
Pemandangan berbeda Fajar dapatkan di depan pintu masuk bank yang memang terbuat dari kaca tebal. Kare khusus hari ini, di sana tak hanya dipadati oleh kesibukan lalu lalang pengunjung bank. Di sana ada wariyem yang sempat menggodanya saat antre es gepluk cap gajah duduk milik Septi. Yang paling mencolok, si wariyem yang sesekali kipas-kipas memakai kipas lipat bulu warna pink, juga sibuk mengajaknya bermain mata bertabur senyuman. Seolah, mereka memiliki hubungan spesial macam cinta!
“Stres tuh bancai!” batin Fajar yang bergegas merapikan semua pekerjaan di mejanya.
Satpam yang biasa jaga di depan pintu mendadak menghampiri Fajar. “Mohon izin, Pak Fajar,” ucapnya sangat santun.
Fajar yang sedang merapikan pengajuan tabungan dan baru akan ia lanjutkan selepas istirahat nanti, berangsur menengadah. “Iya, ada apa Pak Iman?”
“Itu, ada yang nunggu. Yang pakai kipas bulu, warna pink!” lanjut pak Iman sang satpam.
Kedua mata Fajar refleks memastikan ke depan. kipas bulu warna pink, tentu tak ada yang lain selain wariyem yang sedari tadi mengajaknya bermain mata dan terbilang nakal.
“Eh, yang benar saja? Apaan itu, usir Pak Iman. Jangan ngadi-ngadi, deh! Lihat, saya sampai merinding.” Fajar refleks mengomel.
“Pak Fajar, saya beneran enggak berani kalau harus lawan yang begituan. Coba deh tolong pak Fajar keluar bentar, temui dan ajak ngobrol baik-baik. Soalnya dari tadi, dia yang ngakunya bernama Honey alias si Madu, Bapak sama yang bersangkutan, cinlok di warung es gepluk cap gajah duduk?!”
“Alah Mak! Sudah, biarin saja. Enggak jelas banget!” Fajar memilih tak menanggapi, pergi tanpa balasan berarti. Membuat pak Iman yang ditinggalkan menjadi galau. Sebab seperti yang ia sampaikan kepada Fajar, berurusan dengan wariyem berat.
Sekitar empat jam kemudian, di jam pulang dan satu persatu karyawan bank juga pulang setelah membereskan pekerjaan masing-masing, Fajar juga langsung pulang. Baru Fajar sadari, berakhirnya hubungannya dan Septi membuatnya merasa ada yang kurang. Apalagi biasanya, Septi rajin menunggunya di tempat duduk yang ada di depan bank.
“Masa iya aku malah beneran cinta ke gajah duduk macam Septi?” pikir Fajar yang menjadi kesal sendiri. Sudah rugi materi karena ternyata Septi tak sekaya yang ia bayangkan, masa iya dirinya juga harus rugi hati dan batin?
__ADS_1
“Ayang!” teriak Honey si Madu dari warung rames sebelah bank sambil meminum es cekek rasa teh atau itu, minuman diberi es dikemas menggunakan plastik berukuran besar dan dilengkapi sedotan untuk mempermudah minumnya.
Fajar langsung syok ketika menoleh ke sebelah selaku sumber suara cempreng nan manja yang ternyata dari si wariyem. Lebih-lebih karena yang bersangkutan sampai buru-buru mengejar dengan langkah ngangkang nan buru-buru hingga tampangnya lebih perkasa dari Fajar sendiri.
Saking panik karena takutnya, kedua tangan Fajar gagal menambah kecepatan laju motonya. Membuat Honey si Madu yang memang perkasa, dengan sangat mudah lompat membonceng menyamping. Paling geli, kedua tangan yang jemarinya dipoles kuteks pink itu langsung mendekap erat pinggang Fajar.
Ketika Fajar merasa sangat ngeri dan sampai panas dingin, tidak dengan mereka yang menyaksikan dan memang langsung terpingkal-pingkal tanpa peduli apa yang mereka lakukan terbilang jahat kepada Fajar.
“Kamu apa-apaan, sih? Turun, turun!” kesal Fajar yang berangsur menepikan laju motornya. Ia berhenti dan sengaja membuat si wariyem turun dari boncengan motornya.
