikir yang punya kuping cuma kamu!” omel pak Haji lagi. Ia masih kesulitan dan tidak bisa keluar dari motornya yang terjebak di got depan rumah, rumah Kalandra.


Jujur, Arum sangat terhibur dengan kejailan Kalandra kepada pak Haji. Lain dengan orang tua Kalandra yang telanjur sebal kepada tingkah pak Haji.


“Sudah bau tanah, masih saja berulah. Itu tadi pasti habis nongkrongin kantin kamu lagi, Mbak. Dikiranya hari ini kamu buka kantin!” gun-jing ibu Kalsum sambil melirik kesal bin geregetan pak Haji.


Kalandra yang makin terkikik berkata, “Kera Sakti ....”


“Mas, dia ya bukan Kera Sakti. Dia si silu-man ce-leng putih!” ujar ibu Kalsum.


“Silu-man ba-bi, Mah. Bukan ce-leng! Si Cu Pat Kai, kan?” balas Kalandra.


“Lah, apa bedanya? Ce-leng kan ba-bi hutan, suku pedalaman kalau ibarat orangnya. Tapi wujudnya ya nyaris sama. Mirip pak Haji juga apalagi kalau lihat kelakuannya. Enggak sepadan sama statusnya yang selain sudah tua, haji sekaligus paham agama juga!” balas ibu Kalsum yang kali ini sewot.


Arum sampai terduduk lemas di depan pintu gerbang yang baru saja ia buka. Bukan karena menahan sakit layaknya Septi, tetapi lantaran tawa yang susah payah Arum tahan. Karena tak beda dengan Kalandra, Arum juga sudah lemas bahkan menangis karena menahan tawa efek tingkah absrud Kalandra maupun ibu Kalsum.

__ADS_1


“Sudah biarin jangan ditulungin. Biar kapok nyungsep-nyungsep!” ucap pak Sana yang menggiring keluarganya masuk, termasuk juga Arum yang masih terduduk lemas di depan gerbang.


“Yang, kamu kenapa?” Kalandra yang turun dari motornya sambil mengemban Aidan sampai khawatir.


“Itu motor dimasukin, soalnya sekarang lagi rawan maling.” ujar pak Sana yang sampai mendorong gerbang rumahnya.


Arum yang sudah jauh lebih bisa menguasai diri, berangsur berdiri. Ia menerima uluran tangan Kalandra yang membantunya. Karena Kalandra akan memasukkan motor, Arum sengaja mengambil alih Aidan.


“Habis isya jalan-jalan ke pasar malam, yuk?” ucap Kalandra sambil menuntun motornya memasuki rumahnya. Rumah yang akan direnovasi menjadi restoran kekinian.


“Oh iya itu di sebelah alun-alun ada pasar malam, ya?” sergah ibu Kalsum bersemangat.


“Eh, ... Woiii, ini tolongin dulu!” seru pak Haji masih berjuang antara bertahan atau nyungsep ke got. Ia berseru kepada Kalandra sekeluarga, tapi yang ia minta bantuan hanya menatapnya sekilas kemudian sibuk dengan obrolan lagi. Kalandra dan Arum termasuk orang tuanya, tampak tidak akan pernah membantunya.


“Heaaaahhh!”


Brrugggg!


“Ya sudah, kalau sudah jatuh, ayo kita tolongin!” sergah pak Sana sambil menahan tawanya. Tawa yang juga langsung menular pada semuanya. Apalagi di depan sana, pak Haji sungguh nyungsep. Kepala pak Haji masuk got.


Di petang yang dikuasai semburat jingga, bersama ibu Kalsum, Arum yang berdiri di depan gerbang rumah Kalandra sambil mengemban Aidan, menyaksikan Kalandra dan pak Sana yang menolong pak Haji. Kepala termasuk wajah pak Haji basah karena air got di sana sedang penuh. Pak Haji bahkan berdalih sampai minum air got.


“Itu aki-aki sama sekali enggak amnesia, sudah nyegur got juga kepalanya,” keluh ibu Kalsum yang kemudian berseru, “Coba disungsepin ke got sekali lagi, tapi kepalanya sekalian diben-turin, biar amnesia dan enggak terus-menerus berkelana mencari janda!”

__ADS_1


Mendengar itu, Arum dan Kalandra kompak menahan tawa. Apalagi ketika akhirnya pak Haji merengek manja menyebut-nyebut “Dek Arum” sambil menatap ke Arum.


__ADS_2