“Ah, Ayang! Ayo ih, jalan-jalan! Kita beli es gepluk cap gajah duduk lagi, yuk! Soalnya tiada hari tanpa es gepluk cap gajah duduk. Ibaratnya, Eneng sudah pens!” ucap Honey yang bahasanya sungguh campur aduk.
“Bawa wanita kadal ini ke tempat si Septi? Bisa-bisa Septi joged viralin dan bikin gosip aku sama nih wanita kadal!” batin Fajar. “Kalau kamu enggak mau turun, saya tidak segan melaporkan kamu ke polisi, ya!” ancam Fajar sambil agak menoleh melirik sebal Honey yang malah asyik meminum es cekeknya. Namun, bukannya menurut kepada omongan Fajar yang sudah marah-marah, Fajar malah dikecup pelipisnya oleh Honey.
“Ngapain dikira-kira kalau lebih memang lebih enak sih, Ayang!” ucap Honey sambil mendekap manja kemudian membenamkan wajahnya di punggung Fajar. Tak peduli, walau Fajar yang sempat marah-marah, kini sampai histeris ketakutan kepadanya.
“Sekarang Ayang pilih, kita ke hotel, apa temenin Eneng beli es gepluk!” ucap Honey masih menempel manja keganjenan kepada Fajar.
Fajar yang masih sibuk merinding, sampai kuyup oleh keringat dingin.
“Kalau ke hotel, wajib beronde-ronde yah, top up-nya!” rengek Honey lagi.
__ADS_1
“Memangnya apa yang mau di-top up kalau yang kita punya saja sama-sama batang?!” kesal Fajar yang walau hanya mampu berbicara lirih, tetap saja ngegas.
“Ih, Ayang! Kamu kan belum tahu punyaku! Punyaku unyu-unyu terus aku warnai pink!” yakin Honey dan langsung membuat Fajar tak sanggup membalas.
Diamnya Fajar karena wanita itu sibuk menahan napas. “Dasar wanita kadal!” batinnya.
“Ayang! Ayo cepat langsung ke hotel saja juga enggak apa-apa, biar kamu cepet tahu punyaku yang pink!” rengek Honey dan memang tidak bisa diam layaknya wariyem pada kebanyakan.
Fajar mendengkus pasrah. Benar-benar tidak ada pilihan lain selain mengajak wanita kadal di belakangnya membeli es Septi. Daripada Fajar sampai diminta untuk top up berulang dan melihat punyanya yang sudah diwarnai pink.
“Nanti kalau sudah beli es gajah duduk,” ucap Fajar.
“Ih Ayang! Nama esnya, es gepluk cap gajah duduk. Jangan asal ubah gitu, apalagi takutnya sudah dibuatin bubur black pink, buat ngikrarin!” tegur Honey.
Lagi, Fajar yang sudah sangat risi, hanya mampu menahan napas dan perlahan mendengkus. “Oke. Intinya itu. Nanti habis itu, kamu pergi, ya?”
“Okeh, Yang! Eh, Ayang, bentar dulu. Aku duduknya ganti hadap belakang biar lebih uwu!”
Fajar langsung panik karena si Honey memang langsung duduk ngangkang menghadap ke belakang. Untung walau memakai rok levis sepaha pas, Honey yang mengaku mirip Jennie blackpink, sampai memakai stoking pink. Kalau tidak, bisa kalian sendiri. Mungkin punyanya yang sudah diwarnai pink akan ke mana-mana sampai ke rumah tetangga.
“Asl ini wanita kadal enggak bisa diem banget. Enggak tahu apa ngeboncengin kayak gini bikin badannya lebih berat dari Septi?!” kesal Fajar.
__ADS_1
Fajar nyaris meminta Honey untuk duduk dengan benar. Kalau tidak duduk menyamping, paling tidak wanita kadal itu wajib menghadap ke depan agar beratnya seimbang. Namun setelah Fajar pikir lagi, kedua pilihan tadi tidak aman dan bisa membuat Honey merabanya dengan sangat leluasa.
“Duh, enggak kebayang, si Septi pasti heboh!” batin Fajar lagi yang terus uring-uringan. Mimpi apa ia semalam kenapa mendadak terjerat wanita kadal?